
Meski jam telah menunjukkan waktu sore, sinar mentari masih terasa cukup hangat dan terik. Hingar bingar kota dengan segala lampu-lampunya mulai terlihat meski langit belum gelap. Beberapa pegawai mulai meninggalkan kantor mereka untuk kembali ke rumah masing-masing sementara pengemudi ojek atau taksi online kini sedang sibuk-sibuknya menerima orderan.
Dengan motor matic yang baru dibelinya beberapa hari yang lalu itu, Kiran melenggang tenang, menjelajahi setiap jalanan kota yang mulai ramai karena waktu sudah menunjukkan jam pulang kerja. Di belakangnya, duduk seorang gadis cantik berseragam sekolah lengkap dengan cardigan berwarna moka dan helm merah muda. Ia duduk menyamping sementara tangannya mencengkeram erat tas punggung yang dikenakan Kiran.
Rambutnya yang panjang dan tergerai berulang kali menutupi wajahnya lantaran diterpa angin, menguarkan aroma buah yang berasal dari shampoo favoritnya. Dengan tatapan antusias, ia mengamati segala hal yang mereka lalui. Mulai dari pengendara lain, seorang kakek tua yang berjualan mainan, pengemudi ojek online yang membawa begitu banyak pesanan makanan, bahkan ia juga sempat tersenyum simpul pada seorang balita yang duduk di pangkuan ibunya sementara seorang pria mengemudikan motor yang mereka naiki.
Bagi Chandana, memandangi hal-hal seperti ini terasa sangat berharga. Terasa sangat menyenangkan bisa melihat apa-apa saja yang dilakukan orang lain sementara ia duduk dengan nyaman di motor sembari menikmati angin yang menerpa dirinya. Semua ini adalah hal baru untuknya sebab ini adalah pertama kalinya Chandana berada pada situasi yang memungkinkan dirinya mampu mengamati banyak hal secara langsung sembari duduk dan menikmati angin yang bertiup lembut. Dalam artian lain, ini adalah pertama kalinya ia naik motor.
Sementara Chandana sibuk mengamati kegiatan orang-orang dengan takjub, Kiran berkali-kali memandang ke arah spion motornya di sepanjang perjalanan mereka. Bukan untuk melihat kendaraan lain yang ada di belakangnya, melainkan ciptaan Tuhan paling indah yang kini sedang duduk di motornya. Meski tidak dapat melihat wajah Chandana dengan jelas, Kiran merasa senang dan bersyukur saat dengan sekilas menangkap senyuman-senyuman tipis yang terukir di bibir Chandana tiap kali mereka melewati sesuatu yang baru. Melewati pertokoan yang ramai, melihat orang berwara-wiri, atau bahkan sekedar melewati lampu merah yang penuh dengan pengamen.
Hati Kiran terasa lega bahkan hanya dengan melihat senyum terukir di bibir Chandana. Ia merasa bahagia hanya dengan memastikan Chandana senang berada di dekatnya. Jadi, beginilah cinta. Batinnya.
Jadi begitulah cinta. Begitulah para muda-mudi ketika sedang kasmaran. Ketika sedang bersama, manusia lain, peristiwa lain, seolah tidak ada. Segalanya seolah hanya pemanis untuk kisah sesugguhnya yang berpusat pada dua insan kasmaran tersebut. Ketika sedang jatuh cinta, manusia cenderung memandang pasangannya dengan berbeda. Manusia cenderung lebih sensitif dalam memperhatikan setiap tindak-tanduk orang yang mereka cintai, bahkan untuk hal-hal kecil dan sepele yang sebelumnya tidak mereka anggap penting.
Begitulah Kiran memaknai perasaannya pada Chandana. Apapun yang dilakukan gadis tersebut terlihat sangat menarik di mata Kiran. Apapun yang dikatakan Chandana terasa seperti sebuah alunan lagu merdu yang selalu Kiran tunggu. Bagi dua orang manusia yang tidak pernah merasakan jatuh cinta ini, segalanya begitu indah. Dan jika pernah ada yang mengatakan bahwa saat jatuh cinta dunia serasa hanya milik berdua, Kiran menyetujui pernyataan itu.
Ada begitu banyak metafora tentang cinta, bahkan dalam buku-buku filsafat yang telah Kiran baca, cinta masih menjadi satu di antara banyak hal yang masih menjadi perdebatan, yang masih butuh dikorek lebih dalam lagi.
