Chandana

Chandana
Edy (4)


__ADS_3

Ada banyak hal yang terjadi dalam kehidupan manusia. Lebih dari setengahnya adalah hal yang terjadi tanpa pernah diduga-duga sebelumnya. Dalam artian lain, lebih dari setengah peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia adalah sesuatu yang tidak diketahui dan tidak dapat diprediksi oleh manusia itu sendiri ataupun orang lain. Kebanyakan menyebut hal ini sebagai takdir.


Dan jika memang benar bahwa takdir itu ada, maka Chandana adalah salah satu manusia dengan takdir yang sangat amat buruk. Setidaknya itulah yang dipikirkan oleh gadis tersebut setelah semua musibah dan kemalangan yang menimpanya secara bertubi-tubi.


Tak cukup dengan kehilangan ibu untuk selama-lamanya, Chandana juga harus kehilangan sosok ayah yang selama ini mengasihi dan menyayanginya lebih dari apapun itu. Meski raga ayahnya masih ada di sisi Chandana, laki-laki itu sudah bukan lagi orang yang ia kenal sebelumnya. Sifat dan perangainya benar-benar berbeda. Alih-alih kasih sayang dan kelembutan, satu-satunya hal yang didapatkan Chandana dari ayahnya ialah rasa sakit beserta rasa takut. Ia tak pernah bisa tidur nyenyak di malam hari. Tak pernah bisa leluasa melakukan ini dan itu di siang hari. Tak ada yang bisa Chandana lakukan selain duduk diam di kamarnya dengan ditemani buku-buku dongeng yang telah dibelikan almarhumah Diandhana.


Di saat-saat terburuk Chandana, Edy hadir sebagai seseorang yang selalu menghiburnya. Mereka seumuran, namun Edy selalu bersikap dewasa dan mengayomi. Ia menceritakan banyak hal pada Chandana. Ia bertindak layaknya pelindung bagi Chandana. Setidaknya begitu pada awalnya.


Sampai seiring dengan berjalannya waktu, sifat mengerikan yang pada umumnya dimiliki oleh semua manusia mulai nampak pada diri Edy. Mulanya Edy hanya melarang Chandana keluar dari kamar dengan alasan keselamatan. Agar Chandana tidak lagi disakiti oleh ayahnya. Namun, kian lama Edy mulai memperketat belenggunya. Ia mulai merasa berhak dan berkuasa atas diri Chandana. Ia ingin gadis itu hanya untuk dirinya sendiri.


Edy mulai mengunci Chandana di dalam kamar dengan alasan kebaikan. Ia mengatakan bahwa tidak aman bagi Chandana berada di luar kamar selain saat ia pergi ke sekolah. Semua keegoisan dan eksploitasi yang Edy lakukan mencapai puncaknya saat ia merenggut hal paling berharga yang dimiliki Chandana.


Edy memperkosa Chandana yang saat itu tidak memahami apapun tentang hal mengerikan tersebut. Meski begitu, Chandana tahu bahwa yang dilakukan Edy padanya adalah suatu kesalahan besar. Rupanya, Edy tidak puas hanya dengan sekali melakukan hal keji tersebut. Tanpa sepengetahuan Arif, Edy yang sebelumnya memang selalu tidur di kamar Chandana namun dengan ranjang berbeda itu pun mulai melancarkan aksinya nyaris setiap hari. Setiap malam.


Hidup Chandana semakin pahit dan penuh penderitaan. Ia mulai merasa ketakutan tiap melihat laki-laki di sekolah. Terlebih yang seusia dengannya. Ia takut berada di dekat laki-laki manapun. Namun, sayangnya Chandana harus bertemu dengan monster yang sesungguhnya itu tiap malam. Tiap hari. Chandana benci sekali setiap tiba waktunya untuk pulang ke rumah. Ia ingin pergi dan menghilang. Namun, tidak ada yang bisa ia lakukan selain menerima luka batin dan pelecehan mengerikan itu.


Di sisi lain, Edy yang telah mengatur rencana balas dendam untuk keluarga Pradipta pun mengirim Arif untuk bekerja di sana saat ia mendengar bahwa pria kaya raya itu membutuhkan supir. Tanpa ragu, Arif menuruti perintah yang diberikan oleh putra angkatnya yang saat itu masih berusia 14 tahun tersebut. Hal ini terjadi karena Arif tak punya tujuan hidup lain selain membalaskan dendam istrinya. Membalas kematian Diandhana, orang yang paling ia cintai dalam hidupnya.


Arif menuruti semua arahan dan masukan Edy tanpa pernah membantah. Hatinya telah ditutupi dendam sementara logikanya tak mampu melawan. Semua yang dikatakan Edy terdengar sangat benar dan meyakinkan bagi Arif. Anak berusia 14 tahun itu benar-benar tahu bagaimana mengendalikan orang lain melalui kelemahannya. Dan itulah yang ia lakukan pada Arif.


