Cinderella dan Pangeran Pemaksa

Cinderella dan Pangeran Pemaksa
Kegelisahan Aiyla


__ADS_3

Sejak pulang,Aiyla jadi sering melamun.Makan malam pun,Aiyla terlihat tidak semangat.Mami dan Papi menyadari hal itu.Davian menelpon pun cuma dijawab seadanya oleh Aiyla.


Tok.....tok.....tok.....


Mami mengetuk pintu kamar Aiyla yang langsung dibukakan oleh Aiyla.Aiyla mempersilahkan Mami masuk dan mengajaknya duduk di sofa.


"Kamu sedang belajar ya?Mami ganggu dong, berarti?"


Aiyla menggeleng cepat dan menarik sedikit senyumnya.Aiyla memeluk Mami dari samping.Perasaannya sedang gelisah saat ini,dia membutuhkan sandaran yang nyaman untuk menenangkan hatinya.


"Putri cantiknya Mami ini kenapa?Apa ada masalah di kampus?Mami dan Papi perhatikan,sejak pulang tadi wajah ini terlihat murung, tidak ada senyum yang biasanya membuat Mami dan Papi tersenyum juga,"Mami menangkup wajah Aiyla.


Aiyla menitikkan air matanya,"Mami dan Papi sangat baik,Aiyla bersyukur sekali berada di antara kalian."


"Kalau Mami dan Papi baik,kenapa Aiyla sedih seperti ini?"


Aiyla menggeleng dan kembali memeluk Mami.Mami membalas dan mengusap-usap punggung Aiyla.


"Mami dan Papi nggak malu kan Aiyla yang jadi menantu kalian?"tanya Aiyla dengan suara yang teredam namun masih bisa didengar.


Mami menggeleng walaupun Aiyla tidak melihatnya,"Aiyla tahu,Mami juga bukan siapa-siapa sebelum menikah dengan Papi kamu.Mami hanyalah salah satu penghuni yayasan yang didirikan oleh keluarga Adhitama."


Aiyla melepaskan pelukannya menatap wajah tegar yang ditunjukkan Mami Manda.


"Mami dititipkan di sana saat Mami berusia sembilan bulan.Kedua orang tua Mami meninggal karena kecelakaan.Anggota keluarga Mami dari pihak ayah maupun ibu juga tidak mempunyai kehidupan yang baik.Jadi,terpaksa Mami dititipkan di sana.

__ADS_1


Mami juga hanya tamatan SMP waktu itu.Setelah lulus Mami langsung bekerja karena tidak ingin terlalu banyak merepotkan orang-orang yang ada di yayasan.


Saat Mami sembilan belas tahun,orang tuanya Papi kamu,menjodohkan kami dan Papi langsung setuju saat itu.Katanya Papi sudah lama tertarik dengan Mami tapi gengsi untuk mengungkapkannya,"Mami tertawa menceritakan kisah hidupnya.


"Davian juga sama seperti Papi lebih suka bertindak daripada berucap,iya kan?"


"Em..."Aiyla mengangguk setuju.


"Dulu,saat Davian masih tiga tahun lebih kalau nggak salah,Adhitama Group pernah mengalami kerugian besar dan hampir dinyatakan bangkrut.Papi Bara berusaha sebaik mungkin untuk memulihkan kondisi perusahaan,sampai harus mengorbankan waktu kebersamaannya dengan keluarga kecilnya.Kamu lihat sendiri kan Papi dan Davian tidak terlalu dekat seperti kepada Mami?"ada raut kesedihan di wajah lembut itu.


"Butuh beberapa tahun untuk bisa memulihkan kondisi perusahaan dan kami harus rela mengorbankan waktu kami bersama.Karena banyak kepala keluarga yang sama-sama menggantungkan hidupnya dari perusahaan ini.


Dan sekarang,saat Papi sudah memiliki waktu luang,malah Davian yang selalu disibukkan oleh pekerjaannya."


Aiyla mengelus punggung tangan Mami lembut menyalurkan perasaan sayangnya.


"Sudah malam,tidurlah!"Mami menuntun Aiyla ke ranjang dan mengecup keningnya.


"Terima kasih,Mi!Aiyla sayang Mami!"


* * *


"Assalamualaikum,calon ibu dari anak-anakku!"lagi-lagi Radit menjemput Billa di kampusnya.


Billa memutar bola matanya jengah dan berlalu tanpa menghiraukan kehadiran adik ipar bestie-nya itu.Aiyla juga melakukan hal yang sama.Billa menganga lebar melihat dari kejauhan pada ban motornya.Kok Billa dan Aiyla merasa Dejavu dengan keadaan seperti ini.Mereka berdua kompak menatap tajam ke arah Radit.

__ADS_1


Radit tersenyum canggung,"Perlu bantuan?"


"Gimana?Kita kan mau nyari pria itu lagi, nggak mungkin dong ngajak tuh orang?"Aiyla meminta pendapat Billa.


"Tapi lebih nggak mungkin lagi ngajak kedua bodyguard kamu itu.Nanti dia ember lagi,terus melapor sama Bossnya.Bang Davian nggak mungkin ngasih izin,"Aiyla membenarkan pendapat Billa.


"Apa berembuknya masih lama?Panas loh di sini!"sela Radit.


"Kita mau keliling-keliling dulu,Kak Radit bisa nggak nyuruh dua Bapak itu untuk pulang?"Aiyla menunjuk dua bodyguardnya yang menunggu di samping mobil.Davian sebenarnya tidak suka Aiyla memanggil Radit, Kakak.Tapi Aiyla juga tidak enak memanggilnya dengan namanya langsung karena Radit lebih tua darinya.


"Beres,serahkan tugas ini kepada....."Radit menepuk dadanya.Radit segera menghampiri kedua bodyguard itu.


Tak lama kemudian,Radit kembali dengan senyum yang mengembang.


"Bang Davian sudah mengizinkan, silahkan masuk nona-nona!"Radit membuka pintu mobilnya.


Aiyla dan Billa masuk,"Eits..... masa' baby duduk di belakang juga?Di depan dong,temani ayang-nya nyetir."


Radit langsung menyeret Billa ke pintu depan,samping kemudi.Billa mengikuti,tak ingin berdebat.


"Baik!Sekarang kita mau ke mana?"Radit bersiap melajukan mobilnya.


Dengan ragu-ragu,Aiyla memperlihatkan sebuah foto seorang pria yang ia cari selama ini yang ada di ponselnya.Radit mengerutkan keningnya melihat foto itu.


"Lah, Bapak ini kan ada di apartemennya Bang Davian!Ngapain dicari?Emang dia siapa?"tanyanya bingung.

__ADS_1


Aiyla menatap Radit serius,"Ayo kita ke sana!"


Radit melajukan mobilnya walau pertanyaannya tak dijawab.Aiyla meremas tangannya yang dingin.Perasaan takut datang dalam hatinya.Hari ini,Aiyla akan menerima apapun kebenaran masa lalu Ayah dan Bundanya.


__ADS_2