Chandana

Chandana
Escape


__ADS_3

"Seru banget ya, lihatin orang tidur?"


Saya tersentak. Saat sedang asyik memandangi Kiran sembari memikirkan kembali hal-hal yang telah terjadi di masa lalu, orang yang tengah saya pandangi ini tiba-tiba mengatakan sesuatu. Sejak kapan ia terbangun?


"Siapa juga yang lihatin kamu. Saya cuma lihatin sofa kok," saya mengelak. Tentu saja.


Kiran membuka matanya, "Eleh. Mana ada orang bangun subuh-subuh cuma buat ngeliatin sofa."


Saya tersipu, lantas bangkit untuk mencari kantong kresek berisikan makanan yang kemarin sempat kami bawa dari rumah Edy. Matahari sudah mulai mengintip dari timur sana, kami pun harus segera memulai perjalanan kami agar tidak terlambat atau bahkan melewatkan truk sayur tersebut. Namun, sebelum itu kami harus makan terlebih dahulu sebab kami tidak tahu seberapa jauh jarak yang harus kami tempuh untuk bisa sampai di jalan utama.


Saya membongkar isi kantong kresek dan mengambil dua buah roti kasur beserta tiga sereal bar. Tidak lupa, saya mengambil pula dua buah susu kotak dan membawanya ke arah Kiran.


Melihat saya berjalan mendekat, Kiran bangkit dari posisinya dengan sedikit lenguhan. Ia pasti juga sama lelahnya dengan saya. Atau bahkan mungkin lebih lelah. Kiran bergeser sedikit untuk memberi tempat bagi saya agar dapat duduk di sofa yang sama.


"Yang lain hanya makanan ringan. Semoga ini cukup untuk memenuhi kebutuhan energi kita sampai nanti ya," saya menjatuhkan beberapa makanan yang saya bawa.


Kiran memutar posisi tubuhnya sehingga kami duduk saling berhadapan dengan setumpuk makanan berada di antara kami.


"Nggak masalah. Makan apa pun juga rasanya enak-enak aja. Apalagi kalau di saat-saat genting begini," Kiran meraih sebungkus roti dan mulai memakannya. Sesekali ia mengusap matanya yang masih terlihat mengantuk.


"Kamu masih ngantuk ya?" saya bertanya.


Kiran menggeleng pelan, "Enggak. Lagian saya udah biasa begadang juga sih. Cuma emang selama di rumah sakit kan lebih banyak tidur. Jadi rasanya aneh aja gitu."


"Maaf ya. Padahal kamu belum sepenuhnya sembuh.."


"Chandana, saya kan udah bilang. Saya datang ke sini atas kemauan saya sendiri kok. Bukan kamu juga yang paksa-paksa saya. Lagian, saya senang bisa ada di sini sama kamu," Kiran memegang tangan saya sebentar sebelum kembali memakan rotinya.


Saya tersenyum tipis. Terima kasih banyak ya, Kiran.


---


Waktu berlalu dengan cepat. Saya dan Kiran sibuk mempersiapkan diri dan apa-apa saja yang perlu kami bawa. Kiran mencari ke segala penjuru rumah untuk menemukan benda-benda yang mungkin berguna bagi kami. Sementara saya, saya sibuk mengemasi makanan ringan yang masih tersisa untuk perbekalan kami selama di perjalanan.


Butuh waktu satu jam bagi kami untuk benar-benar menyelesaikan semua persiapan dengan baik. Mulai dari mandi, menyiapkan barang-barang, hingga berdebat untuk memutuskan ke arah mana kami akan pergi.


Saya dan Kiran sama-sama tidak terlalu memperhatikan ke arah mana kami melangkah karena semalam kami terlalu panik dan fokus melarikan diri. Selain itu, perjalanan kami pun didominasi saat hari sudah gelap sehingga sulit bagi kami untuk menentukan arah yang tepat. Meski pun saya sudah sering ke mari, tetapi satu-satunya jalan yang saya kenali adalah jalan menuju kabin, tempat di mana Edy berada. Oleh karena itu, saya merasa ragu terkait dengan arah mana yang harus kami ambil jika ingin pergi ke jalan utama.


