
Matahari mengintip malu-malu dari arah timur, sinarnya yang terang dan kekuningan menembus celah-celah rumah serta jendela-jendela kaca.
Liliana berjalan pelan menaiki satu-persatu anak tangga untuk pergi ke kamar putra sulungnya. Perasaan dan hatinya diliputi rasa sedih yang amat dalam, begitu juga dengan semua orang yang ada di dalam rumahnya.
Dengan ragu, Liliana mengetuk pintu kamar Kiran sembari mengatakan, "Kiran, kalau sudah siap, langsung turun ke bawah ya? Kita sarapan dulu sebelum pergi ke pemakaman."
Awalnya, tidak terdengar suara sama sekali dari dalam kamar. Liliana sempat berpikir bahwa Kiran mungkin saja masih tidur. Setelah sempat menunggu dan belum kunjung mendapatkan sahutan dari Kiran, Liliana memutuskan untuk membuka pintu di hadapannya itu. Namun, sesaat sebelum ia memutar gagang pintunya, suara berat dan lirih terdengar dari dalam kamar Kiran, "Iya, Ma. Kiran sebentar lagi turun."
Mendengar jawaban Kiran membuat Liliana menghela napas lega. Tak ingin membuat Kiran merasa tidak nyaman dengan kehadirannya, Liliana bergegas kembali ke ruang makan, tempat di mana putra bungsunya beserta suaminya tengah duduk menunggu dirinya dan Kiran.
Sementara Liliana telah sampai di ruang makan dan kembali ke kursinya, Kiran masih berdiri di depan kaca dengan ekspresi sedih dan terluka. Ia memandang pantulan dirinya yang kini sudah terbalut setelan pakaian serba hitam disertai jas yang juga berwarna senada.
Kiran menghela napas berat. Ia tidak percaya hari ini benar-benar tiba. Ia masih tidak percaya semuanya bisa terjadi secepat ini. Bahkan, Kiran terus memandangi pantulan dirinya sendiri di depan kaca sebab ia masih kesulitan mempercayai semua ini. Ia ingin meyakinkan dirinya bahwa semuanya memang benar telah terjadi. Bahwa kini, ia dan semua orang tengah dilanda kesedihan yang mendalam atas kepergian seseorang yang amat sangat berarti.
Kiran membenahi kemejanya sebelum melangkah keluar dari kamar untuk kemudian bergabung bersama ayah, ibu, dan adiknya di ruang makan.
Pagi itu, mereka menyantap makanan masing-masing dengan sunyi dan tidak banyak berbincang. Semua orang sedang sama sedih dan berkabungnya.
Usai menyelesaikan sarapan mereka, Pradipta bergegas menyiapkan mobil dan membawa seluruh anggota keluarganya menuju ke pemakaman.
Kiran yang duduk di kursi depan bersama dengan sang ayah pun tidak banyak berbicara. Ia menatap keluar jendela dengan perasaan kosong. Banyak kendaraan yang berlalu lalang, tetapi tidak sebanyak hati libur.
"Kiran, kamu nggak apa-apa, Nak?" Liliana yang duduk bersama Arda di kursi belakang pun bertanya.
Kiran menoleh ke belakang sembari tersenyum tipis, "Nggak apa-apa, Ma."
"Ingat ya, kalau ada apa-apa kamu cerita sama Mama dan Papa," Liliana kembali mengingatkan Kiran akan satu hal penting yang entah sudah berapa kali ia ucapkan sejak enam bulan yang lalu itu.
Benar, sudah enam bulan berlalu semenjak kejadian mengerikan tersebut. Pada hari di mana Liliana dan Pradipta mengetahui bahwa Kiran tiba-tiba menghilang, semuanya benar-benar kalut dan kacau. Pradipta mengerahkan semua orang-orangnya untuk mencari Kiran. Rendi dan Roka pun meminta bantuan dan pertolongan kepada rekan-rekan mereka di sekolah, terlebih semua penggemar Kiran yang notabene adalah perempuan-perempuan yang nyaris semuanya memiliki skill stalker tingkat tinggi.
Anggota tim basket turut membantu pencarian meski turnamen mereka sudah semakin dekat. Bahkan, tim futsal juga turut membantu mencari Kiran dan Chandana lantaran mereka telah menganggap Kiran sebagai saudara. Selain itu, mereka juga merasa menyesal karena selama ini telah termakan oleh omongan dan tipu muslihat Edy. Mereka sama sekali tidak menyangka jika orang yang selama ini mereka anggap sebagai pemimpin ideal justru seorang penjahat yang teramat sangat mengerikan.
