Chandana

Chandana
Kiran (3)


__ADS_3

Kiran melenguh sembari meregangkan otot saat merasakan sentuhan-sentuhan kecil di lengannya. Ia membuka mata dengan susah payah saat menjumpai sosok perempuan dewasa yang tengah berdiri dengan posisi setengah merunduk di samping kanan ranjangnya.


"Mama?" Kiran mengerjap beberapa kali dan saat kedua matanya telah mendapatkan kembali titik fokus, Kiran melompat dari kasur dan memeluk ibunya dengan erat.


"Kapan Mama kesini?" Kiran membenamkan wajahnya di bahu Sang Ibunda. Ia memang sempat pergi ke Bandung beberapa waktu yang lalu, namun tetap wajar bagi seorang anak bila merasa amat sangat rindu pada ibu yang sebelumnya ia temui setiap hari sedang kini tak bisa lagi.


Liliana membelai rambut putranya dengan lembut, "Semalam. Mama cukup kaget karena melihat kamu sudah tidur saat Mama tiba padahal baru jam 8 malam. Jadi Mama nggak bangunin kamu dan sekarang Mama sudah masak, jadi ayo sarapan terus berangkat ke sekolah."


Kiran melepas pelukannya, "Arda?"


Liliana menggeleng pelan, "Adikmu nggak ikut. Ya walaupun dia memaksa karena ingin lihat turnamen abangnya tapi gimanapun juga dia masih harus sekolah. Kalau kamu bertanding di akhir pekan mungkin Mama bisa ajak adikmu."


Kiran menghela napas pelan. Padahal ia sudah membayangkan bagaimana bahagianya Arda jika bisa melihatnya bertanding. Jika memang begitu kemauan ibunya, maka satu-satunya cara untuk membuat Arda dapat menonton pertandingan futsalnya adalah dengan masuk ke babak final yang mana akan dilaksakan pada hari ke-7 turnamen atau hari Minggu nanti.


Sebelum turun untuk sarapan, Kiran mengatakan pada ibunya bahwa ia ingin mandi terlebih dahulu.


Semalam Kiran tertidur lebih cepat karena kelelahan sebab kemarin ia harus melakukan olah fisik sepanjang sore. Selama masa turnamen Kiran harus selalu menjaga kesehatan fisik dan nutrisinya karena ia adalah ujung tombak tim. Ia harus selalu turun ke lapangan pada setiap pertandingan yang akan mereka hadapi mengingat tak ada lagi penyerang yang bisa diandalkan oleh tim selain dirinya.


Di satu sisi Kiran merasa bersyukur karena bisa bermanfaat bagi orang lain namun di sisi lain ia juga merasa khawatir, takut tak bisa memberikan yang terbaik bagi semua orang. Sekarang semua mengandalkannya, mengharap ia mampu membakar semangat tim dengan melesakkan gol-gol indah pada gawang lawan. Selain rasa syukur, tanpa sadar Kiran juga sedikit merasakan tekanan di mana ia harus selalu tampil baik karena hanya dengan satu kesalahan, ia bisa merugikan semua anggota tim.


Begitulah kerja sama tim. Satu kesalahan terjadi, maka semua akan terkena imbasnya. Begitu pula jika mereka mampu membawa kemenangan, satu orang mencetak gol, maka kebanggaan menjadi milik bersama.


Bagi Kiran yang nyaris selalu sendiri dalam waktu yang lama, diandalkan dan mengandalkan orang lain terasa cukup asing baginya. Semula ia merasa ragu akankah ia mampu menjalin kerja sama yang baik dengan rekan setimnya? Akankah ia mampu mengandalkan mereka sebagaimana mereka mengandalkan Kiran? Pertanyaan-pertanyaan yang semula menghantui Kiran itu kini telah terjawab seiring dengan semakin eratnya persaudaraan dan kerja tim mereka.


Kini Kiran bisa percaya sepenuhnya pada yang lain. Kini ia bisa membagi beban dan mempersilahkan yang lain untuk berjuang bersamanya tanpa harus kesulitan dan berpikir sendirian. Perlahan-lahan Kiran semakin memahami arti pertemanan yang sesungguhnya. Bahwa dalam suatu hubungan antar manusia, kita tidak harus selalu memberi, kita juga perlu mengizinkan orang lain berbagi.


Usai membersihkan diri dan mengenakan seragam sekolah, Kiran berjalan menuruni tangga menuju ruang makan. Di sana telah duduk ayah dan ibunya yang terlihat asyik berbincang tanpa menyentuh makanan mereka sama sekali. Sepertinya mereka memang berniat menunggu Kiran agar bisa melakukan sarapan bersama.


