
Setelah menyadari bahwa kami tidak dapat meninggalkan tempat ini dengan menggunakan kendaraan yang ada, Kiran berusaha keras menghubungi polisi serta teman-teman dan juga orang-orang terdekat kami. Namun, di sini tidak ada sinyal. Di hutan yang sepi ini, jangankan sinyal internet, kendaraan pun bagaikan benda langka yang sangat jarang ditemui.
Kiran menggaruk kepalanya dengan raut wajah gelisah, dia benar-benar ingin segera membawa saya pergi dari sini sebab tidak tega melihat kondisi saya yang terlihat sangat menyedihkan dan juga berantakan.
Saya menyadari itu. Darah yang semula tersembur keluar dari dahi saya pun kini telah mengering. Belum lagi pakaian yang sudah kotor dan lusuh. Saya bahkan merasa tidak nyaman karena Kiran harus melihat saya dalam kondisi yang semengerikan ini.
"Pertama, kamu harus makan dulu. Badan kamu gemeteran loh ini," Kiran menyentuh bahu saya dengan terus mencoba mengangkat ponselnya guna mendapatkan sinyal.
"Edy sempat memasang jaringan wifi di kabin. Di sana juga ada makanan dan pakaian. Kita harus segera pergi ke sana sebelum Edy sadar," saya mengusulkan.
Kiran menaikkan sebelah alisnya, "Kabin?"
Saya mengangguk sembari meraih jemarinya, "Kita jalan dulu," saya menggandeng Kiran dan menuntunnya ke arah kabin meski saya sendiri tidak tahu pasti di mana keberadaan kami saat ini. Setidaknya saya bisa mengikuti jejak ban mobil Edy yang mengular di sepanjang jalanan hutan.
"Ayah sama almarhumah ibu saya punya kabin di hutan ini. Udah bertahun-tahun nggak dipakai. Jadi, Edy berpikir dia akan aman kalau bersembunyi di sini karena nggak akan ada orang yang memperkirakan hal itu. Mana ada penjahat yang sembunyi di aset milik korban?" Saya melirik Kiran yang kini menggenggam tangan saya dengan begitu eratnya.
"Emang ya, si Edy orangnya secerdik dan sepintar itu. Saya benar-benar nggak nyangka dia bisa melakukan semua ini," Kiran melirik saya, mencoba membantu saya melewati batu-batu besar beserta jalanan yang tidak bersahabat.
"Iya."
"Kamu capek banget ya? Kelihatannya lemas banget. Saya gendong aja ya?" Kiran menghentikan langkahnya saat menyadari saya yang terus saja terseok-seok tiap kali menjejaki tanah.
Saya menggeleng kuat-kuat, "Nggak usah. Kamu kan belum pulih juga. Badan kamu masih belum sehat kan. Saya bisa jalan sendiri."
Kiran melepaskan pautan tangan kami, lantas melangkah lebar dan berjongkok di depan saya.
Dia menoleh ke belakang sembari menyunggingkan tersenyum tipis yang entah kenapa benar-benar ampuh untuk membuat jantung saya berdebar.
"Enggak kok. Nggak apa-apa. Ayooo naiik!" Kiran masih bersikeras, bukan dengan paksaan atau suara yang lantang, ia meminta saya seolah-olah dialah yang paling membutuhkan hal ini, bukannya diri saya sendiri.
Dengan masih ragu, saya mengatakan, "Kamu yakin? Kamu kan masih sakit."
Kiran menggeleng, senyuman manisnya itu tidak memudar sedikit pun. Ia berusaha keras meyakinkan saya bahwa ia baik-baik saja dengan semua ini meski saya sendiri menyadari bahwa tubuhnya belum benar-benar pulih. Namun, apa boleh buat. Siapa pun tidak akan mampu menolak jika seseorang sebaik dan semenggemaskan Kiran memintanya.
Maaf, apa saya baru saja mengatakan bahwa Kiran menggemaskan? Maaf, jangan salah paham, saya tidak bermaksud begitu. Kiran tidak menggemaskan. Enak saja.
Saya berjalan ragu, lantas naik ke punggungnya dan ia segera berdiri perlahan setelahnya. Kiran menggendong saya di punggungnya dan berjalan dengan perlahan serta hati-hati. Awalnya, saya dapat merasakan bahwa otot-otot punggungnya seolah berkontraksi hebat. Namun, setelah beberapa detik berlalu, ia terlihat mampu beradaptasi dengan baik.