Setelah Roka akhirnya menemukan catatan yang ditinggalkan Kiran, mereka bergegas ke tempat di mana Kiran dan Chandana berada dengan membawa polisi serta orang-orang Pradipta. Beruntung mereka semua belum terlambat karena ternyata Kiran dan Chandana masih bernyawa ketika mereka tiba di tempat tersebut. Semuanya merasa sangat lega dan bahagia ketika mendapati Kiran dan Chandana masih baik-baik saja. Setidaknya sebelum Edy melesakkan peluru ke tubuh gadis malang tersebut.
---
Kiran melangkahkan kakinya dengan ragu. Telah banyak mobil-mobil yang berjajar rapih di sepanjang pintu masuk makam. Puluhan pria dan wanita terlihat berlalu-lalang dengan pakaian serba hitam. Beberapa rekan sekolah Kiran juga terlihat di sana, tak terkecuali Rendi, Ratih, Naya, serta Roka.
Hari ini adalah hari yang sangat menyedihkan bagi semua orang. Kiran berjalan sembari menggandeng pergelangan tangan Arda sementara kedua orang tuanya sibuk berbincang dengan beberapa orang dewasa yang menghadiri pemakaman tersebut.
"Bang, Arda ke sana sebentar ya? Sepertinya itu teman sekolah Arda," Arda menghentikan langkahnya saat melihat seorang gadis kecil berambut panjang tengah duduk termenung di sebuah bangku yang tak jauh dari pintu masuk pemakaman.
Kiran menaikkan sebelah alisnya lantas menunduk untuk mensejajari Arda, "Teman sekolah? Sekolah lama atau sekolah yang baru?" Kiran bertanya, mencoba memastikan.
Beberapa waktu yang lalu, Arda telah menjalani operasi yang kini sukses mengembalikan penglihatannya. Setelah banyak mempertimbangkan, kedua orang tua Kiran sepakat mengizinkan proses operasi karena pihak rumah sakit telah meyakinkan bahwa operasi Arda akan berjalan lancar dan juga aman meski usianya masih sangat muda. Oleh sebab itu, Arda yang dulu bersekolah di sekolah anak-anak berkebutuhan khusus pun dipindahkan ke sekolah anak-anak normal.
Kesembuhan Arda membawa warna tersendiri bagi hidup Kiran dan keluarganya. Meski begitu, semua kebahagiaan itu tidaklah bertahan lama karena berita duka kembali datang menimpa mereka.
"Di sekolah lama, Bang."
__ADS_1
"Hah? Kok kamu bisa tahu wajahnya?" Kiran kembali bertanya.
Arda menggaruk kepalanya dengan geram, "Aduh, kenapa banyak tanyaaa! Arda tahu mukanya karena ada foto bersama. Mama kasih tahu nama satu-persatu anak yang ada di dalam foto. Dan dia itu namanya Larasati, teman baik Arda! Dia... Nggak bisa bicara. T-tapi dia sering bantu Arda bayar makanan di depan sekolah dan bantu Arda jalan!" Arda menjelaskan dengan tergesa-gesa. Terlihat jelas bahwa ia benar-benar ingin segera pergi menghampiri Larasati.
Kiran tersenyum kecil menyadari tingkah adiknya. Ia lantas mengusap kepala Arda sembari mengatakan, "Yaudah pergi sana. Jangan jauh-jauh ya!"
Arda mengangguk antusias dan berlari kecil meninggalkan Kiran.
Usai memastikan Arda telah sampai dan duduk di bangku yang sama dengan Larasati, Kiran mengedarkan pandangan. Setelah mencari selama beberapa waktu, Kiran berhasil menemukan orang yang ia cari. Ialah Roka yang terlihat sedang berdiri di sebelah peti kayu dengan Naya yang memeluk lengannya.
Kiran menghela napas. Ini semua pasti begitu berat dan menyedihkan bagi Roka dan juga Naya. Rasanya, masih belum lama sejak Roka dapat berdamai dengan masa lalu dan memulai kehidupan dengan jauh lebih baik bersama dengan ayahnya dan tentu dengan sang ibunda juga, meski nyatanya kedua orang tua kandung Roka itu telah resmi berpisah.
Namun, semuanya tidak berlangsung lama. Meski semua masalah dan kesulitan Kiran telah berhasil terlewati, ia tidak bisa benar-benar merasa bahagia karena penyakit ibu kandung Roka terus bertambah parah yang kini berujung dengan kematian. Benar. Kini mereka semua hadir di pemakaman Rosa, ibu kandung Roka yang juga menjadi ibu tiri Naya.
