Cinderella dan Pangeran Pemaksa

Cinderella dan Pangeran Pemaksa
Fahri Mengaku


__ADS_3

"Dianter siapa lo?"samber Camilla saat Aiyla masuk ke dalam rumah.


"Bukan urusan kamu,"balas Aiyla tak peduli dan segera pergi menuju kamarnya.


"Uh...,dasar cewek apaan Lo,jam segini baru pulang.Dianter pake mobil mewah lagi.Simpenan om-om lo?"Camilla mencari gara-gara.


Aiyla memang pulang agak terlambat karena


kejadian tadi.Aiyla menghentikan langkahnya mendengar ucapan provokasi Camilla.


"Daripada ngurusin aku,lebih baik kamu urus diri kamu sendiri.Urusin tuh kuliah kamu, jangan keluyuran terus,"jawab Aiyla tenang tak mau terprovokasi.


"Lo....,"belum selesai Camilla membalas ucapan Aiylae, Aiyla sudah bergegas masuk ke kamarnya.Camilla pun pergi ke kamarnya dengan perasaan dongkol.


Sementara di tempat lain, Fahri mengantar Billa pulang setelah mengurus motornya di bengkel.Karena sudah malam, terpaksa motor Billa ditinggal dan akan diambil besok pagi.


"Lucu banget ya,kempes kok bisa dua-duanya,"ucap Billa memulai pembicaraan.


Fahri hanya tersenyum menanggapinya.


"Kira-kira siapa ya, yang iseng banget kek gitu ?"tanya Billa melirik Fahri.


"Ehm.... entahlah,"Fahri menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil terus fokus menyetir.


"Tapi,kok kebetulan banget yah ada kalian berdua di sana,apa mungkin......?"tanya Billa menggantung.


Fahri hanya diam,"apa ni cewek tahu ya?"tanya Fahri dalam hati.

__ADS_1


"Apa kau menuduh kami yang sengaja mengempiskan ban motor mu ?"tanya Fahri tenang.


"Iya,"balas Billa jujur.


Fahri melihat ke arah Billa sejenak kemudian kembali mengarahkan pandangannya ke depan.


"Iya,kamu benar.Memang kami yang melakukannya.Kamu tahu,kan alasannya ?"jawab Fahri jujur juga.Billa menganggukan kepalanya.


"Boss Davian serius menginginkan Aiyla.Dia tidak akan menyakitinya.Kau percaya,kan?"Fahri mencoba meyakinkan Billa.


Billa terdiam berfikir,"mungkin nggak sih, orang yang baru bertemu bisa langsung tertarik dan menginginkannya."


"Kau tenang saja, Boss Davian bukan orang yang suka mempermainkan perasaan seorang wanita.Saya bisa jamin itu!"tekan Fahri yang melihat keraguan sahabat Aiyla ini.


"Oke,saya percaya.Tapi...."


"Itu tidak akan terjadi,"ucap Fahri memotong kalimat yang akan diucapkan Billa.


Billa mengangguk-anggukkan kepalanya,kali ini ia percaya dan akan mendukung Davian.


"Apa kau mau membantu Boss Davian ?"tanya Fahri berharap.


"Emmmm......apa ada bayarannya ?"cengir Billa bercanda.


Fahri mendengus mendengarnya, bisa-bisanya meminta bayaran untuk kebahagiaan temannya sendiri.


"He....he...he..... becanda, serius amat sih pak!"

__ADS_1


"Oke,saya akan bantu sebisa saya.Tapi, kalau Aiyla nya nggak mau jangan dipaksa ya!"Billa memperingatkan.


Fahri tak tahu harus menjawab apa karena Fahri sangat tahu kalau Bossnya itu sangat suka memaksa orang.


Akhirnya mobil yang dikendarai Fahri sampai ke rumah sederhana Billa.Sebelum keluar, Fahri meminta nomor telepon Aiyla pada Billa.


Billa pun memberikan nomor Aiyla dan nomornya walaupun Fahri tak memintanya.Siapa tahu butuh,kilah Billa cengengesan.


"Nggak usah mampir ya,bang! makasih udah nganterin sampe depan rumah.Assalamualaikum,"pamit Billa.


"Waalaikumussalam,"Balas Fahri sewot."Siapa juga yang mau mampir,"batin Fahri.Fahri pun segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah Billa.


Sesampainya di kamarnya, Billa langsung mengabari Aiyla bahwa dirinya telah sampai dengan selamat tanpa kurang satu apapun.


Setelah membersihkan diri, Billa mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.


Tok.....tok.....bunyi pintu kamar Billa diketuk


"Masuk."


"Kak."


"Hmmm..."


"Ngapain lo ngirim foto cowok plus KTP nya ke gue ?"tanya Adit adiknya Billa.


"Hem... nggak kenapa-kenapa,Sudah sana, kakakmu yang cantik ini ingin bobok cantik !"usir Billa tak ingin memperpanjang pembicaraan.

__ADS_1


"Aneh lu."Adit segera keluar dari kamar Billa.


__ADS_2