
Semilir angin malam berhembus tenang, melenggangkan segala risau dan gunda yang ada di hati setiap insan. Sorot sinar rembulan yang temaram seolah menjadi saksi bisu atas waktu-waktu tak terganti yang tengah terjadi di penjuru bumi, di penjuru negara, di penjuru kota, bahkan di atap sebuah gedung yang mana tak ada satu orang pun yang mengerti apa yang terjadi di sana.
Chandana membenamkan wajahnya di dada Kiran. Ia menangis sejak lima menit yang lalu. Kiran memeluk serta mengelus punggungnya. Tak mengerti apa yang membuat Chandana tiba-tiba terisak seperti ini. Kiran berulang kali mengucapkan maaf bila saja ciuman mereka yang membuat Chandana merasa begitu sedih. Kiran berkali-kali mengucapkan rasa sesalnya kalau saja Chandana merasa tidak nyaman dengan apa yang baru saja terjadi.
Tapi alih-alih memukul, menjambak, atau memaki Kiran, ia hanya menggeleng. Bukan itu alasannya menangis. Ia menepis permintaan maaf Kiran dengan gelengan kepala sementara itu tidak mau mengungkapkan mengapa ia kini sebegitu sedihnya hingga terisak tanpa jeda.
Memang jika dipikir-pikir, ciuman itu terjadi bukan karena atas kehendak Kiran. Ia sempat menyadarkan diri dan berusaha berpaling saat Chandana tiba-tiba mendaratkan bibirnya pada milik Kiran. Serius lo Kiran? Bukan saatnya mikirin itu ya anyink! Batin Kiran merutuk saat ia masih sempat-sempatnya memikirkan hal itu di saat seperti ini.
Kiran tidak banyak bicara. Usai meminta maaf dan Chandana menolaknya, Kiran hanya diam sembari memeluk Chandana. Sesekali ia mengecup puncak kepala gadis tersebut. Aroma rambut Chandana benar-benar menyegarkan, Kiran ragu memutuskan aroma buah apa itu, tapi menurut perkiraannya jika bukan anggur maka stroberi.
Keduanya bertahan dalam posisi itu hingga lima menit kembali berlalu sehingga total sepuluh menit Chandana menangis di dalam pelukan Kiran. Merasa air matanya telah mengering, Chandana melepaskan pelukannya kemudian bangkit untuk berdiri, "Antarkan saya pulang," ujarnya lirih tanpa sedikitpun memandang ke arah Kiran.
Laki-laki itu mengangguk kemudian mengambil sweaternya yang terhampar di atap beton ini, melipatnya lantas memasukkan ke dalam tas.
Alih-alih turun ke bawah dengan menggunakan tangga darurat sebagaimana keberangkatan mereka tadi, Kiran menggiring Chandana untuk masuk ke dalam sebuah rumah kaca yang juga merupakan ruangan kerja ayah Kiran. Dari sana mereka menaiki lift untuk turun ke lantai dasar. Beberapa kali Kiran mencoba menatap Chandana namun gadis tersebut selalu menghindari kontak mata dengan Kiran.
Yang membuat Kiran merasa bingung ialah, jika memang ini bukan karena hal tadi, lantas kenapa? Jika bukan karena kesalahannya, lalu kenapa pula Chandana menghindari Kiran? Tidak ingin membuat Chandana merasa semakin buruk, Kiran menyimpan kekhawatiran itu untuk dirinya sendiri. Mungkin akan lebih baik membicarakannya di lain waktu. Ketika Chandana sudah lebih baik. Ketika debaran di jantungnya telah lebih normal. Dan ketika ia telah mampu sedikit melupakan ciuman pertama mereka malam itu.
Kiran berjalan menuju motornya kemudian memberikan helm milik Chandana kepada gadis tersebut. Bagaimanapun juga wajah Chandana terlihat memerah, terutama hidungnya. Beberapa kali ia menarik ingus yang nyaris luruh dari sana. Selain itu, kedua mata Chandana juga nampak sedikit membengkak serta sayu. Mungkin karena ia terlalu banyak menangis tadi.
Dengan ragu, Kiran bertanya, "Kamu yakin tidak apa-apa? Saya khawatir sama kamu."
Chandana menggeleng pelan, "Antar saya pulang."