Butuh waktu belasan menit bagi saya dan Kiran untuk saling bertukar pikiran dan mengeluarkan pendapat masing-masing hingga pada akhirnya kami sepakat berjalan ke arah timur usai menggambar denah kabin, rumah ini, dan jarak kabin ke jalan utama.


Setelah dirasa semuanya telah siap, saya dan Kiran meninggalkan rumah tersebut dengan barang bawaan yang sebelumnya telah kami persiapkan.


Saya berdiri di depan rumah berbentuk segitiga tersebut seraya memandanginya dengan mata berkaca-kaca. Semua ingatan indah yang ada di dalamnya kembali muncul di benak saya. Termasuk ingatan indah yang malam ini baru saja kami tambahkan. Kini, Kiran telah menjadi bagian dari tempat indah ini dan semoga ia akan terus menjadi bagian dari potongan-potongan kisah saya yang akan datang.


"Chandana, ayo," Kiran menyentuh bahu saya dengan lembut, mengajak saya untuk segera memulai perjalanan dan meninggalkan tempat ini.

__ADS_1


Saya mengusap sebutir air mata yang menggantung di sudut mata, lantas berbalik dan berjalan meninggalkan tempat tersebut dengan harapan akan kembali di kemudian hari. Kembali kemari bersama dengan orang-orang yang saya sayangi serta menyayangi saya. Setidaknya jika saya benar-benar bisa kembali dalam keadaan hidup sebab baik saya maupun Kiran tidak dapat memastikan keberhasilan misi kami saat ini.


Saya dan Kiran berjalan beriringan, melangkah ragu membelah hutan dan pepohonan yang rindang. Hari masih pagi, oleh karenanya, nyaring terdengar suara-suara burung yang saling bersahutan. Mereka hinggap di dahan-dahan, di ranting-ranting, bahkan di tanah. Mereka bersiul seolah dengan siulan itu, mereka menyemangati kami. Mendukung perjalanan kami.


Saya memandangi pepohonan yang ada di sekeliling. Karena kini kami tidak dirundung rasa takut dikejar atau terburu-buru, saya jadi lebih bisa menikmati keindahan alam yang ada. Dedaunan kering berwarna cokelat yang tersebar di sejauh mata memandang terlihat seperti karpet alam yang terbentang karena kuasa Tuhan.


Daun-daun yang masih berada di pohon pun terlihat begitu indah dan segar dipandang mata, terlebih karena butiran-butiran air yang timbul dari embun pagi hari, menambah kesegaran serta keindahan dari daun-daun yang ada.


Saya melirik Kiran yang terlihat sibuk dengan tongkat kayu yang entah sejak kapan berada di tangannya itu. Ia nampak begitu tertarik mengorek daun-daun kering di bawah kaki kami dengan menggunakan tongkat yang ia bawa, saya bahkan baru menyadari bahwa ia telah melakukan hal tersebut nyaris di sepanjang perjalanan. Saya menggeleng pelan, ternyata Kiran memang hanyalah remaja laki-laki biasa. Kami memang hanyalah remaja biasa yang juga menginginkan waktu-waktu bermain serta bersenang-senang. Hanya saja, kami terlahir dengan kondisi yang jauh dari kata sederhana sehingga di usia yang harusnya kami lalui dengan banyak bermain dan tertawa, kami justru melalui hari-hari yang tidak dapat dibayangkan seperti ini.


Saya selalu mengagumi ibu karena kebaikan dan kelembutan hatinya. Saya selalu ingin menjadi seperti ibu yang bahkan mau menikahi ayah yang tidak sepenuhnya normal padahal ia bisa saja bersama dengan pria-pria yang mungkin jauh lebih baik dibandingkan ayah. Namun, ibu tulus. Ibu mencintai ayah tanpa syarat, dan begitupula ayah yang mencintai ibu dengan begitu besarnya sehingga ia rela melakukan hal-hal bodoh yang menyalahi nalurinya hanya karena ia berpikir itu semua dapat membuat ibu bahagia di atas sana.