Semua orang berkabung dan bersedih di tempat itu. Semua yang hadir terlihat sangat terluka dan yang paling parah adalah Roka dan juga Naya. Meski kini akhirnya mereka dapat menjalin hubungan tanpa harus menerima pandangan miring dari orang-orang, kehilangan sosok ibu benar-benar melukai hati Roka dan Naya. Mereka terlihat sangat hancur dan melihatnya membuat Kiran juga ikut hancur.
Kiran hendak berjalan ke arah Roka saat tanpa sengaja melihat sebuah mobil pajero berwarna hitam berhenti tak jauh dari tempatnya berdiri.
Dari sana, keluar seorang pria tua dengan yang masih terlihat gagah dengan rambut yang sudah putih seluruhnya. Tidak begitu lama, seorang gadis muda mengikuti dan ikut turun dari dalam mobil. Gadis tersebut mengenakan dress berwarna hitam yang menggantung selutut disertai dengan lengan panjang. Rambut sebahunya terlihat sangat cantik dan kontras dengan warna kulitnya yang sepucat susu. Wajahnya yang cantik terlihat sendu dan sedih.
Sementara itu, Kiran menatap gadis tersebut dengan kaki gemetar. Jantungnya seolah mencelos keluar saat melihat wajah itu lagi setelah sekian lama. Wajah yang sangat ia rindukan, yang hampir setiap malam menghiasi mimpi dan angannya. Wajah yang selalu ingin ia lihat dan ia gapai selama berbulan-bulan. Wajah yang selalu menghantui hari-harinya dan membekapnya dengan rindu yang teramat dalam.
Sudah enam bulan lebih sejak gadis tersebut menghilang tanpa jejak. Sudah enam bulan lebih sejak Kiran mendengar bahwa gadis yang dicintainya itu harus bertahan melawan luka fisik serta batin yang dialaminya. Sudah enam bulan lebih sejak Kiran menderita dan diliputi rasa khawatir serta gelisah, membayangkan di mana Chandana dan bagaimana keadaannya. Setiap hari dilalui Kiran dengan rasa penasaran dan juga bayang-bayang tentang bagaimana dan apa yang dilakukan Chandana selama ini.
Enam bulan bukanlah waktu yang sebentar bagi dua insan yang saling mencintai untuk terpisah tanpa ada satu pun kabar maupun informasi. Kiran tidak pernah tahu bagaimana dan di mana Chandana berada.
Selama enam bulan ini, Kiran berusaha keras mencari dan menemui Chandana. Bahkan, Pradipta memohon kepada keluarga Chandana untuk mempertemukan Kiran dan gadis tersebut. Namun, Kiran tak pernah bisa, Pradipta pun tak bisa berbuat banyak. Mereka mengatakan bahwa Chandana menderita trauma berat setelah kejadian itu. Ia selalu ketakutan dan menolak bertemu dengan siapa pun terlebih dengan Kiran. Ia menderita serangan panik dan berpikir bahwa semua orang yang berada di dekatnya akan terluka dan disakiti. Meski Edy telah pergi dan menerima hukuman yang setimpal -Edy mati tertembak polisi usai ia menembak Chandana- luka yang ditorehkannya masih membekas di benak dan hati Chandana. Memang mudah saja memulihkan luka fisik, tetapi tidak dengan luka hati.
Gadis tersebut menghilang dari permukaan tanpa ada satu orang pun yang mengetahui keberadaannya selain keluarganya sendiri. Kiran berusaha memahami hal tersebut karena ia sadar bahwa kakek Chandana melakukan semua itu untuk melindungi cucunya, untuk memastikan keselamatan Chandana. Meski berat bagi Kiran, ia berusaha menjalani hari-harinya seolah tak pernah ada yang terjadi.
Pada awalnya, semua masih sering membahas dan membicarakan soal dirinya, soal Edy, soal Chandana. Mereka bertiga menjadi topik hangat yang selalu diperbincangkan baik di sekolah maupun di koran serta majalah. Namun, waktu menghapus semuanya. Chandana perlahan mulai menghilang dari pikiran orang-orang. Berita tentang mereka berganti dengan berita-berita baru dan buah bibir baru.
Kiran pun tak lagi membahas soal Chandana dengan teman-temannya. Mereka semua seolah mengetahui bahwa Kiran tengah mencoba untuk memulai hal baru sehingga tanpa disuruh pun semua rekan-rekan Kiran mulai berhenti membicarakan soal Edy dan Chandana sebab dari sanalah semua luka dan kenangan pahit berasal.