Usai berlama-lama di jalanan, Kiran berhenti di sebuah parkiran yang terletak di depan sebuah gedung bertembok warna-warni. Di bagian depan, terpasang plang berukuran raksasa bertuliskan Trampolin and Play Zone. Ya, ini adalah wahana bermain trampolin yang sering didatangi Kiran sewaktu ia masih kecil dulu. Entah sudah berapa tahun berlalu sejak terakhir kali ia menginjakkan kaki di tempat ini.
Meski Chandana terlihat seperti seseorang yang kurang bisa menikmati permainan, Kiran berani menjamin bahwa gadis tersebut akan merasa senang dengan tempat ini. Bahkan Kiran yang saat itu pemurung pun bisa begitu lepas dan tertawa-tawa selama menghabiskan waktu di tempat ini.
Chandana melepas helmnya sembari menatap gedung yang ada di hadapan mereka ini dengan bingung. Tak ingin membuat Chandana lebih penasaran lagi, Kiran memutuskan untuk mengajak Chandana masuk ke dalam sana.
Saat mereka berada di loket untuk membeli tiket, hal mengejutkan terjadi. Dengan ajaibnya, penjaga loket yang sudah tidak bertemu Kiran selama bertahun-tahun itu berhasil mengenali Kiran usai menelisik dan mengernyitkan dahi berulang-ulang, menggali ingatan lama. Sesaat setelah ia berhasil mengorek kembali ingatannya, pria itu tertawa tidak percaya sembari berkata, "Kiran ya? Anak yang murung terus itu?"
Kiran tersenyum malu kemudian mengangguk ragu. Laki-laki itu menjabat tangan Kiran kemudian melirik Chandana, "Pacarnya?"
Kiran sontak menatap Chandana yang nampak tertunduk. Karena bingung harus menjawab apa, Kiran hanya tertawa kecil sembari mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan dari dompetnya. Laki-laki tersebut mengambil uang yang di sodorkan Kiran kemudian mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Chandana.
Gadis tersebut nampak bingung, kakinya mulai gemetaran karena takut. Menyadari hal ini, Kiran kembali tersenyum lantas dengan cepat menjabat tangan petugas loket tersebut, "Makasih, Mas!" ujar Kiran yang kemudian mengajak Chandana masuk ke dalam.
Cr : google
Setibanya mereka di dalam, Chandana tersenyum simpul. Ketakutan yang sempat menjalarinya berangsur memudar usai melihat apa yang terbentang di hadapan mereka. Dengan mata berbinar, ia bertanya, "Tempat apa ini?"
Kiran memandang Chandana dengan senyum merekah, "Ini wahana trampolin," Kiran melepaskan tas punggungnya kemudian mengeluarkan satu set pakaian olahraga yang biasa dipakai ibunya untuk melakukan yoga, "Ini milik Mama. Saya nggak tahu muat atau enggak sama kamu, tapi yang pasti kamu nggak bisa lompat-lompatan kayak tupai dengan pakai seragam sekolah," Kiran menyodorkan pakaian tersebut kepada Chandana.
Tanpa banyak bertanya, Chandana menerima uluran tangan Kiran, "Terimakasih."
Setelahnya mereka pergi ke ruang ganti untuk mengganti pakaian. Selama kurang lebih 7 menit menunggu, Kiran yang asyik melakukan pemanasan pun dibuat tersedak saat melihat Chandana yang kini telah berganti pakaian berjalan ke arahnya dengan malu-malu.
*ilustrasi Chandana dalam balutan pakaian yoga ibunda Kiran*
__ADS_1
Cr : andar_kr (ig)
Kiran berdeham untuk menyembunyikan keterkejutan sekaligus kekagumannya. Chandana benar-benar terlihat cantik dalam balutan pakaian yoga ibunya serta rambut yang dikuncir kuda.
"Kkkamu pemanasan dulu aja biar pas lompat-lompatan nanti nggak keseleo," Kiran menepuk pipinya, ia harus berkonsentrasi dan berhenti mengagumi kecantikan candana.
Di sisi lain, Chandana mengangguk kemudian memulai pemanasan. Meski kurang menyukai olahraga, bukan berarti Chandana membenci kegiatan tersebut. Awalnya ia tidak mengerti mengapa Kiran mengajaknya ke tempat ini. Namun jika melihat apa yang ada di sekitar mereka, Chandana berpendapat mungkin Kiran mengakaknya kemarin karena ingin melihatnya bersenang-senang.
