
Insiden mengerikan yang terjadi pada pertandingan final Turnamen Futsal Nasional yang digelar beberapa waktu yang lalu sukses menciptakan kengerian serta pukulan hebat bagi semua pihak yang bersangkutan. Pemain yang turut serta dalam pertandingan, penyelenggara, keluarga korban, bahkan seluruh siswa SMA Tunas Kelapa.
Selama berhari-hari lamanya, insiden yang terjadi pada hari itu menjadi topik pembahasan yang hangat diperbincangkan oleh semua siswa dan siswi. Mulai dari Kiran selaku korban yang mengalami cidera paling parah, kemenangan tim futsal SMA Tunas Kelapa yang harus dibayar mahal dengan cideranya pemain si Pemain Bintang, hingga teori dan dugaan-dugaan yang mengatakan bahwa kejadian tersebut bukan murni kecelakaan.
Rendi yang diketahui pernah melakukan pengeroyokan pada Kiran pun dicurigai sebagai dalang di balik insiden mengerikan tersebut. Banyak siswa yang mengatakan bahwa jika memang benar semua itu disengaja, maka Rendilah tersangka utamanya mengingat dirinyalah yang memiliki alasan paling kuat untuk menyakiti Kiran.
Alih-alih memusingkan dugaan-dugaan serta ucapan orang lain, Rendi memilih acuh dan tidak memedulikan apa yang dikatakan orang-orang tentang dirinya. Saat ini ia tidak tertarik sama sekali dengan apa yang dipikirkan orang lain tentangnya.
Kini Rendi lebih tertarik dengan siapa yang mendalangi jatuhnya lampu tersebut. Dari sekian banyak orang, hanya Rendi yang mengetahui bahwa semua ini disengaja. Ia mendengar semuanya bahwa seseorang dengan sengaja membayar salah satu petugas sehingga lampu tersebut jatuh.
Hal yang tidak dapat dimengerti Rendi ialah target yang diincar oleh si Pelaku. Lampu tersebut berada tepat di atas Edy, namun justru menimpa Kiran karena laki-laki tersebut berlari dan mendorong Edy. Jika dipikir lagi, Edy dan Kiran sama-sama berpeluang menjadi incaran si Pelaku. Hal ini pula yang membuat Rendi kesulitan menemukan motif dan tujuan pelakunya karena ia sendiri tidak mengerti siapa yang ditargetkan oleh Pelaku.
Rendi mengusap rambutnya dengan gusar. Semakin dipikirkan, semakin pusing ia dibuatnya.
"Kenapa si? Dari kemarin lo ngelamun mulu perasaan," Deka -teman dekat Rendi- menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sembari membolak-balik buku di hadapannya.
Rendi menggeleng pelan, "Kepo lo!"
Deka memutar bola matanya dengan kesal. Ia tahu Rendi adalah orang yang baik dan sangat gentle, namun sahabatnya ini terlalu sulit mengekspresikan diri dan perasaannya, tentu saja selain rasa marah. Dan lagi, Rendi juga memiliki kapasitas berpikir yang cukup buruk dibanding dengan anak seusia mereka. Rendi memiliki cara berpikir yang sangat sederhana, itu pula yang membuatnya mudah marah karena tiap kali menemui hal yang tidak sesuai dengan dirinya, Rendi cenderung mewujudkan emosinya dalam bentuk amarah.
"Serah lo dah!"
Rendi melirik Deka sekilas, lantas merebahkan kepalanya di atas meja. Ia masih kesulitan memahami semua ini.
Saat itu Rendi berpikir bahwa informasi yang diketahuinya ini mungkin saja bisa memberikan manfaat bagi Kiran. Ia juga berpendapat bahwa dirinya mungkin bisa menebus kebaikan yang telah Kiran lakukan untuknya dan tim basket dengan cara mencari tahu siapa pelaku yang mendalangi insiden mengerikan tersebut. Namun, seperti yang sudah-sudah, Rendi cenderung berpikiran sederhana. Ia sulit menganalisis suatu masalah apalagi memikirkan solusi dan pemecahannya.
Sementara dirinya disibukkan dengan pemikiran-pemikiran yang tak kunjung berhasil ia cari solusinya serta latihan basket yang sangat menguras tenaga dan waktu, kondisi Kiran berangsur pulih. Kabar burung dan gosip-gosip yang beredar di kalangan siswa dan siswi SMA Tunas Kelapa mengatakan bahwa kondisi Kiran sudah jauh lebih baik sekarang.
