Chandana

Chandana
Bagian 27


__ADS_3

Belasan bus besar yang semula berbaris sembari melaju konstan di jalanan landai menuju arah puncak kini terlihat memisah di sebuah belokan. Beberapa bus yang membawa siswa kelas 12 mengambil arah kanan sedang sisanya mengambil arah kiri.


Pemandangan di kanan-kiri semakin indah seiring dengan semakin dekatnya mereka dengan tempat tujuan. Cuaca mendung dan berkabut menyelimuti sepanjang perjalanan mereka pagi itu. Beberapa bus terdengar heboh dan berisik oleh kegiatan karaoke, beberapa lainnya terlihat sepi dan sunyi sebab banyak yang tertidur mengingat cuaca mendung dan berkabut yang membuat hasrat ingin tidur semakin tak terbendung. Tidak terkecuali Roka yang mendengkur sembari menyandarkan kepalanya di bahu Kiran.


Semalam mereka tidur cukup malam lantaran menonton film, wajar saja jika Roka tidak kuasa menahan hawa dingin dan berakhir tidur dengan mulut menganga. Beberapa kali Kiran menyingkirkan kepala Roka dari bahunya saat temannya itu mengorok-ngorok seperti seekor b*bi yang kekenyangan, namun pada akhirnya kepala Roka tetap kembali bersandar di bahu Kiran.


Di dalam bus mereka tidak terlalu ramai, sebagian besar kini tengah tertidur sedangkan sisanya asyik mengobrol santai. Kiran duduk tepat di samping jendela sehingga satu-satunya hal yang ia lakukan di sepanjang perjalanan hanyalah diam sembari memandang keluar, memperhatikan setiap gerak-gerik pengendara lain atau sekedar membaca banner-banner pertokoan. Kini mereka sudah memasuki area puncak, pemandangan yang tersuguh pun sangat amat memanjakan mata dan membuat Kiran senang. Tentu saja melihat perkebunan teh dan pegunungan terasa lebih menarik daripada memandangi toko-toko dan bangunan tinggi di kota.


Selama kurang lebih 3 jam perjalanan, Kiran sempat ingin membaca kindle yang dibawanya dari rumah, namun ia batalkan niatannya itu lantaran takut merasa pusing.


Perjalanan terus berlanjut, ketenangan masih menyelimuti sekitarnya sampai bus tiba-tiba mendadak berhenti, menimbulkan suara berdecit nyaring yang memekakan telinga, menyentakkan beberapa anak yang asyik tertidur hingga membentur kursi di depan mereka.


Roka terbangun, ia mengusap kedua matanya dengan kasar seraya bergumam tidak jelas, "Ada apaan sih?" adalah kalimat pertama yang Roka ucapkan saat beberapa anak berlarian ke depan untuk melihat sesuatu di depan sana dari dekat kursi kemudi.


Kiran mengendikkan bahunya, tidak tahu, tidak tertarik.


Roka mendengus seraya merapikan rambutnya, dengan ragu ia berjalan ke depan untuk melihat apa yang menghentikan perjalanan mereka.


Kiran masih duduk di tempatnya saat sebuah bus besar yang juga mengangkut siswa-siswi dari sekolahnya berhenti tepat di samping bus mereka. Kiran menoleh, mengamati anak-anak dari bus sebelah yang juga terlihat sama kesal dan terkejutnya dengan bus yang mendadak berhenti. Kaca bus yang transparan membuat Kiran dengan jelas melihat semua kegiatan anak-anak dari bus sebelah. Ia masih mengamati dari depan ke belakang saat melihat seorang gadis yang amat ia kenal tengah menunduk sembari membalik halaman sebuah buku.


Kiran tersenyum. Ia teringat bahwa alasan ketertarikannya dengan gadis tersebut adalah buku yang dipinjamnya dari perpustakaan sekolah juga perpustakaan umum, namun nyatanya hingga saat ini pun ia tidak pernah menyinggung soal buku di hadapan Chandana.


Jantung Kiran berdebar cepat saat Chandana menggeliat di kursinya sembari menoleh ke samping, mendapati Kiran tengah menatapnya dengan mata berbinar.


