Chandana

Chandana
Bagian 33 (The End Of Interval 1)


__ADS_3

Kiran menarik napas, lantas kembali melanjutkan ceritanya, "Menemukan satu nama yang sama dari dua buku berbeda yang saya pinjam dari tempat berbeda pula rasanya aneh, terlebih untuk saya yang jarang sekali mengalami suatu kebetulan. Saya mulai penasaran, saya mulai sering memikirkan dan membayangkan sosok seperti apa kamu ini. Sampai suatu ketika saya dan kamu bertemu untuk pertama kalinya di saat yang buruk itu, tapi saat itu saya tidak tahu bahwa kamu adalah Chandana. Kebetulan-kebetulan lain mulai sering terjadi hingga saya semakin tertarik dan semakin sering memikirkan kamu. Saya ingin dekat dengan kamu, Chandana."


Kiran berhenti sejenak untuk menoleh ke arah Chandana, "Dan hal terbaik dari itu adalah, untuk pertama kalinya saya tidak merasa takut sedikitpun. Saya merasa harus melakukan hal baik tiap kali saya bertemu kamu. Kamu adalah alasan saya banyak tersenyum. Kamu alasan saya ingin berubah dan merobohkan tembok yang selama ini saya bangun sendiri. Kamu pula yang memperkenalkan saya pada perasaan aneh ini, perasaan rindu, jantung berdebar, dan sebagainya. Kamu sadar itu?" Kiran menatap Chandana dengan mata berbinar.


Chandana nyaris tersedak. Napasnya memburu mendengar semua yang dikatakan Kiran. Tidak seharusnya begini. Tidak seharusnya mereka seperti ini. Chandana tidak tahu harus bereaksi bagaimana, namun ia akhirnya menggeleng pelan, "Maafkan saya karena tidak menyadari semuanya, Kiran. Maafkan saya karena ini semua tidak sesederhana itu," Chandana berbicara dengan suara bergetar.


Kiran masih menatap Chandana, tak ingin sedikitpun berpaling darinya, "Kamu takut dengan laki-laki kan? Kamu tidak bisa berdekatan dengan laki-laki?"


Chandana terkejut mendengar ucapan Kiran. Meski memang benar begitu adanya, namun Chandana merasa heran bagaimana bisa Kiran mengetahuinya. Apakah Kiran telah menyadarinya selama ini?


"Kamu benar, Kiran. Ada alasan kenapa saya selalu merasa takut dan panik tiap kali berada di dekat laki-laki. Tapi kamu harus tahu bahwa saya tidak merasa begitu terhadap kamu. Saya tidak tahu kenapa, tapi bila di dekat kamu saya merasa aman, saya merasa nyaman. Saya mungkin akan berteriak, menangis, atau merasa tidak nyaman jika laki-laki menyentuh saya, tapi saya tidak bereaksi begitu saat di dekat kamu," Chandana melirik Kiran, sejak tadi ia terus menunduk sembari memainkan jemarinya.


"Tapi ini semua tidak sesederhana itu Kiran. Kita tidak bisa bersama hanya karena kamu ingin. Saya hanya akan membawa hal buruk untuk kamu, saya hanya akan menyakiti kamu jika kamu terus ada di dekat saya. Saya tidak sebaik kelihatannya Kiran, saya tidak seindah yang kamu bayangkan. Saya penuh cacat, saya penuh masalah. Kamu tidak akan mengerti," Chandana bangkit dari duduknya, ia berdiri dengan kedua kaki gemetaran. Air matanya mengalir semakin deras.


Kiran terdiam sejenak, beberapa detik kemudian ia berdiri, mencoba mengejar Chandana yang telah berjalan beberapa meter jauhnya.


"Memang apalagi yang lebih menyakitkan dari kehidupan suram yang telah saya jalani selama ini, Chandana? Bentuk rasa sakit seperti apapun sudah tidak ada artinya lagi bagi saya. Kamu membuat saya menjadi diri saya sendiri, Chandana. Kamu membuat saya merasa bahagia hanya dengan melihat kamu tersenyum. Kamu alasan saya tidak lagi merasa buruk. Tidak ada hal lebih baik yang bisa saya harapkan lagi selain kamu, selain bersama kamu!" Kiran berseru dengan suara bergetar, ia berjalan di samping Chandana yang masih melangkah cepat seraya meredam isakan dengan telapak tangan.