Usai melakukan pemanasan selama kurang lebih 4 menit, Kiran melompat turun ke hamparan trampolin yang ada di bawahnya. Usai mendarat dengan mulus, Kiran mengulurkan tangannya pada Chandana untuk membantu gadis tersebut turun.
Dengan ragu, Chandana meraih tangan Kiran kemudian melompat dan berhasil mendarat dalam posisi Kiran memeluk pinggangnya dengan satu tangan. Keduanya bertatapan selama sepersekian detik sampai Kiran buru-buru melangkah mundur untuk memberi jarak di antara mereka. Ia kembali mendeham sebab jantungnya serasa ingin melompat keluar lantaran berdebar dengan amat cepat dan kencang.
Kiran memalingkan wajah kemudian melompat-lompat kecil. Ia tersenyum kemudian berbalik ke arah Chandana yang masih terlihat ragu-ragu, "Chandana, ayo nggak apa-apa, lompat aja. Nih lihat saya!" Kiran melompat dengan perlahan kemudian memusatkan beban tubuhnya di kaki sehingga lompatannya berangsur-angsur meninggi.
Chandana tersenyum geli, ia ingin mencoba tapi ragu lantaran belum terbiasa. Menyadari hal ini membuat Kiran melompat-lompat kecil, mendekat ke arah Chandana sembari mengulurkan tangan, "Ayo."
Chandana meraih tangan Kiran, "Saya lompat, kamu lompat ya. Pelan-pelan," ujar Kiran memberi aba-aba.
Chandana melompat perlahan. Awalnya ia masih merasa canggung dan takut. Namun di lompatan yang ke sekian kali, ia telah berhasil mendapatkan ritmenya. Perlahan-lahan Kiran melepaskan genggamannya dari tangan Chandana, membiarkan gadis tersebut melompat-lompat dengan kemauan dan kemampuannya sendiri.
Chandana tersenyum senang kemudian tergelak. Ia ketagihan, tubuhnya seolah tidak bisa berhenti melompat karena kegiatan ini sangat seru dan mengundang tawa.
Kiran melompat ke sana ke mari, menjelajah setiap jengkal lokasi dengan senyum yang tidak sedikitpun hilang dari bibirnya, "Halah apaan kamu begitu doang. Ayo ke sini!" Kiran meneriaki Chandana yang sejak tadi hanya melompat-lompat di tempat.
Merasa tertantang, Chandana melompat-lompat ke arah Kiran dengan penuh percaya diri, "Jangan sombong kamu ya. Ayo balapan kalo berani!" tantang Chandana yang sejujurnya meyakini bahwa dirinya akan kalah bahkan tanpa perlu pembuktian.
Kiran menuju ke arah Chandana kemudian berdiri di sebelahnya, belum sempat ia mengatur posisi, Chandana meneriakkan, "Mulai!" kemudian melompat dengan semangat ke titik tujuan.
Kiran mendelik tidak percaya, "Yaelah curang kamu!" pekiknya sembari mengejar Chandana dari belakang.
Chandana tertawa sembari menoleh ke belakang. Ia buru-buru mempercepat lajunya saat melihat Kiran semakin mendekat. Chandana hendak menoleh sekali lagi saat kakinya terjerembab hingga membuatnya terjatuh di atas trampolin yang elastis. Membuat tubuhnya memantul-mantul di atas hamparan trampolin di bawahnya.
Kiran menertawakan Chandana, "Hahaha. Payah banget kamu, udah curang ngegeleprak lagi."
Chandana bangkit untuk kemudian duduk. Ia membenahi rambutnya seraya menatap tajam ke arah Kiran, "Iya, kamu memang yang paling jagooo!"
Kiran berjalan mendekati Chandana dengan masih sedikit tertawa, "Maaf, maaf. Saya nggak bermaksud ngeledekin kamu kok," ujarnya sembari mengulurkan tangan untuk membantu Chandana berdiri.
Gadis tersebut tidak langsung menggapai uluran tangan Kiran. Setelah beberapa detik menunggu, ia meraih tangan Kiran kemudian menarik dengan kuat hingga laki-laki tersebut terjungkal ke depan sementara dirinya berdiri kemudian melanjutkan perlombaan mereka.
Chandana menoleh ke belakang, menertawakan Kiran yang memandangnya dengan mulut menganga.
Sesampainya ia di garis finish, Chandana melompat-lompat kegirangan, "Yey!"
Kiran berjalan pelan sembari mengusap peluh di dahinya. Meski hanya melompat-lompat dan bermain-main, ternyata kegiatan ini cukup melelahkan juga.
