
Kiran mengusap peluh di dahinya usai membantu Sang Ibunda mengemasi pakaian dan beberapa kosmetik ke dalam koper. Sore ini Liliana akan benar-benar pergi meninggalkan rumah megahnya guna menyusul Arda yang kini telah berada di rumah keluarga suaminya. Bagi Liliana, meninggalkan rumah adalah hal yang sangat berat. Ia terbiasa menjadi ibu rumah tangga yang mengasuh kedua putranya sendirian sekaligus mengerjakan macam-macam pekerjaan rumah. Sedangkan nanti jika ia telah benar-benar tinggal di Bandung, semuanya akan serba mudah dan instan lantaran ada begitu banyak pembantu yang dipekerjakan di rumah mertuanya. Tak akan ada lagi pekerjaan rumah dan mengurus anak, tidak ada lagi wajah putra sulungnya yang setiap pagi ia bangunkan.
Liliana berjalan ke arah Kiran yang masih sibuk mengatur napas di dekat pintu, "Kiran, Mama harap kamu nggak merasa terlalu terbebani dengan semua ini. Nggak usah terlalu dipikirkan. Mama, Papa, Arda akan baik-baik saja. Kamu pikirkan diri kamu sendiri untuk saat ini. Mama nggak mau kamu merasa tertekan atau kepikiran," ujarnya sembari membelai lembut puncak kepala Kiran.
Kiran tersenyum kecil, "Iya, Ma. Mama nggak usah khawatir. Kiran baik-baik saja,"
"Mama ini ibu kamu. Mama paham betul bahwa kamu selalu memikirkan orang lain lebih daripada diri kamu sendiri, kamu juga mudah merasa panik dan khawatir karena terlalu banyak berpikir. Mama ingin kamu bahagia, Mama ingin kamu bergaul dan bersenang-senang seperti anak-anak seusia kamu," Liliana terdiam saat melihat Kiran mulai berkaca-kaca. Ia jadi semakin yakin bahwa putra sulungnya itu kini sedang merasa sangat terbebani.
"Masa muda itu cuma sekali. Kamu nggak akan bisa punya banyak waktu untuk bersenang-senang atau bertemu orang-orang yang menyenangkan ketika nanti sudah dewasa. Mama nggak ingin kamu menghabiskan masa muda kamu dengan terlalu banyak penderitaan. Tapi ingat, bersenang-senang bukan berarti melakukan hal buruk, ya walaupun Mama yakin kamu nggak akan begitu. Pergi bermain sama teman-temanmu, sibukkan diri supaya pikiran-pikiran buruk nggak tiba-tiba datang dan membuat kamu sakit sendiri, kamu ngerti?" Kiran nengangguk mendengar ucapan ibunya.
"Mama sayang sekali sama kamu. Sebisa mungkin Mama akan pulang seminggu sekali atau dua kali buat masakin kamu, ya?" Liliana memeluk putranya itu dengan erat sembari terisak pelan. Rasanya berat sekali pergi meninggalkan rumah beserta Si Sulung.
Suaminya adalah seorang pebisnis besar yang teramat sibuk. Ia terbiasa pulang larut atau bahkan nyaris tidak pulang sama sekali. Meski suaminya sangat menyayangi keluarga mereka dan selalu berusaha meluangkan waktu untuk bersama-sama ketika liburan, tetap saja ia jarang berada di rumah. Terlebih kantor pusat tempat suaminya bekerja justru lebih dekat dengan rumah mertuanya daripada rumah yang selama ini mereka tinggali. Alih-alih pulang ke rumah ini, ia yakin suaminya akan lebih sering pulang ke tempat yang akan segera ia tinggali bersama Arda. Meski kini rumahnya sudah dijaga oleh belasan orang yang sudah terlatih, ia tetap merasa tidak tega meninggalkan Kiran sendirian.
"Kalau Roka mau, suruh saja dia tinggal di sini sampai Mama dan adikmu kembali. Lagian Papamu juga pasti jarang di rumah. Daripada kamu sendirian," Liliana melepaskan pelukannya, ia berjalan menghampiri kopernya, lantas berjalan sembari menarik koper tersebut menuju pintu. Mobil jemputan sudah tiba.
Kiran mengekor di belakang Liliana, "Iya, Ma. Nanti Kiran bilang ke dia supaya nginep di sini. Pasti kegirangan itu anak," Kiran tersenyum tipis membayangkan kegaduhan yang mungkin akan dilakukan Roka jika berada di rumahnya.