Kabar ini berhembus ke penjuru sekolah, tak terkecuali pada Rendi dan rekan-rekannya. Setelah Kiran membantu tim basket, teman-teman Rendi mulai lebih perhatian kepada Kiran sebab ternyata laki-laki tersebut tidak seburuk dan searogan yang mereka duga sebelumnya. Bahkan, beberapa anak tim basket menyarankan agar mereka pergi ke rumah sakit untuk menjenguk dan mengecek sendiri bagaimana kondisi Kiran saat ini.
Roka yang menyadari bahwa rekan-rekannya kini telah bersikap jauh lebih baik pada Kiran pun merasa senang bukan main. Ia merasa lega sebab akhirnya rekan-rekannya sadar bahwa selama ini mereka telah membenci orang yang salah. Hanya karena masalah Rendi, satu tim harus memusuhi Kiran yang sebenarnya nyaris tidak pernah melakukan kesalahan apa-apa pada mereka.
Selain rekan-rekan lainnya, Roka juga menyadari bahwa Rendi kini sudah mulai melunak. Meski ia masih menyiratkan kebencian dan rasa tidak suka tiap kali mereka membicarakan segala macam hal yang berkaitan dengan Kiran, kini Rendi sudah mulai mengendurkan kesinisannya. Laki-laki tersebut sudah mulai bersedia menyimak dan mendengarkan kabar terkait kondisi Kiran, bahkan ia tidak melarang atau menentang sedikitpun saat teman-temannya mengatur rencana untuk pergi menjenguk Kiran di rumah sakit.
Namun rupanya kemajuan positif yang tengaj terjadi pada anak-anak tim basket membuat Roka merasa sedikit khawatir. Utamanya pada rencana mereka untuk pergi menjenguk Kiran.
Hal ini terjadi lantaran Roka merasa khawatir dan takut kalau-kalau Rendi mengetahui bahwa Ratih sering berkunjung dan menemani Kiran di rumah sakit. Roka takut fakta tersebut dapat memicu amarah Rendi dan kembali memperkeruh suasana yang sudah mulai sejuk ini. Oleh karena itu, dengan bantuan Naya, Roka mencoba membujuk teman-temannya untuk tidak terburu-buru menjenguk Kiran. Roka dan Naya berdalih jika kini kondisi Kiran masih belum terlalu stabil. Apalagi jika ada banyak orang yang berkunjung seperti itu. Takutnya, kunjungan positif mereka justru membuat Kiran terganggu dan malah memperburuk kondisi kesehatannya.
Meski merasa kecewa, anak-anak basket mencoba memahami dan mengerti kondisi Kiran. Mereka sadar bahwa kesehatan Kiran adalah yang utama untuk saat ini. Roka dan Naya jelas bersyukur karena rencana mereka ternyata berhasil membuat anak basket mengundurkan jadwalnya untuk pergi berkunjung ke rumah sakit.
Hari demi hari kembali berlalu. Rendi masih disibukkan dengan turnamen basket yang akan segera digelar. Ia juga masih sering begadang untuk sekedar merenung dan memikirkan segala macam hal yang mengganggu pikirannya beberapa waktu ini. Salah satu hal paling baru yang mengusik pikirannya adalah Ratih.
Tiap kali berjumpa dengan Ratih, Rendi selalu memerhatikan dan memandangi wajah gadis tersebut tanpa sedikitpun memedulikan hal-hal yang sedang terjadi di sekitarnya. Sejauh yang Rendi ketahui, Ratih selalu tersenyum cerah dan terlihat bahagia dalam tiap kesempatan. Wajah cantiknya tidak pernah terlihat muram ataupun sedih. Ia selalu nampak bersinar dan cerah.
Namun, sejak kemarin, Rendi mendapati Ratih bersedih. Gadis tersebut tidak lagi bergaul bersama teman-temannya yang biasa. Ia sering terlihat sendirian atau berdua dengan Naya. Ekspresinya pun terlihat muram dan suntuk. Seolah ada yang hilang dari dirinya.
