
Roka memandang Naya sejenak, kemudian beralih ke Kiran, "Tentang orang yang ngawasin kita. Sebelum masuk sekolah, gue beberapa kali sempat ngerasa diawasin pas lagi ada di tempat-tempat umum. Tapi dua hari lalu di taman sekolah, lo ngerasa di awasin juga kan?" Roka menunjuk Kiran dengan jari telunjuknya.
Kiran mengangguk ragu, "Gue udah coba cari kemana-mana, tapi gue nggak bisa nemuin siapa. Lagipula pihak sekolah nggak ngizinin orang luar atau orang tanpa seragam buat masuk area sekolah kan? Gue jadi mikir apa itu cuma perasaan gue aja," Kiran menjelaskan. Ia sendiri tidak bisa memastikan, tetapi ini bukan kali pertama baginya merasa diawasi. Jika itu hanya perasaannya, lantas bagaimana dengan Roka dan Naya yang juga mengalami hal serupa?
"Justru itu. Kita nggak bisa nemuin karena mungkin dia salah satu di antara kita. Anak Tunas Kelapa," Roka membeberkan dugaannya. Bukan tidak mungkin jika yang selama ini mengawasi dan membuntuti mereka adalah rekan mereka sendiri.
Naya mengangguk setuju, "Mungkin aja. Tapi siapa?"
"Bukan, bukan. Sebelum memutuskan buat cari tahu siapa, kita harus tahu dulu alasannya. Kenapa kita diawasi?" Kiran mencoba membuat semuanya lebih mudah.
Pertama-tama, mereka harus mengumpulkan persamaan di antara mereka bertiga untuk menyimpulkan titik temu yang mendasari alasan orang tersebut mengawasi mereka. Kemudian, setelah dapat mengumpulkan beberapa alasan, mereka bisa menghubungkan alasan-alasan tersebut dengan orang-orang yang mungkin berkaitan. Hanya menebak-nebak pelaku akan memakan terlalu banyak waktu karena semua orang memiliki peluang yang sama untuk dicurigai.
Kiran berlari ke kamar Arda untuk mengambil kertas dan pensil. Ia merasa harus ada yang menulis semua hasil diskusi mereka agar lebih mudah diingat dan diterapkan.
"Menurut lo berdua, kesamaan kita bertiga apa? Atau paling enggak apa yang membuat kita bertiga saling berhubungan?" Kiran bertanya. Ia ingin Naya dan Roka berpikir sedikit lebih keras kali ini.
"Sebentar-sebentar. Mungkin sebelum kita mulai merujuk ke siswa, kenapa kita nggak taruh penjahat itu di prioritas utama? Bisa aja dia bayar anak Tunas Kelapa buat mata-matain kita?" Roka mengusulkan.
Sial! Kiran nyaris melupakan pria itu. Ya, kenapa tidak? Sejauh ini satu-satunya orang yang memiliki motif untuk menginterupsi kehidupannya adalah penjahat itu.
Kiran menuliskan nama penjahat itu di daftar utama orang yang paling patut dicurigai.
Naya menatap keduanya dengan bingung, "Penjahat apa?"
Roka dan Kiran bertatapan, mereka lupa jika kini Naya sedang berada di tengah-tengah mereka. Dengan terpaksa, Kiran menjelaskan semuanya pada Naya. Tentang Arda, tentang masa lalunya, tentang bebasnya Arif dari penjara, serta tentang teror yang ia terima beberapa waktu yang lalu.
Awalnya Kiran berpikir Naya akan baik-baik saja setelah mendengarnya, namun kini yang ia lihat justru seorang gadis yang tidak bisa menyembunyikan ketakutan, ia gemetar. Roka berusaha menenangkan Naya dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang terluka karena orang itu. Roka juga mencoba membuat Naya lebih tenang dengan mengatakan kebohongan jika orang yang mengawasi mereka pasti bukan suruhan Arif meski sebenarnya Roka sendiri belum yakin benar.
Kiran yang merasa bersalah karena telah menceritakan semuanya kepada Naya dan membuatnya merasa khawatir pun mengatakan pada Roka untuk mengantar Naya ke kamar agar gadis tersebut dapat beristirahat.
