
*Lima jam yang lalu*
"Chandana mainnya sama Kiran ya? Gue sama Naya mau nyoba wahana-wahana yang serem nih. Takutnya nanti lo malah makin pusing," Roka meneguk sebotol minuman yang baru saja ia beli dengan bersemangat.
Chandana melirik ke arah Kiran sejenak, kemudian kembali menatap Roka, "Nggak apa-apa biar saya sendirian, kalian bertiga main aja," Chandana tersenyum tipis. Wajah sendunya terlihat tulus.
Kiran hanya diam sembari membuang muka. Sejujurnya ia ingin mengajukan diri dengan sukarela, namun mengingat kembali pembicaraan yang sempat terjadi antara dirinya dan Roka beberapa waktu lalu membuatnya merasa bimbang. Chandana menolak usulan Roka tentu ada alasannya, dan dari sekian banyak hal yang dipikirkan oleh Kiran, muncul dua alasan terkuat yang mungkin mendasari penolakan Chandana. Ia merasa sungkan, atau ia memang tidak ingin ditinggalkan berdua dengan Kiran lantaran ia memang tidak nyaman berada di dekat laki-laki. Bila alasan Chandana adalah yang kedua, tentu saja Kiran akan merasa bersalah jika menawarkan diri dan mendesak Chandana.
Roka menoleh ke arah Kiran, ia seakan menunggu temannya itu untuk bereaksi atau mungkin mendukung usulannya. Alih-alih menanggapi tatapan Roka, Kiran membuang muka, memaksa Roka untuk membujuk Chandana dengan caranya sendiri, "Nggak apa-apa. Lo jangan takut sama Kiran, dia anak baik-baik kok. Gue jamin dia bakal jagain lo."
Chandana menunduk ragu, "Saya bukannya takut sama Kiran, saya cuma ingin kalian bersenang-senang dan bukannya mengkhawatirkan saya seperti ini," ujar Chandana dengan suara lirih.
Mendengar hal ini membuat Kiran membuang semua kekhawatiran yang tadi sempat mengganjal di benaknya, "Nggak apa-apa kok. Biar saya temani kamu ya?" Kiran memberanikan diri untuk menatap Chandana.
Gadis tersebut mendongak, matanya bertemu dengan kedua manik Kiran yang nampak berbinar penuh harap, "Terserah kamu saja."
Roka saling melempar pandangan dengan Naya yang kini tengah sama-sama tersenyum penuh arti. Suatu kebanggaan tersendiri karena kini rencana mereka terlihat lancar dan berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.
Tanpa menunggu lebih lama, Roka mengatur lokasi dimana mereka dapat bertemu kembali usai berjalan-jalan secara terpisah. Setelah semua setuju, mereka berempat pun mengambil jalan dengan arah berbeda. Kiran dan Chandana pergi ke arah utara sedangkan Roka dan Naya pergi ke arah selatan.
Karena ia seorang pria, Kiran cenderung berjalan dengan langkah lebar dan cepat. Ia bahkan sempat meninggalkan Chandana beberapa meter karena gadis tersebut kesulitan mengimbangi langkahnya. Menyadari hal ini membuat Kiran memutuskan untuk berjalan lebih lambat dengan langkah kaki yang tidak terlalu lebar. Ia berjalan mensejajari Chandana sembari sesekali melempar pandangan pada gadis tersebut.
"Kamu suka sama tempat seperti ini?" Kiran melirik Chandana, mencoba mengusir keheningan serta debaran jantung yang terasa amat mencekiknya selama bermenit-menit.
"Tidak terlalu. Setelah naik beberapa wahana seperti tadi saya merasa kurang cocok dengan jenis permainan seperti ini," Kiran menunduk, memperhatikan langkah kaki dan sepatunya, kemudian memperhatikan langkah kaki Kiran yang terlihat tidak padu lantaran sedang berusaha ia redam kecepatannya.
"Kamu?" Chandana melanjutkan dengan balik melempar pertanyaan.
"Saya nggak masalah dengan tempatnya. Saya cuma kurang suka keramaian," Kiran menjelaskan. Debaran jantungnya berpacu semakin cepat, tidak pernah ia bayangkan sebelumnya bisa berjalan dan berbincang dengan Chandana seperti ini.
Chandana mengangguk pelan. Selama beberapa waktu, keheningan kembali menyelimuti keduanya. Mereka seperti tenggelam dalam pikiran masing-masing. Begitu banyak hal yang ingin mereka sampaikan untuk satu sama lain, namun rasanya seperti ada sebuah tembok tak kasat mata yang membatasi keduanya hingga sama-sama takut dan ragu untuk saling menyampaikan apa yang ada di benak keduanya.