Meski Rendi tidak pintar memahami perempuan, ia sadar bahwa Ratih sedang bersedih. Mungkin, gadis tersebut sedang melalui sesuatu yang berat sehingga membuatnya terlihat tidak bersemangat seperti itu.
Rendi ingin sekali berjalan mendekati Ratih dan menanyakan keadaannya, namun Rendi sadar bahwa ia hanya akan memperburuk mood gadis tersebut. Rendi tidak pandai memenangkan hati perempuan, apalagi memahami dan mendengarkan mereka. Jika tiba-tiba Ratih menceritakan masalahnya, tidak menutup kemungkinan bahwa Rendi justru akan kesal dan marah usai mendengarnya seperti yang sudah-sudah. Ia sadar dirinya tidak cocok menjadi pendengar. Ia merasa lebih pantas menjadi seorang algojo untuk membalaskan dendam seseorang atau menggebuki orang lain.
Alhasil, Rendi hanya duduk di tempatnya sembari menatap ke arah Ratih yang berjarak lumayan jauh dari dirinya.
Tidak begitu lama, Naya menarik lengan Ratih dan mengajaknya meninggalkan kantin. Rendi yang menyadari hal ini pun bergegas bangkit dari kursi untuk mengikuti dua gadis cantik tersebut.
"Mau kemana lo?" Deka menarik lengan Rendi sesaat sebelum sahabatnya itu mulai melangkahkan kaki.
Rendi menoleh singkat ke arah Deka yang masih duduk dengan nyaman di kursinya, "Sebentar doang!" ujar Rendi sembari menyentakkan lengannya untuk melepaskan pegangan Deka.
Tidak ingin kehilangan jejak, Rendi berlari kecil untuk mengejar Naya dan Ratih yang kini tengah berjalan menyusuri koridor. Rendi menetapkan jarak belasan meter dari kedua gadis tersebut agar dirinya tidak ketahuan. Saat sedang asyik menatap punggung Ratih dari belakang sembari berjalan dengan langkah panjang dan lebar, tanpa sengaja Rendi menabrak bahu salah seorang siswa yang berjalan menuju arah yang berlawanan dengannya.
Baik Rendi maupun siswa tersebut sama terkejutnya. Mereka sempat saling adu pandang sebelum siswa tersebut berjongkok untuk mengambil barang-barangnya yang kini telah tersebar di lantai koridor.
"Gimana sih! Hati-hati dong kalo jalan!" Rendi menyalak kasar sembari memelototi siswa laki-laki bertubuh kurus yang masih sibuk memunguti barangnya itu.
Dengan takut dan gemetar, siswa tersebut mendongak, "Maaf. Maaf. Saya nggak sengaja," ujarnya dengan suara bergetar.
__ADS_1
Rendi masih merasa marah saat ia menyadari bahwa semua mata kini tertuju padanya dan siswa laki-laki tersebut. Terdengar bisikan-bisikan lirih dari segala arah. Rendi sadar mereka semua tengah membicarakan dirinya. Membicarakan keburukannya.
Rendi mengepalkan tangannya, sempat terlintas pemikiran untuk memukul siswa laki-laki tersebut. Namun niatannya ini urung ia lakukan.
Rendi menghembuskan napas berat lantas berpaling dan melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda lantaran insiden kecil barusan. Ia mengedarkan pandangan untuk mencari Naya dan Ratih, namun usahanya ini sia-sia lantaran dua gadis tersebut tidak terlihat di manapun. Keduanya menghilang entah kemana.
Merasa panik, Rendi berjalan cepat seraya menoleh kesana-kemari, berusaha menemukan dua gadis yang tadi sempat ia ikuti.
"Mana si-" Rendi yang sempat berhenti sebentar merasa terkejut bukan main saat merasakan sentuhan seseorang di pergelangan tangannya.
Rendi menoleh dan mendapati seorang gadis tengah menarik lengannya. Gadis itu menuntunnya berjalan hingga mereka berhenti tepat di belakang toilet. Di sana telah berdiri seorang gadis lain yang amat sangat Rendi kenali.
"Ratih?"
Gadis tersebut berbalik. Ia menatap Rendi dengan penuh selidik, "Ngapain ngikutin kita berdua?"
Rendi terkejut. Rupanya Naya dan Ratih sudah sadar bahwa sedari tadi mereka tengah diikuti.