"Kalau gitu Mama pergi dulu ya. Kamu jaga diri baik-baik. Besok dua pembantu dari rumah nenekmu akan tinggal di sini, nanti dia yang beres-beres, masak, dan lain-lain. Mama takut sewa pembantu baru, makanya Mama minta Papamu boyong orang dari sana kemari. Lagipula mereka berdua udah kerja belasan tahun di rumah nenek," Liliana memeluk Kiran sekali lagi usai melihat putranya mengangguk, menyetujui ucapannya.
Kiran membantu ibunya memasukkan koper ke dalam bagasi mobil. Setelahnya, Kiran berjalan mundur untuk membiarkan mobil tersebut berangkat pergi. Ucapan ibunya kembali terngiang di kepalanya. Ia tidak ingin membuat ibunya khawatir. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia harus berubah dan mencoba menikmati hidup layaknya orang lain meski sejujurnya ia tidak tahu bagaimana caranya.
---
Roka mendecak kesal sembari melihat jam di tangan kirinya. Sudah dua puluh menit berlalu sejak jam yang telah di tetapkan, namun dua orang tokoh utama mereka belum juga tiba, "Haduuh Nay. Ini dua orang sableng kemane sih? Si Chandana rumahnya jauh apa begimane?"
Naya menggeleng pelan, "Gak tau gue mah. Tapi emang elo sih, ngajakinnya kepagian. Yakali ke taman hiburan sepagi ini? Loketnya aja masih sepi noh!" Naya menyalahkan Roka.
"Yailah Nay, lo pan tau sendiri orang negara ini kaya gimana. Janjian jam tujuh tuh datengnya entar jam lima sore," Roka menarik lengan Naya untuk duduk di bangku memanjang yang terletak beberapa meter dari loket pembelian tiket.
"Ya enggak begitu juga. Tapi tumben amat sih lo rajin bener? Biasanya juga elo yang molor-molor," Naya menarik tangannya dari genggaman Roka. Bila diperhatikan, style Roka hari ini lumayan kece juga.
"Gue penasaran aja sama itu anak dua. Begimana reaksi mereka saat melihat satu sama lain ya?" Roka terkekeh, membayangkan wajah malu-malu atau mungkin salah tingkah yang akan ditunjukkan Kiran saat mengetahui bahwa Chandana juga ikut serta dalam kegiatan mereka hari ini.
"Eh iya loh. Gue juga dari semalem kepikiran itu. Bener-bener dah ya, kita berdua udah kayak biro jodoh," Naya membetulkan letak topinya. Hari ini ia sengaja menggerai rambutnya. Hal ini pula yang menarik perhatian Roka sebab selama ini Naya selalu menguncir rambutnya.
Buset mikir apaan sih gue pagi-pagi. Tapi ini bocah emang kalo berdandan kaya perempuan gini lumayan cantik juga. Etdah gue mikir apa coba.
__ADS_1
Sementara Roka dan Naya sibuk mengagumi satu sama lain tanpa sadar, Kiran yang baru saja tiba di Duhan pun memarkirkan motornya kemudian berjalan menuju loket. Hari ini ia mengenakan ripped jeans serta kaos putih berlapis hoodie berwarna army. Senada dengan kaos yang ia kenakan, Kiran memilih mengenakan alas kaki berupa sepatu sneakers berwarna putih. Ia ingin mengenakan pakaian kasual dan santai karena menurut sepengetahuannya, di tempat hiburan seperti ini umumnya orang-orang akan menaiki berbagai macam wahana yang membuat mereka banyak bergerak.
Roka dan Naya menyadari kedatangan Kiran sehingga keduanya kompak melihat ke arah tempat parkir yang berjarak puluhan meter dari tempat mereka duduk saat ini. Melihat Kiran berjalan dari kejauhan membuat Naya berdecak kagum. Level ketampanan Kiran memang berada di tempat yang berbeda dengan pria manapun yang pernah ia temui. Dengan rambut berponi serta proporsi tubuh ideal yang terbalut pakaian kasual, Kiran benar-benar terlihat seperti model yang sedang syuting iklan. Roka yang notabene seorang pria pun mengakui ketampanan yang dimiliki sahabatnya itu bahkan sejak mereka masih kecil.
*ilustrasi gaya rambut Kiran.*
Kiran tersenyum samar saat melihat Roka dan Naya sudah berada di samping loket. Ia merasa heran sendiri lantaran Roka datang tepat waktu sebab sahabatnya itu bukan tipikal orang yang akan datang lebih awal setiap kali ada janji pertemuan. Merasa aneh, Kiran memandang Roka dengan tatapan menyelidik.
"Heh, kenapa lo ngeliat gue kayak kriminal begitu si?" Roka mengernyit tidak mengerti dengan ekspresi Kiran yang sarat akan kecurigaan.
