
Waktu tidak pernah berjalan lebih cepat atau pun lebih lambat. Yang membuat manusia merasa bahwa waktu terkadang dapat berlalu dengan lebih cepat atau pun lebih lambat ialah diri mereka sendiri.
Penderitaan membuat setiap detik yang dilalui oleh manusia menjadi lebih terasa, sedangkan kebahagiaan dan saat-saat yang menyenangkan cenderung membuat manusia terlena dan lupa dengan waktu.
Begitu pula yang dirasakan Edy. Seluruh waktu yang ia habiskan bersama dengan orang-orang keji di panti asuhan yang sempat ia tinggali dulu benar-benar terasa lama dan menyakitkan. Menunggu hari berganti bagai menunggu sesuatu yang tak kunjung datang. Waktu seolah berjalan dengan sangat lambat bagi Edy.
Berbeda dengan apa yang dirasakannya sekarang. Banyaknya pekerjaan serta masalah yang harus Edy selesaikan membuatnya melupakan banyak hal. Termasuk waktu. Ia tak lagi sibuk menengok jam atau menghitung tanggal. Semuanya terasa sama bagi Edy.
Usai tidur selama kurang lebih 5 jam lamanya, Edy terbangun saat jarum jam yang menempel di dindingnya menunjuk ke angka tujuh dan sebelas.
Dengan malas, Edy menyibak selimutnya. Ia sadar bahwa dirinya harus pergi ke sekolah. Namun, ia tidak akan pergi. Memang apa untungnya pergi ke tempat bodoh itu? Edy bahkan tidak merasa mendapatkan ilmu apa pun selama di sekolah. Kebanyakan pengetahuan yang ia peroleh berasal dari pengalaman dan koran-koran yang ia baca. Lagipula, apa yang diajarkan di sekolah tidak terlalu dibutuhkan oleh Edy. Ia tidak butuh perhitungan matematik atau rumus-rumus fisika untuk membunuh Kiran atau pun membalaskan dendam. Yang ia perlukan hanyalah uang dan kemampuan berbicara.
Dengan kemampuannya berbicara, ia bisa membujuk atau bahkan menipu siapapun yang ia inginkan. Ia bisa mengatakan apapun yang ia mau dan melakukan apapun dengan kemampuannya itu. Di sisi lain, uang melancarkan segalanya. Semua yang diperlukan dan dibutuhkan Edy dapat terpenuhi dengan uang. Sejauh ini, hanya dua hal tersebutlah yang paling bermanfaat bagi Edy.
Lagipula, Edy tidak bisa datang ke sekolah setelah semua rencananya yang lalu hancur berantakan. Tentu segala kemungkinan bisa saja terjadi. Oleh sebab itu, kali ini Edy ingin membereskan masalahnya terlebih dahulu sebelum kembali ke kehidupannya yang normal.
Edy berjalan menuruni tangga dengan sedikit malas. Ia merasa lapar karena sejak semalam tidak memasukkan apapun ke dalam perutnya. Dan lagi, Edy harus pergi ke belakang dan memberi makan Chandana agar gadis itu tidak mati kelaparan.
Edy menarik kursi dan duduk dengan tenang di meja makan. Semuanya telah disiapkan. Ia hanya tinggal duduk dan memilih apa-apa saja yang hendak ia konsumsi.
Edy berada di rumahnya sendirian. Ayah angkatnya pergi ke luar negeri untuk melakukan pengobatan penyakit kronis yang selama ini ia derita. Sementara ibu angkat Edy juga turut pergi dan menemani ayah angkatnya. Terhitung sudah dua minggu berlalu sejak kepergian dua orang tua tidak berguna itu.
Tentu kepergian orang tuanya membuat Edy semakin leluasa. Ia tetap dicukupi secara finansial, ditambah lagi, Edy bebas melakukan apapun di rumah karena tak ada yang bisa mengatur atau memberinya ceramah. Sebenarnya, ada tiga orang pembantu yang tinggal dan mengurus rumah tersebut. Namun, Edy menyuruh ketiganya keluar dari rumah dan hanya datang saat ada yang harus mereka kerjakan. Entah itu memasak, membersihkan rumah, atau mencuci kendaraan. Selebihnya, mereka tidak boleh berada di rumah tersebut.