Tiga menit lamanya mereka saling mendiamkan saat tiba-tiba Kiran berseru girang, "Kamu suka es krim nggak?"
Chandana menoleh, "Kenapa?" tanya Chandana yang merasa heran dengan pertanyaan Kiran yang tiba-tiba.
Kiran tersenyum penuh antusias, "Itu ada patbingsu! Es serut khas korea yang topingnya banyak banget bisa milihh. Saya pernah nonton acara makan-makan di televisi, sepertinya enak. Kamu mau coba?"
Chandana membuang muka, menyembunyikan senyum lantaran melihat wajah Kiran yang terlihat amat bersemangat, "Boleh."
Kiran semakin melebarkan senyumnya, "Ayo ke situ!" Kiran berjalan mendahului Chandana dengan langkah pelan namun bersemangat, sementara Chandana berjalan di belakangnya dengan senyum mengembang.
Mereka memasuki sebuah pondok kayu yang di depannya terpasang sebuah banner raksasa bergambarkan beberapa jenis makanan khas Jepang dan Korea. Meski terlihat cukup ramai, namun masih terdapat cukup banyak kursi kosong di bagian dalam pondok. Kiran memutuskan untuk mengajak Chandana duduk di salah satu tempat kosong yang terletak tepat di sebelah jendela tanpa kaca. Kiran menarikkan kursi untuk Chandana kemudian duduk di kursi lain yang ada di hadapan gadis tersebut.
__ADS_1
Dalam hitungan detik, seorang pelayan datang menghampiri mereka sembari menanyakan pesanan yang mereka inginkan. Kiran membuka buku menu kemudian memutarnya agar Chandana dapat melihat buku tersebut dengan jelas, "Kamu mau makan nggak? Kalo iya, pesan aja sekalian," Kiran tersenyum lembut.
"Saya nggak lapar. Katanya kamu mau makan patbingsu, ini pilihan rasanya ada banyak," Chandana kembali memutar buku di hadapannya agar bisa terbaca oleh Kiran.
"Kamu suka rasa apa?" tanya Kiran sembari membalik-balik halaman buku menu di hadapannya.
"Vanila," Chandana berkata lirih.
"Mas, pesan big size vanila toping mix ya? Sama puding vanila dan pancake coklat." Kiran berujar pelan sembari menoleh ke arah pelayan yang terlihat mencatat semua pesanannya.
"Itu saja, Mas?" tanya si pelayan.
"Iya, itu saja," Kiran tersenyum.
"Baik, ditunggu ya." Si pelayan berjalan menjauhi Kiran dan Chandana untuk menuju ke bagian dapur, memberikan pesanan yang baru saja ia terima kepada koki yang akan menyiapkan hidangannya.
Kiran melirik Chandana sekilas kemudian memandang keluar jendela, memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang. Mereka terlihat senang dan bersemangat, tidak sedikit yang nampak pucat akibat tidak tahan dengan wahana yang baru saja mereka naiki. Hampir semua orang mengenakan pakaian dengan warna mencolok, entah itu merah, kuning, hijau, serta warna-warna terang lainnya. Mereka seakan ingin menggambarkan mood yang mereka alami dengan pakaian yang mereka kenakan.
"Kiran, tentang yang terakhir kali, saya minta maaf. Saya nggak bermaksud menyakiti kamu. Saya mohon jangan marah," Chandana berkata lirih, suaranya bergetar dan penuh kekhawatiran.
Kiran menaikkan sebelah alisnya. Marah? Siapa? Bukannya Chandana yang seharusnya marah kepadanya?
"Hah? Marah? Enggak kok. Saya enggak marah. Kenapa kamu sampai mikir kayak gitu?" Kiran menatap heran, ia tidak tahu Chandana berpikiran seperti itu terhadapnya.
"Saya pikir kamu marah. Sejak tadi pagi kamu terus menghindari saya, kamu juga lebih pendiam dan terlihat muram. Saya pikir itu semua karena kehadiran saya membuat kamu nggak nyaman," Chandana menunduk sembari memainkan jemarinya.
"Sa- saya bukannya marah sama kamu. Saya juga bukannya merasa nggak nyaman. Saya hanya bingung harus bagaimana. Saya nggak terbiasa dengan pertemanan," Chandana mengangkat wajahnya, kini ia terdengar lebih berani memberikan penjelasan.
