Cinderella dan Pangeran Pemaksa

Cinderella dan Pangeran Pemaksa
Tangis Aiyla


__ADS_3

Saat Davian baru saja mengistirahatkan tubuhnya di ranjang king size nya, ponselnya berdering.Davian membaca nama yang tertera pada ponselnya."Fahri."


Davian :"Hallo, Assalamualaikum.Ada apa?"


Fahri :"Boss, Aiyla sepertinya sedang ada masalah."


Davian langsung berdiri mendengar nama


Aiyla disebut.


Davian :"Aiyla?ada apa dengan Aiyla?"


Fahri :"Anak buah kita baru saja ngasih tahu,


mereka melihat Aiyla diseret keluar oleh


ibu dan kakak tirinya.Mereka nggak tahu apa


alasannya."


Davian menggeram dan mengepalkan tangannya penuh amarah.Davian pun segera beranjak dan bergegas pergi.


Davian :"Aku segera ke sana,suruh mereka terus awasi."


Davian menutup panggilan telepon dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.Fahri pun segera menyusul


Davian ke rumah Aiyla.Sesampainya Davian


di sana, Davian melihat wanita yang sedang diperjuangkan hatinya terduduk lemas dengan tatapan kosong.Davian menggenggam stir mobil dengan kuat.Sakit


sekali hatinya melihat Aiyla yang biasanya selalu terlihat tegar menjadi seperti tidak berdaya seperti itu.Davian segera turun dan menghampiri Aiyla.Davian langsung memeluk


pundak lesu itu.Aiyla menatapnya sejenak


dan tersenyum.Bibirnya memang menyunggingkan senyum tapi matanya mengisyaratkan kekecewaan yang mendalam.


"Kok ke sini lagi?ada yang ketinggalan ?"tanyanya masih dengan senyum yang bahkan tak sampai ke matanya.


Davian menggeleng, mengajak Aiyla berdiri.

__ADS_1


Tak lama Davian sampai tadi, Fahri pun sampai.Fahri menghampiri mereka.


"Boss! sebaiknya kita pergi dari sini."ucap Fahri.Davian pun membawa Aiyla ke mobilnya.


"Kita ke apartemenku !"perintah Davian dan Fahri menganggukkan kepalanya.Mereka pun


segera pergi meninggalkan rumah itu.


****


Sesampainya di apartemennya, Davian membawa Aiyla ke kamar yang biasa di tempatinya saat Davian ingin menyendiri.


"Kamu istirahat dulu di sini !"suruh Davian.


Aiyla hanya diam tak menanggapi.Davian


keluar menemui Fahri.


"Bagaimana keadaannya ?"tanya Fahri khawatir.Fahri memang tak memiliki rasa pada Aiyla layaknya seorang pria terhadap seorang gadis.Fahri sudah menganggap Aiyla seperti seorang teman bahkan sudah seperti seorang adik.Aiyla adalah seorang gadis yang tulus.


"Kau pulanglah ! biar Aiyla aku yang urus !"


Setelah mengunci pintu apartemennya, Davian pergi ke dapur untuk membuatkan Aiyla teh.Saat Davian masuk kembali ke kamar, Davian melihat Aiyla yang masih duduk di tepi tempat tidur seperti saat ia tinggalkan tadi.


"Ini, diminum dulu tehnya !"Davian menyodorkan secangkir teh hangat yang dibuatnya tadi.Aiyla mendongak menatap Davian lalu mengambil tehnya.Aiyla meminumnya sedikit dan kembali melanjutkan lamunannya.Davian menghela nafasnya dan mengambil teh itu untuk diletakkan ke atas nakas.Davian duduk di samping Aiyla dan memutar tubuh Aiyla agar mengarah kepadanya.


"Ada apa ?"tanya Davian lembut.Aiyla menatap mata Davian dan memberikan sebuah surat yang dibawanya tadi.Aiyla juga


membawa foto bundanya tadi.Davian melihatnya dan kembali menatap Aiyla dengan tatapan penuh tanya.


"Ternyata aku bukan anaknya,"Aiyla tersenyum


sedih.Davian langsung memeluknya erat.


"Menangis lah kalau kamu ingin menangis !"


Davian ingin Aiyla menumpahkan kesedihannya dalam pelukannya.Davian ingin


Aiyla membagi beban itu kepadanya.

__ADS_1


"Menangis?aku bahkan tidak bisa menangis


sekalipun aku sangat ingin menangis.Kamu tahu,dulu sebelum bundaku pergi,bunda bilang"Aiyla, kalau bunda sudah tidak ada lagi


di samping Aiyla, Aiyla harus jadi anak yang


kuat.Aiyla boleh bersedih,Aiyla boleh menangis,tapi jangan sampai berlarut-larut


dalam kesedihan itu.Bunda yakin,anak bunda


yang sangat cantik ini adalah anak yang kuat dan tegar."Dan tak lama setelah itu bunda pergi."Aiyla menjeda ceritanya mengenang kepergian sang bunda.


"Setelah bunda pergi,aku benar-benar menjadi gadis yang tidak mudah menangis.Pernah saat aku umur 12 tahun, Camilla jatuh terpeleset dan Camilla menuduhku sengaja


membuatnya jatuh.Padahal Camilla terjatuh karena lantai yang baru saja aku pel masih basah.Ibunya memarahiku habis-habisan.Dia menyeret ku ke dalam gudang yang gelap dan


pengap.Aku meronta saat dia menyeret ku,aku tidak mau disalahkan untuk kesalahan yang tidak aku lakukan.Tapi,aku hanyalah anak berusia 12 tahun.Dan ayahku melihat


kejadian itu.Ibu tiri ku melempar ku ke dalam gudang itu dan menguncinya.Di sanalah aku


menangis.Aku menangis bukan karena dikurung di gudang itu."Aiyla menggeleng.


"Aku menangis karena ayahku melihat bagaimana mereka memperlakukan aku tapi


dia tetap diam,tidak berusaha melarang mereka melakukan hal itu."jelas Aiyla lagi.


"Apa kamu takut gelap?"tanya Davian menatap Aiyla.Aiyla menggeleng.


"Bukannya trauma dengan kejadian itu,aku malah menyukai suasana yang gelap seperti


itu,"Aiyla menjawab dengan senyum kecil.


Davian beranjak dari duduknya dan menyuruh Aiyla untuk beristirahat.Davian keluar dan mematikan semua lampu yang ada di kamarnya.Setelah Davian keluar, tangis Aiyla


terdengar.Walau samar, Davian masih dapat


mendengarnya.Itulah alasan Davian mematikan semua lampunya dan segera keluar.Davian duduk di depan pintu kamar itu.


Davian dapat merasakan betapa rapuhnya

__ADS_1


gadis itu saat ini.


__ADS_2