
Lima belas jam. Sudah lima belas jam berlalu sejak tubuh saya diikat di sebuah pohon besar yang berdiri kokoh di tengah hutan. Saya didudukkan di tanah dan diikat begitu saja oleh Edy. Ia benar-benar marah dan meninggalkan saya begitu saja di tengah hutan setelah puas membuat saya babak belur. Meski kebanyakan luka lebam tersebar di tubuh, dahi dan bibir saya menjadi bagian yang paling nyeri lantaran luka sobek yang timbul akibat pukulan tongkat besi milik Edy.
Mulut saya pun diikat dengan kain sehingga rasanya sangat perih dan sulit tiap kali saya menelan ludah. Dia benar-benar meninggalkan saya sendirian selama delapan belas jam tanpa sedikit pun memberikan air ataupun makanan. Ia juga membiarkan saya kedinginan setengah mati saat malam tiba.
Jujur saja, saya merasa takut. Sangat amat takut. Saya bukannya takut dengan kematian atau hewan buas, bagi saya, kematian tidaklah begitu buruk jika dibandingkan dengan segala peristiwa yang telah menimpa saya selama ini. Hal yang membuat saya takut ialah Kiran. Saya takut jika dia mati dan terluka karena datang menolong saya. Saya takut jika saya harus melihat dia terluka apalagi sampai kehilangan nyawa sebelum kematian itu datang kepada saya. Saya tidak akan pernah bisa hidup lagi jika semua itu benar-benar terjadi. Jiwa dan mental saya akan benar-benar hancur jika semua itu terjadi.
Oleh karena itu, saya mencoba berkali-kali untuk membebaskan diri. Menggerak-gerakkan tangan dan kaki agar ikatan yang dibuat Edy mengendur. Memang sedikit berhasil. Namun, tidak lantas membuat saya bisa lepas dari semua ikatan ini.
Saat itu, tubuh saya terasa sangat lemas dan juga lelah. Rasanya sangat haus dan juga lapar. Saya bahkan tidak ingat kapan terakhir kali saya bisa mengonsumsi makanan dan menikmati rasanya.
Saya mengehela napas putus asa. Saya meyakini bahwa Kiran akan segera datang kemari usai menerima panggilan dari Edy. Meski sudah lima belas jam berlalu, saya yakin ia akan segera tiba. Atau jangan-jangan sebenarnya dia telah sampai?
Saya kembali menggelang kuat-kuat, berusaha menghilangkan segara pikiran buruk dan negatif dari benak saya. Setidaknya satu-satunya hal yang harus saya lakukan adalah membebaskan diri dan menggagalkan rencana Edy. Saya baru akan menggerakkan tangan dan kaki saat terdengar deru mesin mobil yang kian lama kian dekat.
Sorot lampu depan mobil tersebut membelah kesunyian siang itu. Saya mengernyit untuk mempertajam penglihatan saat seorang laki-laki berkaos merah keluar dari dalam mobil tersebut. Rupanya itu adalah Edy. Dia membawa sebuah kantong plastik berwarna hitam di tangan kanannya serta sebuah kotak perkakas tua di tangannya yang lain.
Saya membuang muka saat ia melirik ke arah saya dengan sorot matanya yang mengerikan itu. Kenapa pula dia kembali kemari? Tidakkah dia merasa puas karena telah membiarkan saya kedinginan dan kelaparan setelah membuat saya babak belur?
"Gue masih kesal sama lo!" Edy membanting kresek hitam di tangannya dengan tidak sabaran.
"Udah dua kali lo bohongin gue! Lo khianatin gue! Lo mau pergi dari gue kan? Hah? Iyakan?" Edy melirik saya dengan tatapan tajam, seolah-olah sayalah yang bersalah karena telah mencoba untuk menyelamatkan diri saya sendiri.
