
Kiran tersenyum lega saat mengetahui bahwa Chandana tidak mendahuluinya. Tanpa mau membuang lebih banyak waktu, Kiran memutuskan untuk duduk di bangku besi yang terletak di depan perpustakaan. Beberapa kali ia mengedarkan pandangan, mencoba menemukan gadis yang sedang ditunggunya. Bagi Kiran, waktu berjalan sangat lambat siang itu. Di satu sisi ia ingin segera bertatap muka dengan Chandana, di sisi lain ia merasa gugup dan takut kalau-kalau ia kembali melakukan kesalahan dalam bertindak seperti sebelum-sebelumnya.
Dengan hati berdebar serta perasaan gugup yang amat menderu, Kiran terus mengamati sekeliling, menunggu kedatangan sosok yang amat ia nantikan terlihat. Detik berganti menit, dan menit berganti jam, namun Chandana belum juga menampakkan dirinya. Kiran yang semula sangat bersemangat pun perlahan mulai merasa tidak enak hati. Dalam benak Kiran terus terbesit perintah agar ia pulang sebab Chandana mungkin tidak akan datang, di sisi lain hatinya memerintahkan agar ia bersabar sedikit lebih lama lagi sebab hati kecilnya yakin bahwa sosok itu akan segera muncul dan menemuinya.
Kiran berdiri, sekali lagi mencoba mengawasi sekeliling, berharap kedua indera penglihatannya menangkap sosok Chandana tengah berjalan mendekat ke arahnya. Setelah memastikan tak ada siapa-siapa, Kiran kembali duduk. Mengurungkan niatnya untuk beranjak pergi. Menunggu sedikit lagi.
Hal yang sama terus berulang hingga tiga jam berlalu. Hari sudah gelap dan nyaris tak ada siapapun lagi di sekolah. Saat itu Kiran benar-benar berpikir bahwa Chandana tidak mungkin datang. Tidak peduli seberapapun ia berusaha memahami hatinya, akalnya lah yang memenangkan konflik dalam dirinya hari itu. Dengan berat hati, Kiran meninggalkan area sekolah. Memacu motornya dengan kecepatan penuh.
Kenapa rasanya kecewa?
Kiran menghela napas, pandangannya nampak kosong. Ternyata begini rasanya ketika berekspektasi namun tertampar realita. Dengan perasaan yang masih tak menentu, Kiran memarkirkan motornya di bagasi lantas berjalan gontai menuju kamar tanpa mempedulikan keriuhan di ruang tamu karena sang ibu nampaknya tengah menggelar acara kumpul-kumpul bersama teman-temannya.
Usai sampai di kamar, Kiran meletakkan ranselnya, melepas seragam serta berganti dengan pakaian yang lebih nyaman. Ia membaringkan diri di atas kasur seraya menatap langit-langit kamarnya. Meski tak benar-benar mengenal Chandana, Kiran merasa yakin bahwa gadis tersebut tidak mengingkari janjinya dengan sengaja.
"Arghhh. Kenape si diri ini. Kenapa jadi gelisah gini? Ngapain juga dipikirin, dia gak dateng juga urusan dia ngapa dipusingin coba." Kiran menendangkan kakinya asal. Ia sadar tak seharusnya ia bertindak seperti ini. Memangnya ia siapa? Apa yang membuatnya berhak mempertanyakan alasan yang membuat Chandana mangkir dari janji temu mereka. Toh jika diingat kembali, Chandana tidak benar-benar berjanji akan datang.
"Hahh, tapi kenapa dia nggak datang? Masa iya dia ngibul? Enggak mungkin juga. Apa jangan-jangan dia ada masalah? Kenapa-napa? Argghhh kok malah tambah pusing." Kiran meraih selimutnya lantas menggulung tubuhnya sembari menggeliat kesana-kemari.
---
Roka menyunggingkan senyum. Dari kejauhan, nampak Naya tengah memarkirkan sepeda motor maticnya. Tak ingin kehilangan kesempatan untuk berbicara dengan Naya, Roka sengaja memperlambat langkah kakinya sembari menunggu Naya yang masih sibuk di parkiran.
