Chandana

Chandana
Find Her


__ADS_3

Naya menghembuskan napas dengan tidak tenang. Sebenarnya ia merasa ragu dengan keputusannya untuk menceritakan semua ini kepada Kiran. Namun, ia tidak bisa menyembunyikan semua rahasia mengerikan ini lebih lama lagi. Terlebih setelah Naya mengetahui bahwa Edy ternyata adalah kakak angkat Chandana.


Usai terdiam cukup lama, Naya mengangkat kepalanya yang tertunduk sejak tadi. Ia mengedarkan pandangan sembari mendengus pelan, "Kalian berdua ngapain masih ngejogrek di sini? Pergi sana!" Naya mendorong punggung Roka lantaran ia dan Rendi tak kunjung pergi dari kamar Kiran.


"Dihh! Pelit amat siiii! Aku kan juga pengen tahuu!" Roka balik mendorong bahu Naya dengan manja.


Rendi memandang Roka dan Naya dengan hidung mengembang. Rasanya ingin sekali melempar ludah ke arah dua sejoli yang sejak beberapa hari terakhir nyaris selalu bersamanya ini.


Naya mencubit lengan Roka dengan kuat sembari berkata, "Pergi gak lo? Hah? Pengen tahu pengen tahu! Ogah gue, ogaahh ngasih tahu rahasia orang ke... Nih! Ini nih, mulut comber!" Naya menepuk bibir Roka dengan gemas sembari menarik tubuhnya agar ia segera meninggalkan Kiran dan Naya.


Roka mengerang kesal sembari membenahi kaosnya yang nyaris tidak berbentuk karen ditarik-tarik sedemikian rupa oleh Naya, "Iya, iya!", Roka menendang pant*t Edy dengan penuh semangat, "Heh, ayo pergi! Enak-enakan lagi lo lihat gue di aniaya. Dikira gue bioskop apa?"


Rendi beranjak dari karpet sembari balas menendang Roka, "Lagian cewek begitu banget dah. Tiati lo kalo udah nikah. Masih gadis aja begitu si Naya apalagi pas udah emak-emak!"


Roka bergidik mendengar ucapan Rendi, "Buset. Gak kepikiran!"


Mendengar dirinya tengah dibicarakan, Naya mendeham pelan, "Terus. Teruuussss. Pulang jalan kaki lo bedua!"


Roka tertawa sembari berlari meninggalkan kamar Kiran, "Ampun Nyai Raden Ageng Naya Ndoro yang paling bener sedunia gada duanya tiganya empatnya!"


"Terusin aja begitu lo ya! Liat aja lo ntar pas pulang!" Naya berseru geram. Roka memang selalu dan selalu saja bercanda di tiap kesempatan. Kini, tak cukup Roka saja yang membuat Naya kesal. Rendi pun turut berpartisipasi membuatnya naik pitam.


Kiran menggeleng pelan sembari menatap kepergian Roka dengan senyum kecil. Rasanya, sudah lama ia tidak bercanda dan bergurau dengan Roka. Padahal, dulu tidak ada satu pun hari yang mereka lewati tanpa saling menjahili atau melempar candaan satu sama lain.


Memang benar adanya bahwa cinta selalu memberikan efek yang begitu besar pada kehidupan seseorang. Terkadang, kita menjadi amat sangat bahagia dibuatnya. Namun, tidak jarang cinta berlaku sebaliknya. Tak jarang cinta membuat manusia hancur dan remuk sedemikian parah.


Naya melirik Kiran sejenak, kemudiam duduk bersila di hadapan laki-laki tersebut.


"Apa yang mau gue sampaikan ke elo ini bukan hal sepele. Ini masalah yang sangat besar, dan bukan nggak mungkin ini akan semakin menambah beban pikiran lo. Gue tanya sekali lagi sama lo. Apa lo yakin dan siap ngedengerin semuanya?" Naya mencoba meyakinkan dirinya dan Kiran sekali lagi bahwa apa yang hendak Naya lakukan ini adalah hal yang benar.


