
Kiran mengerjap beberapa kali. Kepalanya terasa amat berat sementara pandangannya masih kabur. Setelah selama kurang lebih tiga menit berusaha mengumpulkan kesadaran, Kiran mencoba bangun dari ranjang sembari terus mengerjapkan mata. Usai duduk dengan posisi sempurna, Kiran mengedarkan pandangan, mencoba memastikan dimana dirinya berada saat ini. Butuh waktu beberapa menit agar Kiran benar-benar meyakini bahwa dirinya kini masih berada di ruang kesehatan sekolah.
Dengan gerakan lemah, Kiran membenahi seragamnya kemudian beranjak dari ranjang. Ia menyempatkan diri untuk melihat keluar jendela, langit agaknya terlihat gelap entah karena waktu yang menjelang malam atau karena mendung. Untuk kembali memastikan, Kiran merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel pintarnya guna melihat jam digital yang ada di sudut kiri layar handphone tersebut.
Jam 4 sore? Buset, udah berapa jam tidur coba.
Tak ingin semakin lama berada di ruang kesehatan, Kiran memutuskan untuk segera pergi dari tempat tersebut. Namun sebelum ia benar-benar meninggalkan ruang kesehatan, ia mendapati sebuah kertas di saku seragamnya. Dengan ragu, Kiran menarik keluar kertas tersebut kemudian membentangkannya. Dan benar saja, terdapat beberapa paragraf tulisan tangan di sana. Kiran menghela napas kemudian mengernyitkan dahinya. Tulisan di kertas tersebut teramat jelek hingga ia dengan mudah menyadari siapa penulisnya.
*Heh, maaf gue ninggalin lo sendirian di sini. Gue ada sparing di lapangan basket sama anak sekolah sambalado yang kemaren. Lo tau lah tanpa gue anak sekolah kita susah menangnya '<'
Tas lo gue taruh di samping pintu. Terus kunci uks gue taruh di saku lo. Pas keluar jangan lupa lu kunci itu ruangan ato besok gue di kill sama yang jaga. Jangan balik sendiri, lo ke lapangan aja ntar gue anterin pulang.
Kaga usah belagu ya lu, bangun langsung ke lapangan daripada ngegelepar di jalan kan berabe.
Oh iye, tadi gue udah bilangin ke Edy kalo lo kaga bisa ikut latihan futsal dulu gegara sakit.
Jangan lupa gue gini-gini jagain lo seharian kaga gratis ya b*ngke. Gajinya aku tunggu mas <3*
Kiran mendecih tertahan lantaran merasa jijik sendiri membaca tulisan tangan Roka. "Apaan banget si najis emang."
Usai membaca semua yang ditulis Roka, Kiran melipat kertas tersebut kemudian membuangnya di tempat sampah yang ada di dalam UKS, saat itu pula Kiran tanpa sengaja melihat sebuah sapu tangan berwarna toska yang tergeletak tepat di sebelah ranjang yang tadi ia tempati.
Tanpa pikir panjang Kiran bergegas mengambil sapu tangan tersebut. "Masa iya ini punya Roka? Sejak kapan dia suka warna terang begini." dengan ragu, Kiran menghirup aroma sapu tangan tersebut.
Alih-alih aroma parfum Roka, Kiran justru merasakan wangi feminim yang terasa sangat familiar baginya, "Kaya kenal baunya, tapi siapa ya?" ujar Kiran seraya mencoba mengorek kembali ingatannya namun sayangnya ia tetap tak dapat mengingat apapun.
__ADS_1
Kiran mendesah pelan, sebaiknya ia pulang terlebih dahulu. Perihal sapu tangan tersebut mungkin bisa ia tanyakan pada Roka yang memang seharian ini menjaganya. Usai merapikan pakaiannya, Kiran mengambil tasnya kemudian keluar dan mengunci pintu ruang kesehatan. Awalnya Kiran sempat terhenti dan mempertimbangkan untuk pergi ke lapangan basket guna menemui Roka, namun setelah dipikir-pikir kembali, Kiran sudah merasa lebih sehat dan bugar bila dibandingkan dengan pagi tadi. Ia optimis bisa pulang sendiri tanpa perlu diantar oleh Roka. Setidaknya Kiran tidak perlu merepotkan Roka lebih banyak lagi jika harus mengantarnya kembali ke rumah.
