
Setelah drama perkelahian yang terjadi beberapa waktu yang lalu, Pak Arman mengizinkan Kiran, Edy, dan anggota tim futsal lainnya untuk pergi dari ruang BK lantaran menganggap bahwa mereka hanyalah korban atas aksi berandal Rendi dan anak buahnya.
Keputusan Pak Arman awalnya tidak disambut baik oleh Rendi, ia merasa guru mereka ini bertindak tidak adil sebab alasan utama yang menyebabkan pertikaian ini terjadi adalah Edy sendiri. Ia sempat merasa tidak terima dengan hendak menghajar Edy sekali lagi namun dengan sigap dapat dihentikan oleh beberapa guru yang berada di dalam ruangan.
Rendi menggertakkan rahangnya sembari menuding ke arah Edy, "Liat lo! Liat!" ujarnya penuh ancaman.
Edy menyimak ancaman Rendi tanpa minat, lantas berjalan pergi meinggalkan ruang BK bersama dengan anggota tim futsal yang lainnya.
Kiran memandangi Edy yang benar-benar sudah berada dalam kondisi babak belur. Ia tidak habis pikir apa alasan Rendi melakukan semua ini. Oleh karena itu Kiran mencoba menanyakan pada Edy alasan apa yang mendasari perkelahian mereka barusan, "Berantem karena apa sih lo tadi?"
Edy menoleh ke kiri untuk meludah. Dinding bagian dalam mulutnya robek sehingga ia harus berkali-kali menelan darah segar, "Tim basket ada lomba. Rendi ngajuin proposal pendanaan tapi ditolak sama pihak sekolah. Dia bilang itu semua karena anak futsal yang ikut turnamen gede ini. Dia bilang kita alasan tim basket nggak boleh ikut lomba tahun ini. Yang jelas gue nggak ngerti apa alasan sekolah nolak proposal mereka, tapi ngelampiasin semuanya ke kita itu tindakan paling bodoh yang pernah gue liat," Edy memandang beberapa temannya bergantian.
"Kalo dia emang ngerasa bertanggung jawab sebagai kapten, harusnya dia bujuk sekolah, mencoba ngebuktiin ability mereka, atau mungkin cari sponsor. Dengan gebukin kita kayak gini gue jamin ekskul basket bakal di suspend lagi kaya beberapa bulan yang lalu," lanjut Edy menuangkan opininya terkait dengan sikap bodoh yang diambil Rendi.
Menurut Edy tindakan Rendi tidak akan bisa menyelesaikan apapun melainkan menambah masalah baru. Ia tidak mengerti atas dasar apa Rendi ditunjuk sebagai kapten tim basket. Meski memiliki kemampuan yang luar biasa, dengan segala sifat keras kepala, pemarah, dan gegabah yang dimilikinya Rendi benar-benar tidak cocok untuk memimpin sebuah tim.
Kiran menyetujui perkataan Edy. Laki-laki itu memang selalu bertindak gegabah, selain itu Rendi juga selalu terlihat penuh dengan masalah dan amarah yang seolah meliputi dirinya. Namun bagi Kiran, kini masalah dengan Rendi telah selesai. Mereka memiliki hal yang lebih penting untuk dipikirkan selain membahas Rendi dengan segala masalah emosional yang dimilikinya.
"Oke. Sekarang, dengan kondisi lo yang kayak gini gue rasa lo nggak bakal bisa ikut ke lapangan," Kiran memelankan langkahnya untuk berjalan mensejajari Edy.
Mendengar perkataan Kiran membuat Edy berpikir. Ia mungkin bisa tetap bermain bersama yang lain namun tentu saja hal tersebut tidak akan menguntungkan baginya dan juga bagi tim sebab ia sedang tidak berada dalam kondisi prima. Selain itu, ia bisa saja memperparah kondisinya sendiri sehingga tidak akan bisa berpartisipasi pada pertandingan-pertandingan yang akan datang.
Dengan pertimbangan matang, Edy mengatakan, "Lo bener. Gue nggak mungkin ke lapangan dalam kondisi ini. Gue rasa Damar bisa gantiin gue. Nanti gue briefing lagi di lapangan setelah gue pikirin strategi apa yang pas buat lawan kita kali ini," meski Edy sadar bahwa hal ini adalah keputusan yang berat baginya juga bagi anggotanya, Edy tak ingin membuat kawan-kawannya patah semangat apalagi menyerah sebelum berjuang.