Kiran menjadi pribadi yang baru. Ia menjadi dirinya sendiri dan benar-benar berubah. Ia menghabiskan waktu bersama anak-anak futsal dan terkadang bermain bersama Rendi, Roka, Naya, dan Ratih. Mereka sudah benar-benar seperti sahabat karib enam bulan belakangan ini.
Namun, meski dirinya selalu terlihat baik dan tak lagi dihantui oleh rasa penasaran dan khawatir tentang sosok Chandana, Kiran tak pernah bisa benar-benar mengeluarkan gadia tersebut dari pikirannya. Ia menyimpan Chandana di dalam hati dan pikirannya tiap kali sedang bersama dengan orang lain. Lantas, saat tiba waktu ia tengah sendirian, Kiran mengeluarkan kembali gadis tersebut dan memikirkannya tanpa henti. Semua kenangan manis dan pahit mereka semula terasa sangat nyata dan berarti hingga perlahan mulai kabur dan terasa bagai mimpi.
Kini, gadis itu ada di hadapan Kiran. Gadis itu berdiri dengan tegap. Gadis itu terlihat sehat dan masih bernapas dengan baik.
Kiran menitihkan sebulir air mata saat Chandana berjalan melewatinya begitu saja tanpa menoleh sedikit pun. Entah menyadari keberadaan Kiran atau tidak, yang pasti gadis tersebut terlihat menggandeng erat lengan kakeknya sembari menunduk dan berjalan menuju keramaian lantaran upacara pemakaman akan segera dimulai.
Menyadari hal itu, Kiran buru-buru menghapus air matanya dan segera bergabung bersama dengan yang lain sehingga upacara tersebut dapat segera dimulai.
Kiran tahu bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat baginya untuk memikirkan Chandana dan merasakan perasaan aneh dan bahagia yang tiada tara itu di hatinya. Namun, Kiran tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Ia sangat sedih dan hancur melihat Roka dan Naya menangis meratapi kepergian Rosa, tetapi di sisi lain Kiran tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Chandana.
Sejujurnya, bukan hanya Kiran yang dibuat terkejut dengan kemunculan Chandana di pemakaman ibunda Roka. Semua teman-teman Kiran dan orang-orang yang hadir di pemakaman pun terlihat sama terkejutnya.
Setelah upacara pemakaman berakhir, Chandana menghampiri Naya dan memeluknya dengan erat. Keduanya menangis bersama, melepas kesedihan serta kerinduan yang selama ini mereka rasakan untuk satu sama lain. Sementara itu, Kiran yang berdiri tidak jauh dari Naya dan Chandana pun hanya bisa memandangi keduanya tanpa memiliki keberanian untuk mendekati gadis yang amat ia rindukan tersebut.
__ADS_1
Menyadari hal ini, Roka menghapus air matanya dan berjalan ke arah Kiran. Ia berusaha terlihat baik-baik saja dan menggoda Kiran terkait dengan kemunculan Chandana setelah sekian lama menghilang.
"Cieh!"
"Apaan sih. Lo tuh lagi berkabung, ya. Jangan senyam-senyum begitu lo!" Kiran memandang Roka dengan tatapan kesal. Bisa-bisanya ia bercanda di saat-saat seperti ini.
Roka tersenyum tipis, "Kalau lo ragu nyamperin Chandana karena kita lagi ada di pemakaman nyokap gue, lo bodoh. Lo nggak tahu kapan bisa ketemu lagi sama dia. Lo nggak tahu kapan bisa ngelihat dia lagi. Sekarang lo samperin Chandana. Gue yakin dia pasti juga serindu itu sama elo."
Setelah sempat bimbang, Kiran memutuskan untuk menuruti perkataan Roka. Ia berjalan ke arah Chandana dan Naya. Seolah mengerti, Naya pun pamit undur diri dan meninggalkan Kiran berdua bersama dengan Chandana.
Nampaknya, Chandana telah mengetahui keberadaan Kiran sejak tadi. Hanya saja ia berusaha mati-matian menghindari Kiran lantaran ia tidak kuasa menahan air mata dan kerinduan yang menggebu-gebu di dalam hatinya. Melihat sosok itu lagi membuat Chandana merasakan perasaan yang tak dapat ia ungkapkan dalam bentuk kata apa pun.