Saya tidak merespon ataupun menjawab karena mulut saya terikat. Lagipula, kalau pun bisa membalas ucapannya, saya tetap tidak akan menjawab sama sekali karena jika saya melakukan itu, Edy hanya akan bertambah marah dan kesal. Dia adalah orang yang paling tidak suka dan merasa tidak nyaman saat apa yang ia rencanakan tidak berjalan dengan baik. Saat orang lain membantah dan mempertanyakan pendapatnya. Begitulah sifat orang-orang manipulatif, selalu merasa paling benar dan selalu ingin dianggap benar.
"Tapi tenang aja, gue pasti akan bunuh lo, kok. Cuma nggak sekarang. Sia-sia dong semuanya kalau gue bunuh lo sekarang. Kapan ya? Mungkin setelah Kiran mati? Mmm, dua atau tiga jam dari sekarang dong?" Edy menyeringai, menunjukkan deretan giginya dengan penuh rasa percaya diri.
Saya terdiam sejenak. Apa maksudnya dua atau tiga jam lagi?
Seolah dapat membaca apa yang tengah saya pikirkan, Edy melanjutkan, "Gue udah pasang cctv di pintu hutan. Gue lihat Kiran dan motornya. Dia lagi menuju ke sini. Dan gue? Gue akan segera mengeksekusi dia. Tapi sebelum itu, dia harus melihat sesuatu!" Edy kembali menyeringai.
Ia membuka kantong kresek berwarna hitam yang dibawanya, lantas mengeluarkan benda-benda aneh yang tidak dapat saya mengerti.
Edy melirik saya dengan tatapan remeh, "Dia harus melihat kita berhubungan. Dia harus hancur dulu sebelum mati!" Edy terkikik pelan.
Tubuh saya meremang mendengar perkataannya. Napas saya memburu dan dengan panik, saya mengerang sembari berusaha melepaskan diri. Tidak! Saya tidak ingin Kiran menyaksikan apa pun, saya tidak ingin Edy melukai Kiran sedikit pun.
Satu-satunya hal yang saya pikirkan hanyalah bagaimana caranya untuk melepaskan diri dan berlari sejauh mungkin. Saya menangis perlahan sembari terus berusaha mengendurkan tali yang mengikat tangan, kaki, dan tubuh saya. Saya tidak ingin Edy menjalankan rencananya dan melakukan hal itu di hadapan Kiran. Tidak! Saya tidak akan sanggup!
Selagi saya menangis sembari terus berusaha membebaskan diri, Edy tertawa dengan lantang sembari terus mempersiapkan peralatan-peralatan yang ia butuhkan.
"Lo nggak akan bisa lepas! Kalau lepas pun, lo pikir bisa lari dari gue? Haha. Nggak! Tenang aja, sebentar lagi kalian bakal mati bareng, kok. Cuma sebelum itu, kita bakal melepas kerinduan dulu di hadapan Kiran, ya?" Edy kembali tertawa, ia seolah sedang mengejek saya dengan segala tindak-tanduknya.
__ADS_1
Saat itu saya tidak peduli dengan apa pun yang sedang ia lakukan atau ia persiapkan. Di pikiran saya, hanya ada satu kata pasti. Kabur. Saya harus kabur.
Tetapi rupanya semua usaha saya yang tidak membuahkan hasil itu berakhir sia-sia lantaran suara mesin motor lamat-lamat terdengar mendekat.
Saya semakin terisak. Di dalam hati, saya terus mengatakan agar Kiran berbelok dan pergi. Agar ia tidak datang dan membiarkan saya mati sendiri. Saya tidak kuasa menahan tangis. Semua air mata saya pecah dan tumpah ruah membayangkan apa yang akan segera terjadi sebentar lagi.
Di sisi lain, Edy yang juga mendengar suara mesin motor pun bergegas memasang beberapa peralatan kemudian mengantongi sebuah pistol dan bersembunyi di balik sebuah pohon besar.