Setidaknya Edy harus membuat kawan-kawannya tetap semangat. Harapan untuk meraih kemenangan masih terbentang luas di hadapan mereka.
---
Sesaat setelah tiba di GOR, anggota tim futsal langsung berduyun-duyun menuju ruang ganti. Kini tiba saatnya bagi mereka untuk mendengarkan strategi permainan yang telah disusun Edy selama perjalanan mereka tadi.
Dengan satu kali tarikan napas, Edy mengumpulkan teman-temannya dalam posisi duduk melingkar di mana dirinya sendiri berada di tengah atau di pusat lingkaran tersebut. Edy mengernyit sembari menggerakkan tangannya untuk membuka tutup bulpen, mencoba membuat semua orang dapat melihat buku catatan kecil tempat ia menyusun dan menggambar pola permainan mereka siang ini.
"Karena lawan kita terkenal dengan serangan baliknya, gue mau Bayu, Damar, sama Lintang ada di belakang. Tiap kali ada yang naik satu buat ngebantu Kiran, yang dua harus di belakang buat jaga area pertahanan. Kalian main back to back aja, tiap satu anak naik yang lain turun. Gitu aja terus jangan sampek biarin area belakang kosong. Ini berlaku juga buat pemain pengganti yang nanti bakal masuk. Babak satu gue mau kalian bantu Kiran nyerang abis-abisan dengan tetap menerapkan skema ini. Kalau kita udah unggul paling enggak 2 angka deh, tinggal defense sama shooting jarak jauh gue rasa udah cukup," Edy mengedarkan pandangan, mencoba memastikan semua anggotanya mengerti.
Kiran mengangguk, menyanggupi tugas yang harus diembannya selama pertandingan nanti.
"Yok tos dulu yok!" Bayu bangkit dari posisinya, mencoba membuat rekan-rekannya yang lain turut bangkit guna melakukan tos agar semangat mereka kembali membara.
__ADS_1
"Futsal Tunas Kelapa......"
"Mantul mantul seger!" seru seluruh anggota tim secara bersamaan yang disertai dengan ledakan tawa dan semangat.
Kiran tersenyum tipis kemudian pergi ke salah satu loker untuk meletakkan barang-barangnya dan berganti pakaian. Ketika tanpa sengaja melihat pantulan dirinya di kaca, Kiran memandang pipi kirinya yang kini terlihat bengkak dan membiru karena pukulan keras yang didaratkan Rendi padanya. Selain itu sudut bibirnya juga terluka, hanya saja kini sudah tidak ada lagi darah yang keluar dari luka tersebut.
Meski merasa kesal dan jengkel, ia merasa bisa memaklumi tindakan Rendi. Meski tidak ada benarnya sama sekali, Kiran merasa apa yang dilakukan Rendi semata-mata karena laki-laki itu ingin melindungi kehormatan tim basket meski caranya sangat amat salah. Kiran menduga bahwa Rendi mungkin merasa frustasi dan tertekan sehingga melampiaskan segala kekesalannya pada tim futsal.
Kiran menghela napas. Jika saja dirinya dan Rendi tidak berada dalam situasi yang amat rumit, Kiran mungkin akan dengan senang hati membantu laki-laki tersebut untuk menangani masalah tempramen dan segala problema hidupnya yang alih-alih diselesaikan dengan baik, justru terus ia perparah dengan tindakan-tindakan tidak perlu yang selalu saja ia lakukan.
"Ran, ayo!" Kiran tersadar dari lamunan saat merasakan lengannya di tarik oleh salah seorang anggota timnya.
Tanpa banyak bicara Kiran mengikuti rekannya itu dari belakang untuk masuk ke dalam barisan dan berjalan penuh kebanggaan menuju lapangan pertandingan.
Sesaat setelah anggota yang berbaris di bagian paling depan memunculkan dirinya, sorak-sorai menggema riuh di seisi stadion. Semua penonton meneriakkan berbagai macam kata dengan penuh semangat yang sekaligus membuat Kiran merasa sedikit mual untuk sesaat karena gugup melihat orang sebanyak ini.
