
"Kenapa lo? Ngelamun mulu dari pagi." Roka yang merasa heran dengan sikap Kiran yang terus melamun sejak pagi itu pun memutuskan untuk bertanya secara langsung pada Kiran.
Tidak segera menjawab, Kiran melirik Roka sejenak kemudian kembali menatap kosong ke arah jendela. "Nggak."
Mendengar jawaban Kiran membuat Roka mendengus kesal. Ia tahu Kiran tidak sedang baik-baik saja. Sahabatnya itu bukan orang yang moody sehingga apabila ia menunjukkan gelagat yang tak biasa, sudah bisa dipastikan bahwa ada sesuatu yang menganggu Kiran.
"Ikut gue bentar." Roka menarik kerah pakaian Kiran sehingga membuat sahabatnya itu terkejut bukan main.
"Heh, ngapain sih *****!" Kiran berusaha melepaskan genggaman Roka dari kerah seragamnya, namun ia tidak cukup bertenaga sehingga mau tak mau ia terpaksa untuk mengikuti kemana Roka akan membawanya.
Keduanya berhenti tepat di belakang kamar mandi. Roka melepaskan cengkeramannya pada kerah seragam Kiran seraya melongok ke celah dinding untuk memastikan tak ada yang melihat mereka. "Lo ada masalah lagi sama Rendi?" Roka berbisik pelan, mencoba berkata sepelan mungkin namun tetap terdengar.
"Nggak ada." Ingatan mengenai kejadian kemarin kembali terputar di kepala Kiran, alih-alih mengingat cekcoknya dengan Rendi, Kiran justru membayangkan kembali bagaimana lusuh, cantik, dan misteriusnya gadis yang ditemuinya kemarin.
"Gue kemarin denger dia sebut-sebut nama lo ke anak-anak basket. Kalo ada apa-apa bilang sama gue, ya walaupun gue yakin sih itu anak-anak cakap besar kaga mungkin nyerang kita lagi tapi kalo emang ada sesuatu jangan sampek lo simpen sendiri. Gue bunuh lo kalo tiba-tiba ntar pulang sekolah gue di hadang ama itu curut-curut." Roka berusaha memelankan suaranya saat mendengar suara gaduh siswa lain dari dalam kamar mandi yang tepat bersebelahan dengan posisi mereka berdiri.
"Kemarin gue liat dia gangguin perempuan, yaudah gue tolongin. Itu anak yang dia ganggu kelihatan takut banget, siapa coba yang tega ngebiarin anak orang digangguin anak setan siang-siang." ujar Kiran seraya membenahi kerah bajunya yang nampak berantakan akibat ulah Roka.
"Widih-widih, abang Kiraannn. Girang banget tuh pasti itu cewek lo tolongin." Roka menyenggolkan bahunya, berusaha menggoda Kiran karena telah bersedia membantu seorang perempuan.
Kiran melirik Roka kemudian bergidik usai menyadari betapa ngeri ekspresi temannya itu. "Najis. Girang apaan orang dia makin takut waktu gue samperin."
Merasa tak perlu lagi bersembunyi, Kiran berjalan mendahului Roka untuk kembali ke kelas. "Heh buru-buru banget sih, kebelet lo? Btw itu cewek cantik gak? Siape namanya? Rumahnya dimana ya kira-kira? Anak mana? Lo pasti tau kann dia kelas apa." Roka terus mencecar Kiran dengan pertanyaan-pertanyaan tak masuk akal sementara sahabatnya itu hanya diam sembari terus berjalan menyusuri koridor agar segera tiba di kelas.
---
Naya tersenyum kecil menanggapi gurauan teman-temannya. Langit sudah mulai gelap, latihan juga sudah berakhir sejak beberapa menit yang lalu, namun Naya masih belum bisa meninggalkan sekolah karena ia belum juga dijemput oleh kakaknya. "Eh, balik duluan ya." Ujar salah seorang dari temannya yang kemudian diikuti oleh beberapa anak lain sehingga hanya menyisakan dua orang perempuan di tepi lapangan termasuk Naya salah satunya.
Naya mengambil handuk kecil dari tas olahraganya, menyeka keringat di antara leher dan dadanya, kemudian melipat kembali handuk tersebut dan memasukkannya kembali ke dalam tas. "Si Roka nggak pulang apa gimana ya? Dia nggak berhenti sama sekali dari tadi." Naya melirik ke arah Amel, kemudian memandang ke tengah lapangan dimana Roka masih sibuk memainkan bola basket seorang diri.
"Abis ditolak cewek kali." Meski berusaha agar nampak tak tertarik sama sekali, nyatanya Naya tidak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari laki-laki yang terkenal buaya darat tersebut. Sejujurnya Naya juga merasa penasaran, tidak biasanya Roka bertahan di lapangan se-lama ini usai latihan selesai.
"Eh, Nay. Maaf ya, Mama gue udah di depan. Gue tinggal nggak apa-apa ya?" Amel menepuk bahu Naya sembari menunjukkan pesan dari Mamanya yang ternyata sudah tiba di gerbang sekolah.