"Kiran, itu apa?" Chandana menunjuk ke arah sebuah bak berisi potongan-potongan spons.
__ADS_1
Cr : alibaba.com
Kiran tersenyum, "Mau coba nyemplung?"
Chandana menaikkan sebelah alisnya, "Memang bisa?"
Kiran mengendikkan bahunya kemudian meraih tangan Chandana untuk berjalan bersama ke arah tumpukan spons tersebut. Kiran mengelap telapak tangan Chandana dengan kaosnya sesaat setelah ia menyadari betapa berkeringatnya telapak tangan gadis tersebut, "Kamu jarang olahraga ya?"
Chandana memperhatikan jemarinya kemudian mengangguk.
Kiran mengusap keringat yang ada di dahi Chandana dengan lembut, "Sesekali olaharaga itu perlu tauu."
"Iyaa, saya tauuu," Chandana mengangguk. Ia juga tahu bahwa olahraga itu penting bagi setiap orang, namun Chandana tidak bisa. Ia tidak memiliki waktu untuk itu.
Kiran menghembuskan napas sembari menggigit bibir bawahnya kemudian berhenti tepat di sebelah bak besar berisi spons yang sebelumnya menarik perhatian Chandana, "Mau nyemplung?"
Chandana menggeleng sembari tersenyum penuh arti, "Kamu duluan."
"Oke," Kiran mengangguk dengan percaya diri sementara Chandana bersedekap sembari memperhatikannya.
Kiran bersiap untuk meloncat saat tiba-tiba ia berlari kebelakang kemudian mendorong tubuh Chandana hingga tercebur ke dalam ribuan potong spons kubus yang sedari tadi mereka perdebatkan.
Chandana melempar Kiran dengan salah satu potongan kubus usai ia bisa melepaskan diri dari kubus-kubus yang menenggelamkan tubuhnya, "Kamuuu, bener-bener ya!"
Kiran tergelak gemas sembari memandangi Chandana yang terlihat kesal, "Iya, iya nih saya nyebur!" Kiran menjatuhkan diri ke dalam tumpukan spons tersebut saat tanpa sengaja mendarat tepat di depan Chandana.
Sesaat setelah Kiran bangkit dan mencoba berdiri, ia telah berada dalam posisi berhadap-hadapan dengan Chandana. Gadis tersebut memegang sebuah kubus di kedua tangannya seraya menatap Kiran lekat-lekat.
"Terimakasih ya sudah membawa saya kemari," ujar Chandana yang nyaris terdengar seperti bisikan.
Kiran mengangguk pelan.
Puas bertatapan, dengan ragu Kiran bertanya, "Boleh saya pegang wajah kamu?"
Chandana terkejut pada awalnya, namun setelah berpikir sebentar dan mempertimbangkan dengan matang, ia mengangguk.
Kiran mendaratkan jemarinya di pipi Chandana. Ia membelai lembut pipi Chandana yang putih dan halus, lantas berpindah ke telinga. Kiran mengusap telinga Chandana dengan perlahan kemudian meraba hidung dan berakhir di bibir gadis tersebut.
Sejenak terpikir oleh Kiran untuk mencium Chandana namun ia segera menggeleng kuat-kuat untuk mengusir jauh-jauh pikiran tersebut. Ia tidak boleh lupa bahwa Chandana memiliki masalah dengan laki-laki yang mana hingga saat ini belum ia ketahui apa penyebabnya. Kiran tidak ingin membuat Chandana merasa buruk sehingga ia menarik tangannya kemudian berbalik untuk keluar dari bak spons tersebut.
Chandana menatap Kiran dengan heran. Ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba Kiran terlihat sedih. Untuk itu Chandana mengikuti Kiran dan keluar dari bak spons. Ia hendak meraih pergelangan tangan Kiran saat laki-laki itu berbalik kemudian mengatakan, "Sebelum malam, saya ingin membawa kamu ke satu tempat lagi. Mau?"
Chandana membatalkan niatannya untuk meraih tangan Kiran lantas mengangguk antusias mendengar ajakan laki-laki tersebut.
Kiran tersenyum kemudian berbalik dan menjauh dari Chandana dengan melompat-lompat kesana kemari.
__ADS_1
Meski bahagia karena bisa menghabiskan waktunya bersama Kiran, Chandana merasa sedih dan takut sebab tanpa Kiran ketahui, kini seseorang tengah menunggu Chandana dengan khawatir. Bersiap melakukan sesuatu yang sangat dibenci dan ditakuti oleh gadis tersebut.