Saya selalu menyukai sifat ibu yang seperti itu. Setidaknya sampai saya mulai berpikir, jika saat itu ibu tidak terlalu baik dan mengadopsi Edy, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Mungkin ayah tidak akan menjadi seperti itu, mungkin saya tidak perlu menjadi seperti ini. Dan yang terpenting, adik Kiran tidak perlu kehilangan penglihatannya dan hidup dengan kemampuan yang sama seperti kebanyakan anak-anak seusianya.


Saya merasa bingung, siapa yang harus saya salahkan atas ini semua? Dari mana kesalahan ini berawal? Di mana asalnya? Di mana letak kesalahannya?


Entah telah sebanyak apa saya menghela napas hingga Kiran tiba-tiba meraih tangan saya sembari mengatakan, "Lagi mikirin apa? Kamu sudah berkali-kali menghela napas, sepertinya banyak sekali ya, yang mengganggu pikiran kamu."


Saya tersenyum kecil, menggeleng pelan, menepis prasangka Kiran yang memang seratus persen benar.


"Yaudah, ayo kita main tebak-tebakan aja sambil jalan biar kamu nggak melamun-melamun lagi. Kan bahaya kalau nanti kesandung karena kamu sibuk melamun."


"Tebak-tebakan?"


"Em... Siapa.. Penyanyi yang paling matre?"


Saya mengernyit, memang ada penyanyi yang matre?


Saya menggeleng pelan, tidak tahu harus menjawab siapa.


"Fulus."


Saya tertawa kecil. Entahlah, saya tidak mengerti di mana letak lucunya, tetapi rasanya saya jadi ingin tertawa melihat ekspresi Kiran saat mengatakan jawaban tersebut kepada saya.


"Oke, sekarang giliran kamu!"


"Saya nggak pernah main tebak-tebakan. Saya bahkan nggak tahu mau nanya apa.." saya mengaku, jujur saja, saya benar-benar buruk dalam hal semacam ini. Lagipula, dengan siapa saya memainkan hal seperti ini disaat berbicara dengan orang lain saja nyaris tidak pernah?


Kiran menghela napas, "Payah kamu."


"Yaudah, kalau gitu, sekarang kita main tanya-tanya aja deh. Saya tanya kamu, terus kamu tanya saya tentang apa pun itu yang mau kita ketahui tentang satu sama lain. Kamu mau?"


"Boleh," saya mengangguk setuju.


Sejauh ini, kami telah berjalan lumayan jauh, tetapi anehnya, saya belum merasa lelah sama sekali. Mungkin karena sejak tadi kami sibuk mengobrol dan melakukan hal-hal yang membuat kami melupakan jarak itu sendiri.

__ADS_1


"Makanan kesukaan kamu apa?" Kiran bertanya.


Ah.. Kalau dipikir-pikir, kami bahkan tidak saling mengetahui informasi-informasi yang seperti itu ya. Sejauh ini kami tidak pernah berbagi tentang hal-hal kecil yang ada pada diri kami lantaran sibuk menangani masalah-masalah yang jauh lebih besar.


"Saya suka nasi goreng dan makanan apa pun yang rasanya vanila," saya menjawab dengan lirih.


Kiran mengangguk mengerti, "Ah iya ya, waktu di taman hiburan kan kamu minta patbingsu rasa vanila ya? Saya baru tahu kalo kamu suka nasi goreng. Nanti saya coba masak itu ah!"


"Kenapa kamu mau coba masak nasi goreng? Yang suka nasi goreng kan saya."


Kiran menghela napas sembari melirik saya dengan ekspresi kesal, "Ya kan biar bisa bikinin nasi goreng buat kamu, gimana sih."


Saya tersenyum simpul. Dasar Kiran. Dia benar-benar mirip Roka kalau sudah menyangkut hal-hal yang seperti ini. Hanya saja, jika Roka melakukan hal seperti ini pada banyak anak-anak perempuan, sepertinya Kiran hanya begini saat di dekat saya. Ah astaga, memikirkannya saja membuat saya merasa malu sendiri.


"Kamu tanya ke saya juga dong."


Saya terdiam sembari memikirkan hal apa yang paling ingin saya ketahui dari Kiran. Sesekali saya melirik ke arahnya yang kini sibuk memandang saya dengan tatapan anak kucing serta senyum yang terkembang dengan lebar. Saya sontak membuang muka sembari memutar bola mata dengan salah tingkah. Apa-apaan semua ini.


