
Kiran mengayuh sepedanya lebih kuat lagi saat ia berpapasan dengan mobil polisi dan ambulan yang melaju cepat menuju arah yang sama dengan dirinya. Meski ia berharap hal yang kini ada di pikirannya tidaklah benar, namun tetap saja terbesit kekhawatiran bahwa dua mobil tersebut mungkin saja sedang menuju ke rumahnya, entah karena apa dan untuk siapa, yang pasti kekhawatiran di hati Kiran terus bertambah seiring dengan semakin terkikisnya jarak menuju rumah.
Kiran menarik napas panjang sesaat sebelum melewati belokan terakhir komplek perumahan mewah tempat ia dan keluarganya tinggal. Dalam hati, Kiran berharap tidak menjumpai dua mobil yang tadi sempat membuatnya parno dan berpikir yang tidak-tidak di perjalanan. Usai melewati belokan, ia tertegun saat dari kejauhan melihat keramaian tepat di depan rumahnya. Dua mobil yang sebelumnya ia lihat pun ternyata sudah terparkir di sana beserta beberapa petugas kepolisian dan rumah sakit yang terlihat panik dan berlarian.
Jantung Kiran berdebar kencang saat ia turun dari sepeda. Beberapa tetangga mencoba memeluknya dan mengatakan beberapa kalimat penghibur yang sepenuhnya tidak ia mengerti. Kenapa? Ada apa? adalah kalimat yang terus memenuhi kepalanya. Ia menjatuhkan sepedanya di depan pagar sembari membawa makanan yang telah ia beli beberapa waktu yang lalu. Perlahan, air mata menggenangi kedua matanya saat melihat percikan darah di beberapa sudut rumah.
Seorang petugas mendatangi Kiran dan mencoba menahannya untuk tidak masuk ke dalam rumah. Namun Kiran tidak mengindahkan ucapan petugas tersebut dan tetap berjalan masuk. Telinganya serasa tidak berfungsi, ia seperti tak dapat mendengar apapun meski sebenarnya suasana di rumahnya begitu gaduh. Meski berekspresi datar, air mata tidak berhenti mengucur dari kedua bola mata Kiran yang indah. Detak jantungnya berdetak amat cepat seiring dengan langkah kaki yang semakin menuntunnya ke dalam rumah. Belasan petugas kepolisian beserta beberapa petugas medis berwara-wiri kesana-kemari.
*brak*
__ADS_1
Kiran terjingkat saat mendengar suara benda jatuh. Di depan sana belasan polisi tengah berusaha mengamankan seseorang yang amat Kiran kenal. Supir barunya, dengan wajah dan pakaian yang bersimbah darah tengah menatap ke arah Kiran sembari tersenyum keji. Tak begitu lama, mata mereka bertemu. Kiran terdiam sembari melihat wajah bahagia pria tersebut, seakan pria itu baru saja meraih kemenangan atas sesuatu yang tidak Kiran mengerti.
Polisi menarik Arif dengan paksa menuju pintu untuk membawanya keluar dari rumah. Ketika ia sampai di sebelah Kiran, sekuat tenaga pria tersebut mencoba menahan posisi tubuhnya untuk mensejajari Kiran, mencoba meminta waktu pada polisi yang menggelandangnya untuk berbicara sebentar pada Sang Majikan, "Ini masih belum apa-apa. Tapi, saya ucapkan selamat ulang tahun untuk kamu," bisiknya pelan.
Mendengar ucapan supirnya membuat Kiran kehilangan kontrol diri. Ia menjerit dan mencoba memukul pria bertubuh tambun tersebut sekuat tenaga. Kiran berteriak, menangis, dan bertindak layaknya orang yang telah kehilangan kewarasan. Seorang petugas mencoba menenangkannya sedang yang lain menarik Arif keluar dari rumah. Kiran tidak berhenti menatap sosok pria mengerikan itu, ditengah isakannya ia terus memberontak dan ingin menghajar orang tersebut. Kiran tidak mengerti, entah apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Dari mana darah itu berasal, di mana adiknya saat ini, Kiran tidak mengerti. Yang ia tahu hanyalah ia ingin mengejar supirnya itu dan memukulnya sekuat tenaga. Melihat tatapan dan cara Pak Arif tersenyum membuat Kidan merasa ngeri. Ia bahkan merasa lebih ngeri karena pria itu mengetahui hari ulang tahun yang bahkan ia sendiri nyaris lupa.