"Bentar ya," Roka melirik Kiran sekilas kemudian membawa Naya ke kamar Arda.
Kiran menatap keduanya dengan perasaan bersalah. Bagaimanapun juga, jika dugaan mereka benar maka itu berarti Kiran telah membahayakan teman-temannya. Ia telah membuat mereka semua berada dalam bahaya hanya karena mereka bergaul dan berada dekat dengan Kiran. Kini, Kiran justru merasa lebih khawatir lagi pada Chandana. Jika Roka dan Naya diikuti, tidak menutup kemungkinan Chandana juga mengalami hal serupa.
Kiran mencoret-coret kertas di hadapannya dengan perasaan marah. Ia marah pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Mungkin sebaiknya gue menjauh dari semua orang. Kalau dekat dengan gue membuat mereka dalam bahaya, semua nggak akan ada artinya. Gue harus menjauh dari semua orang dan nyelesaiin masalah ini sendiri.
Kiran beranjak dari karpet berbulu, ia berdiri kemudian berjalan menuju kamar orang tuanya dan mengunci pintu dari dalam. Jika memang orang ini mau menyakiti Kiran, maka sakiti saja dirinya, jangan orang-orang yang berada di dekatnya.
Setelah memastikan keadaan Chandana esok hari, Kiran bertekad untuk tidak menemuinya lagi jika Chandana memang benar-benar dalam kondisi baik-baik saja. Kiran tidak akan menjalin kedekatan atau pertemanan dengan siapapun sampai ia bisa menyelesaikan semua masalah ini sendiri.
Tidak begitu lama usai Kiran membaringkan diri di atas kasur, terdengar suara gedoran dari luar. Rupanya Roka kini tengah berusaha untuk menyuruh Kiran keluar dari kamar dan melanjutkan pembicaraan mereka.
Dengan enggan, Kiran berjalan ke arah pintu seraya meneriakkan, "Tidur aja sono lu!"
Maksud Kiran dengan menjauhi semua orang tentu saja termasuk Roka di dalamnya. Meski ia tahu akan sulit untuk membuat Roka mengerti, namun Kiran benar-benar tidak ingin membuat Roka terlibat dalam semua ini. Setidaknya untuk kali ini, Kiran ingin Roka mengedepankan dirinya sendiri, memikirkan keselamatannya sendiri dan membiarkan Kiran menyelesaikan semua masalah yang belum terselesaikan dengan orang itu. Jika perlu, Kiran akan dengan senang hati mendatangi penjahat tersebut dan membuatnya mengatakan apa yang sebenarnya ia inginkan.
---
Sinar mentari pagi menerpa dedaunan dan genting-genting rumah yang masih berselimut embun, membiaskan cahayanya pada beberapa benda mati yang tersebar di seluruh muka bumi. Kicauan burung yang terdengar seperti lantunan alarm ponsel membangunkan Kiran dari tidurnya. Ia menggeliat di bawah selimut kemudian beranjak dan pergi ke kamar mandi usai melihat angka pada jam digital yang terletak di atas nakas.
Masih jam 5. Batin Kiran.
Menurutnya, ia harus pergi dari rumah sebelum Naya dan Roka terbangun dari tidur. Ia ingin segera memastikan keadaan Chandana serta membereskan urusan dengan Pak Arif. Jika ayahnya cenderung lebih berhati-hati dan waspada, Kiran tidak akan bertindak sama. Alasannya sederhana, Kiran tidak ingin mengulur terlalu banyak waktu dan memberikan lebih banyak kesempatan pada para penjahat ini untuk menebar ketakutan serta menekan mental Kiran dan keluarga. Terlebih setelah kini ia mengetahui bahwa kawan-kawannya juga ikut terseret, tentu Kiran tidak akan tinggal diam dan menunggu lebih lama lagi untuk bangkit dari zona nyaman.
Kiran mencoba mengatur waktu agar ia bisa menyelesaikan masalah dengan Chandana sebelum jam 11 sebab pertandingan final akan digelar pukul 2 dan timnya harus berkumpul di stadion sejak pukul 12 untuk menghadiri acara penutupan.