Kiran mengubah arah tujuannya yang semula lapangan basket menjadi tempat parkir. Dengan langkah pelan, ia mencoba menikmati perjalanan dengan mengamati pepohonan serta gedung-gedung sekolah yang ada di kiri dan kanannya. Bila diingat kembali, Kiran sudah banyak berubah jika dibandingkan satu bulan yang lalu. Kiran satu bulan yang lalu mungkin akan bergegas pulang dan enggan berlama-lama di sekolah, ia juga tidak akan mau repot-repot membantu tim futsal meski sebenarnya ia selalu dan sangat ingin membantu orang lain. Kiran yang dulu adalah orang baik yang enggan dianggap demikian lantaran tidak ingin punya banyak teman, tidak ingin disukai banyak orang.
Kiran tersenyum samar menyadari betapa lugu dan naif dirinya selama ini. Lihat saja dirinya sekarang, secara tiba-tiba menjadi sosok yang amat berbeda, secara tiba-tiba berani mengekspresikan semua emosi dan perasaannya hanya karena seorang gadis yang bahkan tidak benar-benar ia kenal. Kiran tidak tahu apakah ini adalah hal baik atau buruk, namun karena Chandana, ia berhasil melelehkan gunung es yang selama ini membelenggu dirinya, perlahan-lahan ia pun mulai bisa menerima dan memaafkan dirinya sendiri. Namun di saat yang bersamaan, Chandana terus membuat Kiran merasakan perasaan-perasaan baru yang tidak ia mengerti. Chandana membuatnya merasa sakit bahkan meski gadis tersebut sama sekali tidak melakukan hal yang salah.
Masa iya gue suka Chandana?
Kiran menggeleng pelan. Ia harus berhenti memikirkan Chandana. Ia tidak boleh egois dan memaksakan kehendaknya atas Chandana. Mengingat kembali respon yang diberikan Chandana semalam membuat Kiran menyadari bahwa kehadirannya selama ini mungkin mengganggunya, gadis tersebut mungkin terlalu baik sehingga tak bisa menolak dirinya secara terang-terangan. Selama ini ia terus berusaha mendekati Chandana, berusaha menjadi teman bagi gadis tersebut tanpa pernah memikirkan bagaimana perasaannya. Kiran sadar tidak semua orang merasa senang di dekati, tidak semua orang ingin punya teman. Bahkan Kiran dulu merasa risih tiap kali ada lawan jenis yang berusaha dekat dengannya. Lantas kenapa selama ini ia tidak sadar juga?
Bener. Kenapa gue nggak kepikiran? Kenapa selama ini gue seegois itu?
Kiran melanjutkan perjalanan menuju parkiran dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi ia merasa bersalah karena telah bersikap egois selama ini, namun di sisi lain ia tak ingin menyerah begitu saja. Mungkin saja Chandana kini tengah menderita, mungkin saja gadis tersebut tak memiliki siapapun untuk berbagi seperti halnya dirinya di masa lalu. Kiran terus dilingkupi perasaan bimbang dan dilema. Usai berpikir keras di sepanjang perjalanannya menuju parkiran motor, Kiran memutuskan untuk tidak lagi mengganggu Chandana. Ia tak ingin membuat gadis tersebut merasa terganggu dan tidak nyaman dengan kehadirannya.
Awalnya Kiran acuh dan terus berjalan menuju motornya. Namun seiring dengan semakin terkikisnya jarak di antara mereka, Kiran merasa mengenali sosok tersebut. Rambut panjangnya yang tergerai bergerak-gerak tertiup angin, kulitnya yang putih bersih, serta outer berwarna hijau muda yang terlihat padu dengan kulit pucatnya. Meski hanya melihat dari belakang, Kiran tahu betul bahwa gadis tersebut adalah Chandana.