"Tapi kalau kamu mengijinkan, apa sekarang sudah terlambat bagi saya untuk mengatakan kalau saya sangat ingin menjalin pertemanan dengan kamu?" ujar Chandana yang sontak membuat Kiran salah tingkah.
Kiran menutupi wajahnya. Ketika malu, wajah dan telinganya akan langsung memerah. Entah sudah semerah apa wajah dan telinganya sekarang. Yang pasti, ucapan Chandana barusan menimbulkan perasaan senang yang tidak bisa ia jelaskan. Sesuatu yang mengganjal di dadanya seakan meluruh bersamaan dengan debaran jantung yang kian bertambah cepat.
"Eng- Enggak kok!" Kiran memalingkan wajah sembari mengulurkan tangannya, "Teman?" lanjutnya.
Chandana menatap uluran tangan Kiran, alih-alih menyalaminya, Chandana justru mengacungkan kelingkingnya sembari tersenyum simpul, "Teman."
Kiran menarik tangannya, turut mengacungkan jari kelingkingnya. Untuk kali pertama, ia melihat Chandana tersenyum selebar dan setulus itu. Gadis di hadapannya ini terlihat amat sangat cantik di matanya. Kiran bahkan tidak bisa mendeskripsikan apa yang kini tengah ia rasakan. Tubuhnya meremang beberapa kali lantaran perasaan aneh yang kini tengah ia alami.
Apa ini yang namanya kebahagiaan? Apa ini yang namanya jatuh cinta? Sebenernya perasaan apa ini astagaaa.
Kiran menurunkan jarinya saat melihat seorang pelayan wanita berjalan ke arahnya dengan membawa orderan yang sebelumnya telah mereka pesan, "Terimakasih," Chandana tersenyum tipis sembari membantu si pelayan meletakkan beberapa piring di atas meja.
Kiran tersipu. Bukan dirinya yang tengah Chandana bantu, namun entah kenapa memperhatikan segala hal kecil yang dilakukan gadis tersebut membuat hatinya merasa tenang dan senang, "Ini," Chandana menyodorkan sendok kepada Kiran.
__ADS_1
Meski sebenarnya ia sangat antusias, Kiran tetap berusaha terlihat tenang saat mulai memakan patbingsu yang ada di hadapnnya, "Wah, beneran enak ternyata."
Chandana tersenyum sembari sesekali ikut memakan hidangan yang ada di hadapannya. Selama di pondok kayu tersebut, keduanya tidak banyak bicara. Hanya saling melempar komentar mengenai rasa makanan serta beberapa orang yang berlalu-lalang. Sejujurnya ada banyak hal yang ingin Kiran ketahui dari Chandana, ia ingin mengenal gadis di hadapannya ini dengan benar. Namun Kiran sadar bahwa ia tidak boleh gegabah. Ia harus menghargai Chandana sebagaimana gadis tersebut menghargai dirinya.
Chandana mengatakan bahwa ia tidak terbiasa dengan pertemanan, karenanya Kiran enggan bersikap agresif dan terlalu blak-blakan apalagi jika nantinya ia justru membuat Chandana merasa tidak nyaman. Kiran sadar betul bahwa pertemanan mereka membutuhkan sedikit lebih banyak waktu untuk tumbuh dan bertambah erat dengan sendirinya. Perasaan yang kini dirasakan Kiran untuk Chandana pun masih harus bersabar hingga nanti tiba saat dimana ia berhasil memahami dirinya sendiri serta mengenal dan memahami Chandana.
Usai menghabiskan semua makanan mereka, Kiran mengajak Chandana untuk berjalan-jalan kembali. Beberapa wahana mereka lewati begitu saja lantaran suara jeritan yang terdengar dari para penumpang wahana tersebut. Sudah cukup mengerikan bagi Chandana menaiki dua wahana ekstrem akibat menuruti ajakan Roka dan Naya beberapa waktu yang lalu. Kini hanya dengan mendengar jeritan atau melihat deskripsi wahananya saja sudah membuat Chandana merasa pusing dan mual.
Kiran melirik Chandana. Gadis tersebut benar-benar pendiam dan tidak banyak bicara. Untuk mendengar suaranya saja Kiran harus mati-matian mencari topik pembicaraan. Namun alih-alih merasa kesal, Kiran justru merasa senang. Setidaknya ia yakin bahwa Chandana mungkin adalah gadis baik-baik. Orang yang memang pantas untuk dikagumi.
"Chandana, kamu mau naik itu nggak?" Kiran menghentikan langkahnya saat mereka melalui sebuah biang lala raksasa.