__ADS_1
Naya tersenyum kecil sembari mengangguk. Amel memeluk Naya kemudian berlari kecil sembari membawa tasnya yang sekilas terlihat lebih besar dari proporsi tubuh yang dimilikinya, tak lupa Amel mengucapkan selamat tinggal kepada Roka yang kemudian membuat laki-laki tersebut mengakhiri permainan solo-nya di lapangan.
"Loh, Nay. Masih di sini kamu?" Roka berjalan mendekati Naya yang nampak acuh tak acuh padanya.
"Iya, nungguin kakak gue." Masih dengan sikap dinginnya, Naya berusaha mengacuhkan Roka yang tiba-tiba saja duduk menyebelahinya sembari meneguk sebotol minuman.
"Mau?" Roka menawarkan minumannya kepada Naya yang kemudian ditanggapi dengan gelengan pelan oleh gadis tersebut. "Gue tungguin di sini deh sampek lo dijemput," lanjut Roka yang sontak membuat Naya berpikiran skeptis dan curiga.
"Diiiiiihhhh, gausah modus lo. Udah, pulang aja sana." Naya yang tahu betul bagaimana perangai Roka biasanya pun menolak mentah-mentah tawaran Roka untuk menemaninya hingga dijemput.
Usai mendengar penolakan Naya serta ucapannya yang menohok, Roka membereskan seluruh perlengkapannya kemudian berdiri dengan menenteng tas olahraga berwarna navy yang sudah hampir dua tahun menemaninya latihan di sekolah. "Siapa juga yang mau modusin lo * PD banget dah tuh jidat. Gue balik duluan nih, jangan tereak-tereak ya kalo tiba-tiba ntar ada ngepet pesugihan nyeliwer di depan lo." Sebelum benar-benar meninggalkan Naya, tak lupa Roka tetap melancarkan kejahilan agar gadis tersebut ketakutan, syukur-syukur jika Naya melarangnya untuk pulang lebih dulu.
"Dih, apa urusannya ** ngepet lewat sini ya ***. Emang mau nyolong apaan dia di sekolah kere ini. Udah sana balik lo." Alih-alih takut, Naya justru semakin ketus menanggapi Roka yang tak kunjung pergi.
"Iya-iya. Yaudah gue duluan, ati-ati lo di sini. Kalo ada apa-apa telpon gue." Roka tersenyum kecil sembari menunduk untuk mensejajari Naya yang tengah dalam posisi duduk. Hal ini rupanya membuat Naya amat terkejut karena secara tiba-tiba melihat wajah berkeringat Roka berada tepat di hadapannya.
Naya membuang muka, mencoba sebisa mungkin untuk menghindari kontak mata dengan Roka. "Aduuhhh, bau lo asem banget. Udah sana pergi, ribet banget sih jadi orang. Kalo ada apa-apa gue telpon Bapak gue lah ngapain nelpon elo, kaga penting." Naya mencoba menutup hidungnya dengan telapak tangan meski sejujurnya ia tak menghirup aroma apapun.
Setelah menunggu cukup lama, Naya menerima telpon bahwa sang kakak mendapat tugas mendadak dari atasannya sehingga terpaksa tak dapat menjemput Naya. Dengan perasaan kesal, takut, serta jengkel, Naya berjalan cepat menuju gerbang sekolah. Ia tak punya pilihan lain selain mengorder ojol. Sembari menunggu ojek orderannya tiba, Naya memutuskan untuk berdiri di samping gerbang sekolah sebab hanya tempat itulah yang diterangi oleh lampu.
Tanpa sadar Naya menggigit kuku jarinya untuk sedikit meminimalisir kegelisahan, bersamaan dengan itu samar-samar ia mendengar suara mesin motor yang lamat-lamat makin jelas suaranya. Tak begitu lama, sorot lampu depan motor yang melaju pelan dari dalam sekolah membuat Naya mengernyit karena silau. Dilihatnya sosok laki-laki tengah tersenyum mengejek dari balik helm berwarna hijau yang dikenakannya. "Udahlah, bareng aja sini." ujar si laki-laki yang juga membuat kedua pipi Naya memerah.
Ia yakin benar bahwa sekitar tiga puluh menit yang lalu Roka sudah terlebih dulu meninggalkannya. Namun ia kini justru dikejutkan dengan keberadaan laki-laki tersebut yang nampak gagah menunggang motor N-Max berwarna abu-abu. Ragu-ragu, Naya melangkah kecil menuju space kosong yang masih tersisa di belakang Roka si pengemudi motor. "Kok lo belum pulang?" Naya membuka suara usai memastikan dirinya sudah duduk di atas motor dengan sempurna.
"Nungguin kamu dijemput lah. Cowok macam apa yang tega ninggalin perempuan malam-malam sendirian. Eh ternyata kamu nggak jadi dijemput. Dasar rejeki." Roka tersenyum girang ditengah upayanya dalam menjawab pertanyaan Naya.