Entah harus disebut apa semua kebetulan ini. Baru saja Kiran memikirkan tentang Chandana dan kini ia justru bertemu dengan gadis tersebut tanpa kesengajaan sama sekali. Kiran terdiam sesaat. Matanya fokus memandangi Chandana yang kesulitan berjalan karena luka di lututnya. Ingin sekali rasanya Kiran mendekat dan membantu gadis tersebut, namun ia takut mengganggunya lebih dari kemarin. Setelah lama berpikir, Kiran memutuskan untuk mengikuti Chandana dari belakang. Meski tak bisa berinteraksi secara langsung, setidaknya ia ingin memastikan Chandana sampai di rumah dengan selamat.
Awan mendung nampak semakin pekat menyelimuti langit, gemuruh pun mulai bersahutan disertai percikan-percikan kilat dari kejauhan. Sementara itu Chandana tidak terlihat ragu maupun gentar, gadis tersebut terus menyusuri jalanan dengan tertatih. Sesekali ia berhenti untuk membenahi outernya atau sekedar mengatur napas.
Di belakang, Kiran tidak sedikitpun mengalihkan pandangan dari punggung Chandana. Ia ingin mengulurkan tangan seraya membantu gadis tersebut, namun nyatanya Kiran tak cukup berani. Ia bukannya merasa takut atau ragu berjalan ke depan sana kemudian meraih lengan Chandana, yang ia takuti ialah respon yang mungkin akan Chandana berikan padanya serta kenyataan bahwa Chandana mungkin akan semakin membencinya lantaran ia terus mengusik gadis tersebut.
Kiran menggigit bibir bawahnya seraya menatap khawatir saat menyaksikan Chandana nyaris terjatuh karena kehilangan keseimbangan. Tubuhnya refleks berlari saat menyadari gadis tersebut akan jatuh, namun tak sampai dua langkah ia berlari, buru-buru Kiran menghentikan kakinya dengan paksa. Ia tak ingin Chandana menyadari kehadirannya. Di saat yang bersamaan Kiran terus bertanya-tanya sampai mana Chandana akan terus berjalan. Apa mungkin ia akan berjalan sampai rumah? Gila. Kiran mendesah frustasi membayangkan betapa jauh jarak yang akan ditempuh gadis yang kini nampak tak berdaya tersebut jika ia memang akan pulang dengan berjalan kaki.
Sementara Kiran sibuk memusatkan perhatiannya pada Chandana, titik-titik air mulai turun dari langit mendung sore itu. Kiran tak menyadari bahwa hujan mulai turun dan membuat basah pakaiannya sampai saat Chandana melepaskan tas punggungnya guna menutupi kepala dan tubuhnya dari guyuran air hujan yang semakin lama semakin deras. Menyadari hal ini membuat Kiran tidak bisa menahan diri lagi, ia tidak bisa diam saja melihat seorang gadis yang sedang sakit kehujanan seperti itu.
__ADS_1
Dengan setengah berlari, Kiran mendekat ke arah Chandana. Namun belum habis jarak di antara dirinya dan Chandana, gadis yang sejak tadi ia ikuti itupun terlihat menepi di sebuah minimarket. Chandana menurunkan tasnya kemudian mengibaskan air yang membasahi tas punggungnya itu. Selagi Chandana sibuk dengan tasnya, Kiran menutupi wajahnya kerah seragam lantas berlari cepat ke dalam minimarket.
Kiran berhenti tepat di sebelah pintu masuk. Dari posisinya berdiri, ia bisa dengan jelas melihat sosok Chandana yang tengah sibuk mengibaskan tas serta menepuk-nepuk outernya. Kiran menghela napas. Ia menoleh ke bagian dalam minimarket, menatap rak-rak berisi berbagai macam benda serta makanan dengan seksama, mencoba mencari payung, jas hujan, atau sekedar minuman yang mungkin dapat menghangatkan tubuh di tengah hujan yang semakin deras ini.
Kiran bergegas memindai rak-rak yang tersusun di dalam minimarket. Tanpa ragu ia mengambil coklat, susu, roti, serta payung. Ia berharap bisa memberikan semua itu pada Chandana, meski ia sendiri masih belum yakin bagaimana caranya.