"Kamu suka warna apa?"


"Ahh.. Warna ya. Kalau warna, saya suka sekali sama warna biru. Entah kenapa, lihatnya adem dan nyenengin aja gitu," Kiran menjelaskan dengan singkat dan jelas. Dan untuk sekedar informasi saja, sejak tadi kami terus berjalan dengan bergandengan tangan. Entah sudah sejauh apa kami melangkah, yang pasti sejauh itu pula Kiran menggenggam tangan saya dan tidak melepaskannya sedikit pun.


"Giliran saya lagi, ya. Kamu nonton film nggak? Kalau suka, sukanya sama film apa?" Kiran melirik saya sekilas sebelum kembali memusatkan perhatian pada jalanan hutan.


Tanpa berpikir, saya menjawab, "Saya suka sekali sama film Serendipity, filmnya John Cusack yang keluaran 2001. Sepertinya sudah belasan kali saya menonton ulang film itu, tetapi nggak pernah sekalipun saya merasa bosan."


Rupanya, jawaban saya berhasil menarik perhatian Kiran sehingga dia kembali bertanya, "Oh, ya? Kenapaa gitu? Apa yang kamu suka dari filmnya? Emang film model gimana sih itu?"


"Filmnya sih simpel banget, cuma tentang kebetulan-kebetulan kecil yang terjadi di antara seorang laki-laki sama perempuan. Jadi, ceritanya ada dua orang yang ketemu tanpa sengaja di suatu toko. Waktu itu mereka sama-sama mau beli sarung tangan gitu kalau nggak salah. Dan kemudian, kebetulan-kebetulan lain terus mempertemukan mereka di malam itu padahal mereka nggak ada niatan untuk ketemu lagi. Sebelum berpisah malam itu, mereka nggak mau bilang nama, nomor telepon, alamat dan sebagainya. Intinya sih, setelah malam itu, mereka terus saling mencari, tetapi anehnya, sedekat apa pun mereka, mereka nggak bisa saling bertemu, padahal sebelumnya semudah itu mereka bertemu ketika nggak ada niatan sama sekali untuk bertemu satu sama lain. Tapi kenapa saat mereka ingin sekali bertemu, mereka justru nggak dipertemukan?"


"Karena bukan takdir mereka untuk bertemu. Benar kan?" Kiran menjawab dengan lirih.


Saya mengangguk, "Iya. Jadi pertemuan mereka di malam itu sama sekali bukan kebetulan."


"Apa mereka akhirnya sama-sama.. si Perempuan sama si Laki-laki itu?"


Saya tersenyum kecil, "Lain kali, kamu lihat sendiri saja filmnya."


"Entah kenapa, mendengar kamu dengan begitu semangat menceritakan sedikit tentang film itu, saya merasa kisahnya lumayan mirip sama cerita saya waktu mau mencari kamu."


"Saya menyuruh Roka mencari tahu tentang kamu, bahkan saya sendiri pun mencari tahu tentang kamu, tetapi rasanya sulit sekali untuk menggapai kamu saat itu. Dan ternyata, kita justru ketemu untuk pertama kalinya di tangga. Dan saya bahkan nggak tahu sama sekali kalau itu kamu. Saya pikir semua itu cuma kebetulan, tetapi setelah saya pikir lagi, saya ada di sini sama kamu, semua keterkaitan yang ada di antara saya sama kamu bukan tercipta hanya karena kebetulan, melainkan karena takdir Tuhan," Kiran menjelaskan.


Saya tersenyum kecil sembari memandang sisi wajah Kiran yang terlihat amat sangat rupawan dan menenangkan hati.


Itulah sebabnya Kiran, itulah sebabnya saya menonton film itu belasan kali. Saya benar-benar ingin memastikan bahwa kita akan memiliki akhir yang sama dengan film itu. Saya benar-benar ingin memastikan bahwa apa yang kita lalui saat ini akan memiliki akhir yang membahagiakan baik untuk saya maupun untuk kamu.

__ADS_1


__ADS_2