"Selamat pagi, Pa, Ma," Kiran menyapa kedua orang tuanya sembari menarik salah satu kursi untuk kemudian duduk di atasnya.


"Papa dengar kamu ikut turnamen futsal ya? Bagaimana? Apa semuanya lancar?" Pradipta melipat koran yang sudah hampir sepuluh menit menemaninya di meja makan.


Kiran mengambil selembar roti dan menuangkan susu ke dalam gelas, "Lancar, Pa. Hari senin kemarin pertandingan pertama dan kami memang. Pagi ini kami bertanding lagi dan kalu menang, sore nanti mungkin akan bertanding sekali lagi," Kiran mengoleskan selai ke atas rotinya kemudian menggigit lembaran roti tersebut dengan antusias.


"Kenapa sistem pertandingannya terburu-buru sekali? Bukannya satu hari dua pertandingan itu terlalu memaksakan?" Pradipta melirik Kiran penuh rasa heran. Ia merasa penyelenggaraan turnamen ini terlalu tergesa-gesa dengan mengadakan lebih dari 40 pertandingan hanya dalam waktu satu minggu.


"Kiran juga bingung awalnya. Tapi mereka punya sistem pengolaan dan staf-staf yang baik. Lagipula ini futsal, Pa. Waktu pertandingan nggak sepanjang sepakbola," Kiran mencoba meyakinkan ayahnya bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Pradipta melirik istrinya kemudian menghela napas pelan, "Baik, baik. Kalau butuh apa-apa tinggal bilang aja sama Papa," ujar Pradipta usai mendapat lirikan penuh makna dari Sang Istri.

__ADS_1


Pagi itu mereka berbincang-bincang ringan sembari sesekali membahas keseharian Kiran semenjak ia ditinggalkan sendirian. Selain itu Kiran juga menceritakan pada Liliana dan Pradipta bahwa Roka telah berdamai dengan ibu kandungnya dan memutuskan untuk melupakan semua perselisihan masa lalu mereka. Meski awalnya mempertimbangkan untuk membahas soal penyakit yang diderita ibunda Roka, Kiran membatalkan niatnya karena merasa tidak berhak mengungkit hal tersebut. Biarlah kedua orang tuanya mengetahui hal ini dari orang yang memang berhak memberi tahu. Lagipula kedua orang tuanya berteman baik dengan kedua orang tua kandung Roka, jadi Kiran rasa tidak akan butuh waktu yang lama sampai tiba saat di mana kedua orang tuanya tahu mengenai masalah ini.


Usai menghabiskan sarapan, Kiran bergegas pergi ke sekolah dengan menggunakan motor matic yang sempat dibelinya beberapa waktu yang lalu. Alasannya sederhana. Chandana enggan naik motor ninja yang dimiliki Kiran karena merasa tidak nyaman dengan posisi penumpang saat menaiki motor tersebut, di sisi lain Kiran juga tidak ingin membawa mobil ke sekolah karena merasa hal itu akan terlalu menarik perhatian. Jadi, Kiran memutuskan menggunakan tabungan pribadinya untuk membeli sebuah motor matic agar ia bisa membonceng Chandana sekaligus tidak menarik perhatian banyak orang dengan membawa mobil ke sekolah.


Meski sikapnya ini sempat menuai hujatan dari Roka, pada akhirnya hal ini tetap menjadi solusi yang baik untuk memecahkan masalah kendaraan.


Dengan tenang, Kiran memacu motornya ke sekolah. Tidak seperti pertandingan pertama mereka, hari ini ia dan rekan setimnya yang lain harus datang ke sekolah terlebih dulu sebab pertandingan mereka baru akan digelar sekitar pukul 11 siang yang artinya mereka harus ke sekolah untuk bergabung dengan siswa lainnya meski tetap mendapat kelonggaran untuk pulang lebih awal.


Setibanya di sekolah, Kiran memarkirkan motornya di salah satu area yang menurutnya cukup teduh mengingat di siang hari cuaca akan cukup terik. Usai melepaskan semua atribut berkendara serta mengambil perlengkapan futsalnya di bagasi motor, Kiran melenggang masuk ke dalam area sekolah.


Semenjak pertandingan dua hari yang lalu, Kiran menjadi semakin dikenal oleh siswa dan siswi sekolahnya bahkan murid sekolah lain sekalipun. Terbukti dari bagaimana para siswa berbisik-bisik tak karuan tiap kali Kiran melintas di sekitar mereka. Entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti hal ini tidak mengganggu Kiran sama sekali. Ia tidak peduli lagi apa yang dibicarakan orang lain tentangnya, yang pasti ia akan terus dan selalu menjadi dirinya sendiri tak peduli sebesar apa ekspektasi orang lain padanya.


