
Dalam perjalanan pulang,baik Aiyla maupun Davian tidak ada yang membuka suara.Kecanggungan sangat terasa diantara mereka berdua.Davian yang memang tidak pernah mendekati perempuan,merasa sangat gugup.
Padahal, Davian yang sejak kemarin ingin berbicara berdua dengan Aiyla mendadak jadi kelu tak tahu harus bicara apa.
"Kok,Tuan Davian bisa ada di sana tadi?"tanya Aiyla mencoba memecah keheningan diantara mereka.
"Hah...?"Davian tersadar dari pikirannya.
"Tuan Davian,kok ada di sana tadi?"ulang Aiyla.
"Oh,itu... kebetulan saya dan Fahri ada keperluan di dekat cafe.Pas lewat,saya lihat kamu dan teman kamu, kaya' lagi bingung gitu.Ya,udah kita samperin,"dusta Davian tanpa ragu.
Lancar sekali Bossnya Fahri ini mengarang cerita.
"Oh... begitu !"tanggap Aiyla tak tahu harus bicara apa lagi.
"Tapi,itu temen saya nggak apa-apa kan ditinggal sama temennya Tuan Davian ?"Aiyla masih saja mengkhawatirkan Billa.
Davian mendengus mendengar Aiyla memanggilnya tuan.
"Kamu nggak perlu khawatir, Fahri nggak akan ngapa-ngapain temen kamu itu !"jelas Davian menenangkan Aiyla.
"Dan satu lagi,jangan panggil saya tuan.Saya bukan tuan kamu."Lanjut Davian.
"Baik,pak!"cengir Aiyla.
"Pak...?"Davian mengulang panggilan Aiyla.
"Emang saya kelihatan seperti bapak-bapak ?"Davian tak terima.
__ADS_1
"Kalau bukan bapak-bapak, terus ibu-ibu, gitu ?"canda Aiyla.
Aiyla tersenyum melihat ekspresi yang di tampilkan Davian.Aiyla dan Davian mulai merasa nyaman berbicara satu sama lain.
Melihat Aiyla tersenyum, Davian bergumam lirih "Cantik !"
Aiyla menunduk malu mendengar gumaman Davian.
"Terus kalau nggak mau dipanggil tuan atau pak,saya harus panggil apa dong?"tanya Aiyla mengurangi kecanggungannya.
"Terserah kamu,mau panggil mas boleh sayang apalagi,boleh pake banget malah,"timpal Davian senang karena Aiyla sudah mulai nyaman berbicara dengannya.
"Kalau bebeb, gimana ?"canda Aiyla lagi.
"Boleh banget ,"jawab Davian sumringah.Senyum terus mengembang di bibir Davian.
Aiyla tersedak Salivanya sendiri mendengar Davian semangat.
Aiyla merinding sendiri membayangkannya.
"Kamu kan calon istriku !"Davian masih Keukeh menganggap Aiyla sebagai calon istrinya.
"Eh, udah nyampe !"seru Aiyla mengalihkan omongan Davian.
Davian menepikan mobilnya di depan pintu gerbang rumah Aiyla.
"Tapi,kok tahu rumah saya di sini ?"tanya Aiyla bingung.
Davian menggaruk pelipisnya,
__ADS_1
"Ehm..... kalau saya jawab jujur,kamu marah nggak ?"
Aiyla semakin bingung.
"Ya, tergantung, jujurnya soal apa?"
"Sebenarnya,saya menyuruh anak buahku untuk mencari tahu tentang kamu sejak kejadian di cafe itu,"jelas Davian jujur.
Aiyla tentu saja terkejut mendengar penjelasan Davian.Sampe segitunya orang ini, Aiyla tak habis pikir.
"Kenapa,apa tujuan kamu melakukan itu ?"Aiyla menanyakan apa yang diinginkan oleh Davian.
"Aku tidak punya maksud apa-apa.Aku cuma ingin lebih dekat denganmu."Davian tidak ingin Aiyla salah paham dengannya.Dan tanpa sadar Davian sudah merubah panggilan mereka menjadi aku-kamu.
"Kenapa kamu ingin lebih dekat denganku?"Aiyla masih tak terima dengan penjelasan Davian.
"Entahlah,aku juga nggak tahu kenapa? Mungkin aku tertarik dengan kamu yang tidak mudah diintimidasi."ujar Davian.
"Berarti,kamu tahu bagaimana keadaan rumahku ?"tanya Aiyla tenang.
Davian mengangguk.
"Kamu tahu kalau aku punya ibu dan saudari tiri ?"Tanya Aiyla lagi dan diangguki Davian.
"Terus,masih mau kenal lebih dekat denganku ?"Aiyla mencoba membuat Davian sadar bahwa dia tidak pantas untuk seorang Davian Adhitama.
"Aiyla,aku serius dengan ucapanku saat di food court waktu itu.Aku ingin menikah denganmu !"ucap Davian dengan wajah seriusnya.
"Aku pergi ! terima kasih tumpangannya.
__ADS_1
Assalamualaikum,"Aiyla langsung turun dari mobil Davian tanpa menanggapi ucapan Davian.
"Waalaikumussalam,"jawab Davian.Davian tahu kalau Aiyla terkejut mendengar penjelasannya.Tapi, Davian senang karena hubungannya dengan Aiyla satu langkah lebih dekat lagi.