Kiran masih memberontak saat seorang petugas medis membawa tubuh seorang balita yang Kiran yakini sebagai adiknya. Kiran mencoba melepaskan pegangan dari beberapa petugas untuk berlari menghampiri sang adik yang pakaiannya sudah bersimbah darah. Meski tenaganya tidak sebanding dengan orang dewasa yang menahannya, Kiran berhasil melepaskan diri dan berlari menuju adiknya. Pemandangan yang tersaji membuat Kiran menjerit semakin keras.
*tiit tiit tiit tiit*
__ADS_1
Kiran terbangun dari tidur. Nafasnya memburu, keringat serta air mata membasahi wajah dan bantalnya. Ia bermimpi buruk.
Dengan kesadaran yang masih belum sepenuhnya terkumpul, Kiran duduk di atas ranjang sembari mengatur napas. Mendengar kabar bahwa pria mengerikan itu telah keluar dari penjara menimbulkan dampak yang cukup besar bagi Kiran. Mengingat apa yang dilihatnya pada hari itu membuat Kiran selalu merasa takut dan gemetaran, pengalaman traumatis yang terjadi saat itu juga sekaligus membuat Kiran amat membenci hari ulang tahunnya sendiri. Setiap kali orang-orang memberinya selamat atas pertambahan usia, Kiran selalu merasa sedih dan marah pada dirinya sendiri karena pada hari itulah Arda kehilangan penglihatan. Pada hari itulah ia gagal menjadi seorang kakak yang baik, gagal melindungi Arda.
Saat itu Kiran merasa bingung, dosa apa yang telah Arda lakukan hingga dengan teganya Pak Arif melakukan sesuatu yang amat keji pada seorang anak yang bahkan belum lancar berbicara. Selama bertahun-tahun diselimuti pertanyaan, belakangan Kiran mengetahui bahwa ternyata orang itu bukanlah supir biasa. Ia adalah suami dari seorang dokter spesialis yang sempat bekerja di salah satu rumah sakit swasta yang dikelola oleh ayah Kiran. Ia juga merupakan putra tunggal dari seorang pengusaha yang bisa dibilang cukup sukses. Pria itu dikenal pendiamdan ramah oleh orang sekitarnya, ia juga diketahui menderita sedikit keterbelakangan mental, namun sikapnya dan kelakuannya berubah usai kematian sang istri.
Kiran mendengar bahwa alasan ia bekerja di rumah Kiran adalah untuk membalas dendam pada sang Ayah. Ia berpikir kematian istrinya adalah kesalahan ayah Kiran yang tidak becus dalam menjalankan bisnis sehingga terjadi kecelakaan kerja yang kemudian menghilangkan nyawa istrinya. Tentu saja kecelakaan kerja yang terjadi berada di luar kendali ayah Kiran, bahkan untuk menebus rasa bersalah, keluarga Pak Arif telah menerima uang yang jumlahnya sangat fantastis dari perusahaan yang dikelola ayah Kiran.
Meski begitu, Arif tidak merasa puas dan melampiaskan semua kekesalannya pada keluarga Kiran yang bahkan tidak tahu menahu mengenai kecelakaan kerja yang menimpa istrinya. Pradipta -ayah Kiran- mengelola sebuah perusahaan yang menjalankan bisnis di berbagai bidang, rumah sakit tempat istri Arif bekerja hanyalah satu di antara puluhan bidang bisnis yang dikelola oleh Pradipta. Oleh karenanya ia bingung mengapa Arif melampiaskan semuanya pada dirinya yang bahkan sudah bertanggung jawab dengan memberikan asuransi dengan jumlah yang sangat besar.
__ADS_1
Namun apa boleh buat. Baik Kiran maupun keluarganya tidak memiliki pilihan selain bersikap waspada. Mereka tak pernah tahu apa yang akan terjadi setelah dilepaskannya Arif dari penjara. Untuk itu, Kiran berharap tidak akan ada hal buruk lagi yang terjadi. Baru saja ia mendapatkan kedamaian dan ketenangan usai bertahun-tahun hidup penuh tekanan, kini Kiran tidak ingin semuanya hancur begitu saja.
Dengan perasaan yang masih campur aduk, Kiran berjalan menuju kamar mandi, mencoba membasuh diri beserta segala pikiran dan kekhawatiran yang mengganjal di hatinya.