Chandana tersenyum. Mereka hanya saling memandang selama beberapa waktu saat tiba-tiba bus yang dinaiki Kiran mulai melaju kembali. Memisahkan dua orang yang tengah asyik berbagi kata melalui tatapan mata. Di sisi lain, Roka berjalan kembali ke kursinya, mengalihkan pandangan Kiran yang sebelumnya masih memandang bus berwarna biru yang kini mereka tinggalkan di belakang sana.


"Ada apa?" tanya Kiran.


Roka membetulkan jaketnya kemudian duduk di tempatnya, "Ada kijang mati di jalan. Nggak tau siapa yang nabrak."


Kiran mengangkat kedua alisnya, "Kijang?"


Roka mengangguk, menarik kantong plastik dari bawah kursinya kemudian memilih sebuah makanan ringan dan membuka bungkusnya, "Mau?"

__ADS_1


Kiran menggeleng, kembali memusatkan perhatiannya keluar jendela.


Waktu berjalan begitu lambat di sepanjang perjalanan saat akhirnya mereka berhasil tiba di sebuah lahan kosong yang membentang luas layaknya lapangan sepakbola dengan ditumbuhi rumput-rumput pendek. Total 7 buah bus telah tiba. Anak-anak mulai berhamburan keluar dengan tidak sabaran, berlomba-lomba mengeluarkan barang bawaan mereka dari bagasi bus.


Kiran turun dari bus dengan tenang lantaran hampir semua anak telah turun terlebih dulu. Ia mengeluarkan kopernya dengan perlahan saat menyadari Chandana tengah berusaha menarik barang bawaannya dari bagasi bus berwarna biru yang terparkir tepat di sebelah bus yang Kiran naiki.


Chandana tidak menyadari bahwa Kiran berada tepat di belakangnya sebab ia berdiri membelakangi laki-laki tersebut. Dengan tenang, Kiran mendekati Chandana, "Butuh bantuan?"


Chandana melangkah mundur karena terkejut, usai mengetahui bahwa laki-laki itu adalah Kiran, Chandana mengelus dada dengan lega. "Boleh."


Kiran mengangkat koper abu-abu milik Chandana, kemudian menurunkannya tepat di depan Chandana. Mereka berjalan beriringan menuju barisan kelompok kelas yang telah disesuaikan dengan undian tempo hari. Chandana mengedarkan pandangan untuk menemukan Naya, namun terlalu gaduh dan ramai hingga ia tidak bisa menemukan Naya di manapun.


Kiran melirik Chandana yang terlihat gelisah, gadis tersebut benar-benar terlihat kurang terbiasa dengan keramaian. "Chandana di sini aja dulu, nanti setelah apel baru cari Naya. Lagipula kita tinggal di villa yang sama kan?"


Chandana menoleh, ia nyaris lupa bahwa kini ia bersama Kiran. Dan untuk itu, hatinya merasa sedikit tenang. "Saya lupa kalau ada kamu."


"Tadi kamu beneran kayak anak ayam lagi nyari emaknya," goda Kiran yang membuat Chandana merasa malu.


Tidak begitu lama, beberapa guru pendamping mulai menyebar untuk mengatur barisan siswa agar terlihat lebih rapi dan teratur. Kepala sekolah yang kini terlihat santai dengan mengenakan setelan olahraga pun memberi pengarahan singkat mengenai apa-apa saja yang harus dilakukan setelah ini. Ia juga memberi peringatan agar semua siswa mematuhi aturan acara sekaligus menghindari hal-hal yang dilarang untuk dilakukan selama acara berlangsung.


Chandana merapikan rambutnya saat angin berhenti bertiup. Kiran melirik gadis tersebut, selembar daun kecil tersangkut di rambutnya.


"Chandana, maaf ya." Kiran mengambil daun tersebut kemudian merapikan kembali rambut Chandana dengan mengusapnya pelan.


Chandana membuang muka begitu juga Kiran yang langsung menggaruk telinganya yang tidak gatal. Ia tidak tahu hal sederhana yang baru saja ia lakukan bakal membuat jantungnya serasa ingin mencelos keluar menembus dada. Keduanya masih sibuk menahan malu saat seseorang berjalan cepat dengan sebuah koper hitam besar dari belakang, lantas menyenggol bahu Kiran dengan amat kencang hingga nyaris membuatnya terjatuh di jalan menurun yang mereka lalui saat ini.


