Cinderella dan Pangeran Pemaksa

Cinderella dan Pangeran Pemaksa
Persiapan Tujuh Bulanan


__ADS_3

Karena akan mengadakan acara syukuran tujuh bulanan untuk kehamilan sang istri,hari ini kediaman keluarga Adhitama disibukkan dengan persiapan acara yang akan dilakukan nanti malam.Acaranya akan dilaksanakan secara sederhana,hanya diadakan doa bersama agar ibu dan calon buah hati sehat dan selamat.Semua orang terlihat sibuk mengecek persiapan yang dilakukan oleh para maid.


"Kenapa sih,cemberut aja?"


Davian menghampiri istrinya di balkon kamarnya yang sedang duduk-duduk dengan salad buah ditangannya.Aiyla mendongak melihat Davian yang mencium keningnya.Perutnya sudah terlihat membesar begitu pula pipinya.Tak jarang pipinya menjadi sasaran empuk suaminya untuk digigit.


"Bosen!Ini nggak boleh itu nggak boleh.Malu tahu,orang lain pada sibuk sementara aku cuma duduk dan makan doang.Padahal,ini semua untuk mendoakan kami.Tapi akunya malah nggak melakukan apa-apa,"adu Aiyla sembari mengelus perut buncitnya.


Mendengar keluhan dari istrinya,Davian jadi gemas dan mencubit pipinya yang sudah seperti bakpao.Davian mengulurkan tangannya untuk mengelus perut Aiyla.


"Perut kamu sudah segede ini,jalan juga sudah agak ngap,kan?Semua orang nggak mau kamu kecapekan aja,kasihan juga nanti babynya,"jelas Davian.


"Kamu tahu,kalau Ayah Reyhan sudah tidak tinggal bersama dengan Bu Rosa?"Davian memandang wajah istrinya.


Sejak terungkapnya masa lalu,Aiyla benar-benar sudah tidak ingin lagi tahu tentang Ayahnya.Meskipun Dia tahu kalau ayahnya selalu memantaunya sepulang dari pabrik.Aiyla membiarkannya begitu saja, tanpa menghampiri atau menegurnya.


"Biarkan saja!Itu urusan mereka,"ucapnya melihat ke arah mobil yang selalu terparkir tak jauh dari mansion.


Davian juga mengarahkan pandangannya ke arah mobil itu.Semua orang di mansion sudah tahu kalau itu adalah mobil ayah Reyhan.Mereka membiarkannya asal tidak mengganggu.Aiyla terlihat masih sangat kecewa dengan ayahnya itu,tapi Aiyla sudah mencoba untuk memaafkannya.

__ADS_1


"Ya sudah,kamu istirahat,acaranya nanti mungkin akan sampai malam.Mami juga mengundang ustadz untuk menyampaikan tausiyah."


"Em,"Aiyla mengangguk dan beranjak dari duduknya masuk ke kamarnya.


* * *


"Yang!Nanti aku jemput ya!"ucap Radit.


Saat ini,Radit dan Billa berada di bawah pohon mangga di depan rumah Billa.Tadi,setelah berdebat dengan mamanya yang mau ikut mengantar Billa,akhirnya Radit diselamatkan karena sang Mama yang harus mengalah karena Mami mengajaknya untuk melakukan hal yang lain.


Billa memutar bola matanya jengah mendengar kata 'Yang' dari bibir Radit.Sejak mereka resmi menjadi pasangan,Radit seolah ingin selalu menempel padanya.Padahal mereka pacaran juga tidak disengaja.Saat itu,Billa hanya ingin membuat Camilla kesal saja.Tapi Radit malah menganggapnya serius.Bahkan Radit sudah SKSD dengan Abah dan ibu Billa.


"Apaan sih,Pak!"ucapnya.


"Pak?Perasaan aku manggilnya Kak,deh!Salah dengar ini pasti,ckk!"Billa mendorong muka Radit.


"Emang iya?"bingung Radit menggaruk pelipisnya.


"Hem."Billa mengangguk menahan senyumnya.

__ADS_1


"Ehm.....ekhmmmm..."


Keduanya mengalihkan atensinya pada sumber suara.Abah melipat tangannya di dada melirik anak gadisnya ngobrol di bawah pohon mangga bersama seorang pria yang sudah dikenalnya.


"Eh,Abah!Assalamualaikum,Bah!"Radit menghampiri dan mencium tangan Abah.


"Hem....Waalaikumussalam!Enak ngobrol di bawah pohon?Nggak takut ditimpuk oleh pohonnya?"sindir Abah


"He...he....Radit sebenarnya mau langsung pulang,Bah!"


"Terus,kenapa malah ngobrol di sana?Lain kali kalau mau ngobrol,di teras rumah kan bisa.Kamu juga,nanti kalau jadi bahan gosip oleh ibu-ibu +62 kamu naik darah terus marah-marah nggak jelas.Padahal kamu juga yang mengundang untuk jadi bahan obrolan mereka."


"Iya,Bah!Maaf!"jawab keduanya.


"Ya sudah,Bah!Radit pamit dulu."


"Hem,hati-hati!"


"Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumussalam warahmatullahi."


Radit melambaikan tangannya pada Billa dan segera pergi.


__ADS_2