"Nggak apa-apa kok. Iseng aja!" Rendi mengelak. Ia tidak tahu harus menjelaskan seperti apa lagi.
"Bohong! Kamu nggak akan sampai ngikutin aku kalau nggak ada maksud apa-apa. Jujur, mau kamu apa?" Ratih kembali bertanya. Dari sekian banyak manusia yang ada di muka bumi ini, Ratih cukup percaya diri untuk mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang paling mengenal Rendi bila dibandingkan dengan yang lain.
Rendi menghela napas. Ia memang tidak akan pernah bisa menyembunyikan apapun dari Ratih, "Kamu kayaknya lagi sedih. Aku penasaran aja. Pengen tahu kamu kenapa."
Tatapan selidik yang sebelumnya ditujukan Ratih pada Rendi mulai melunak. Memang terlepas dari segala keburukan sifat dan perilaku Rendi, laki-laki yang pernah menjadi kekasihnya ini adalah orang yang baik. Ratih secara pribadi mengakui itu. Ia paham betul bahwa Rendi adalah orang yang polos dan mudah mempercayai orang lain. Satu-satunya hal yang membuatnya terlihat jahat adalah amarah dan emosinya yang tidak terkontrol.
"Aku nggak apa-apa. Cuma lagi kurang enak badan aja," Ratih berusaha memberikan alasan yang ia yakini dapat dengan mudah diterima Rendi.
Dan benar saja. Rendi hanya mengangguk mengiyakan ucapan Ratih sebab ia begitu mudahnya mempercayai perkataan gadis tersebut.
"Oh iya. Kiran gimana?" Rendi melirik Naya yang berdiri tepat di sebelahnya.
"Gue kira lo berdua lupa gue ada di sini," Naya tersenyum kecil, "Kiran baik-baik aja. Udah mendingan banget sekarang. Nanti malam gue sama Roka mau ke sana. Lo mau ikut?"
Rendi terkejut. Ia menoleh ke arah Ratih yang menyunggingkan seutas senyum sembari menganggukkan kepala. Seolah memberi keyakinan agar Rendi menerima ajakan Naya.
Naya menaikkan sebelah alisnya, "Jelas lah. Anaknya abis kecelakaan ini. Yakali Emak Bapaknya Kiran nonton televisi di rumah," Naya menggeleng pelan mendengar pertanyaan Rendi yang terkesan konyol, "Emang kenapa?" lanjutnya.
Dengan ragu, Rendi berkata, "Gue kan pernah ngeroyok dia. Apa orang tuanya nggak marah kalau gue ke sana?"
Naya dan Ratih kompak tertawa menanggapi pertanyaan Rendi sementara ia hanya bisa menatap kedua gadis tersebut bergantian.
"Nggak lah. Orang tuanya Kiran itu easy going dan murah hati banget. Kaya anaknya," Naya menjelaskan. Mencoba membuat Rendi merasa lebih baik.
"Awas lo kalau gue sampai sana dimarah-marahin!" Rendi menuding Naya dengan telunjuknya, berniat mengancam gadis tersebut kalau-kalau ucapannya barusan adalah sebuah kebohongan.
"Ren.." Ratih memandang Rendi sembari menelengkan kepalanya. Kebiasaan Rendi ini memang sulit sekali dihilangkan.
"Iya, iya!"
----
Waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam. Sesuai dengan janji temunya dengan Naya dan Roka, Rendi tiba di rumah sakit tepat pukul tujuh. Selain kedatangannya yang sangat tepat waktu, Rendi juga tidak datang dengan tangan kosong. Usai bertanya dan meminta pendapat kesana-kemari, Rendi memutuskan untuk membawa buah-buahan serta beberapa vitamin untuk membantu kesembuhan Kiran.
Jujur saja, sulit bagi Rendi mempercayai fakta bahwa kini dirinya tengah berdiri di depan rumah sakit untuk menjenguk seorang Kiran. Laki-laki yang amat ia benci dan bahkan pernah nyaris ia habisi dengan cara mengerahkan belasan orang untuk mengeroyok laki-laki tersebut.
Jika dipikir lagi, Rendi merasa perbuatannya itu adalah hal yang sangat konyol dan gegabah. Ia dibutakan oleh dendam dan amarah yang sebenarnya tidak berdasar sama sekali. Bukan salah Kiran jika Ratih menyukainya. Bukan pula kesalahan Kiran jika Ratih menembaknya di hadapan begitu banyak orang.