Chandana berbalik, mengikuti arah pandang Kiran yang kini tertuju pada sebuah roda berputar raksasa dengan puluhan benda berbentuk bulat yang bergerak-gerak di setiap sisinya, "Kamu pengen naik itu?"
"Kalau kamu mau, ayo. Nggak serem kok, itu muternya pelan banget. Nggak akan bikin pusing," Kiran tersenyum, mencoba membujuk Chandana agar bersedia naik bersamanya. Kiran ingin agar Chandana setidaknya dapat menikmati satu saja wahana permainan, agar kunjungan pertamanya ke taman hiburan akan meninggalkan kesan yang menyenangkan bagi diri Chandana sendiri.
"Oke," Chandana melangkah ragu.
Kiran yang berjalan tepat di sebelah Chandana melihat keringat dingin menetes dari dahinya, gadis tersebut masih terlihat ketakutan, "Chandana, percaya sama saya. Wahana itu nggak apa-apa. Kalau kamu takut, bisa pegang lengan jaket saya nih," Kiran hendak menarik keluar lengannya namun Chandana mencegahnya.
"Kiran, nggak perlu. Saya nggak apa-apa kok. Dan juga untuk dua wahana sebelumnya, terimakasih sudah meminjamkan lengan jaket kamu," Chandana mencoba terlihat tenang. Meski begitu, Kiran tau betul bahwa Chandana sedang menahan takut.
"Kalau nanti kamu tiba-tiba nggak pengen naik, bilang ya. Jangan maksain diri," Kiran kembali memusatkan pandangan pada antrean yang ada di depannya. Kurang enam baris lagi sebelum sampai pada giliran mereka berdua.
Satu baris, dua baris, tiga baris, waktu terus berjalan hingga tiba giliran Chandana dan Kiran untuk masuk ke dalam salah satu gondola. Kiran mempersilahkan Chandana untuk masuk terlebih dulu seraya berbisik, "Hati-hati."
Ketika biang lala mulai berjalan, gondola sempat bergoyang hingga membuat Chandana mencengkeran erat pintu besi yang ada di sebelahnya seraya memejamkan mata. Kiran yang masih berada dalam posisi berdiri refleks menyentuh lengan Chandana karena kaget. Gadis tersebut justru terlihat lebih terkejut lagi, ia langsung menarik tangannya sesaat setelah Kiran memegangnya, seakan tidak sudi Kiran menyentuh dirinya.
"Ma- Maaf. Saya nggak bermaksud-" Kiran mencoba menjelaskan situasinya saat tiba-tiba Chandana memotong.
"Tidak apa-apa," Kiran sadar bahwa apa yang dikatakan Chandana berlawanan dengan reaksi dan ekspresinya. Ia terlihat ketakutan serta terkejut bukan main.
Situasi canggung yang sempat melingkupi mereka mulai memudar saat biang lala yang membawa mereka mulai naik ke atas udara. Chandana yang semula ketakutan kini terlihat penasaran dengan mulai mengintip ke bawah, menyaksikan pemandangan yang amat indah dari tempatnya berada.
Begitupun Kiran yang mengintip ke arah yang bersebrangan dengan Chandana. Ini juga kali pertama baginya menaiki benda ini. Kiran tersenyum kagum melihat semua benda dan manusia yang berada di bawahnya. Mereka belum sampai di titik teratas namun pemandangan yang terlihat sudah begitu indah di pandang mata. Kiran tidak hentinya mengulum senyuman.
"Kiran, itu Naya sama Roka bukan?" Chandana berujar lirih.
"Mana?" Kiran berjalan ke arah Chandana, membuat gondola yang mereka tumpangi kembali bergerak lantaran berat sebelah.
Kali ini Kiran buru-buru berjalan mundur untuk menghindari kejadian seperti sebelumnya. Ia memutuskan untuk tetap berada di sisi yang berlawanan dengan Chandana agar gondola tetap seimbang, "Maaf." ujarnya sembari menatap Chandana yang terlihat panik.
Chandana tersenyum, "Kamu bener, ini nggak seram sama sekali. Ini indah. Senang sekali rasanya bisa melihat orang-orang dan pepohonan dari atas sini," ujarnya sembari menikmati pemandangan melalui jendela yang ada di gondola.
__ADS_1
Kiran memandang Chandana yang kini tengah memunggunginya sembari terus berkata "Wah" "Woo" "Indah banget", lantas tersenyum lega.
Saya senang kalau kamu juga senang, Chandana.