Saya masih sibuk dengan segala kecemasan dan kegelisahan saat motor tersebut melaju pelan, membelah rumput-tumput liar dan melalui pepohonan yang tersebar di tempat saya berada. Ia memarkirkan motornya tepat di sebelah mobil Edy.
Saya memandang lurus ke arah pengemudi motor tersebut saat ia melepas helm dan melemparnya begitu saja untuk kemudian berlari ke arah saya dengan kecepatan tinggi.
Kiran, berlari ke arah saya dengan ekspresi khawatir sekaligus kernyitan di dahinya. Ia terlihat kesakitan setiap kali kakinya menjejak ke tanah. Benar. Dia belum benar-benar sembuh.
Saya memejamkan mata, semakin terisak saat mendapati Kiran menjatuhkan diri tepat di hadapan saya. Dia menitihkan air mata sembari merengkuh tubuh saya ke dalam pelukannya. Pelukan yang hangat dan menenangkan.
"Kamu kemana aja? Kamu.. Kamu.. Maaf karena aku nggak bisa menjaga dan melindungi kamu," Kiran mengusap kepala saya dengan lembut sementara saya sibuk membenamkan kepala ke dadanya yang bidang.
Kiran adalah tempat ternyaman dan teraman bagi saya. Dia adalah manusia yang memperlakukan saya dengan sangat amat baik setelah ibu. Dia adalah manusia paling tulus yang pernah saya temui. Dia adalah Kiran, satu-satunya alasan saya tidak lagi takut tiap kali memejamkan mata. Satu-satunya alasan yang membuat saya tidak lagi gemetar saat membuka mata di setiap pagi harinya.
Kiran, kamu datang.
Sebelum memulai bagian terpentingnya, saya ingin kembali mengingat saat-saat di mana saya merasa sangat amat bersalah pada Kiran. Merasa sangat gegabah dan egois serta tidak berdaya sama sekali.
Pada hadi di mana ayah keluar dari penjara, semua ingatan tentang masa lalu kembali menyeruak dan membuat saya melupakan sedikit rasa bahagia yang sempat Kiran hadirkan di hidup saya. Kegelisahan dan ketakutan kembali menguasai saya dan merenggut pikiran saya.
Saat itu, saya kembali teringat dengan betapa kotor dan mengerikannya diri saya. Bahwa apa yang ada pada diri saya hanyalah keburukan dan kepedihan. Bahwa tak akan ada kebaikan yang mampu saya berikan untuk orang lain sebab saya bahkan tidak mampu memberinya untuk diri saya sendiri.
Jika saya membiarkan Kiran mendekat, bukankah itu adalah perbuatan yang egois?
Bukankah Kiran juga terlihat sama menderitanya dengan saya? Bukankah sorot matanya nampak sama pilunya dengan saya?
Jika saya bagi luka ini dengannya, bukankah dia akan semakin menderita? Bukankah saya hanya akan memberinya semakin banyak rasa sakit?
Saat itu, saya menyadari bahwa kami tidak akan pernah bisa berada di dekat satu sama lain. Dan untuk itu, saya menghindarinya. Saya bertindak seolah-olah saya enggan dan sama sekali tidak ingin berada di dekat Kiran.
Berkali-kali saya melihat wajahnya yang sedih dan pilu karena apa yang saya lakukan. Dan berkali-kali pula saya merasa bersalah dan menyesal karena telah melukai Kiran. Saya membenci diri saya, saya membenci masa lalu saya yang mengerikan. Jika diberi kesempatan, saya ingin menghapus semuanya dan hidup dengan normal seperti anak-anak yang lain. Hidup tanpa perlu merasa takut berlebihan hanya dengan berada di sekitar lawan jenis.
Berbicara tentang lawan jenis, saya juga tidak mengerti kenapa saya tidak merasa takut dan gejala trauma saya tidak muncul saat berada di dekat Kiran. Entah karena merasa aman atau bagaimana, yang pasti perasaan takut dan reaksi ketakutan tidak pernah muncul tiap kali berada di dekat Kiran.