Dengan mulut penuh, Kiran mengunyah roti dengan menggenggam segelas susu. Ia menatap kosong ke arah tumpukan piring, menerawang kembali apa yang dikatakan Naya semalam. Gadia itu mengatakan bahwa Chandana memiliki banyak luka memar di tubuhnya, Naya juga meyakini jika alasan Chandana selalu mengenakan pakaian panjang selama ini ialah karena gadis itu mencoba menutupi luka-lukanya.
Kiran berusaha mengingat kembali waktu-waktu yang ia habiskan bersama Chandana. Mencoba menggali memori dan menemukan petunjuk yang mengamini pernyataan Naya. Usai lama berpikir, Kiran mengingat satu kejadian di mana ia mencoba menggulung lengan sweater Chandana saat mereka pergi ke tempat piknik.
Awalnya Chandana bersikap normal dan biasa saja, namun sesaat setelah Kiran menggulung lengan sweaternya agar tidak terkena rembesan darah dari lukanya yang belum benar-benar kering, Chandana mendadak agresif dan menyentakkan tangan Kiran begitu saja, seolah-olah apa yang Kiran lakukan saat itu dalah suatu kesalahan.
Ya, Kiran mengingatnya. Saat itu Chandana tengah memegang bunga-bunga serta dedaunan yang kemudian membuat tangannya terluka. Kiran memberinya plester namun darah yang dikeluarkan oleh lukanya mengenai sweater sehingga Kiran mencoba menggulung lengan sweater tersebut.
Kini semuanya mulai terdengar meyakinkan. Jadi memang ada yang disembunyikan Chandana, dan ini hanyalah salah satu di antara banyak hal yang Kiran tidak tahu. Dengan helaan napas berat, Kiran memperlambat gerakan mulutnya.
Pasangan. Ketika membicarakan tentang pasangan, maka yang terlintas ialah dua benda yang saling melengkapi dan bersesuaian, atau dua orang yang saling berbagi rasa dan memilih untuk menjalani semuanya bersama. Hal penting lainnya dalam menjalin suatu hubungan dengan orang lain ialah saling mengenal baik dan buruk masing-masing, saling mengerti dan memahami satu sama lain.
Banyak hal yang tidak Kiran pahami tentang Chandana, banyak yang tidak ia ketahui tentang gadis itu. Ia bahkan merasa ragu apakah mereka pernah menjadi pasangan sebab Kiran merasa Chandana lah yang melengkapi dirinya sementara ia seolah tidak melakukan apapun sama sekali. Banyak aspek yang tidak terpenuhi dalam hubungan mereka sehingga Kiran merasa ragu apakah dirinya pantas bagi Chandana. Ia bahkan tidak tahu bahwa selama ini gadis yang dicintainya itu sedang mengalami penderitaan.
__ADS_1
Memang darimana datangnya luka memar itu? Siapa yang melakukannya? Apa alasannya? Tak ada yang Kiran ketahui sama sekali.
Dengan perasaan yang kian berkecamuk, Kiran menjejalkan gelas yang telah ia habiskan isinya itu ke dalam bak cuci piring. Jika diperkirakan, sepuluh menit lagi pembantunya akan datang untuk membereskan rumah serta menyajikan sarapan. Kiran harus berangkat sebelum itu.
Usai mengambil beberapa benda, Kiran mengeluarkan motornya dari garasi untuk kemudian memacunya dengan cepat menuju kediaman Chandana.
Di perjalanan, Kiran melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya, masih pukul 6 pagi. Ia memelankan laju motornya, berpikir ulang untuk langsung melesat menuju rumah Chandana. Jika dipikir-pikir ini masih terlalu pagi untuk ukuran orang yang ingin bertamu. Tak ingin memberikan kesan buruk untuk pertemuan pertamanya dengan keluarga Chandana, Kiran memutuskan untuk pergi ke taman kota sembari menunggu matahari mulai meninggi. Ia mungkin bisa duduk dan berdiam diri di sana selama satu atau dua jam sampai tiba waktu yang tepat baginya untuk kembali melanjutkan perjalanan.
Kiran memarkirkan motornya di parkiran taman yang nyaris dipenuhi oleh puluhan sepeda kayuh. Ia melirik ke area taman, terlihat sangat ramai oleh anak muda serta orang tua yang nyaris seluruhnya berpakaian olahraga. Benar saja, hari ini adalah hari Minggu, waktu bagi keluarga dan anak muda untuk berakhir pekan.