Selama ini ia berada pada kondisi di mana ia menjadi seseorang yang sangat rapuh dan mengerikan. Ia tak berani menemui Kiran dalam kondisi mengerikan itu. Dalam kondisi mentalnya yang tak stabil itu. Bahkan, sampai saat ini Chandana masih belum benar-benar yakin apakah dirinya telah benar-benar pulih.
Namun, melihat Kiran berada di dekatnya membuat Chandana merasa sangat tenang. Sangat nyaman. Lelaki itu berhasil menyingkirkan semua ketakutan dan ketidaknyamanan di hati Chandana bahkan hanya dengan berdiri di sana tanpa melakukan apa-apa.
Chandana menghindari kontak mata dengan Kiran lantaran kedua maniknya mulai berkaca-kaca.
"Kamu.. Sehat," Kiran berujar lirih. Ia tidak percaya bahwa yang ada di hadapannya saat ini memang benar-benar sosok Chandana.
Mendengar suara Kiran membuat pertahanan Chandana runtuh seketika. Ia tak bisa lagi berpura-pura tidak merindukan Kiran. Ia tidak bisa lagi berpura-pura tidak peduli dengan keberadaan laki-laki tersebut.
Chandana mengangguk pelan sembari menengadah, menatap kedua manik mata Kiran yang mengilat-ngilat karena air mata.
"Kenapa kamu meninggalkan saya? Kenapa kamu pergi meninggalkan saya, Chandana?"
Chandana sudah tidak dapat lagi membendung air matanya. Ia terisak perlahan, begitu juga Kiran yang berulang kali menarik ingus serta mengusap pipinya yang basah.
"Saya melukai kamu. Saya selalu dan akan terus melukai kamu."
Kiran melihat Chandana tengah memainkan jemarinya. Kiran tahu betul bahwa Chandana hanya begitu tiap kali ia merasa gugup. Karenanya, Kiran meraih tangan Chandana. Menggenggamnya dengan lembut sembari berkata, "Semua orang selalu saling menyakiti. Sengaja ataupun tidak, akan selalu ada yang sakit. Saya sudah melepaskan kamu sekali dan berakhir dengan penjahat itu membawa kamu pergi entah kemana. Sekarang, saya tidak akan pernah melepaskan kamu lagi."
"Saya mungkin nggak bisa menjanjikan bahwa kamu tidak akan pernah menangis atau bersedih lagi. Saya tidak bisa menjanjikan bahwa kamu akan selalu baik tanpa pernah terluka lagi. Tapi saya akan memastikan bahwa saya akan selalu ada di sana untuk menghapus kesedihan dan air mata kamu. Bahwa saya akan ada di sana dan menggenggam tangan kamu saat kamu terluka."
Chandana tersenyum kecil di tengah isakannya. Ia lantas berjalan mendekat dan menyandarkan kepalanya di dada Kiran. Tak tinggal diam, Kiran mendekap Chandana dan memeluknya dengan erat. Mencurahkan segala kerinduannya, segala perasaan yang ia pendam selama ini.
"Terima kasih Kiran. Terima kasih," Chandana melepaskan pelukan mereka. Ia menengadah dan memandang Kiran dengan senyum simpul yang amat sangat cantik dan tulus.
Kiran mengusap rambut Chandana. Ia lantas memegang pipi Chandana dengan kedua tangannya dan mendaratkan kecupan di dahi gadis tersebut.
Chandana mencengkeram jas Kiran saat laki-laki tersebut mencium bibirnya, menyalurkan segala perasaan mereka ke dalam ciuman yang begitu lembut dan hangat.
Penderitaan dan masalah terbesar mereka memang telah berhasil mereka lalui dengan baik. Segalanya telah berhasil mereka hadapi dan lalui. Namun, bukan berarti mereka akan terbebas dari masalah-masalah kehidupan yang lain.
Masalah akan selalu ada, musibah akan selalu datang sebab memang begitulah hidup. Menyelesaikan satu masalah tidak akan membuat masalah benar-benar berhenti. Namun, dengan keyakinan dan kepercayaan kepada diri sendiri serta orang-orang yang kita kasihi, segala masalah akan selalu dapat diselesaikan sebab Tuhan tidak pernah menguji manusia melebihi batas kemampuannya.
Apa pun yang nantinya menunggu Kiran dan Chandana di depan sana, apa pun yang nantinya akan menimpa semua manusia di masa depan, segalanya pasti dapat kita lalui. Meski sulit, meski berat, akan selalu ada tempat untuk meminta dan juga kembali. Akan selalu ada orang-orang baik yang dikirim Tuhan sebagai perantara-Nya. Karena itu, tetaplah percaya.
-End-
__ADS_1