"Pagi, Kiran!" Kiran terperanjat saat mendengar suara seorang gadis yang menyapanya dari arah belakang.


Kiran menoleh lantas tersenyum saat mengetahui bahwa gadis tersebut adalah seseorang yang dikenalnya, "Pagi, Ratih."


"Hari ini tanding lagi?" Ratih bertanya sembari berusaha mensejajari langkah Kiran yang lebar dan panjang.


Menyadari Ratih kesulitan mengimbangi langkahnya, Kiran memutuskan untuk berjalan lebih pelan dengan jangkauan langkah yang sedikit lebih pendek, "Iya. Nanti agak siangan."


Ratih tersenyum, rambutnya terombang-ambing seirama dengan langkah kakinya, "Jujur aja permainan lo keren banget di lapangan. Tentu dengan kerja sama tim si ya, tapi seriusan lo keren banget dari jauh. Satu lapangan pada jejeritan ngeliat lo!"


Selain dengan Naya dan Chandana, Kiran hanya mampu berbicara senormal ini pada Ratih. Ia tahu dirinya tidak pantas berteman dengan Ratih usai menyakiti hati gadis tersebut, namun Kiran tidak ingin menjauh secara tiba-tiba dan menyakitinya lebih banyak lagi. Jika saja mereka bertemu dengan cara yang lebih baik, Kiran akan dengan senang hati menjalin pertemanan dengan Ratih sebab ia adalah gadis yang easygoing, lucu, dan juga cerdas. Berbicara dengan Ratih adalah hal yang cukup nyaman dilakukan karena sifat positif yang Ratih tularkan pada setiap orang di sekitarnya.


"Gue kemarin sempet tanya-tanya ke teman gue dari sekolah lain. Dari sekian banyak sekolah yanh ikutan turnamen ini, SMA Balaraja yang paling ditakutin. 5 tahun berturut-turut mereka menang di kompetisi ini. Gue denger mereka mainnya juga agak keras. Kalau misalkan tim futsal kita sampek ketemu anak Balaraja, gue harap lo ati-ati dan waspada," Ratih menyipitkan matanya. Ia tengah mencoba memperingatkan Kiran sebab ia mendengar kabar bahwa anak Balaraja kerap kali bermain kasar dan tidak segan-segan menargetkan ujung tombak dari sekolah lain.


Kiran tersenyum simpul, "Gue juga sempat denger kabar burung tentang mereka sih. Tapi makasih lo udah ngingetin. Gue bakal siap sedia kalau nanti kedapetan lawan mereka!"


Ratih menangguk sembari membetulkan posisi tote bagnya, "Kalau gitu gue duluan ya. Kelas gue di depan ini," Ratih menunjuk salah satu ruang kelas yang kini hanya berjarak 10-an meter di depan mereka.


Kiran mengangguk kemudian tersenyum, "Bye," ia pun lantas melanjutkan perjalanannya menuju kelas.


Nampaknya percakapan singkat Ratih dan Kiran telah menarik perhatian banyak mata sehingga beberapa siswi yang melihat kejadian itu pun buru-buru mengabadikannya dalam sebuah potret foto. Siapapun yang melihat keduanya mungkin akan berpikiran sama, mereka adalah pasangan yang cocok dan ideal. Ratih Si Cantik yang ceria serta Kiran yang dingin dan tampan.


Sayangnya, tak banyak yang mengetahui bahwa Kiran telah melabuhkan hatinya pada gadis lain, pada gadis yang telah mengembalikan lagi senyum dalam hidupnya. Jika saja orang-orang memahami hal itu, maka kejadian tidak mengenakkan itu tidak akan pernah terjadi. Kejadian dimana gosip kebersamaan Ratih dan Kiran akan mengudara dan menimbulkan beberapa kebimbangan di hati Chandana.


Namun sebelum gosip itu lantang dibicarakan semua orang di keesokan harinya, pagi ini semua masih baik-baik saja. Dari tempatnya kini bercengkrama dengan beberapa teman sekelasnya, Kiran masih terus mencuri-curi pandang ke lantai dua dimana kelas Chandana berada.


Hari itu ia dan teman-temannya membahas banyak hal termasuk salah satunya ialah kebersamaan Roka dan Naya. Hampir semua teman sekelas mereka terkejut mendengar pengakuan Roka atas hal tersebut mengingat keduanya yang selalu saling menghina dan membenci selama ini. Pada saat itu mereka semua mengakui bahwa benci menjadi cinta memang benar adanya.