"Minggir lo." Naya menendang pelan betis Roka sebab dengan sengaja menghalangi jalannya.
"Tumben bener bawa motor sendiri, tidak takut hitam?" Roka tersenyum kecil sembari berusaha mensejajari langkah Naya.
__ADS_1
"Apaan sih, bacot bener. Toh tiap latihan basket juga nih kulit kena panas masih putih-putih aja." Naya menatap lurus ke depan tanpa sedikitpun melihat ke arah Roka.
"Hehe kita samaan dong. Wajah tampan gue juga tetep bersinar di manapun dan kapanpun." Dengan percaya diri, Roka membenahi kerah bajunya seraya melirik Naya. Ekspresi bangga yang semula terpampang di wajah Roka pun seketika memudar usai melihat gestur mual yang Naya perlihatkan padanya.
"Najis! Kalo gue emang udah cakep dari lahir ya gausa ribet lo. Dan juga ga usah banyak cakap deh ya, gue gak mempan lo modusin." Naya mempercepat langkahnya. Jujur saja, sejak dulu hingga sekarang, Naya selalu merasa muak tiap kali melihat aksi sok akrab yang kerap ditunjukkan Roka. Namun entah kenapa, akhir-akhir ini Naya merasa tak terlalu ambil pusing. Ia justru cenderung merasa senang meski apa yang dirasakannya dalam hati itu tak sejalan dengan respon yang ia berikan pada Roka.
"Dih, siape si mbak yang modusin situ? Pede banget sih! Orang gue cuma mau basa-basi doang sebelum bilang kalo gue menyayangkan keputusan lo buat bawa motor sendiri!" Roka menjawab pernyataan Naya dengan bersungut-sungut. Ia benar-benar tidak berniat untuk modus atau tebar pesona. Ia hanya ingin berbicara dengan Naya, itu saja.
"Menyayangkan keputusan gue bawa motor sendiri? Dih, alay bener lo. Gue bawa motor atau enggak tuh emang ngaruh ya ke idup baginda? Bilang aja lo emang mau modusin gue." Naya mendecih seraya melirik ke arah Roka. Tanpa sengaja Naya melihat ekspresi wajah Roka yang nampak layu, berbeda 180 derajat dari ekspresi yang ditunjukkannya beberapa detik yang lalu.
"Ngaruh. Gue jadi gak bisa nebengin lo lagi." Roka berjalan mendahului Naya dengan langkah panjang dan lebar. Meninggalkan Naya yang berdiri mematung dengan kedua pipi memerah usai mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Roka.
---
Kiran menyandarkan kepalanya di atas meja lantas melirik ke arah Roka yang tidak seberisik biasanya. "Kenapa lo?"
"Lo kenape si? Ditagih rentenir?" Roka mengusap ujung hidungnya yang gatal seraya menatap lurus ke arah Kiran.
"Chandana kemarin nggak dateng. Gue bukannya marah, tapi dia nggak dateng pasti ada alasannya kan? Bukan karena dia sengaja kan?" Kiran membenamkan wajahnya di antara siku tangan kanannya. Selain karena merasa pusing akibat tidak ada hentinya memikirkan soal mangkirnya Chandana dari pertemuan mereka kemarin, Kiran juga kesulitan menahan kantuk akibat nyaris tidak tidur semalaman suntuk.
Roka mendelik lebar, ia menegakkan punggungnya, menarik kursi mendekat ke arah Kiran. Nyaris saja ia melupakan momen kencan pertama Kiran dalam tujuh belas tahun hidup di dunia. "Hah? Dia nggak dateng? Seriusan lo?"
"Gue serius. Emang elo, tukang ngibul." Kiran menghela napas sekali lagi. Astaga, begitu banyak tragedi yang terjadi dalam hari-harinya beberapa minggu ini hanya karena seorang gadis yang bahkan tak ia kenal dengan baik.