Usai membayar semua benda yang ia beli, Kiran memasang masker yang tadi sempat ia ambil sebelum berjalan menuju meja kasir. Kiran berpikir mungkin dengan menyamar akan sedikit meningkatkan rasa percaya diri dalam dirinya, meski bisa saja Chandana justru mengenali dirinya bahkan tanpa perlu mendengarnya berbicara, seperti halnya ia yang bisa dengan mudah mengenali Chandana dari kejauhan.
Kiran membuka pintu minimarket dengan pelan. Matanya menelisik, mencoba menemukan Chandana di tempat terakhir kali ia melihat gadis tersebut, "Loh, kok enggak ada ya?" ujar Kiran saat tidak dapat menemukan sosok Chandana. Perlahan ia melangkah menuju tempat di mana gadis tersebut berdiri beberapa waktu yang lalu, dan memang benar Chandana sudah tidak lagi berada di sana.
"Mau sampai kapan kamu mengikuti saya?" Suara lembut seorang perempuan yang terdengar tepat di belakang Kiran membuatnya terlonjak kaget. Ia sontak memutar tubuhnya menghadap ke belakang dan mendapati Chandana tengah berdiri sembari menatapnya dengan tatapan dingin.
Jantung Kiran nyaris berhenti karena keterkejutan yang luar biasa, ia bahkan tidak bisa berkata-kata sebab dirinya telah tertangkap basah tengah mengikuti Chandana. Kiran merutuk dalam hati, faktanya kini ia telah melakukan hal yang selangkah lebih buruk dari kemarin, "Maaf, tapi saya nggak bermaksud buruk. Saya lihat kamu kesusahan jalannya, jadi saya ikutin dari belakang karena takut kamu kenapa-kenapa."
Chandana menghela napas pelan, ia membuang pandangan seraya menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. "Lalu kalau saya kenapa-kenapa, urusannya apa sama kamu? Saya nggak ngerti ya, sebenernya mau kamu itu apa sih?" Chandana kembali menatap tepat di kedua mata Kiran, namun tak lama ia segera mengalihkan kembali pandangannya.
Tanpa Kiran sadari, rahangnya mengeras. Darahnya berdesir usai mendengar ucapan Chandana. Memang benar tak ada yang salah dari ucapan gadis tersebut, namun entah kenapa tatapan serta nada suara Chandana yang dingin itu menyakiti hatinya.
"Iya memang bukan urusan saya. Sejak awal saya sudah bilang kalau saya mau berteman sama kamu. Saya nggak tahu kenapa, tapi saya baru pertama kali merasa seperti ini pada seorang perempuan. Kamu berbeda, kamu berhasil mengubah diri saya, kamu membuat saya berhenti membaca buku di malam hari karena setiap malam satu-satunya hal yang terus terlintas di pikiran saya adalah kamu. Kamu berhasil mengusir rasa risih dan juga takut yang selama ini saya rasakan pada setiap perempuan. Kamu membawa perubahan sebesar itu pada diri saya bahkan tanpa kamu menyadarinya, tanpa kamu melakukan apa-apa." Kiran menghentikan kalimatnya, tenggorokannya terasa kering, detak jantungnya berdebar amat cepat, kedua matanya pun terasa panas lantaran terus menatap Chandana.
"Meskipun saya tidak benar-benar mengenal kamu, meskipun saya bukan apa-apa bagi kamu, tapi setelah semuanya, kamu adalah orang yang berarti bagi saya."
Kiran mengusap setetes air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. Tanpa ingin berlama-lama mengusik dan menyita waktu Chandana, Kiran meletakkan kantok plastik berukuran sedang yang berisikan barang-barang yang dibelinya dari minimarket beberapa waktu yang lalu.
"Di sini ada payung sama makanan. Jangan hujan-hujanan ya." ujar Kiran yang langsung pergi berlari menerobos hujan. Meninggalkan Chandana yang masih berdiri mematung usai mendengar segala isi hati Kiran selama ini.
__ADS_1