"Boleh saya bersandar?"
Entah dari mana datangnya permintaan itu, tetapi sadar tidak sadar, kalimat itu terucap begitu saja dari bibir saya. Tentu, tentu saya merasa terkejut dengan diri saya sendiri karena mengatakan hal tersebut dengan tiba-tiba. Namun, saat saya tengah sibuk merutuki diri sendiri yang sangat ceroboh dan juga aneh ini, Kiran menoleh sembari mengatakan, "Bolehlah. Masa enggak. Jangankan senderan, rebahan juga boleh kok. Hehe."
Pipi saya bersemu merah. Dengan ragu, saya mengalungkan lengan saya di leher Kiran, lantas menyandarkan kepala saya di bahunya yang bidang.
Aroma rambut Kiran begitu harum dan segar. Wangi buah-buahan. Hingga tanpa sadar, saya kembali berucap, "Kamu suka buah apa?"
"Buah?" saya dapat merasakan Kiran tengah menoleh ke belakang untuk melihat ke arah saya, mungkin dia bingung karena saya tiba-tiba saja bertanya hal se-random itu.
"Saya suka buah semangka," jawab Kiran pada akhirnya.
Tak merasa puas, saya pun kembali bertanya, "Kenapa semangka?"
Astaga, kenapa saya kepo sekali sih jadi orang? Kenapa tidak diam saja dan membiarkan Kiran fokus pada jalanan hutan yang terjal dan tidak rata ini?
__ADS_1
"Maaf, saya kepo sekali ya?" saya berujar lirih, semakin membenamkan kepala saya di bahu Kiran yang bidang.
"Hah? Enggak kok. Saya malah suka kalau kamu tanya-tanya begitu. Lagipula, apa kamu nggak sadar ya kalau kita selama ini minim ngobrol? Padahal saya ingin sekali ngobrol banyak sama kamuu. Cuma nggak tahu mau ngobrolin apaa karena di dekat kamu rasanya udah senang bangett. Rasanya nggak ngomong apa-apa juga udah damai dan tenang. Tapi yakali sampai tua kita diem-diem aja."
Saya tersenyum mendengarnya. Entah apa pun itu, semua hal yang dikatakan Kiran selalu memiliki arti bagi saya. Kami tidak banyak bicara, tetapi apa pun yang Kiran katakan selalu memiliki arti dan nilai bagi saya. Jadi, sekarang saya tahu bahwa bukan hanya saya yang menganggapnya begitu. Ternyata Kiran pun memiliki anggapan yang sama. Lega dan senang sekali rasanya saat mengetahui bahwa apa yang saya rasakan selama ini ternyata juga dirasakan oleh Kiran.
"Gimana sama semangka?" saya tengah berusaha mengarahkan topik pembicaraan kami kembali ke jalurnya. Saya tidak bisa untuk tidak berdebar jika Kiran terus membicarakan hal-hal yang baru saja ia katakan.
"Eh iya. Semangka ya," Kiran tertawa lirih, "Ya enak aja. Dibikin es enak, di gadoin begitu doang juga mantep. Mana buahnya juga gede kan, jadi ga cepet abis. Hemat, cerdas, ceria."
"Hah masa cuma begitu aja?"
"Ye, emang kalo suka buah apalagi alasannya?"
"Yaa, apa gitu. Kali aja ada alasan filosofisnya. Kan kamu biasanya begituu," saya mengangkat kepala untuk melihat sisi wajah Kiran yang kini tengah menatap lurus ke depan.
"Ada sih alasan filosofisnya. Tapi enggak ah, saya nggak mau cerita."
"Yaah, kok gitu?"
Kiran tersenyum kecil, lantas kembali berucap, "Ini lurus doang kan?"
"Iya. Ikuti aja jejak ban mobilnya Edy."
"Oke. Kamu tidur aja. Nanti kalau udah sampai, aku bangunin kamu. Ya?"
"Boleh?"
Saya mengangguk, membaringkan kembali kepala saya di bahu Kiran dengan nyaman.
---
"Chandana.."
"Chandana.. Bangun. Udah sampai nih."
Saya mengerjap beberapa kali saat mendengar seseorang memanggil nama saya. Dengan sedikit rasa ngilu di beberapa bagian tubuh, saya membuka mata dan mendapati bahwa kami telah sampai di depan kabin. Kiran telah berhasil membawa saya kembali ke kabin.