"Lah? Malah ngatain lagi lo dasar kaga tau diri. Hmm, kenapa ya dia gak dateng? Masa iya dia cuma mau ngerjain elo?" Roka menggaruk tengkuknya, ia meragukan seorang Chandana yang pendiam, lemah lembut, dan sendu itu akan tega mengerjai Kiran.
__ADS_1
"Gue harus gimana? Apa gue harus tanya alesan kenapa dia nggak dateng ya?" Sejak kemarin Kiran terus merasa ragu dan bingung terkait langkah apa yang harus ia ambil selanjutnya. Yaa, meski kerap kali menjerumuskan dirinya, paling tidak hanya Roka yang bisa ia mintai pendapat.
"Noo! Jangan samperin dia, lo jadi cowok kudu ada harga dirinya!" Roka menempelkan telunjuk tangan kirinya tepat di bibir Kiran, membuat sahabatnya itu tertegun sebab rasa keterkejutan yang amat besar.
Usai terdiam selama sepersekian detik, Kiran mengernyit karena hidungnya mencium aroma tak sedap yang kemungkinan berasal dari jari telunjuk Roka. "Buset abis garuk pant*t apa gimana sih, kok bau bener itu telunjuk!"
Roka tertawa kecil sembari turut menghirup aroma jari telunjuknya. "Heheh, abis garuk kaki nih boy."
"Kebangetan lo, gue minta nasehat malah lo kasih bau bangke." Kiran memundurkan kursinya seraya berusaha keras menutup hidung dengan buku tulis yang tergeletak di atas meja.
"Orang cuma mencairkan suasana doang ngapa uring-uringan dah. Pokonya lo jangan nyamperin dia duluan." Roka mencoba kembali ke topik pembicaraan mereka sebelumnya. Bagaimanapun juga, kali ini Roka ingin memberi nasehat yang dapat memberikan manfaat bagi Kiran agar sahabatnya itu tak lagi menghujat skill yang dimiliki Roka. Tentu jika Kiran berhasil, sahabatnya itu akan menjadi bukti testimoni pertama atas kehebatan skill 'perbajulan' yang selama ini ia rintis.
"Terus? Gue diem aja?" Merasa bingung, Kiran mencoba memperjelas maksud dari perkataan Roka.
"Iya. Di sini posisinya kan doi yang janji, doi juga yang ga dateng. Jadi lo sok ngambek aja gitu. Jual mahal noh kaya batu akik. Tunggu dia minta maaf duluan. Pokoknya lo sok ngehindar aja gitu biar dia kira lo marah." Roka tersenyum penuh arti lantas bersedekap, memperlihatkan ekspresi layaknya tokoh antagonis yang baru akan melancarkan aksinya.
"Gitu ya. Oke. Lagian gue gak yakin dia bakal samperin gue duluan." Kiran tersenyum kecil, dari wajahnya terlihat jelas bahwa lali-laki itu tidak sedang merasa baik-baik saja.
"Halaahhh, jangan pesimis gitu. Gue yakin si Chandana sebenernya udah mulai respect ama lo. Lo udah baikin dia segitu banyak, gak mungkin dia enjoi aja abis ngibulin lo. Dahlah, yuk makan jangan manyun mulu tuh bibir." Roka menarik lengan Kiran. Perutnya yang semula sudah lapar malah jadi semakin lapar usai melaksanakan sesi konseling dengan Kiran.
"Berhubung lo udah dapet tausiah dari gue, bayar gue pakek semangkuk cireng ya?" Roka memperlambat langkahnya sembari melirik ke arah Kiran yang nampaknya ingin mencakar-cakar Roka saat itu juga.
"Ciwik tih hiris jiil mihil. Sendirinya ditebus pakek cireng doang mau." Gerutu Kiran dengan suara yang tidak terlalu lantang.
"Hah? Apa?" Roka yang samar-samar mendengar gumaman Kiran pun mencoba menanyakan apa yang sedang coba Kiran sampaikan.
__ADS_1
"Gak."