Alih-alih merasa takut, saya justru sering mengkhawatirkan dan merasa penasaran dengan keadaan Kiran. Salah satunya adalah hari itu.
__ADS_1
Usai saya mengingkari janji yang telah saya buat dengan Kiran, saya tidak pergi ke sekolah karena harus mengurus kepindahan ayah. Meski awalnya saya merasa takut dan tidak berani untuk tinggal bersamanya lagi, tetapi melihat tubuh ayah yang bertambah kurus dan kesehatannya yang memburuk membuat saya merasa khawatir. Alhasil, saya meminta kakek untuk mengizinkan ayah tinggal bersama saya agar saya bisa merawatnya dengan baik. Meski sempat menolak, pada akhirnya kakek membiarkan ayah tinggal di tempat saya.
Ayah benar-benar berubah. Ia menjadi lebih baik dan perhatian. Tidak lagi kasar dan linglung seperti terakhir kali. Ayah mengatakan bahwa ia menyesali semua yang telah ia lakukan dan merasa sangat bersahal karena telah merenggut masa depan seorang anak kecil. Ayah terus dihantui rasa bersalah di setiap hari-harinya sehingga kesehatan dan berat badannya menurun drastis.
Karena tidak masuk ke sekolah usai mangkir dari janji temu kami, saya terus mendapatkan telpon dari Naya dan juga Kiran. Awalnya saya berencana untuk tidak mengangkat telpon dari mereka dan benar-benar menjauh dari mereka semua. Namun, saya tidak bisa. Saya tidak tega lantaran Kiran terus berusaha menghubungi saya. Oleh karena itu, saya memintanya untuk datang ke sebuah tempat di dekat rumah agar kami bisa mengobrol.
Bukan untuk meminta maaf atau mengakrabkan hubungan kami, melainkan untuk memupuskan dan menghancurkan harapan yang sempat saya berikan kepada Kiran. Saya merasa harus mengakhiri semuanya dan benar-benar menjauhi Kiran sepenuhnya.
# (Kalau lupaa, ada di interval 1 bagian 14-15 :D)
Setelah membuatnya benar-benar kehilangan harapan, saya meninggalkan dia begitu saja dan melangkah menjauh dengan berurai air mata. Berat sekali rasanya melepaskan satu-satunya lentera yang saya miliki. Ya, Kiran adalah satu-satunya lentera yang membuat hidup saya tidak segelap di masa lalu. Dan saat itu, saya benar-benar ingin melepaskannya karena saya tidak ingin meredupkan Kiran dengan kegelapan yang ada di hidup saya. Kiran berhak bersama dengan orang-orang baik. Dan saya bukan salah satunya.
Keesokan harinya, saya masuk ke sekolah seperti biasa. Melalui hari seperti biasa dan melakukan semua yang perlu saya lakukan seperti biasanya pula. Saya pikir hari itu akan berlalu seperti baisanya. Namun, sepertinya takdir kembali memainkan perannya.
Sepulang sekolah, saya pergi ke ruang kesehatan untuk mengembalikan stetoskop yang sempat dipinjam oleh salah seorang teman untuk melakukan praktek drama pagi tadi.
Saya berjalan dengan pelan dan tidak bersemangat. Rasa bersalah sekaligus bimbang dan gelisah terus menghantui saya setelah mengatakan hal-hal yang mungkin melukai perasaan Kiran di malam sebelumnya.
Setibanya di ruang kesehatan, saya sempat mengira guru penjaga telah pulang dan mengunci ruangan. Namun, saya salah karena pintunya tidak di kunci saat saya memutar gagang pintu tersebut.