Chandana terkejut melihat Kiran nyaris terjatuh, "Kiran! Kamu nggak apa-apa?"


Kiran menggeleng pelan, lantas melihat siapa yang menabrak bahunya dari belakang.


Kiran menghela napas saat melihat Rendi menoleh ke arahnya dengan senyum sinis. Kiran bahkan sempat berpikir masalah mereka sudah selesai, namun tentu saja hal tersebut tidak mungkin terjadi dalam waktu dekat. Melihat bagaimana cara Rendi menatap Chandana dengan wajah penuh dendam saja sudah membuat darah Kiran mendidih. Entah apa yang ada dipikiran Rendi hingga tega mengusik Chandana yang bahkan hanya didekatinya saja sudah ketakutan setengah mati.


Chandana menatap Kiran dengan perasaan khawatir, sorot matanya sarat akan rasa bersalah. Kiran menoleh untuk menatapnya, kemudian tersenyum singkat, "Kenapa? Bukan karena nolongin kamu kok. Saya sama Rendi memang sudah nggak bisa akur sejak sebelum saya ketemu kamu. Nggak usah khawatir."

__ADS_1


Chandana menahan senyum melihat kepercayaan diri Kiran. "Kenapa percaya diri sekali? Saya nggak khawatir sama kamu."


Kiran menganga tidak percaya. "Hah? Oke, mana si Rendi-"


"Iya-iya. Saya hanya bercanda. Saya hanya tidak ingin kamu terluka karena saya." Chandana berjalan mendahului Kiran.


Kiran tersenyum malu.


Begitupun saya, Chandana. Saya nggak ingin kamu terluka karena saya seperti halnya gadis itu, seperti Arda, atau seperti lain-lainnya.


---


Komplek villa yang menjadi tempat berlangsungnya kegiatan outbond bagi siswa kelas 11 SMA Tunas Kelapa terlihat cukup ramai. Komplek villa mewah ini merupakan kepemilikan salah seorang alumni yang dengan senang hati menyewakannya kepada pihak sekolah dengan harga terjangkau untuk mendukung terlaksananya kegiatan sekolah yang diselenggarakan setiap tahunnya. Satu villa sendiri terdiri dari 2 bangunan rumah besar dengan fasilitas lengkap yang masing-masing terdiri dari lima belas kamar.


Tentu saja satu bangunan khusus untuk perempuan sedangkan satu bangunan lagi khusus untuk laki-laki. Komplek villa ini memang dirancang khusus untuk kegiatan liburan dengan kapasitas besar. Selain kemegahannya, masing-masing villa juga dilengkapi taman, kebun belakang, dan kolam renang yang cukup luas. Di dalam setiap kamar pun tersedia kamar mandi dalam guna menambah kenyamanan pengunjung.


Di malam pertama mereka berada di tempat ini, kegiatan pertama ialah lomba cerdas cermat yang dilakukan di gedung aula yang berada di pusat komplek. Gedung tersebut biasanya disewakan sebagai gedung pernikahan, namun kini pihak sekolah mempergunakannya sebagai arena berkumpul atau sarana berlangsungnya beberapa kegiatan.


Setelah pembagian kelompok di sore harinya, secara kebetulan Roka berada di tim yang sama dengan Chandana dan juga Rendi, sedangkan Kiran berada satu tim dengan Naya dan Ratih beserta 7 orang lainnya. Saat itu pula Kiran baru mengetahui jika selama ini Rendi berada di kelas yang sama dengan Ratih. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana tersiksanya gadis tersebut menjadi bulan-bulanan Rendi dan teman-temannya. Di sisi lain, Kiran merasa sedikit khawatir dengan kenyataan bahwa Chandana satu tim dengan Rendi. Meski Roka telah meyakinkan Kiran bahwa ia akan menjaga Chandana, Kiran tetap tidak bisa tenang. Bahkan hingga saat ini ia tidak sedikitpun melepaskan pandangannya dari gadis tersebut.