"Kalau ini karena kesalahan sa-"
"Antar saya pulang, Kiran," ujar Chandana memotong ucapan Kiran.
Dengan tergesa-gesa Kiran menaiki motornya. Menyalakan mesin lantas melenggang melintasi jalan raya usai memastikan Chandana telah duduk dengan baik di belakangnya.
Di sepanjang jalan, Chandana melingkarkan tangannya di perut Kiran. Gadis tersebut memeluk dengan sangat erat. Pelukan yang menyiratkan keengganannya untuk melepas Kiran, yang mana tentu saja tidak Kiran sadari saat semua ini tengah terjadi. Selain itu, Kiran juga dapat merasakan dengan jelas jika Chandana kini tengah menyandarkan kepala di pundaknya.
*maap gabisa menemukan ilustrasi lain yang mendekati selain ini :'(*
Cr : google*
Malam itu, Kiran benar-benar dibuat bingung serta bahagia di saat yang bersamaan. Chandana seolah mendorongnya menjauh, namun gadis tersebut juga menariknya mendekat. Kiran tidak mengerti bagaimana bisa Chandana membuatnya merasa sangat diinginkan namun di waktu yang bersamaan ia juga merasa tertolak.
Kali ini Chandana tidak lagi meminta Kiran menurunkannya di depan minimarket. Gadis tersebut meminta Kiran menurunkannya tepat di depan sebuah rumah besar yang terletak di salah satu kompleks perumahan elit. Namun setelah melihat semua lampu rumah dalam keadaan mati, Kiran berkesimpulan bahwa Chandana mungkin tinggal sendirian di tempat besar ini. Atau mungkin ia tinggal berdua bersama ayahnya yang masih sibuk bekerja.
"Terimakasih banyak," Chandana melepas hoodie milik Kiran kemudian mengulurkan tangan untuk meberikannya dengan tetap menghindari kontak mata di antara mereka.
Kiran mengambil hoodie tersebut kemudian tersenyum samar, "Sama-sama."
"Saya pulanh dulu. Sampai bertemu besok," Kiran tersenyum simpul kemudian memacu motornya untuk meninggalkan pelataran rumah Chandana.
Dari kaca spion miliknya, Kiran dapat melihat Chandana memasuki rumah besar tersebut dengan langkah lemah.
Kiran menghela napas berat. Entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang salah dengan Chandana malam itu. Ia merasakan sebuah firasat buruk yang entah darimana datangnya. Namun Kiran paham betul bahwa firasat yang dirasakannya bukanlah sekedar firasat semata sebab selama ini semua yang dirasakannya selalu menjadi nyata. Entah hal baik atau buruk, Kiran meyakini bahwa itu akan segera datang.
---
__ADS_1
Roka mengusap air liurnya dengan kasar sementara Kiran menatapnya dengan jengah, "Berisik banget lo asli!" ujar Kiran dengan geram lantaran ulah Roka yang berulang kali menyuarakan dengkuran.
Kini mereka tengah berada di taman sekolah. Kiran tengah asyik membaca buku sementara Roka baru saja terbangun dari tidur lelapnya. Karena masih belum ada pelajaran, tak ada hal lain yang bisa mereka lakukan di sekolah selain bermalas-malasan sebab urusan peminjaman dan pengembalian buku sudah selesai.
"Ngantuk banget gue suer!" Roka masih mencoba mengembalikan kesadarannya saat melihat Naya yang dari kejauhan terlihat melambai ke arahnya.
"Buset bidadari!" Roka memekik sembari menunjuk ke arah Naya.
Kiran mengikuti arah yang dimaksud Roka lantas mendecih tertahan, "Asem lo!" bisiknya sembari menatap kembali buku di pangkuannya.
"Pagi!" Naya menyapa lantas duduk di hadapan kedua laki-laki tersebut.
"Pagiii Ayang!" Roka terkikik pelan sembari membenahi seragamnya.
Kiran melirik Roka dengan geli, kemudian mengatakan, "Tumben nggak sama Chandana?"
Naya menggeleng pelan, "Dia nggak masuk sekolah hari ini."
Kiran menutup buku di pangkuannya dengan cepat, "Kenapa?"
"Di suratnya sih ketulis sakit. Tadi coba gue hubungin tapi nggak ada balesan. Mungkin dia lagi istirahat," Naya menjelaskan.