"Saya tidak bisa, Kiran. Tolong mengerti. Saya hanya akan menyakiti kamu lebih banyak lagi!" Chandana masih berjalan cepat saat Kiran meraih lengannya, menggenggamnya erat hingga membuat Chandana terhenti.


"Chandana, bagaimana kamu tahu? Bagaimana kamu berpikir seperti itu saat kenyataannya kita sama-sama tidak akan mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan. Yang saya mengerti dan pahami ialah fakta bahwa untuk saat ini saya dan kamu saling membutuhkan, saling menginginkan. Apapun yang terjadi di masa mendatang biar saja terjadi, saya ingin menghadapi semuanya dengan kamu, dengan memegang tangan kamu, agar saya merasa tenang karena setidaknya saya tidak sendirian. Kamu tidak sendirian," Kiran menitihkan air mata di tengah kalimatnya. Ia melonggarkan sedikit genggamannya saat menyadari ia memegang lengan Chandana terlalu erat.


Chandana masih terisak, ia tidak bisa berkata-kata.


"Tidakkah kamu merasa sama, Chandana? Tidakkah kamu ingin bersama saya sebagaimana saya ingin bersama kamu?" Kiran melepaskan genggamannya lantas menatap Chandana lekat-lekat dengan kedua maniknya yang basah saat mendapati gadis tersebut mendongak.


Chandana membuang muka, masih terisak, "Memang apa bedanya saya ingin atau tidak? Pada akhirnya saya akan tetap menyakiti kamu bila kita bersama, Kiran. Tolong jangan seperti ini," Chandana menatap Kiran. Sorot matanya terlihat memelas, ia bingung bagaimana harus mengatakan pada Kiran. Terlalu banyak hal tentang dirinya yang belum Kiran mengerti. Terlalu banyak.


Kiran tertunduk lesu, sesulit itukah Chandana mempercayainya?


"Baik. Saya tidak ingin memaksa kamu. Tapi saya tidak tahu harus bagaimana dengan semua perasaan ini. Saya bingung harus apa sekarang-" Kiran masih mengedarkan pandangan ke segala arah untuk mencoba berpikir saat ucapannya terhenti lantaran Chandana menarik lengan pakaiannya.


"Saya percaya sama kamu, tapi saya nggak bisa percaya sama diri saya sendiri," Chandana berujar pelan, nyaris seperti berbisik.

__ADS_1


Kiran mengatupkan bibirnya lantas meraih Chandana dengan lembut kemudian memeluknya dengan penuh perasaan. Kiran menenggelamkan wajahnya di rambut Chandana yang halus dan harum, sementara Chandana menangis di dada Kiran yang bidang.


"Saya akan ada untuk kamu, saya akan ada. Bahkan jika bukan raga saya, izinkan hati saya ada bersama kamu, Chandana," Kiran mengusap lembut rambut Chandana selagi gadis yang kini tengah berada di pelukannya itu membalas dekapannya.


Dunia rasanya runtuh di bawah kaki Kiran, ia merasa tidak pernah sebahagia dan selega ini selama hidupnya. Pada akhirnya ia bisa mengatakan semuanya, ia bisa membuat Chandana mempercayai eksistensi mereka.


Di bawah sinar rembulan malam itu, keduanya saling berpelukan selama beberapa menit. Mencurahkan seluruh perasaan mendamba yang selama ini mereka tahan-tahan. Kiran mendekap Chandana dengan tulus dan segenap perasaan yang dimilikinya. Dalam hati, ia menginginkan waktu berhenti saat itu juga. Ia ingin terus berada di posisi ini untuk waktu yang lama, untuk selamanya.


Dalam hati, Kiran berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan melakukan yang terbaik. Ia akan berusaha sebisanya untuk membahagiakan dirinya dan gadis di pelukannya ini.