Semua rencana Edy menuai hasil yang menggembirakan. Arif yang memang pada dasarnya adalah orang yang ramah berhasil merebut hati Pradipta dan dengan segera menjadi orang yang berada di sisi Pradipta pada berbagai kesempatan.


Saat itu, Arif berkali-kali mengatakan pada Edy bahwa ia ingin segera membunuh Pradipta dan membalaskan dendamnya. Namun, rupanya Edy memiliki rencana yang jauh lebih kejam. Ia ingin menggerogoti Pradipta dari dalam. Ia ingin menghancurkan laki-laki itu dengan cara menyakiti keluarganya terlebih dahulu.


Sasaran pertama ialah putra bungsu Pradipta. Edy yang setiap hari memaksakan diri untuk mendengarkan cerita dari Arif pun mau tidak mau harus mencerna semua yang dijelaskan oleh pria itu. Meski 70 persen dari keseluruhan cerita Arif adalah hal-hal tidak penting yang ia lakukan selama di sana, setidaknya Edy mendapatkan banyak informasi dan gambaran terkait apa yang ada di balik tembok besar rumah Pradipta.


Setelah beberapa minggu usai Arif bekerja di tempat itu, tibalah kesempatan yang selama ini mereka tunggu-tunggu. Edy tengah mendengarkan cerita Arif yang membosankan hingga terkantuk-kantuk saat ia mendadak bersemangat usai mendengar bahwa Pradipta dan istrinya akan pergi meninggalkan rumah beserta kedua anaknya untuk waktu yang tidak dapat dikatakan sebentar.


"Ayah yakin mereka bakal pergi cukup lama?" Edy menggaruk dagunya, mencoba memastikan sekali lagi ucapan ayah angkatnya.


"Bapak Pradipta bilang begitu pas ayah antarkan ke kantor tadi. Terus dia minta ayah antar beli donat buat Kiran dan-"


"Udah, Yah! Udah malam! Jangan cerita lagi!" Edy menghentikan ucapan Arif sebelum ia kembali menceritakan hal-hal tidak penting lainnya.


Arif mengangguk ragu.


"Tapi, kata ayah mereka mau nyewa pengasuh untuk Arda ya?"


Arif mengangguk lagi, "Iya. Namanya Endang. Rumahnya dekat sama rumah Pak Pradipta. Ayah biasanya ketemu dia pas lagi beli sayur-"

__ADS_1


"Yah!" Edy menyalak, "Maaf. Edy lagi capek. Nggak bisa dengar cerita Ayah lagi. Ayah dengar Edy, ya. Ini adalah kesempatan yang bagus buat kita, Yah. Kita bisa balas kematian ibu. Kematian istri Ayah. Edy yakin, di atas sana ibu pasti lagi nunggu Ayah membalaskan dendamnya. Jadi, kalau Ayah memang mau membuat ibu bahagia di atas sana, Ayah harus dengerin Edy, ya?" Edy memelankan suaranya. Ia menyentuh bahu Arif untuk membuat laki-laki tersebut merasa sedikit lebih tenang.


"Ayah akan melakukan apapun untuk bisa membuat Dian bahagia. Apapun."


Edy tersenyum. Cinta memang hal yang bodoh. Bodoh sekali.


"Kalau ayah memang mau ibu bahagia, ayah harus mendengarkan Edy. Mendengarkan dan melakukan semua yang Edy katakan. Ayah mengerti?"


"Iya. Ayah akan melakukan apapun agar Dian bahagia."


Malam itu, Edy memerintahkan pada Arif untuk melakukan semua yang ia katakan. Edy merencanakan sebuah skema untuk menyakiti kedua putra Pradipta. Ia ingin agar Arif melakukan semua hal yang ia instruksikan dengan baik dan benar agar semuanya terlihat seperti sebuah kecelakaan.


Edy memberikan sebuah catatan yang berisi jam dan apa yang harus Arif kerjakan sembari menjelaskan setiap step dengan baik dan jelas. Edy ingin rencananya berjalan sempurna dan tidak ada kesalahan sama sekali di sana. Sementara Arif melakukan semua arahannya, Edy akan pergi untuk mencegah dan menghalangi Endang datang ke rumah Pradipta tepat waktu. Edy akan berusaha memberikan waktu sebanyak mungkin agar Arif mampu melaksanakan tugas yang diberikan Edy kepadanya.


Malam itu, usai Edy menjelaskan semuanya kepada Arif, ia pergi ke kamar Chandana. Sesaat setelah Edy membuka pintu, Chandana terbangun dan beringsut ke sudut ranjang. Wajahnya terlihat panik dan ketakutan. Sebulir air mata turun membasahi pipinya yang mulus saat melihat Edy berjalan mendekati tepian ranjang.