Awalnya pembantu-pembantu Edy menolak. Mereka berdalih bahwa lokasi rumah mereka jauh dari tempat bekerja sehingga membuat ketiganya harus mengeluarkan biaya ekstra jika harus pulang-pergi dari rumah ke rumah Edy. Oleh sebab itu, Edy harus bersedia mengeluarkan biaya tambahan untuk membuat ketiga pembantu itu menurut.
Jika mereka masih berada di rumah ini, tentu saja Edy tidak akan bisa merasa tenang. Ia menyekap Chandana, jika ada satu saja orang yang mengetahui hal ini, Edy tentu akan berada dalam masalah besar.
Edy menghabiskan sarapannya dengan cepat lalu kembali ke kamar untuk mandi dan membersihkan diri.
Beberapa kali ia melamun karena pikirannya sibuk memikirkan alur yang tepat untuk membuat Kiran masuk ke dalam perangkapnya. Kini Edy sudah memiliki Chandana. Ia yakin bahwa Kiran akan melakukan apapun untuk menyelamatkan Chandana meski hal tersebut akan membahayakan dirinya sendiri. Seperti halnya Arif yang banyak melakukan hal bodoh hanya karena cintanya pada Dian. Kiran pun pasti akan melakukan hal yang sama.
Sejak semalam, Edy memikirkan bagaimana cara yang pas agar dirinya tetap aman dan tidak ceroboh. Bisa saja Kiran menghubungi pihak berwajib jika saja Edy lengah dan tidak siap dengan segala kemungkinan. Oleh karena itu, Edy memutuskan untuk segera memindahkan Chandana.
__ADS_1
Edy tentu tidak bisa menggunakan rumah kedua orang tuanya sebagai lokasi untuk menjebak dan mengeksekusi Kiran karena semua orang pasti akan dengan mudah menargetkan rumah Edy sebagai tempat pertama yang mungkin akan mereka selidiki. Dengan banyak pertimbangan, Edy memasukkan beberapa lokasi ke dalam list tempat yang akan ia jadikan markas sekaligus tempat persembunyian.
Di antara tiga tempat yang hendak ia jadikan lokasi persembunyian sekaligus penyekapan Chandana, satu di antaranya adalah sebuah kabin di tengah hutan yang pernah ditunjukkan Arif padanya. Lokasi tersebut cukup terpencil dan jauh dari pemukiman warga karena letaknya yang masuk ke dalam sebuah hutan pinus yang ada di sekitaran puncak. Arif dan Dian membangun kabin tersebut untuk sekedar melakukan refreshing dan liburan sederhana tiap akhir pekan. Meski Edy tak pernah sempat pergi ke sana, ia tahu letaknya karena Arif nyaris setiap hari membahas betapa indah dan asri tempat itu. Lagipula, ada Chandana yang pasti tahu benar di mana letak tempat itu.
Selain karena Edy merasa yakin bahwa kabin tersebut pastilah tidak berpenghuni, dirinya juga merasa hutan adalah tempat yang pas untuk menyekap seseorang dan melakukan tindak kejahatan. Selain karena sulitnya jaringan sinyal dan jauhnya akses menuju kota, tempat itu juga sangat pas dan cocok untuk menjernihkan pikiran dan menghabiskan waktu berdua saja dengan Chandana. Edy bisa menghabiskan waktunya di siang hari untuk menyusun strategi serta menghabiskan malam berdua dengan Chandana. Setidaknya begitulah yang dibayangkan Edy.
Usai membersihkan diri, Edy mengambil beberapa makanan dan pergi ke tempat di mana ia mengurung dan mengikat Chandana sendirian.
"Pagi. Udah bangun ya?" Edy menyeringai saat mendapati Chandana telah terbangun. Gadis tersebut terlihat pucat dan sangat berantakan.
Edy meletakkan nampan berisi makanan yang ia bawakan untuk Chandana, lantas memajukan tubuhnya ke arah Chandana untuk meraih sebuah rantai besi yang teronggok di belakang gadis tersebut. Chandana menatap kosong ke arah Edy. Ia benar-benar terlihat lemah dan tidak peduli lagi dengan apa pun yang sedang coba Edy lakukan padanya.
"Sebentar," Edy membuka ikatan di kedua tangan Chandana kemudian memasangkan rantai besi di salah satu pergelangan tangan Chandana.
Chandana melirik sebelah tangannya yang kini terantai. Dengan tatapan kosong dan nanar, ia mengatakan, "Mau kamu apa?"