Dengan ragu, Kiran melangkah ke dalam taman, mencari tempat duduk yang akan ditempatinya selama satu atau dua jam kedepan. Kiran memperhatikan anak-anak kecil yang asyik bermain di sekelilingnya. Mereka terlihat riang dan gembira, seolah tak ada lagi yang dapat mereka pikirkan selain bersenang-senang. Dan memang begitulah anak-anak. Selalu ingin menjadi dewasa tanpa pernah tahu kalau menjadi dewasa artinya menanggalkan segala kesenangan sederhana dan menemui segala rumit dan sulitnya kehidupan.
Sembari mengamati segala keseruan dan kesenangan anak-anak, Kiran beberapa kali tersenyum dan tertawa saat melihat tingkah konyol bocah-bocah tersebut. Waktu satu setengah jam terasa amat cepat berlalu sebab ia asyik bergabung bersama kesenangan yang dilakukan oleh anak-anak.
Kini jam tangannya telah menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Kiran beranjak dari kursi taman kemudian pergi menghampiri motornya. Sebelum pergi, Kiran menyempatkan diri untuk membayar parkir dan membeli bubur ayam. Mungkin ia harus membawa sesuatu untuk memberi nilai tambah pada pertemuan pertamanya dengan keluarga Chandana.
Usai menyelesaikan semua keperluannya, Kiran menaiki motornya kemudian melaju pelan di jalanan. Entah kenapa ia mendadak gugup dan berdebar. Mungkin ini pula lah yang dirasakan Chandana saat ia mengajak gadis tersebut ke Bandung beberapa waktu yang lalu. Ternyata memang cukup sulit untuk pergi ke rumah orang yang kita sukai terlebih menemui keluarga dan orang tua mereka untuk pertama kalinya.
Membutuhkan waktu sekitar 30 menit lamanya sampai Kiran mulai memasuki kompleks perumahan Chandana. Ia melaju dengan sangat pelan sampai akhirnya ia menghentikan motor yang dikendarainya di sebuah rumah besar dengan pagar besi bercat abu. Kiran turun dari motor kemudian melangkah ragu menuju pagar. Ia mencari-cari tombol bel kemudian menekannya.
Tidak butuh waktu lama, seorang pria kurus dengan rambut yang hamir separuhnya berwarna putih keluar dan membuka pagar. Ia menatap Kiran dari kaki hingga kepala, seolah tengah menelisik sesuatu.
"Siapa?" ujarnya sembari menggaruk pelipis.
Kiran mencoba tersenyum seramah dan seoptimal mungkin, "Perkenalkan, Pak. Nama saya Kiran, saya temannya Chandana," Kiran mengulurkan tangannya dengan sedikit membungkuk.
Pria yang hanya mengenakan kaos polos dan celana pendek tersebut menggaruk janggutnya kemudian membalas uluran tangan Kiran dengan jabatan singkat, "Saya ayahnya Chandana. Silahkan masuk," ujarnya dengan ragu.
Kiran mengangguk kemudian berjalan ke arah motornya. Ia menuntun motor besar tersebut dengan kekuatan penuh sebab untuk membawanya ke halaman rumah Chandana ia harus melewati pelataran yang posisinya sedikit miring.
Usai berjuang dengan segenap daya dan upaya, Kiran menarik napas kuat-kuat setelah motornya berhasil terparkir dengan baik.
Kiran hendak melangkah ke teras rumah Chandana saat ia tersentak sebab melihat ayah Chandana tengah mengamatinya dengan tangan bersedekap, seolah sedang menilai Kiran dari atas hingga bawah.
Kiran tersenyum kikuk kemudian mengikuti pria tersebut untuk berjalan masuk ke dalam rumah. Kiran tidak tahu apakah ia pernah bertemu dengan ayah Chandana atau tidak. Tetapi yang pasti tiap kali ia melihat wajah laki-laki itu, Kiran merasa tidak asing dengannya. Ia seolah pernah melihat wajah itu entah kapan dan dimana.
__ADS_1