Dengan perlahan-lahan, Kiran menurunkan saya dari punggungnya. Saat itu pula saya melihat keringat dingin membanjiri kening serta tubuh Kiran. Entah sejauh apa ia telah berjalan sembari menggendong saya di belakangnya, yang pasti Kiran pasti telah sangat kesusahan.
Saya mendekat ke arah Kiran dan mengulurkan tangan untuk menghapus keringat serta peluh yang membanjiri wajahnya, "Capek ya?"
Kiran mengangguk setuju, "Iya nih. Kamu berat banget. Abis makan batu ya?"
Saya memukul pelan lengan Kiran dengan senyum terkembang, "Yaudah, ayo cepat masuk. Kamu hubungi polisi sama orang rumah, mandi dan ganti pakaian, lalu bawa makanan sebanyak mungkin."
Kiran menaikkan sebelah alisnya, "Kita nggak menunggu polisi datang aja? Emang kalau kita bawa makanan dan segala macem itu, kita harus kemana lagi? Bentar lagi malem juga kan."
"Tempat ini nggak aman Kiran. Kamu lihat sendiri kan, Edy adalah orang yang sangat terencana. Bukan nggak mungkin dia sudah memperkirakan bahwa kita akan ada di sini. Akan bahaya kalau sampai dia kembali dan kita masih ada di sini. Ada tempat lain yang bisa kita kunjungi. Dan hal baiknya, Edy nggak tahu sama sekali tentang keberadaan tempat itu. Jadi, ayo cepat. Kita nggak bisa berlama-lama di sini," saya kembali mengingatkan Kiran untuk tidak meremehkan Edy. Kami tidak boleh lengah karena apa pun bisa saja terjadi.
Kiran tidak membantah, ia menyetujui ucapan saya dan bergegas masuk ke dalam kabin sembari menyalakan ponselnya.
Sementara Kiran sibuk menghubungi orang-orang yang ia rasa perlu untuk dihubungi, saya bergegas pergi ke kamar dan membersihkan diri.
__ADS_1
Rasanya segar sekali saat air dingin dan sejuk yang bersumber dari air pegunungan ini mulai menyentuh kulit saya. Beberapa luka terbuka yang tersebar di sekujur tubuh serta wajah saya pun mulai terasa perih bukan main. Namun, tidak ada waktu untuk meratap atau merasa sakit. Saya harus bergegas dan pergi sesegera mungkin. Entah kenapa, semenjak saya membuka mata usai tidur selama beberapa waktu tadi, perasaan saya sedikit tidak enak. Rasanya seolah ada yang mengganggu hati dan pikiran saya, sebuah firasat buruk.
Setelah membersihkan diri selama kurang lebih lima belas menit, saya berjalan keluar dari kamar mandi untuk mengambil beberapa pakaian. Beberapa hari lalu, Edy sempat membelikan saya belasan set pakaian sebab ia membawa saya kemari tanpa membiarkan saya membawa satu pun barang pribadi.
Tanpa menimbang dan memilih apa yang hendak saya kenakan, dengan cepat saya mengambil sebuah kaos berlengan pendek beserta celana panjang berbahan kain. Setelahnya, saya berjalan turun ke bawah dan mendapati Kiran tengah berdiri di ruang tamu.
"Udah hubungin orang rumah?" saya bertanya sembari melangkah cepat ke arah dapur untuk mengemasi beberapa makanan.
Tidak ada jawaban dari Kiran. Merasa ada yang tidak beres, saya pun kembali bertanya, "Ada apa?"
Kiran berjalan ke arah saya dengan tatapan lesu dan sedih.
"Nggak ada. Nggak ada jaringan internet. Edy udah hancurin router-nya. Dia udah hancurin semuanya. Makanan pun udah nggak ada sama sekali."
Saya membelalak. Dengan cepat, saya membuka kulkas, lemari makanan, dan menggeledah seluruh tempat yang ada di dapur dengan terburu-buru. Namun, tidak ada apa pun. Jangankan makanan, sarang laba-laba pun tidak ada. Semuanya kosong dan bersih. Seolah Edy telah mengetahui bahwa kami akan berhasil membebaskan diri dan kembali ke kabin.