Kiran mengangguk paham. Ia merasa khawatir pada Chandana. Ia takut Chandana sakit sebab semalam Kiran mengajaknya ke atap gedung. Mungkin gadis tersebut terserang flu atau semacamnya.
"Pertandingan hari ini jam berapa?" Naya bertanya sembari memandang Kiran dan Roka bergantian.
"Agak sore kayaknya," Kiran mengangkat bahunya. Ia sendiri juga belum yakin sebab belum mengecek ponsel sama sekali sejak kemarin.
"Lo kenapa dah? Kenapa muka lo beler gitu sih?" Naya menatap Roka yang masih terlihat teler dengan kepala yang berulang kali terjatuh ke depan.
"Semalem dia main ps sampe subuh," Kiran membantu memberikan jawaban. Ia merasa yakin Roka tidak akan bisa menanggapi Naya dalam keadaan seperti ini.
Naya menggertakkan giginya lantas berjalan kemudian duduk tepat di sebelah Roka. Ia menjitak kepala Roka hingga membuat laki-laki itu terjingkat, "Aduh Nayyy! Apaan sih!" seruh Roka sembari memegangi puncak kepalanya.
"Bandel banget sih lo di bilangin! Walaupun nggak ada pelajaran bukan berarti lo boleh begadang gitu! Gimana kalo lo sakit?" Naya menyuarakan amarahnya. Ia khawatir.
Roka tersenyum jahil sembari memeluk Naya, membuat Kiran membuang muka dengan cepat. Kiran merasa heran sebab Roka yang melakukan semuanya namun justru dirinyalah yang merasakan malunya.
Naya mendorong kening Roka dengan jari telunjuknya, "Apaan sih! Malu tau!" pekik Naya yang juga merasa malu sendiri dengan tindakan Roka.
Bagaimanapun juga kini mereka sedang berada di area sekolah dimana banyak siswa dan siswi tengah berlalu-lalang. Naya tidak keberatan jika Roka memeluknya, namun ia tidak ingin image perempuan fearless dan garangnya turun di hadapan semua orang.
"Gue mau ngobrol sama lo bentar," ujar Naya sembari membenahi seragam Roka yang terlihat acak-acakan.
Dengan malas Roka menjawab, "Yaudah ngobrol aja!"
Naya menginjak sepatu Roka hingga membuatnya terjingkat, "Aw!"
"Nggak di sini!" Naya menarik tangan Roka untuk beranjak dari bangku taman.
Dengan enggan Roka berdiri kemudian berkata, "Bentar ya Bro!"
Kiran mengangguk pelan, kembali memusatkan perhatiannya pada buku yang kini telah kembali terbuka di pangkuannya.
__ADS_1
Mulanya, Kiran membaca dengan tenang dan tanpa gangguan. Hanya semilir angin dan gemerisik dedaunan yang menemani kesunyiannya pagi itu. Hingga tidak lama kemudian, ia merasa tidak nyaman. Merasa ada seseorang yang mengamati serta menatapnya namun Kiran tidak tahu siapa dan dimana.
Kiran mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ada banyak siswa dan siswi yang disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Mereka semua terlihat fokus dengan apa yang mereka lakukan, tidak ada yang terlihat mencurigakan. Namun perasaan bahwa dirinya tengah diawasi benar-benar tidak bisa Kiran abaikan begitu saja.
Kiran lantas menoleh ke belakang, tidak ada orang sama sekali. Hanya sebuah pohon besar yang berdiri kokoh.
Tidak menyerah, Kiran meletakkan bukunya di bangku taman kemudian berjalan pelan untuk memastikan tidak ada apa-apa di balik pohon tersebut. Dengan perlahan Kiran terus mendekat. Jantungnya mulai berpacu, keringat mulai menetes melalui dahi dan lehernya.
Tinggal tiga langkah lagi, batin Kiran. Tiga langkah lagi dan ia akan tahun apa atau siapa yang berada di balik pohon ini.
*Satu
Dua*
Kiran menarik napas dalam-dalam saat ia meloncat ke depan, berpikir ia akan menangkap basah seseorang.
Tiga!
Kosong.