Kiran mengangguk, "Semua ini udah sangat amat buruk. Kenyataan kalau dia ada di tangan orang yang sangat berbahaya udah cukup buruk dan bahkan sangat buruk bagi gue. Apa pun itu, gue akan terima. Gue akan mendengarkan semuanya dari lo. Toh, pada akhirnya gue akan tahu juga. Jadi, daripada kita semua berputar-putar kaya gini, mending sekalian kita selesaikan semuanya sekarang. Nggak ada lagi rahasia dan masa lalu yang disembunyikan."


Naya mengangguk mengerti.


"Jadi, saat itu, Chandana menceritakan sesuatu sama gue. Sesuatu yang ngebuat dia takut dan selalu nggak suka tiap kali ada di dekat laki-laki. Sesuatu yang selalu menghantui dia setiap hari, setiap waktu, bahkan saat dia lagi sama lo. Dia takut lo bakal pergi kalau lo tahu tentang masalah ini. Dia takut lo akan marah dan ninggalin dia kalau sampai lo ngerti tentang rahasia ini. Tapi, itu semua tetap hak lo. Lo bisa marah, lo bisa benci dia, atau apa pun itu. Tapi, lo harus janji sama gue kalo lo harus tetap berusaha mencari dia, menemukan dia dan membawa dia dengan selamat kembali ke sisi kita semua. Setelahnya, lo bisa melakukan atau menetapkan pilihan lo. Tetap tinggal atau pergi dari dia," Naya mencoba memastikan bahwa apa yang akan dikatakannya ini tidak akan membuat Kiran berubah pikiran dan enggan menyelamatkan serta mencari keberadaan Chandana.


Kiran mengangguk mantap, "Apa pun itu, gue nggak akan pernah membiarkan Chandana terluka. Gue akan berusaha semampunya untuk membawa Chandana kembali."


Naya tersenyum kecil. Beruntung sekali Chandana sebab ia berhasil mencintai dan dicintai oleh laki-laki sebaik Kiran. Semoga Kiran tidak akan berubah pikiran. Semoga Kiran akan tetap teguh pada cintanya meski ia tahu semua kebenaran tentang Chandana.


"Chandana bilang, saat dia kecil, orang tuanya sempat mengadopsi seorang anak laki-laki yang setahun lebih tua dari Chandana. Anak laki-laki itu udah dianggap seperti anak sendiri sama kedua orang tua Chandana. Bahkan, Chandana sangat senang dan bahagia karena akhirnya dia punya saudara. Sampai akhirnya, ibu Chandana meninggal dunia dan semuanya jadi kacau. Ayahnya kacau, dirinya kacau, semuanya kacau. Chandana bilang sesuatu yang buruk terjadi di rumah, sehingga satu-satunta yang melindungi Chandana adalah kakak angkatnya itu," Naya melirik Kiran, "Belakangan kita tahu kalau hal buruk yang dimaksud adalah kelainan mental ayah Chandana yang sering mukuli dia karena OCD yang diderita ayahnya."


"Awalnya, Chandana merasa aman dan senang karena kakaknya mau melindungi dia. Tapi, sesuatu yang sangat buruk mulai terjadi," Naya menelan ludahnya dengan susah payah sembari melirik Kiran dengan ragu. Laki-laki itu nampak menunggu perkataan Naya selanjutnya.


"Dia, kakak angkatnya Chandana, mulai melecehkan dan menodai Chandana. Dia melakukan hal yang sama nyaris setiap hari selama beberapa tahun sampai akhirnya sebuah peristiwa terjadi dan mereka dipisahkan. Chandana diasuh kakeknya sementara kakak angkatnya pergi entah kemana. Sejak saat itu, Chandana nggak pernah bisa sama sekali berdekatan sama laki-laki. Dia takut. Dia takut, Ran. Cuma sama elo dia bisa merasa nyaman dan benar-benar tanpa beban. Cuma sama elo dia bisa tersenyum dan tertawa. Cuma elo yang bisa melindungi dan mencintai dia sebesar itu," Naya mengusap setetes air mata yang mengalir di pipinya. Meski ia tidak pernah berada di posisi Chandana, Naya seolah dapat merasakan bagaimana sedih dan takutnya Chandana selama ini.