__ADS_1


Di sisi lain, beberapa teman sekelas Kiran juga berusaha mengorek mengenai kebersamaan Kiran dan Chandana. Mereka ingin mendengar secara langsung dari Kiran bagaimana bisa ia bersama dengan gadis tersebut saat ia sendiri selalu enggan berbicara dengan gadis manapun selama ini.


"Nggak ah," adalah satu-satunya hal yang Kiran katakan tiap kali teman-temannya memaksa ia untuk menceritakan segalanya.


Roka dan Bagas yang juga tengah berada di perkerumunan tersebut pun berusaha mengompori kawan-kawannya dengan mengatakan bahwa Kiran cukup mengerikan saat sedang bucin.


"Gak ngaca ya lo pada. Gue mau ke perpus dulu ah," Kiran menggeleng pelan sembari beranjak dari tempatnya. Rasanya tidak tahan lagi mendengar godaan dari teman-temannya yang kian lama kian menjengkelkan untuk didengar.


"Yah... Ran...," beberapa di antara mereka terlihat kecewa karena merasa belum mendapatkan apa yang ingin mereka dengar.


Kiran hanya mengendikkan bahu sembari berjalan pelan menuju perpustakaan. Sesuai yang dikatakan kepala sekolah pada saat upacara, pada beberapa hari pertama sekolah jam pelajaran masih belum berlaku secara intensif sehingga banyak dari siswa-siswi yang tidak ada pelajaran sama sekali selama dua hari ini.


Karena tidak tahu harus pergi kemana lagi, Kiran memutuskan untuk menuju perpustakaan karena tempat yang tenang itu pastinya akan jauh lebih baik daripada berada bersama kawan-kawannya dan mendengar segala macam godaan yang mereka lontarkan. Sejujurnya, alih-alih membuatnya marah, semua itu justru membuat Kiran merasa malu sendiri. Ia tidak pernah menyangka bahwa ia akan berada pada posisi dimana ialah yang akan digoda oleh banyak orang terkait masalah perempuan.


Kiran menghela napas sembari mendorong pintu perpustakaan. Ia melangkah masuk dengan tenang dan menarik napas lega saat melihat perpustakaan terlihat lebih sepi dari biasanya.


Tanpa ragu, Kiran berjalan menuju rak-rak buku sejarah yang terletak di barisan ketiga dari belakang. Ia menelisik dengan teliti tumpukan buku-buku yang agak berdebu itu, mencoba menemukan bacaan baru yang mungkin bisa mengusir kejenuhannya untuk beberapa waktu. Kiran baru saja ingin menarik keluar sebuah buku dari dalam rak tersebut saat ia mendengar suara berdebam, suara benda jatuh.


*Gedebuk..*


Dengan ragu, Kiran berjalan menuju sumber suara yang sepertinya berasal dari rak yang ada di belakangnya. Kiran mengintip dari balik rak saat mendapati seorang gadis tengah menunduk sembari memungut dua buah buku yang ia jatuhkan.


Kiran masih memandangi gadis tersebut saat ia mendongak dengan gerakan tenang dan anggun. Memperlihatkan wajah cantik dan putihnya di tengah cahaya perpustakaan yang redup dan temaram.


"Chandana?" Kiran berjalan mendekat, membuat gadis yang dipanggilnya itu menoleh dan melihatnya dengan ekspresi agak terkejut.


"Hai," ia tersenyum sembari membawa dua buku tebal dalam pelukannya dengan susah payah.


Kiran mendekat kemudian meraih dua buku tebal yang tengah dibawa Chandana dengan susah payah, "Wow. Berat sekali," Kiran tersenyum kikuk saat menyadari betapa beratnya dua buku tersebut.


"Biar saya bawa sendiri," Chandana tersenyum, berusaha merebut kembali buku tersebut.


Kiran mengelak kemudian mengatakan, "Mau diapakan buku-bukunya?"


Chandana menghela napas ringan, "Mau dikembalikan ke tempatnya."


"Biar saya saja ya?" Kiran menatap Chandana dengan tatapan lembut yang sarat akan perhatian.


Chandana memalingkan wajah kemudian berkata, "Silahkan saja."

__ADS_1


Untuk sesaat Kiran terdiam sejenak, entah apa yang dipikirkannya, namun dengan tiba-tiba ia mengatakan, "Apa kamu mencintai saya Chandana?"


__ADS_2