Tanpa banyak berpikir, saya masuk ke dalam kemudian meletakkan stetoskop tersebut di tempatnya. Namun, anehnya tidak ada guru penjaga ataupun anggota PMR di dalam sana. Benar-benar sunyi dan sepi. Saya nyaris mengira guru penjaga lupa mengunci pintu saat saya melihat seorang laki-laki tengah terbaring di salah satu ranjang.
Melihat hal tersebut, saya buru-buru membuang muka. Perlahan, saya mulai merasa panik dan berniat untuk segera pergi. Namun, sebelum saya membuka pintu, siswa laki-laki tersebut menggeram lirih. Ia terdengar seperti sedang bermimpi buruk.
Sebenarnya saya tidak terlalu peduli dan tertarik dengan hal tersebut. Namun, anehnya saya merasa penasaran dan ingin mengetahui siapa yang sedang berbaring di sana itu. Karenanya, saya berbalik dan berjalan pelan ke dekat ranjang. Saat itulah saya mendapati Kiran tengah berbaring di sana dengan wajah yang terlihat pucat disertai keringat dingin di hampir seluruh wajahnya.
Ia menggeram dan bergerak-gerak dalam tidurnya, seolah tengah memimpikan sesuatu yang amat sangat buruk.
Jantung saya mulai berdegup kencang seiring dengan semakin lamanya saya berada di sana. Karena bingung harus berbuat apa, saya mengeluarkan selembar sapu tangan dan mengusap keringat yang membanjiri dahi dan wajah Kiran.
Dengan perlahan, saya menyeka keringatnya sembari memandangi wajahnya yang rupawan itu. Dia terlihat begitu sedih dan menderita bahkan dalam tidurnya. Meski saya tidak tahu apa yang sedang ia hadapi, rasanya saya bisa merasakan apa yang Kiran rasa. Kesedihan serta ketakutan yang ada di wajahnya, saya juga merasakannya.
Tanpa sadar, tangan saya bergerak begitu saja dan hendak menyentuh wajah Kiran. Saya buru-buru menepis niatan tersebut dan sedetik setelahnya, Kiran menggeliat dalam tidurnya, membuat saya berjengit kaget dan buru-buru meninggalkan ruang kesehatan. Saya berlari keluar tanpa berpikir dua kali. Tentu saja, akan gawat jika Kiran terbangun saat saya masih berdiri di sebelahnya.
Dan bahkan setelah itu, saya kembali bertemu dengan Kiran di supermarket lantaran dia mengikuti saya. Sejujurnya saya menyadari itu, dan karenanya, saya kembali menekankan dan mencoba untuk membuatnya menyerah. Menyerah terhadap saya.
Dan setelah membuatnya pergi dengan wajah sedih dan kecewa, kesedihan dan rasa bersalah kembali menghantui saya. Saat itu, saya merasa sudah bersikap keterlaluan kepada Kiran. Saya merasa telah melakukan sesuatu yang buruk dan keterlaluan. Jika Kiran menginginkan pertemanan, maka seharusnya saya memberikan hal tersebut. Seharusnya saya membiarkan dia dan menuruti keinginan kecilnya yang sederhana.
Saat itu, saya mulai berpikir bahwa mungkin tidak akan masalah jika kami menjadi teman. Setidaknya, saya tidak harus membagi apa pun tentang saya. Saya hanya perlu berteman tanpa perlu membagi dan membuka hal-hal mengerikan yang tersembunyi dalam diri saya.
Dan karena keputusan itu, di sinilah kami sekarang. Jika saja saat itu saya tidak merasa bersalah dan tetap pada pendirian, semua hal tentang kami tidak akan berlanjut. Saya dan Kiran tidak akan bersama. Perasaan kami tidak akan tumbuh dengan begitu suburnya. Kami tidak akan saling berbagi rahasia dan kepedihan satu sama lain. Kiran tidak perlu terluka dan mengalami cidera parah. Dan tentu saja, Kiran tidak akan pernah berada di hutan ini dan membahayakan nyawanya sendiri hanya untuk menyelamatkan saya.
__ADS_1