Kiran tercekat. Ia terdiam sembari menatap kosong ke arah pintu yang bahkan tidak bergerak atau berpindah sedikitpun sejak beberapa waktu yang lalu.

__ADS_1


Setetes air mata meluncur pelan melalui sela hidung dan berakhir pada bibir Kiran yang terkatup rapat. Ia tidak bisa memikirkan apa pun lagi saat ini. Ia tidak bisa mencerna apa pun.


Satu-satunya hal yang ada di benaknya hanyalah satu. Chandana menderita. Selama ini dia menderita. Dan Kiran, Kiran tidak dapat melakukan apa-apa. Kiran bahkan tidak tahu apa-apa.


Selama ini, Chandana menanggung semuanya sendirian. Chandana menderita dan menahan rasa sakit serta takutnya sendirian. Bahkan di saat Chandana mungkin tengah ketakutan dalam tidurnya, Kiran mungkin saja tengah bercanda atau asyik dengan buku bacaannya.


Kiran merasa hancur. Kiran merasa remuk. Membayangkan bagaimana Chandana merasakan penderitaan dan ketakutan sebesar itu membuatnya merasa tidak berguna.


"Lo... Nggak apa-apa?" Naya mencoba menyentuh lengan Kiran yang mendadak diam dan linglung usai mendengar semua perkataannya.


Kiran mengusap sudut-sudut matanya, "Gue nggak bisa bayangin gimana takut dan menderitanya dia sekarang. Dia ada di tangan laki-laki yang udah melakukan hal mengerikan itu. Dia ada di tangan Edy, orang yang udah ngehancurin hidup dia. Orang yang udah merenggut senyum dan kebahagiaan Chandana selama ini," Kiran berkata lirih. Rasanya sakit sekali saat mengetahui bahwa dirinya baru bisa mendengar semua ini sekarang. Bukannya sejak dulu, saat dirinya masih bersama dan berada di sisi Chandana.


"Lo nggak marah?" Naya menghirup ingus di ambang lubang hidungnya dengan kuat lantaran terlalu banyak mengeluarkan air mata.


Kiran mengendikkan bahu, "Marah? Justru harusnya gue minta maaf sama Chandana. Berani-beraninya gue mendekati dia tanpa mempertimbangkan gimana perasaannya saat berdekatan dengan laki-laki. Dan bahkan saat gue udah berhasil dekat sama dia, gue nggak tahu apa-apa dan nggak bisa melakukan apa-apa untuk Chandana," Kiran memijat tangannya dengan gelisah, "Gue harus segera temuin Chandana."


Naya tersenyum pilu. Ia menyesal karena sempat merasa khawatir Kiran akan membenci atau marah pada Chandana usai mendengar rahasia tersebut. Tentu Kiran tidak akan melakukan hal itu. Kiran tidak akan meninggalkan orang yang dicintainya hanya karena masa lalu mengerikan yang pernah dialami Chandana.


"Kita akan segera temukan dia."


---


Kiran merapikan buku-buku serta pakaiannya sembari melamun sesekali. Ia masih terngiang-ngiang dengan apa yang telah diceritakan oleh Naya. Di samping itu, Kiran merasa semakin khawatir dengan kondisi Chandana saat ini. Ia tidak membayangkan apa yang sedang dilakukan Chandana dan apa yang mungkin saja dilakukan Edy padanya.


Jujur saja, Kiran benar-benar tidak menyangka sama sekali jika semua ini adalah ulah Edy. Selama ini Kiran selalu mengagumi dan menyukai sifat kepemimpinan yang dimiliki Edy. Kiran tidak pernah menyangka bahwa di balik kebaikan tersebut, tersembunyi sifat yang kejam dan mengerikan.


Jadi memang benar kata pepatah. Menilai buku hanya dari sampulnya adalah suatu kekeliruan. Begitupula yang dialami Kiran dan beberapa rekannya yang tertipu oleh segala kebaikan dan sikap kepemimpinan Edy selama ini.