Edy melirik Chandana, "Mau saya? Mau saya itu kamu. Dan untuk mendapatkan kamu, saya harus membunuh semua penghalang yang akan menghalangi kita. Paham?" bibir Edy merekah saat matanya bertatapan dengan Chandana. Bahkan dalam keadaan rapuh dan berantakan pun gadis tersebut masih terlihat cantik.
Edy menarik nampan berisi makanan yang ia bawakan untuk Chandana, "Makan ini."
Edy nyaris tertawa, "Membunuh kamu? Udah gila ya? Saya melakukan semua ini juga buat kamu! Tahu nggak? Hah?"
Chandana menggigit bibir bawahnya, "Kalau memang semua ini kamu lakukan untuk saya, apa kamu akan melepaskan Kiran kalau saya menyerahkan diri sama kamu? Kalau saya bersedia hidup sama kamu?" ujar Chandana dengan suara bergetar. Membayangkan hidup berdua dengan laki-laki di hadapannya ini saja sudah cukup mengerikan buatnya, ia tidak akan pernah sanggup menjalani hal tersebut di kehidupan nyata. Chandana tidak akan sanggup jika harus menjalani hidup dengan berada di sisi orang yang paling ia benci dan ia takuti ini.
Mendengar pertanyaan Chandana membuat Edy mennggertakkan rahangnya. Gadis tersebut terdengar sangat peduli pada Kiran. Edy sadar bahwa Chandana sangat benci dan takut terhadap dirinya, mendengar gadis tersebut berniat menyerahkan diri untuk menyelamatkan Kiran membuat kekesalan Edy semakin bertambah.
"Nggak. Saya akan tetap bunuh Kiran! Bunuh keluarganya! Bunuh semua yang sudah menghancurkan hidup saya!" Edy nyaris berteriak saat mengatakan hal tersebut.
Chandana menatap Edy dengan tatapan bingung dan tidak percaya. Berani sekali dia berkata begitu saat satu-satunya orang yang menghancurkan hidupnya dan hidup orang lain adalah diri Edy sendiri.
"Kiran? Menghancurkan hidup kamu? Tolong sadar! Selama ini kamulah yang selalu menghancurkan hidup orang lain! Kamu yang menghancurkan hidup kamu sendiri dengan segala macam dendam dan kebencian yang tidak ada gunanya ini! Saya tahu kamu cerdas, kamu pintar, kamu pasti paham bahwa semua yang kamu lakukan ini merugikan diri kamu sendiri!" Chandana menitihkan air matanya. Ia ingin pergi dari sini. Ia tidak bisa berada di dekat Edy lebih lama lagi.
"Aaahhh! Jangan berisik! Jangan coba-coba kamu perintah saya! Saya yang paling pintar! Saya yang paling bijaksana! Semua yang saya lalukan adalah hal yang benar! Kamu, kamu yang salah! Kamu yang salah karena membiarkan laki-laki bangs*t itu mendekati kamu!" Edy menarik tangan Chandana dengan kasar, "Tangan ini, ini milik saya! Kulit ini, bibir ini, mata dan tubuh kamu, semuanya milik saya! Si Kiran baj*ngan itu telah berani menyentuh kamu! Menyentuh milik saya! Ayahnya yang bodoh itu juga membuat ibu kamu meninggal dalam kebakaran! Dia merenggut harapan dan kebahagiaan yang selalu saya impi-impikan! Mereka semua pantas mati!" Edy berteriak dengan kasar sembari membanting tangan Chandana hingga membentur tembok.
__ADS_1
"Jangan pernah mencoba menasehati saya atau mengatakan mana yang benar dan salah! Kenapa kamu jadi berani membantah saya seperti ini? Bukannya dulu kamu selalu nurut dan mendengarkan saya? Si Kiran itu pasti sudah meracuni pikiran kamu! Asal kamu tahu, saya benar, Chandana. Saya selalu benar! Kamu paham?" Edy menarik nampan berisi makanan di sampingnya dan membanting nampan tersebut tepat di hadapan Chandana, "Makan ini! Jangan pernah coba-coba membantah saya lagi!" Edy menuding Chandana dengan telunjuknya. Rahangnya mengeras dan matanya memerah karena marah. Ia kecewa karena Chandana kini telah berani membantah kata-katanya, tidak seperti dulu.