Dari kejauhan, Kiran tanpa sengaja melihat sebuah spanduk besar bertuliskan 'Kiran Ganteng, Kamu Pasti Bisa!!!'. Meski merasa aneh melihatnya, namun tanpa sadar pipi Kiran merona merah menyadari begitu banyak orang yang mendukung dan menyukainya tanpa pamrih, bahkan meski ia tak pernah melakukan apapun untuk orang-orang itu, mereka dengan sukarela memberikan waktu dan tenaga mereka untuk mendukung Kiran yang notabene bukan teman atau bahkan keluarga mereka.
Dalam hitungan menit sejak memasuki lapangan, pertandingan pun dimulai.
Kiran yang mendapatkan mandat untuk melakukan gempuran demi gempuran ke area pertahanan lawan selama babak pertama pun melakukan aksinya dengan baik. Ia berlari, mengelak, melakukan shooting, dan juga menggiring bola dengan penuh keyakinan.
"Gooooooooollllllll!" seisi stadion bergemuruh. Semua orang bersorak bahagia, menyisakan suporter tim lawan yang terdiam sembari menatap sedih ke arah lapangan.
Kiran berlari ke arah Bayu kemudian memeluknya sekilas sebagai ungkapan rasa senang yang tiada terkira. Kini mereka membutuhkan 1 gol lagi untuk menerapkan pola permainan bertahan dan menjaga keunggulan hingga akhir pertandingan.
Pertandingan kembali berlanjut. Wasit meniup peluit untuk melakukan kick off. Kali ini tim lawan mulai gencar melakukan serangan sehingga membuat Kiran harus berkali-kali turun ke belakang dan membantu pertahanan. Pola permainan yang sama terus berlanjut sehingga Kiran menyadari bahwa area pertahanan lawan sedang kosong sebab hampir semua pemain lawan memenuhi area timnya.
Kiran melirik ke arah Damar yang sedang berusaha melakukan blocking pada salah seorang pemain lawan yang hendak melakukan shooting.
Kiran mengamati Damar, menunggu timing yang tepat hingga ia berteriak, "Damar!"
Dengan sigap Damar menendang bola yang berhasil ia dapatkan jauh ke depan. Kiran berlari dengan sekuat tenaga untuk mengejar bola tersebut. Sementara di saat yang bersamaan penjaga gawang tim lawan yang menyadari bahwa area pertahanannya kosong pun terlihat berlari maju ke depan untuk mencegah Kiran mendapatkan bola.
Kiran yang menyadari hal ini pun menambah kcepatannya kemudian menendang bola tersebut ke arah gawang lawan dengan sangat keras sesaat sebelum Si Penjaga Gawang Lawan mencapai bola tersebut.
Semua orang terdiam saat bola sempat membentur tiang namun dengan perlahan bergulir masuk ke dalam gawang.
__ADS_1
"Goooollll gooooollll goooollll!" teriak komentator pertandingan dengan sangat amat bertenaga.
Stadion kembali bergemuruh. Para suporter SMA Tunas Kelapa bersorak bahagia menyaksikan aksi dramatis yang baru saja tersaji di hadapan mereka. Bukan hanya di bangku penonton, kebahagiaan juga dirasakan oleh para pemain yang berada di dalam lapangan. Terbukti dari bagaimana rekan setim Kiran berlarian ke arahnya untuk memberi pelukan kebahagiaan. Wajah mereka berbinar penuh suka cita. Meski satu babak masih menunggu untuk diselesaikan, namun setidaknya target pertama mereka telah tercapai.
Wasit meniup peluit, tanda pertandingan babak pertama telah usai. Semua pemain berjalan ke pinggir lapangan untuk bergabung bersama official pertandingan mereka masing-masing. Edy memeluk Kiran dengan senang kemudian mengumpulkan kembali kawan-kawannya untuk memberikan briefing lanjutan.
"Oke. Sekarang gue tarik Kiran sama Damar keluar, Rudi masuk ya. Kita main bertahan tapi dengan adanya Rudi yang larinya cepet kita bisa forsir serangan balik juga. Intinya gue mau kalian tetep di belakang tapi saat ada kesempatan, Rudi sama Bayu langsung naik buat serangan balik. Nanti kalau sampek lawan ada masukin gol dan memperkecil ketinggalan, sekitar 10 menitan sebelum pertandingan selesai, Kiran masuk lagi. Gimana?" Edy memandangi kawan-kawannya yang sebagian besar sibuk mengelap keringat dengan dada naik turun.