Rendi menarik napas dalam-dalam kemudian berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Ia mengeluarkan ponselnya untuk membaca kembali alamat beserta nama ruangan tempat Kiran dirawat yang sempat dikirimkan Roka padanya beberapa waktu yang lalu.
Usai membacanya, Rendi menyisir satu persatu lorong rumah sakit untuk menemukan ruangan yang dimaksud. Begitu banyak hal yang dijumpai Rendi di sana. Ia melihat orang-orang tua, pasien yang duduk di kursi roda, seorang ibu yang menyuapi anaknya, serta seorang anak kecil yang bermain boneka.
"Aku akan menghancurkan kalian semua! Nasib kalian ada di tangaku! Kalian hanya akan menuruti aku!" pekik si Anak Kecil sembari menggerakkan bonekanya untuk menindih dan menginjak-injak boneka-boneka yang lain.
Rendi terdiam sejenak. Boneka?
__ADS_1
Seluruh ingatan dan masalah yang belakangan mengganggu pikirannya seolah tumpah ruah menjadi satu. Melihat anak kecil mengendalikan bonekanya untuk menghancurkan boneka lain membuat pikiran Rendi terbuka.
Siapa yang selama ini selalu ngasih saran dan masukan buat gue? Siapa yang selalu dikenal paling bijak dan dimintai saran banyak orang? Siapa yang bilang kalau gue harus hancurin Kiran? Siapa yang narik Kiran masuk ke tim futsal supaya mereka menang di turnamen?
Semua pertanyaan itu berkecamuk di benak Rendi. Ia berjalan dengan tatapan kosong sebab tidak paham lagi dengan semua ini. Di saat yang bersamaan, Rendi rupanya telah sampai di depan ruangan Kiran. Ia merasa sedikit terkejut karena Kiran berada di ruangan VVIP yang jelas-jelas biayanya sangat mahal. Selain itu, ia lebih bingung lagi karena tidak melihat siapapun di depan ruangan tersebut.
Naya dan Roka mengatakan bahwa mereka akan menunggu Rendi di depan ruangan. Mereka juga mengatakan bahwa ibunda Kiran yang biasanya bermain bersama putra bungsunya di depan ruangan karena area itu adalah area khusus yang kondisinya sangat sepi dan sunyi.
Puas diserang oleh kebingungan yang bertubi-tubi, Rendi kembali dikejutkan saat melihat pintu ruangan Kiran sedikit terbuka.
Dengan ragu, Rendi mendorong pintu tersebut dan masuk ke dalam ruangan. Hal pertama yang ia lihat adalah seorang laki-laki dengan pakaian serba hitam serta masker dan topi yang juga sewarna tengah menyuntikkan sesuatu ke dalam cairan infus Kiran.
Tanpa pikir panjang, Rendi membanting keranjang buah dan kresek kecil berisi vitamin yang ia bawa untuk menangkap laki-laki tersebut.
Menyadari kehadiran Rendi, laki-laki aneh tersebut berlari keluar ruangan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Ia menerjang beberapa rak serta meja hingga semuanya terjungkir dan berantakan.
Rendi tidak tinggal diam. Ia mengejar laki-laki tersebut dengan kemampuan berlarinya yang luar biasa, "Woi! Berhenti lo!" Rendi memekik dengan lantang, mencoba membuat laki-laki tersebut berhenti.
Namun sekeras apapun Rendi berteriak, lelaki itu tak sedikitpun melambatkan langkahnya. Ia berlari dan menerjang apapun yang menghalanginya. Aksi kejar-kejaran tersebut berlangsung hingga hitungan menit sampai laki-laki yang berpakaian serba hitam itu menabrak seorang laki-laki yang membuatnya berserta orang yang ia tabrak terjatuh ke tanah.
Rendi yang melihat kesempatan ini pun langsung melompat dan menindih tubuh pria tersebut, "Siapa lo?" Rendi berteriak sembari menarik masker yang digunakan pria itu.
"Rendi?" suara seorang perempuan membuat Rendi menoleh ke belakang.