"Chandana, kamu di mana."


"Maafkan saya yang nggak bisa melakukan apa-apa di saat-saat seperti ini. Maafkan saya yang tidak pernah mencoba memahami kamu ataupun mencari tahu hal-hal tentang kamu lebih cepat. Seandainya kita tahu bahwa Edy adalah laki-laki itu, kamu mungkin masih berada di sini. Bersama saya."


"Chandana, saya rindu kamu."


Kiran berbisik lirih sembari membenamkan kepalanya di atas kasur empuk yang kini ditidurinya. Tak ada yang bisa ia lakukan saat ini. Tidak di kondisi yang masih belum pulih benar ini.


Jika Kiran terlalu memaksakan diri, ia hanya akan semakin mempersulit usaha ayahnya dan juga keluarga Chandana. Dan lagi, Kiran tentu tidak akan bisa banyak membantu jika untuk berlari saja ia masih kesakitan.


Untuk itu, Kiran bergegas bangkit dan beranjak dari kasur. Setidaknya ia harus banyak melatih otot dan tubuhnya agar kondisinya bisa kembali prima secepat yang ia bisa. Agar dirinya bisa segera terjun dan membawa kembali Chandana. Membawa kembali cintanya.


---


Kiran masih berlatih dan terus berlatih. Dengan bantuan Rendi dan Roka, Kiran mulai berusaha keras untuk mengembalikan kondisi fisiknya meski ia harus mengalami beberapa nyeri dan kesakitan tiap hendak tidur di malam hari. Kiran tidak merasa keberatan sama sekali meski dirinya harus menahan sakit dan nyeri asalkan itu bisa membuat dirinya pulih lebih cepat.


3 hari berlalu dan Kiran memperoleh hasil serta kemajuan yang sangat signifikan. Usaha dan kerja kerasnya terbayar dengan perkembangan pesat yang ditunjukkan oleh tubuh serta staminanya.


Roka menatap Kiran sembari membanting barbel yang ia bawa ke atas matras, "Kagak sia-sia gue bangun subuh-subuh cuma buat lari keliling kampung sama ni Kang Pukul. Moga lo semakin cepet kembali kayak dulu dah biar traktiran gue cepet cair!"

__ADS_1


Kiran yang kini tengah sibuk mengatur napas pun menoleh ke arah Roka dengan senyum tipis di bibir, "Idup lo emang isinya kalo bukan duit, ya traktiran."


Rendi yang masih sibuk melakukan pull-up mendadak menyahuti, "Bener tuh. Gue juga dimintain traktir mulu tiap hari. Perasaan temen-temen gue nggak ada yang semaruk itu bocah!"


Roka menaikkan sebelah alisnya dengan santai, "Hey, hey, tunggu dulu dong kawan-sultanku. Kalian ini begimana, kalau itu duit ditimbun mulu, sayang dong ah. Daripada digigitin tikus, lu bikin kenyang tikus, mending bikin kenyang gue. Betul tidak?"


Rendi berlari ke arah Roka sembari melayangkan tinju ke lengannya, "Kalo bukan karena mau bales budi, jangan harap gue mau gabung sama geng gak jelas lo berdua."


Kiran tersenyum tipis, "Lo orang baik, Ren."


Mendengar ucapan Kiran membuat Rendi nyaris tersipu lantaran tidak pernah ada orang yang mengatakan hal tersebut kepadanya selama ini.


"Alah, apaan sih lo? Ngajak ribut?" Rendi melirik Kiran dengan tampang marah meski sebenarnya ia hanya sedang mencoba menyembunyikan rasa malu.


Roka tergelak, "Tuh kan, Ran. Emang ini anak dulunya hidup di hutan. Di besarin noh, ama gorila," Roka melirik Rendi dengan tatapan meledek, "Kalo lo kaga ngarti, itu tadi namanya pujian. Kalo dipuji itu bilangnya makasih, bukan 'gue bunuh lo'. Hadaa, emang susah nih kalo udah ama turunan tarzan."