Kiran mengambil posisi duduk tepat di sebelah Roka, "Tumben lo nyampek duluan?"
Roka tersenyum percaya diri, "Iya dong. Emang elo? Telat setengah jam? Ya gak, Nay?"
Naya mengangguk, "Iya. Gue juga shock dia bisa dateng paling awal," ujar Naya sembari menatap Kiran.
Kiran mengangguk setuju, "Tapi ini nggak masuk aja sekarang? Nanti keburu rame kan?" usul Kiran sembari menatap Naya dan Roka bergantian.
Roka tersenyum penuh arti, "Sebentar. Nunggu satu orang lagi."
"Tunggu aja, bentar lagi juga dateng kok," Roka melirik Naya sembari menahan senyum. Ia tidak sabar menantikan hasil dari rencana yang telah mereka susun kemarin.
Mendengar jawaban ambigu yang diucapkan Roka membuat Kiran terpaksa menerka-nerka siapa yang kiranya akan diajak oleh kedua temannya ini. Dari sekian banyak kemungkinan yang terlintas di benak Kiran, ia beranggapan ada dua hal yang paling mendekati benar. Kemungkinan satu orang tersebut adalah teman basket mereka atau mungkin salah satu teman Naya, mengingat Naya-lah yang mengajak mereka ke taman hiburan ini.
Kiran tidak mau ambil pusing dengan siapa orang keempat yang akan bergabung bersama mereka. Siapapun orang itu tidak masalah juga baginya, yang terpenting ialah Kiran bisa melihat Roka bersenang-senang setelah belakangan ini terlalu banyak membantunya. Kiran juga memikirkan opsi untuk mendatangi wahana-wahana yang tidak terlalu ramai atau mungkin hanya duduk di cafetaria sembari mengamati yang lain bermain. Kiran tidak suka keramaian, ia juga orang yang kurang bisa bersenang-senang. Oleh karena itu ia tidak berharap banyak pada liburan mereka kali ini.
Beberapa menit berlalu. Roka dan Naya berbincang ringan sembari sesekali saling melontar candaan atau bahkan hinaan untuk satu sama lain. Sementara Kiran sibuk mengamati orang-orang yang berlalu lalang, sesekali ia melirik ke arah Tom and Jery di sebelahnya kemudian tersenyum samar lantaran merasa lucu sendiri melihat interaksi dua orang tersebut. Mereka seperti saling mengagumi dan peduli, namun enggan menampakkan secara terang-terangan. Sungguh suatu hubungan yang tidak bisa Kiran deskripsikan.
"Eh itu dia bukan sih?" Naya menepuk bahu Roka sembari menunjuk ke suatu arah dengan telunjuk kirinya.
Roka dan Kiran kompak memandang ke arah yang dimaksud Naya. Seorang gadis berkulit putih dengan rambut tergerai tengah berjalan ke arah mereka sembari menunduk. Ia berjalan dengan perlahan, mengikis jarak antara ia dan tiga temannya dengan perasaan ragu. Tidak begitu lama, ia mendongak. Menunjukkan wajah cantiknya yang sontak membuat Kiran terkejut bukan main.
*ilustrasi pakaian Chandana.*
__ADS_1
Kiran menarik lengan Roka, membuatnya tersentak hingga mengumpat tanpa sengaja. "Buset, apaan?"
"Lo bercanda ya? Kenapa dia ada di sini?" Ekspresi Kiran menegang, ia tidak tahu kenapa Chandana bisa ada di sini. Beberapa hari lalu Kiran sempat mempermalukan dirinya dengan ketahuan mengikuti Chandana yang kemudian dilanjutkan dengan sesi pengakuan di hadapan gadis tersebut. Kini, bahkan untuk bertatap muka saja Kiran merasa malu bukan main.
"Kenapa bercanda? Harusnya lo seneng dong?" Roka menaikkan sebelah alisnya, tak mengerti dengan reaksi Kiran yang justru terlihat panik alih-alih merasa senang dengan kehadiran Chandana.
"Dia ngerasa terganggu dengan kehadiran gue. Gue gak mau ngebikin dia lebih ilfeel lagi sama gue, makanya gue mau berhenti berusaha deket sama dia. Ini malah lo... Aduh gak tau lagi gue harus apa! Kalo dia mikir gue yang rencanain semua ini gimana?" Kiran mendesah frustasi. Ia melirik ke arah Chandana yang kini telah berdiri tepat di sebelah Naya.