Beruntung sebab orang yang ditabrak laki-laki ini hingga jatuh ternyata adalah Roka. Rendi yang napasnya masih naik turun pun memekik dengan keras saat mengetahui Naya dan Roka berada di sebelahnya, "Dia nyuntikkin sesuatu di cairan infus Kiran!"
"Hah?" Roka yang masih bergelung di tanah pun mendadak bangkit dan berjalan mendekati Rendi yang masih berusaha menahan laki-laki tersebut.
Rendi yang kini duduk di atas tubuh pria tersebut mencoba memegangi kedua tangannya agar Roka dapat membuka masker si Pria Misterius ini.
Dengan tidak sabaran, Roka membuka masker yang dipakai oleh laki-laki tersebut lantas melemparnya ke sembarang arah.
Naya yang berdiri tepat di belakang Rendi pun sontak membelalak seraya menutup mulutnya kuat-kuat, "Kakak!"
Roka dan Rendi menoleh ke arah Naya, "Hah?"
Mereka bertiga terkejut bukan main saat mengetahui bahwa orang ditangkap oleh Rendi adalah kakak kandung Naya. Tidak begitu lama setelah kekacauan itu, Roka memanggil petugas keamanan serta menghubungi perawat yang menangani Kiran. Setelah diperiksa, memang benar adanya bahwa kakak Naya berusaha menyuntikkan racun ke cairan infus Kiran.
Beruntung Rendi berhasil memergoki niat jahat pria tersebut dengan cepat sehingga racun yang masuk ke tubuh Kiran tidak terlalu banyak. Meski Kiran sempat mengalami kritis selama beberapa jam pertama, pihak rumah sakit berhasil mengambil tindakan yang cepat dan sigap.
Sementara itu, Naya tidak berhenti menangis saat mengetahui bahwa kakaknya berniat membunuh Kiran. Ia terus-menerus menangis di pelukan Roka tanpa bisa menatap kedua mata kakaknya yang juga ikut menangis.
Selagi menunggu polisi dan orang tua Kiran datang, Rendi berusaha melakukan interogasi kecil-kecilan.
"Kenapa lo lakuin ini?"
Mendengar ucapan Rendi membuat Kakak Naya mendongak. Laki-laki tersebut menghapus air matanya lantas berkata, "Gue nggak punya pilihan lain. Gue disuruh."
Rendi membelalak. Roka yang juga mendengar percakapan Rendi dengan Calon Kakak Iparnya pun melepaskan pelukan Naya dan berjalan mendekat ke arah dua pria yang tengah berbicara serius itu.
"Siapa?" Roka berseru. Ia tidak habis pikir. Benar-benar tidak habis pikir dengan semua ini.
Apa lagi ini? Setelah tertimpa lampu, kini Kiran hendak diracuni? Roka nyaris menangis membayangkan kalau saja Kiran tidak bisa bangun dan bernapas lagi seperti sedia kala.
Kakak Naya menatap Roka dan Rendi bergantian, lantas melirik ke belakang untuk melihat adiknya yang nampak amat terluka dan sakit hati dengan apa yang baru saja ia perbuat.
"Jawab!" Rendi menendang kursi yang ada di sebelahnya, membuat perhatian seluruh orang yang ada di sekitar mereka tertuju padanya.
"Gue nggak tahu namanya. Tapi.. tapi dia punya ban kapten. Kapten futsal sekolah lo!"
Hening. Tidak ada yang mampu berkata-kata.
Rendi merasakan dengan jelas bahwa kini jantungnya berdegup dengan begitu cepatnya. Napasnya memburu sementara matanya berair. Semua ini terlalu sulit untuk dipercaya. Sulit untuk dicerna dan dipahami.
Siapa yang nasehatin gue untuk nyerang Kiran? Siapa yang selalu dianggap bijak dan diturutin semua orang? Siapa yang kata-katanya paling di dengar dan bisa mempengaruhi banyak orang? Siapa yang paling cerdik dan pinter mikir rencana? Siapa yang narik Kiran ke tim futsal? Siapa yang tahu posisi lampu yang rusak? Siapa yang sengaja berdiri di bawah lampu rusak karena tahu Kiran bakal nyelametin dia? Siapa yang nyuruh kakaknya Naya untuk ngercunin Kiran?
__ADS_1
Ya. Rendi kini sadar. Semua pertanyaannya merujuk pada satu nama.
"Edy."