Saat itu, tanpa menyadari betapa besarnya bahaya yang akan menghadang mereka di waktu yang akan datang, Chandana dan Kiran mengesampingkan semua kekhawatiran. Mereka kini bersama, dan mereka bersyukur akan itu. Biarlah masa depan tetap menjadi rahasia. Kini tak ada lagi rasa panik dan gelisah sebab sudah tidak ada lagi ketakutan yang lebih besar dari saling kehilangan satu sama lain.


Usai puas saling mendekap, perlahan-lahan Kiran melepas pelukannya. Ia menatap wajah Chandana, mereka saling menertawakan usai melihat betapa kacaunya wajah masing-masing lantaran terlalu banyak menangis.


"Saya boleh gandeng tangan kamu?" Kiran bertanya ragu. Kini telinganya benar-benar merah dan panas.


Chandana mengangguk lantas menautkan jemarinya yang mungil dan lentik dengan milik Kiran. Mereka berjalan bersama untuk kembali ke villa. Dan tentu saja dengan saling melempar senyum malu serta wajah memerah. Mereka berjalan bersebelahan tanpa bisa saling meredam debaran dada yang berdetak secepat singa menyasar mangsanya.


Dengan masih mengamati Kiran dan Chandana yang lamat-lamat mulai menjauh, sosok tersebut menyunggingkan senyum yang tak bisa dimengerti siapapun. Senyum misterius yang sarat akan makna dan rencana.


---


Roka menggosok rambutnya dengan handuk sembari saling beradu tatap dengan Bagas. Keduanya sama-sama memasang ekspresi heran dan bingung. Bahkan hidung Roka yang terkenal mancung kini nampak kembang kempis tidak karuan.


"Kenapa sih tu bocah?" Bagas berdiri untuk mensejajari Roka, matanya menatap Kiran yang kini tengah bergelung dengan selimut sembari tersenyum-senyum.


Roka mengendikkan bahu lantas melemparkan handuknya pada Kiran, "Udah gila ya lo sekarang?"


Kiran meraih handuk Roka, memeluknya dengan erat dengan masih mengembangkan senyum di bibir, "Makasih lo berdua emang top markotop!" Kiran berhambur ke arah Roka dan Bagas, memeluk keduanya secara bersamaan.


Roka semakin tidak mengerti, ia melepaskan pelukan Kiran kemudian menangkup wajah sahabatnya itu dengan dua tangan, "Lo kenapa si? Masa iya sekarang bentuk depresi lo bukan murung lagi malah jadi jablay gini?" Roka membolak-balik wajah Kiran, mencoba menyadarkannya.


"Gue sama Chandana... aww!" Kiran membuang muka sembari menutupi wajahnya.

__ADS_1


Kiran masih tidak bisa beralih dari rasa bahagia yang sejak semalam menyelimuti hatinya. Ia bahkan tidak bisa tidur dengan tenang lantaran terus terbayang adegan romantis yang terjadi semalam. Ia juga berulang kali mengamati lengannya, kemudian memeluk udara di hadapannya seolah-olah itu adalah Chandana. Ia tidak keberatan dipanggil gila sebab memang itulah adanya. Ia merasa gila oleh kebahagiaan.


Roka nyaris tersedak ludahnya sendiri mendengar perkataan dan reaksi Kiran, apa-apaan temannya ini, "Ngaku sama gue! Lo sama Chandana abis ngapain? Kenapa lo semaleman kaya uget-uget begini sih? Lo diapain!"


Bagas yang sejak tadi menyaksikan adegan langka ini pun tidak hentinya tertawa. Seumur hidup baru kali ini ia melihat Kiran bertingkah layaknya orang mabuk, ya, mabuk asmara. Namun Bagas merasa lega sebab Kiran akhirnya mengerti dan menyadari kesalahannya selama ini karena terlalu tidak mempercayai diri sendiri, tidak mempercayai orang-orang di sekitarnya.


"Gue sama Chandana sekarang sama-sama! Lo nyangka gak? Gak nyangka kan? Gue juga enggakk!" Sejujurnya Kiran bisa saja bertindak normal dan mengendalikan diri seperti biasa, namun kali ini ia ingin berbagi kebahagiaan dengan Bagas dan Roka sebab dua orang inilah yang telah banyak membantunya.