"Kamu kenapa sih?" Edy bertanya dengan nada penasaran.


Chandana semakin beringsut saat melihat Edy mendekatinya, "Jangan. Saya mohon jangan."


Edy tersenyum kecil, "Jadi, kamu lebih suka dipukuli sama Ayah ya?"


Edy mengepalkan tangannya kuat-kuat, "Terserah! Terserah kamu." Edy mendekati Chandana dan menarik tangannya kuat-kuat.


Tak peduli sekuat apapun Chandana menolak dan meronta, ia tak bisa menghindari Edy. Ia tak bisa mengalahkan Edy. Lagi-lagi, Chandana harus menjalani malam dan perlakuan mengerikan. Lagi-lagi ia menerima hal yang seharusnya tidak ia dapatkan dari seseorang yang telah ia anggap sebagai kakak yang dikirim oleh Tuhan untuk melindungi dirinya dari kekejian dunia.


Keesokan harinya, Edy mempersiapkan segala yang Arif butuhkan untuk menjalankan rencana mereka. Edy memberikan saran dan menjelaskan semua yang perlu dilakukan Arif sekali lagi. Edy benar-benar tidak ingin ada kesalahan. Ia ingin semuanya berjalan dengan baik dan lancar.


Sementara Edy sibuk dengan dirinya sendiri, Chandana pergi menemui sang Ayah dan mengatakan hal-hal buruk tentang Edy tanpa sepengetahuan bocah 14 tahun tersebut. Chandana menjelaskan betapa menderita dan tersiksanya ia selama ini. Mendengar ucapan dan isak tangis dari putrinya, Arif sempat merasa goyah dan tidak yakin. Ia melunak dan berniat memeluk Chandana.


Sesaat sebelum hal tersebut terjadi, Edy datang dan melihat Chandana yang entah bagaimana bisa keluar dari kamar yang ia yakini telah dikunci sebelum ditinggalkan beberapa waktu yang lalu.


"Ada apa?" ujar Edy yang penasaran dengan apa yang tengah mereka bicarakan.


Chandana yang terisak usai menceritakan semua keburukan Edy kepada ayahnya pun bersembunyi di balik tubuh Arif.


"Yah, ada apa? Chandana bilang apa sama Ayah?" merasa ada yang janggal, Edy mencoba menanyakan secara langsung kepada Arif sebab ia yakin ayah angkatnya yang bodoh itu akan mengatakan semuanya dengan jujur dan terus terang.


Dan memang benar dugaan Edy. Arif menceritakan semua yang dikatakan Chandana kepadanya, "Apa benar yang dikatakan Chandana?"

__ADS_1


Mendengar semua ucapan Arif membuat Edy merasa kesal. Ia menganggap Chandana telah berkhianat. Ia menganggap Chandana telah mengkhianati niat sucinya. Oleh karena itu, Edy dengan sengaja membantah semua ucapan Chandana dan mengatakan bahwa apa yang dikatakan gadis tersebut adalah kebohongan yang sengaja ia buat-buat. Edy bahkan mencoba mengadu domba ayah dan anak tersebut. Meski ia tidak ingin melihat Arif menyakiti Chandana, nyatanya Edy tetap memanas-manasi amarah Arif agar laki-laki tersebut menyakiti putrinya sendiri. Edy beranggapan bahwa hal tersebut pantas dan layak didapatkan Chandana sebagai hukuman atas pengkhianatan yang ia lakukan kepada Edy.


"Ampun, Yah! Chandana nggak salah!" jerit Chandana saat Arif justru memukulinya alih-alih membelanya.


Edy dengan asyik memperhatikan Arif yang tengah memukuli Chandana hingga wajah gadis tersebut memar dan penuh luka. Sejujurnya Edy merasa Arif tidak perlu melukai wajah cantik Chandana seperti itu. Namun, saat mengingat kembali bahwa Chandana berani-beraninya mengadu pada Arif, Edy justru menikmati penyiksaan yang dialami Chandana. Edy bahkan tersenyum dengan puas saat matanya bertemu dengan Chandana yang saat itu menangis sembari menahan rasa sakit. Bagi Edy, peristiwa yang kala itu tersaji di hadapannya adalah hal yang sangat asyik dan menyenangkan untuk dilihat dan dinikmati.


Tak begitu lama kemudian, Edy menghentikan perbuatan Arif. Ia mengatakan bahwa telah tiba saatnya bagi mereka untuk melancarkan aksi yang sebelumnya telah direncanakan. Edy dan Arif pergi bersama-sama dan meninggalkan Chandana sendirian di rumah. Keduanya mengunci pintu rapat-rapat agar gadis tersebut tidak dapat keluar apalagi meninggalkan rumah besar tersebut barang sebentar.