Jantung saya berdetak dengan kencang. Ketakutan serta kepanikan mulai menjalari diri saya sekali lagi. Saya takut kami tidak bisa melarikan diri. Saya takut Edy akan kembali menangkap kami dan menyiksa Kiran di hadapan saya seperti yang ia lakukan beberapa waktu yang lalu. Saya takut kami akan terjebak di sini tanpa ada satu orang pun yang mengetahui. Saya takut Kiran terluka, saya taku-
"Jangan takut. Di sini ada saya. Kamu nggak sendirian lagi. Selama saya ada di dekat kamu, saya akan terus jagain kamu. Jangan takut, Chandana," Kiran meraih tangan saya yang gemetar, menggenggamnya dengan lembut dan erat. Ia seolah sedang menyalurkan keberanian dan kekuatan melalui sentuhan kami. Ia seolah tengah menguatkan saya dan mencoba memberikan rasa aman kepada saya.
Saya memandangnya, begitu pun Kiran yang juga tengah memandang saya dengan senyum tipisnya yang terlihat amat sangat tulus dan menenangkan itu.
Saya turut tersenyum. Rasanya, ketakutan dan kegelisahan saya berangsur-angsur pergi hanya dengan menyadari bahwa saya tidak sendiri. Bahwa Kiran ada di sini dan menggenggam tangan saya. Bahwa kami bersama-sama.
"Ngomong-ngomong, kamu udah cantiiikkk banget. Tapi saya-nya masih buluk dan kotor begini kan apaan banget. Saya juga mau mandi dan ganti baju tau. Ada baju cowok nggak ya?" ujar Kiran sembari mengibaskan pakaiannya dengan ekspresi kebauan.
Saya tertawa kecil, "Pasti ada di kamar Edy. Dia belanja pakaian banyak sekali. Tapi nggak tahu juga kalau dia bawa atau buang semua baju-bajunya."
Kiran mengangguk mengerti, "Di mana kamarnya Edy?"
Saya berjalan mendahului Kiran, berniat mengantarnya menuju kamar Edy yang terletak di lantai dua. Kiran mengikuti saya dari belakang sembari berulang kali memuji betapa indah dan cantiknya tempat ini. Kiran mengatakan bahwa ia akan menyarankan agar ayahnya juga membeli sebuah kabin di tengah hutan seperti ini agar mereka sekeluarga dapat sesekali berlibur dan merasakan rasanya hidup sebagai Tarzan.
"Kalau Tarzan itu hidupnya di rumah pohon, Kiran. Bukan di kabin. Kalau mau jadi Tarzan ya tinggal ke hutan aja terus tiduran."
"Ye, kalo tau-tau ke hutan terus tidur mah bukan Tarzan atuh, itu teh gilak."
Saya tersenyum pelan sembari memutar gagang pintu kamar Edy yang ternyata dalam kondisi terkunci.
"Sini, biar saya dobrak," Kiran meraih bahu saya dan meminta saya sedikit menyisih agar ia dapat mendobrak pintu kayu tersebut.
"Kamu yakin? Kita cari sesuatu aja buat rusakin gagang pintunya. Kalau kamu dobrak emang nanti nggak sakit?" Saya mencoba menyarankan opsi lain agar Kiran tidak perlu membenturkan tubuhnya untuk sekedar membuka pintu kamar Edy.
Kiran menaikkan sebelah alisnya, "Kamu tuh ya. Ini nih, begini ini kerjaan anak cowok. Masa begitu doang letoy sih pakek bantuan alat lain. Kamu liatin ya, betapa gagah beraninya saya."
Kiran mengambil ancang-ancang, lantas membenturkan tubuhnya untuk mendobrak pintu tersebut berulang kali. Awalnya, Kiran tak kunjung berhasil hingga saya sendiri jadi merasa khawatir karena melihatnya beberapa kali mengernyit dan menahan sakit.
brak!
Pintu terbuka. Kiran nyaris terjungkal saat pintu terbanting ke dalam. Alih-alih mendapati kamar yang bersih atau pakaian yang rapih, saya dan Kiran dibuat terkejut bukan main usai melihat tiga tubuh manusia tergeletak di atas ranjang. Dua di antaranya tubuh laki-laki yang kepala dan beberapa bagian tubuhnya telah hancur, satu lagi tubuh seorang wanita yang sudah tanpa kepala.
Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata saya. Jari-jari tangan saya gemetar, begitu juga dengan kaki saya yang mendadak lemas dan tidak bertenaga.
Kiran berdiri dengan sama terkejutnya, dia berbalik dan memandang saya, "I-Ini apa... Mereka sia- Hoooeeeekkkk!"
__ADS_1