Kosong dan tidak ada siapapun di balik pohon tersebut. Kiran menggaruk tengkuknya, kembali mengedarkan pandangan. Ia memang merasa sangat aneh belakangan ini lantaran bukan hanya kali ini Kiran merasa diikuti. Mungkin sudah dua atau tiga kali dalam dua minggu terakhir.
Kiran menghembuskan napas pelan kemudian berjalan kembali menuju bangku taman saat seseorang mendorongnya dari belakang. Kiran terhuyung ke depan lantas memasang kuda-kuda kemudian berputar dengan kaki siap menendang.
"Wow! Bro, lo mau bunuh gue?" Roka memekik kaget saat melihat kaki Kiran melesat ke arahnya dan berhenti tepat di ambang wajah rupawannya.
Kiran yang tengah sama terkejutnya pun buru-buru menurunkan kakinya, "Maaf, gue kira lo orang lain," ujar Kiran sembari berjalan ke depan kemudian duduk di bangku taman.
Roka mengernyit tidak mengerti, "Hellooooww! Kalaupun gue orang lain, yakali lo di dorong temen lo terus lo tendang muka dia pake kuda-kuda? Rontok kali itu gigi sama gusi!" Seru Roka.
Naya menyetujui perkataan Roka, ia menyadari bahwa Kiran terlihat panik. Seolah laki-laki itu merasa seseorang akan mencelakainya.
"Gue ngerasa ada yang ngeliatin gue dari tadi. Ya ini bukan yang pertama sih, mungkin yang kedua atau ketiga dalam dua minggu ini. Awalnya gue kira itu cuma perasaan gue aja, tapi ini tadi bener-bener beda. Gue ngerasa dia deket banget sama gue," Kiran menjelaskan.
Ekspresi Kiran terlihat tegang sebab ia takut apa yang ada dipikirannya akan menjadi kenyataan. Terlebih dugaannya terkait siapa yang melakukan ini semua. Kiran berharap dugaannya salah. Setidaknya sebelum Roka mengatakan, "Lo juga?"
Roka menoleh ke arah Naya yang terlihat sama terkejutnya, kemudian melanjutkan, "Baru aja gue sama Naya ngobrolin itu! Beberapa hari ini Naya dan gue ngerasa ada yang ngikutin kita, dan gue nggak tahu itu siapa."
Kiran membelalak. Kekhawatirannya terbukti. Orang itu kini bukan hanya menyasar dirinya melainkan juga orang di sekitarnya. Dengan gemetar Kiran merasa matanya mulai berair, kepanikan mulai menjalari hati dan pikirannya.
Merasa tahu apa yang akan terjadi, Roka berusaha menenangkan Kiran, "Lo tenang! Kiran, denger gue! Tenang! Tarik napas pelan, tariikkkk, buang... Tariikkk, buang..." Roka berusaha membimbing Kiran.
Ketika sedang amat panik dan ketakutan, Kiran rentan mengalami serangan panik yang akan membuatnya kesulitan bernapas. Roka telah mengenal Kiran sejak lama sehingga paling tidak ia bisa membantu memberikan pertolongan pertama.
Di sisi lain, Kiran mulai terbatuk. Napasnya naik turun sementara matanya terus berair, seolah sesuatu tengah mencekik leher dan menindih dadanya. Namun dengan bantuan Roka, perlahan Kiran mulai bisa mengatur kembali napasnya. Ia mulai mendapatkan ritme pernapasan meski masih terbatuk-batuk.
Naya mengamati kejadian barusan dengan panik. Ia mencengkeram seragam Roka dengan erat sebab ini kali pertama baginya melihat Kiran seperti itu.
Roka menepuk punggung Kiran dengan satu tangan sementara satu lainnya menggenggam tangan Naya.
Dalam hitungan menit, Kiran telah kembali normal meski dengan napas yang masih tersengal-sengal.
Roka menatap Kiran dengan khawatir, "Ini bukan salah lo, ini bukan karena kita temen lo. Jangan salahin diri lo sendiri dan biar kita hadapi ini sama-sama. Oke?" Roka menepuk pundak Kiran, memaksa sahabatnya mengangguk dengan memberikan tatapan tajam.
__ADS_1
Saat itu, tanpa mereka sadari seseorang tengah menatap ketiganya dari jauh. Menyunggingkan seringai janggal yang tak dapat ditafsirkan dengan mudah.