"Setuju," ujar Kiran sembari meneguk air dari dalam botol minumnya sekali lagi.
Sejalan dengan Kiran, semua anggota tim yang lain pun setuju dengan taktik yang direncanakan Edy. Mereka semua tahu betul bahwa Edy adalah pemimpin yang baik serta cepat dalam berpikir. Sehingga tanpa mereka sadari, apapun yang keluar dari mulut Edy terasa seperti sebuah perintah tanpa perlu mereka membantahnya.
Tidak begitu alam setelahnya, babak kedua dimulai. Skema permainan mereka berubah namun tetap solid. Tim lawan berhasil mencetak satu gol pemerkecil ketinggalan namun Rudi berhasil membobol gawang lawan sehingga skor mereka kembali unggul 2 angka. Posisi ini bertahan hingga babak kedua berakhir sehingga SMA Tunas Kelapa memenangkan pertandingan dengan perolehan skor 3 untuk Tunas Kelapa dan 1 untuk lawan.
Meski rencana awal mengatakan mereka akan bertanding sebanyak 2 kali untuk hari ini, nyatanya hal itu batal terjadi karena lawan yang akan menghadapi mereka pada sore harinya dikabarkan mengundurkan diri.
Kiran mengemasi semua barang-barangnya kemudian berpamitan kepasa seluruh rekan setimnya dengan saling memuji permainan masing-masing.
Usai berpamitan dan berbincang sebentar, Kiran berjalan keluar dari ruang ganti. Ia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, berniat menghubungi Roka yang mengatakan ingin menginap di rumahnya.
Belum sempat ia menemukan kontak telpon milik Roka, langkah Kiran terhenti saat melihat gadis cantik dengan rambut hitam panjang yang tergerai tengah berdiri di depan pintu ruang ganti sembari menunduk memandangi sepatunya.
Kiran mengantongi ponselnya kemudian berjalan ke arah gadis tersebut dengan seutas senyum, "Hai," sapanya.
Gadis tersebut mendongak kemudian tersenyum, "Hai," balasnya dengan suara yang terdengar amat sangat lembut.
Senyuman manis yang sempat merekah di bibir Chandana mendadak lenyap saat melihat luka memar di wajah Kiran. Ekspresinya berubah sedih dan khawatir lantas dengan ragu ia menggerakkan tangannya ke arah wajah tampan tersebut. Dengan sedikit takut, membelai pelan luka memar yang membalut wajah laki-laki di hadapannya, "Sakit?"
Kiran menangkup jemari Chandana yang tengah membelai pipinya kemudian mengusap jemari lentik gadis tersebut dengan lembut, "Sakit."
Chandana menatap Kiran lekat-lekat begitupun sebaliknya. Selama beberapa menit mereka berada di posisi tersebut, saling menyalurkan perasaan melalui sentuhan tangan Chandana yang membelai wajah Kiran sementara Kiran menahan jemari Chandana di pipinya sembari mengusap jari-jari lentik tersebut.
Pada setiap sentuhan yang dipertukarkan, keduanya merasa nyaman. Merasa ingin lebih dekat, merasa ingin saling memiliki lebih banyak lagi. Tiap kali Kiran merasakan kulitnya bersentuhan dengan Chandana, sebuah gelenyar aneh merangsek masuk ke dalam dirinya. Seperti sebuah sengatan listrik yang ajaibnya mampu menghangatkan hati serta pikiran.
Kiran menurunkan tangan Chandana dari wajahnya kemudian memandangi telapak tangan yang lembut dan halus itu seraya membelai dan memainkannya, "Mau main?" Puas memainkan jemari Chandana, Kiran mendongak untuk menatap gadis tersebut. Ia ingin mengajak Chandana ke suatu tempat yang Kiran yakini akan disukai oleh gadis tersebut.
Chandana mengagguk pelan, mengiyakan ajakan Kiran tanpa mempertanyakan kemana laki-laki itu akan membawanya.
__ADS_1
Dengan senyum merekah, Kiran manggandeng tangan Chandana. Sesekali ia menanyakan mengenai bagaimana dan apa saja yang dilakukan Chandana di sekolah pagi ini.
Saat itu, hari-hari penuh cinta dan harapan akan segera dimulai. Kebahagiaan akan melingkupi keduanya meski di saat yang bersamaan bayangan hitam dan kesengsaraan juga menyertai mereka.