"Gombal teros." Naya memukul helm yang Roka kenakan hingga terdengar bunyi bergemeletak yang cukup nyaring.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Roka memacu motornya meninggalkan area sekolah. Disepanjang perjalanan, keduanya hanya diam dan tak saling berbicara. Mereka sibuk dengan pikiran di benak masing-masing. Naya yang merasa aneh karena untuk pertama kalinya diperlakukan sedemikian baik oleh seorang laki-laki yang sudah dikatainya habis-habisan, serta Roka yang merasa bingung dengan debaran aneh di dada yang sebelumnya belum pernah ia rasakan.
---
"Bang, kemarin aku dengar dari Rohman kalau kakaknya mau ikut pertandingan renang." suara si mungil Arda menyadarkan Kiran dari lamunannya.
__ADS_1
"Oh iya, terus kenapa?" balas Kiran, pandangannya tertuju pada kancing baju Arda yang terpasang asal-asalan.
Arda tersentak saat tiba-tiba Kiran menariknya, membetulkan kancing pakaiannya. "Huh, abang ngagetin. Rohman ngajak aku buat ikut ke pertandingannya. Tapi nggak seru ah, aku nggak bisa lihat."
Kiran sontak tertegun. Ia mengamati kedua mata Arda yang tengah menatap kosong ke arah televisi. Tanpa sadar Kiran meloloskan sebutir cairan bening dari pelupuk mata kanannya yang dengan sigap ia hapus sedetik setelahnya. "Kalo sepak bola sih aku bakal mau ikut Rohman." lanjut Arda sembari berusaha menggapai sepotong roti yang terletak di meja. Melihatnya, Kiran mendekatkan piring tersebut ke jangkauan Arda.
Kini mereka tengah menyaksikan pertandingan sepakbola di ruang keluarga. Satu-satunya olahraga yang disukai Arda adalah sepakbola, karena meski dirinya tak dapat melihat, Arda masih bisa mendengar suara provokatif dari komentator, sehingga entah bagaimana ia merasa seperti tengah menyaksikan pertandingan tersebut secara langsung.
"Abang udah ngantuk nih, kamu ngantuk juga nggak?" Kiran berusaha mengalihkan topik sebab tidak ingin pembicaraan mereka berakhir dengan menyedihkan seperti sebelum-sebelumnya.
"Payah bener sih, yaudah ayok anterin tidur." ujar Arda yang nampak sedikit meradang sebab pertandingan sedang asyik-asyiknya.
Kiran menggendong Arda di bahunya agar tak perlu menuntun adiknya tersebut. Ia menidurkan Arda di ranjang kecilnya, kemudian mulai membacakan beberapa cerita tentang sejarah yang pernah ia baca. Meski awalnya sempat interaktif, Kiran yang sengaja membuat ceritanya semakin terdengar membosankan pun berhasil membuat Arda tertidur hanya dalam hitungan menit.
Kiran membetulkan letak selimut adiknya, mengusap rambut Arda dengan pelan. "Maafin abang, ya." bisiknya pelan, sebelum pergi dan meninggalkan Arda yang tertidur lelap.
---
Dengan membawa segelas susu hangat, Kiran pergi menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua. "Pusing bener ya ampun." gumamnya sembari menyeruput gelas yang ada di tangan kirinya.
Ingatan tentang pertemuannya dengan sosok gadis misterius serta peristiwa pemblokiran oleh Chandana terhadap akun line miliknya kembali terputar di benak Kiran. Ia tidak tahu sejak kapan ia mulai begitu tertarik pada gadis misterius tersebut, namun Kiran tak bisa melupakan bagaimana tiap gerak-gerik dan ekspresi yang diperlihatkan gadis itu padanya. Bukan hanya pada Rendi, gadis itu terlihat sama takutnya saat melihat Kiran. Belum tuntas soal gadis tersebut, ia masih harus mencari tahu siapakah gadis bernama Chandana. Kiran masih sibuk berpikir saat pandangannya tiba-tiba terasa kabur. Ia merasa pusing sekaligus berkunang-kunang. Ia berjalan masuk ke dalam kamar, meninggalkan balkon serta menutup pintu yang menjadi akses utama menuju balkon tersebut. Ia tetap berusaha menjaga keseimbangannya agar tidak jatuh. Setelahnya, Kiran bergegas menuju ranjang untuk beristirahat. Meski waktu belum menunjukkan larut malam, ia nampaknya tidak bisa lagi terjaga lebih lama.
Dengan hati dan pikiran yang masih belum sepenuhnya tenang, ia memejamkan mata. Berharap esok hari ia dapat bangun dalam keadaan yang lebih baik dari sekarang. Perihal Chandana dan si gadis misterius, Kiran menekankan dalam benaknya bahwa ia terlebih dulu harus menyelesaikan soal Chandana, baru mungkin ia bisa saja melanjutkan rasa penasarannya pada si gadis misterius setelah ia bisa mengetahui serta berteman dengan Chandana.
.
.
.
.
.
__ADS_1