Emosi Edy masih berkobar saat dering ponselnya berbunyi, sebuah panggilan masuk dari nomor tanpa nama. Edy menatap layar ponselnya, melirik Chandana yang terisak dengan-cepat kemudian berjalan keluar untuk menerima panggilan tersebut.
"Apa?"
"Maaf. Tapi gue dapat kabar kalau Kiran udah keluar dari rumah sakit hari ini. Dia dibawa pulang ke rumahnya siang nanti. Katanya kondisinya udah pulih. Racun kemarin sama sekali nggak ada efek buat dia karena cuma masuk sedikit banget dan udah ditangani sama dokter."
"Apa? Belum genap satu bulan itu anak dirawat di rumah sakit, sekarang udah pulih? Lo semua ngapain aja sih selama ini? Gumana ceritanya dia udah keluar dari rumah sakit?" Edy berteriak frustasi mendengar kabar bahwa Kiran kini telah nyaris sembuh. Rasanya, semua usaha yang ia lakukan untuk menyakiti Kiran seperti tak membuahkan apa-apa.
"Bukan itu aja sih. Ada satu kabar buruk lagi."
Edy menggeram kesal. Memang apalagi yabg lebih buruk dari fakta bahwa Kiran sudah keluar dari rumah sakit?
"Apa? Kabar buruk apa?"
"Anak yang lo lunasin utangnya itu, yang kemarin lo suruh buat ngeracunin Kiran, dia ngasih tahu polisi kalau yang nyuruh dia itu elo. Polisi dan pihak sana udah tahu kalau lo yang ada di balik semua ini. Gue dengar, kepolisian juga udah nahan petugas stadion yang kemarin kita bayar."
Edy terperanjat. Ia nyaris tersedak ludahnya sendiri mendengar apa yang baru saja dikatakan salah satu anak buahnya itu.
"Gimana.... GIMANA BISA DIA TAHU ITU GUE? GIMANA DIA BISA TAHU KALAU YANG NYURUH DIA ITU GUE! Dan.. Dan, ngapain juga itu petugas bisa ditahan? Hah? Kenapa bisa dia ditahan, beg*?" Edy berteriak frustasi. Ia tidak menyangka semuanya akan terbongkar secepat ini saat dirinya bahkan belum mempersiapkan apapun.
"Sehari sebelum pertandingan pertama, gue sama yang lain udah rusakin semua cctv yang ada di stadion supaya semua gerak-gerik kita nggak ada yang tahu. T-tapi.."
"Tapi apa? Tapi apa?" Edy menyalak, ia benar-benar jengkel dan tidak habis pikir dengan pekerjaan yang dilakukan oleh orang-orangnya. Mereka sungguh bodoh dan tidak kompeten sama sekali.
"Tapi, orang-orangnya Pradipta sepertinya udah sejak lama ngawasin kita. Saat kita rusakin semua cctv di stadion, ada orang lain yang masang kamera pengintai di semua sudut stadion. Mereka tahu kalau ada negosiasi antara kita sama orang yang ngelepasin baut-baut yang ngebuat lampu itu jatuh nimpa Kiran. Pagi ini, di markas ada yang nemuin kamera pengintai juga. Nggak tahu siapa yang pasang dan sejak kapan itu kepasang. Kalau udah sejak lama... Kemungkinan Pradipta udah tahu siapa yang selama ini kirim teror ke rumah mereka karena kita selalu bungkus paket-paketnya di markas."
Edy menggertakkan giginya, "Sial! Siiaaaaaallllll!"
Pradipta kurang ajar itu, dia menunggu barang bukti untuk membuatku tertangkap. Dia diam selama ini bukan karena dia tidak tahu apa-apa, dia tahu dan menunggu saat yang tepat. Sial... Sialll!!!!!
Di saat Edy tengah sibuk berteriak dan mencurahkan segala rasa frustasinya dengan membanting macam-macam benda yang ia temui di rooftop, Chandana mengawasi Edy dari dalam ruangan kecil tempat dirinya dirantai. Sejak tadi, Chandana mendengarkan semua pembicaraan Edy dengan orang yang menelponnya.
__ADS_1
Sungguh melegakan saat mendengar bahwa Edy sudah berada di ambang kehancuran. Setelah Kiran dan ayahnya melakukan tugas mereka dengan amat baik, kini giliran Chandana. Kini gilirannya untuk melakukan sesuatu agar dapat menghentikan semua ini. Menghentikan segala penderitaan tidak berujung ini.