Di perjalanan, Arif berkali-kali menyatakan bahwa Chandana tidak pernah berbohong padanya. Bahwa putrinya adalah gadis yang baik dan penurut. Namun, Edy menyangkal hal tersebut dengan mengatakan bahwa Chandana menyukai fakta bahwa Dian telah meninggal. Bahwa Chandana tidak menyukai Edy karena ia mencoba membuat Arif membahagiakan Dian. Meski awalnya tidak yakin dan ragu, pada akhirnya Arif berhenti berbicara dan menjalankan tugasnya sesuai dengan apa yang Edy perintahkan.


Setelah hampir 30 menit menghabiskan waktu di dalan taksi, keduanya turun di depan sebuah gang kompleks perumahan mewah tempat Pradipta dan keluarganya tinggal.


Edy dan Arif berpisah di depan gang lantaran misi Edy ialah mencegah Endang masuk ke dalam rumah Pradipta tepat waktu agar Arif dapat melancarkan aksinya.


Usai menunggu cukup lama, Edy yang melihat seorang wanita dengan ciri-ciri fisik yang menyerupai gambaran dari Arif pun bangkit dari rerumputan seraya berlari kecil untuk menghampiri wanita tersebut.


Edy mencoba menanyakan nama dan apa yang hendak dilakukan wanita tersebut sebelum benar-benar mengalihkan perhatiannya.


Usai memastikan bahwa nama si wanita adalah Endang dan ia berniat menjaga anak dari salah seorang warga kompleks, Edy pun mencegah dan mengalihkan perhatian wanita tersebut dengan cara meminta pertolongan.


Edy berusaha sebaik mungkin untuk memasang wajah dan ekspresi memelas agar Endang bersedia membantunya. Pada mulanya, Endang terus menolak karena ia harus bekerja. Namun, Edy yang terus berusaha membujuk dan memelas pun berhasil meluluhkan hati Endang.


Selama kurang lebih 2 jam, keduanya pergi kesana dan kemari sesuai dengan permintaan Edy. Di sepanjang kebersamaan mereka, Endang terus mengatakan agar Edy meminta bantuan dari orang lain. Namun, Edy tidak berhenti dan bahkan menangis saat Endang hendak pergi meninggalkannya.


Usai puas mempermainkan Endang, Edy mengatakan bahwa ia telah mendapatkan apa yang ia cari sejak tadi. Edy berterima kasih kepada Endang atas kebaikannya meskipun wanita tersebut nampak tidak senang dan menyesali perbuatannya barusan. Edy sadar, Endang pasti merasa gelisah lantaran ia tidak dapat menjalankan tugas dan pekerjaannya dengan baik. Namun, di sisi lain Edy merasa lega karena ia telah melakukan tugasnya dengan baik.


Tidak berhenti di sana, Edy mencoba memastikan sendiri ke rumah Pradipta untuk melihat secara langsung hasil kerja ayah angkatnya. Saat itu, Edy merasa optimis jika semuanya akan berjalan sesuai dengan rencananya. Bahwa kedua putra Pradipta akan mati di tangan Arif dan ayah angkatnya itu akan membuat kematian Kiran dan Arda seolah-olah terjadi karena kecelakaan atau tanpa disengaja.


Dari kejauhan, Edy dapat melihat kerumunan orang telah berkumpul di sekitar kediaman Pradipta. Ia berjalan mendekat agar dapat menyaksikan dengan lebih jelas apa yang terjadi di sana. Tentu saja, saat itu Edy masih menganggap bahwa semuanya telah berjalan sesuai dengan apa yang telah ia rencanakan.


Edy berjalan dengan sangat percaya diri saat ia mendekati kerumunan yang ada di sekitar rumah megah tersebut. Ia masih mencoba melihat ke dalam rumah melalui celah-celah pagar saat dua orang polisi membuka pagar besi tersebut.


Edy masih tidak dapat memastikan apa yang terjadi sampai saat ia menyaksikan Arif tengah digelandang oleh dua orang polisi.


Edy mendelik kaget. Jantungnya berdebar dengan amat kencang saat ia melihat pria tersebut dibawa masuk ke dalam mobil polisi. Edy pikir rencananya kembali berhasil. Edy pikir, semuanya akan berjalan dengan lancar seperti yang sudah-sudah. Edy pikir, ia akan menikmati sensasi bahagia lantaran rencananya kembali berjalan dengan mulus dan lancar.


Namun, Edy salah. Rencananya tidak berhasil. Rencananya telah gagal.


Enggak, bukan rencananya. Pasti orangnya. Rencanaku sudah sempurna. Rencanaku selalu sempurna. Pasti Arif si Bodoh itu yang menghancurkan semuanya. Pasti dia.

__ADS_1


__ADS_2