Rendi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Ngomong lagi, coba. Ngomong lagi!"


"Lagi."


"Aish, Rokaa! Gue abisin lo!"


Kiran tersenyum tipis melihat perkelahian antara Rendi dan Roka. Kini, saat Kiran tak bisa sering bergurau dengan sahabatnya itu, Rendi bisa menggantikannya sementara. Lagipula, berada di dekat Kiran sudah memberikan begitu banyak tekanan bagi Roka. Kini saatnya ia mendapatkan teman lain yang bisa merespon semua candaannya yang kurang lucu itu.


"Gue ke kamar duluan. Gerah, mau mandi."


Rendi dan Roka yang masih sibuk saling tendang-menendang pun mengangguk singkat untuk merespon ucapan Kiran.


Sebenarnya, kini mereka tengah ada di ruang gym yang ada di rumah Kiran. Memang, selama ini Kiran memiliki satu buah ruangan berisikan peralatan dan alat-alat olahraga. Meski tidak sering digunakan, orang-orang di rumah Kiran cukup rutin melakukan olahraga. Terlebih Liliana yang gemar sekali melakukan yoga.


Kiran meninggalkan ruangan tersebut dengan santai. Sesekali ia mengusap dahinya yang penuh oleh keringat.


Setibanya di kamar, Kiran mengambil pakaian dan handuk kemudian berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Sebelum itu, Kiran menyempatkan diri untuk memeriksa ponselnya. Sekedar memastikan ada tidaknya informasi baru dari ayahnya atau bahkan Chandana sendiri yang mungkin menghubunginya. Kiran tidak ingin melewatkan apa pun sampai ia benar-benar mendengar kabar mengenai Chandana.


Kiran menyalakan ponselnya dan tidak melihat adanya notifikasi pesan dari sang Ayah ataupun Chandana. Dengan hembusan napas berat, Kiran meletakkan ponselnya dan hendak berjalan menuju kamar mandi saat benda elektronik tersebut bergetar dan mengeluarkan suara.


Kiran menoleh cepat. Dilihatnya sebuah nomor tidak dikenal mencoba melakukan panggilan video dengannya. Awalnya Kiran merasa ragu. Namun, ia menerima penggilan tersebut dan hal pertama yang ia lihat adalah Chandana yang duduk terikat di sebuah kursi.


Singkat cerita, panggilan tersebut ternyata berasal dari Edy. Dugaan Kiran terbukti benar bahwa ternyata Chandana ada bersama pria keji tersebut. Bahkan, Edy sengaja melecehkan Chandana di hadapannya dengan cara menciumi gadis tersebut sembari mempertontonkan semuanya kepada Kiran.


Amarah dan kebencian Kiran semakin menjadu-jadi. Ia tak bisa lagi menahan diri untuk tidak melakukan apa-apa. Kiran melakukan screenshot berkali-kali untuk dapat mengamati dan mencari tempat dimana mereka berada melalui interior ruangan beserta benda-benda yang ada di sekeliling mereka.


Namun, tak lama Kiran mendapatkan notifikasi lokasi ponsel Chandana. Ya, di malam mereka bertemu untuk terakhir kalinya, Chandana memang berhasil membujuk Kiran untuk menautkan GPS di ponsel masing-masing dan akan otomatis terkirim tiap kali ponsel Chandana terhubung ke jaringan internet.


Tak lama setelah notifikasi tersebut masuk, Edy berteriak dan membanting hp tersebut. Sinyal yang sebelumnya terhubung mendadak hilang dari radar GPS Kiran.


"Untung udah di capture," Kiran membuka ponselnya dan mencari-cari kertas untuk menuliskan alamat dari hasil capture-annya.

__ADS_1


Bukan hanya itu, Kiran juga menuliskan sebuah surat untuk siapa pun yang masuk ke dalam kamarnya nanti sebab sesuai perkataan Edy, Kiran harus datang sendiri jika tidak ingin melihat Chandana disakiti.


Chandana, tunggu saya.


__ADS_2