Roka membelalak mendengar ucapan Kiran, ia meloncat kegirangan sembari memeluk Kiran dari belakang. Reaksinya bahkan lebih heboh dari Kiran sendiri.


"Akhirnya lo yaaa! Gilak gilak! Ceritain gimanaa bisaa? Wah lo kudu traktir gue sepuasnya pokoknya awas aja lo! Adohhh temen gue akhirnya gila seneng banget sih!" Roka mengapit kepala Kiran di ketiaknya, lantas menggosok rambutnya hingga berantakan.


Roka tidak bisa merasa lebih bahagia dari ini. Kini akhirnya ia bisa melakukan sedikit hal yang berguna bagi Kiran. Kini akhirnya ia tidak perlu lagi melihat Kiran bersedih dan bermuram durja. Tak perlu lagi melihat sahabatnya itu tersiksa lantaran selalu bertindak acuh tak acuh yang mana hal tersebut sangat bertentangan dengan nuraninya.


Melihat kekacauan yang terjadi, Bagas tidak tinggal diam. Ia melompat ke arah Kiran dan Roka, turut berpelukan merayakan keberhasilan Kiran atau mungkin lebih tepatnya keberhasilan mereka semua.


Kini Kiran sadar bahwa mengandalkan orang lain memang sangatlah penting dan berguna. Ia mungkin bisa saja menyelesaikan semuanya sendiri, namun apabila bersama-sama, semua menjadi lebih ringan dan menyenangkan.


Sementara Roka, Bagas, dan Kiran tak kunjung membereskan barang-barang mereka untuk segera berkumpul di tanah lapang dan kembali ke rumah, Chandana dan Naya justru terlihat sibuk merapikan barang-barang mereka.


Semalam, Chandana telah menceritakan semuanya pada Naya. Ia telah mengatakan apa yang terjadi padanya dan Kiran pada saat mereka meninggalkan malam api unggun kemarin. Meski awalnya ragu untuk bercerita, akhirnya Chandana mau berkata jujur lantaran Naya terus mendesaknya. Naya tidak tahan melihat ekspresi gembira dan sorot mata bercahaya yang ditunjukkan Chandana kemarin malam sekembalinya ia ke kamar.


Padahal jika diingat lagi, seharian itu Chandana sangat amat murung dan banyak menangis. Matanya bengkak dan wajah sendunya tidak menampakkan ekspresi apapun seharian. Namun tiba-tiba Chandana kembali ke kamar dengan wajah berbinar penuh kebahagiaan. Bagaimana bisa Naya tidak menyadarinya? Tentu ia akan tahu. Tentu Naya akan turut berbahagia bersama Chandana untuk semuanya.


Meski begitu, rasa khawatir di hati Naya masih belum sepenuhnya pergi. Naya tahu bahwa Kiran adalah laki-laki yang baik dan pengertian. Namun Naya tetap saja khawatir bagaimana reaksi dan pendapat Kiran apabila ia mengetahui semua yang dialami Chandana selama ini. Naya takut Kiran tidak sanggup lalu kemudian meninggalkan Chandana. Naya bahkan tidak sanggup hanya dengan membayangkan hal tersebut.


Jadi sejatinya, kehidupan memang selalu penuh misteri yang tidak diketahui manusia. Atau mungkin lebih tepatnya, belum diketahui manusia.


Jika dua orang yang saling menyukai diberi pilihan, memilih bersama-sama merajut kasih namun saling menyakiti yang bahkan akan berujung dengan saling meninggalkan atau memilih tidak bersama dan saling melupakan, manakah yang lebih baik? Manakah yang akan memberi hasil yang memuaskan? Tidak ada satupun orang yang tahu. Karena hidup adalah pilihan, dan pilihan adalah keyakinan. Dan sungguh, dengan keyakinan, kamu tidak akan menyesal. Kamu tidak akan melirik ke belakang lagi, membayangkan apa jadinya aku jika memilih A atau apa jadinya aku jika memilih B.


-The end of interval 1-


To be continue to interval 2...

__ADS_1


__ADS_2