Roka menatap Kiran dengan heran. Ia tidak tahu apa yang terjadi di antara mereka berdua, tapi yang pasti Roka tidak akan membiarkan Kiran menyerah atas Chandana secepat ini, "Udahlah lo serahin aja sama gue," Roka berbisik pelan kemudian memutar tubuhnya menghadap Naya dan Chandana.
"Maaf ya, saya terlambat," Chandana menyelipkan anak rambutnya ke telinga sembari menatap sekilas ke arah Naya, Roka, dan Kiran yang rupanya masih membelakangi mereka.
"Karena udah lengkap, ayo kita masuk!" Roka berseru sembari menarik Kiran yang nampak gelisah dan salah tingkah.
Kiran menggaruk rambutnya yang tak gatal kemudian berjalan mendahului Naya dan Chandana. Ia benar-benar tengah berusaha menghindari kontak mata dengan Chandana. Roka yang menyadari sikap Kiran pun sesekali mencoba memperhatikan Chandana. Gadis tersebut terlihat seperti biasanya. Lemah lembut dengan wajah sendu tanpa ekspresi. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi di antara Kiran dan Chandana hingga sahabatnya ini seperti berlagak seperti tikus yang menghindari kucing.
Naya mengeluarkan empat lembar tiket kemudian menyerahkannya pada penjaga pintu masuk. Mereka berempat berjalan beriringan sembari mengobrol sesekali. Chandana hanya berbicara jika Naya atau Roka meminta pendapatnya sementara Kiran hanya diam dengan wajah yang masih gelisah. Ia berdiri di sebelah Roka dan berusaha sebisa mungkin menyembunyikan wajahnya. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain berusaha menghindar.
"Chandana, kamu pernah ke taman hiburan nghak sebelumnya?" Roka mencoba membuat Chandana bersuara dengan mengajukan beberapa pertanyaan.
Chandana terdiam sejenak kemudian menoleh untuk melihat lawan bicaranya, "Belum pernah. Ini pertama kalinya untuk saya," ujarnya pelan.
"Hah? Yang bener? Sama dong kayak Kiran. Nih anak dari kecil nggak pernah mau diajak ke tempat beginian," Roka mendorong punggung Kiran yang sejak tadi beringsut di balik bahunya.
"Apaan sih!" Kiran melirik Roka dengan tatapan tajam sembari buru-buru melangkah mundur.
"Loh, Ran, lo juga baru pertama kali ke sini? Kebetulan banget kalian berdua samaan!" Naya menatap Chandana yang kemudian dibalas temannya itu dengan senyum canggung.
Roka melirik Kiran yang masih terlihat gelisah. Roka merasa khawatir melihatnya. Jika terus begini, rencana yang telah ia susun bisa-bisa hancur berantakan. Jangankan membuat keduanya dekat, kalau situasinya terus seperti ini hubungan Chandana dan Kiran mungkin akan semakin memburuk. Roka melirik Naya, kemudian menarik lengannya perlahan agar bisa berjalan mendahului Chandana dan Kiran.
"Nih anak dua kayaknya lagi ada masalah. Sekarang naik rolercoster, lo duduk sebelah gue terus kita atur rencana. Oke?" bisik Roka sepelan mungkin agar tidak terdengar Kiran ataupun Chandana.
Naya mengangguk singkat sembari memelankan langkahnya untuk kembali mensejajari Chandana, "Abis ini naik rolercoster ya? Pumpung masih sepi. Kamu berani kan?" Naya meminta pendapat Chandana, takutnya gadis tersebut memiliki fobia atau ketakutan tertentu.
"Saya nggak keberatan," Chandana mengangguk pelan.
Naya tersenyum simpul kemudian berjalan cepat melalui jalan menurun di hadapan mereka. Roka mengikutinya di belakang, meninggalkan Kiran dan Chandana yang berjalan dengan perlahan dan penuh kehati-hatian.
__ADS_1
Meski merasa tidak enak dan serba salah, sejak tadi Kiran telah berkali-kali melirik ke arah Chandana. Entah untuk sekedar melihat wajah cantiknya dari samping, atau menyimaknya berbicara meski tak banyak. Entah kenapa hanya dengan mendengar suara Chandana dirinya merasa sedikit tenang. Ia sadar betul Roka dan Naya berkali-kali mencoba memancingnya dan Chandana untuk berbicara. Ia menghargai usaha Roka dan Naya namun sayangnya ia merasa kalah. Ia sudah tidak memiliki keberanian untuk terus teguh pada pendirian awalnya. Ia tidak keberatan kalau saja Chandana merasa tidak masalah, namun gadis tersebut terlihat tidak nyaman. Dan Kiran enggan memaksa.
"Chandana hati-hati!"