"Cerdas cermat kali ini lo sama Ratih ya yang ikutan? Kalian berdua kan pinter," Bagas mendesak Kiran, mencoba meyakinkan temannya itu agar mau mewakili tim mereka.


Kini setiap tim tengah membentuk lingkaran untuk berdiskusi, memilih dua anggota yang akan mereka utus untuk ikut serta dalam lomba cerdas cermat. Kiran yang sejak tadi sibuk mencuri pandang ke gerombolan tim Chandana pun terkejut dengan usulan Bagas sebab temannya itu tahu betul Kiran enggan tampil di hadapan umum atau menjadi pusat perhatian.


"Enggak, lo tahu gue gak bisa." Kiran menolak secara halus.


Naya menyimak perdebatan tersebut dengan seksama. Sesekali ia melirik Ratih yang tidak sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari Kiran. Dari situ Naya menyimpulkan bahwa Ratih memang benar-benar menyukai Kiran. Bahkan setelah perlakuan Kiran beberapa bulan yang lalu, ia masih memandang Kiran dengan mata berbinar dan penuh kekaguman. Naya merasa khawatir, bagaimana jadinya jika Ratih diperlakukan dengan lebih baik oleh Kiran, gadis tersebut pasti semakin menggilainya. Lalu bagaimana nasib Chandana?


Jika diperhatikan, Ratih memang sangat cantik. Rambut sebahu yang hitam pekat membuatnya terlihat sangat segar, wajahnya bersih dan senyumnya indah. Ia terlihat seperti seorang model profesional dengan postur tubuh idel dan tinggi badan proporsional. Namun Chandana tidak kalah cantik. Temannya itu memiliki mata yang sangat indah dengan bulu mata yang lentik dan panjang, wajahnya mungil dengan mata bulan sabit yang akan terlihat tiap kali ia tersenyum. Di balik wajah sendunya, Chandana memiliki kulit pucat serta rambut panjang yang indah. Kulitnya mulus dan tubuhnya ramping. Meski ia mungkin beberapa centimeter lebih pendek dari Ratih, Naya meyakini itu bukanlah masalah besar.


Dari segi fisik, keduanya tidak jauh berbeda, sama-sama cantik. Kini dari segi sifat. Jika Naya boleh menyimpulkan dari pengamatan singkat yang baru saja ia lakukan, Ratih merupakan gadis yang ceria dan talk active, ia cerdas dan pemikir yang baik. Gadis tersebut sangat karismatik dengan suaranya yang lantang dan percaya diri, ia juga murah senyum pada semua orang, menghargai tiap-tiap mereka yang berusaha menyampaikan pendapat. Dengan semua hal yang dimiliki Ratih, Naya benar-benar sulit untuk tidak memperhatikannya sebab Ratih memang semenarik itu. Tidak heran gadis tersebut sangat populer di kalangan semua orang. Kalaupun beberapa tahun mendatang Naya mendengar kabar bahwa Ratih memenangkan ajang kecantikan Putri Indonesia, ia tidak akan kaget sama sekali.


Di sisi lain, Chandana adalah orang yang pendiam dan sangat tenang. Ia begitu anggun dan berhati-hati. Chandana selalu terlihat cantik dan lemah lembut, ia menarik perhatian bahkan ketika sedang tidak melakukan apa-apa. Ia jarang berbicara, namun sangat perhatian dan antusias ketika mendengar orang lain berbicara. Chandana juga pemalu dan rendah hati. Meski banyak menghabiskan waktu dengan Chandana akhir-akhir ini, Naya masih belum benar-benar mengenali gadis tersebut. Ia sangat tertutup dan misterius. Jika Ratih dapat membuat Naya mengenali karakternya hanya dengan melihat sebentar saja, Chandana berbeda. Gadis itu tidak tertebak dan penuh misteri. Setiap kali mereka melakukan sesuatu bersama, selalu ada hal baru tentang Chandana yang baru pertama kali diketahui Naya.

__ADS_1


Puas menerka-nerka, Naya mengamati Kiran. Menebak-nebak gadis seperti apa yang akan dipilihnya. Yang menyenangkan seperti Ratih, atau yang menenangkan seperti Chandana.


__ADS_2