Cinderella dan Pangeran Pemaksa

Cinderella dan Pangeran Pemaksa
Fahri Menangis


__ADS_3

Seorang gadis dengan mata yang sembab,sedang dirias oleh perias pengantin.


"Matanya sembab banget,Neng.Mau jadi pengantin kok kelihatan sedih?Kalo Neng nya menitikkan air mata terus,riasannya nggak kelar-kelar ini!"ucap mbak perias.


"Maaf!"


Perias yang bernama Mira itu duduk berhadapan dengan si calon pengantin.Dia menggenggam tangan calon pengantin itu agar lebih tenang.


"Kalau ada ketakutan di dalam hati Neng, berdoalah!Semoga sang pemilik hati memberi kekuatan untuk menerima takdir yang diberikan,baik ataupun buruk!"ucap mbak Mira.


"Terima kasih."


Mbak Mira kembali melaksanakan tugasnya. Jasmine yang dirias mencoba mengikhlaskan yang akan terjadi nanti.Walau dia tahu tidak akan ada kebaikan yang akan terjadi di dalam pernikahannya nanti.


Acara ijab kabul telah terlaksana,Jasmine yang masih berada di dalam kamar dijemput oleh Bu Lia,mamanya dan sepupunya.Tarikan nafas panjang berhembus dari sela bibir Jasmine.Bu Lia memeluk putrinya sebelum keluar dari kamar.Ada perasaan bersalah pada putrinya itu.Dia tahu kalau putrinya itu menangis semalam.


"Maafin Mama,"ucapnya.


Jasmine menggeleng,"Jangan pernah meminta maaf,karena kalian tidak salah!"


"Tapi,Mama-,"

__ADS_1


Air mata Bu Lia menetes seakan tak sanggup untuk melanjutkan ucapannya.Jasmine segera menghapus air mata mamanya dan menggandeng tangan Bu Lia untuk segera ke tempat ijab kabul.


"Semua orang sudah menunggu!"kata Jasmine.


Mereka pun keluar dengan Jasmine yang diapit oleh mama dan sepupunya.Jantungnya berdegup kencang,kegelisahan melanda hatinya saat akan sampai ke meja dimana seorang pria yang sudah sah menjadi suaminya itu berada.


Dengan kepala yang terus tertunduk,Jasmine dituntun,duduk di sebelah suaminya.Bahkan saat diminta untuk memakaikan cincin dijari suaminya pun Jasmine tak berani melihat.Pandangannya terus kebawah sampai sang suami memberikan tangannya untuk dicium.


Sang suami mengangkat dagunya untuk mengecup keningnya,Jasmine malah menutup matanya.


"Buka matamu,cantik!"bisik suaminya.


Sontak Jasmine membuka matanya dengan lebar saat mendengar suara yang tidak asing di pendengarannya.


"Iya,ini aku."


"Pa?"Jasmine melihat papanya.


Wajah kebingungan Jasmine sangat dinikmati oleh Fahri.Akhirnya,wanita cantik yang masih terlihat linglung ini menjadi miliknya.Terserah orang-orang mau berbicara apa karena nama pengantin pria beda dengan yang tertulis di undangan.Fahri tidak peduli,hanya wanita cantik di sampingnya inilah yang dipedulikannya.


Saat diminta untuk menandatangani surat-surat pernikahan pun Jasmine masih tidak percaya kalau pada akhirnya cinta di masa putih abu-abu lah yang menjadi suaminya.Nama Fahri sebagai suami berikut foto Fahri terpampang nyata di buku nikah yang ditandatanganinya.

__ADS_1


Saat tiba waktunya meminta restu pada orang tuanya,air mata kedua mempelai tak bisa lagi ditahan.Fahri begitu sangat berterima kasih pada Mami Manda dan Papi Bara karena sudah membuat kehidupannya jauh lebih baik.Entah apa yang akan terjadi padanya kalau tidak bertemu dengan orang-orang baik seperti mereka.


"Jangan menangis,ih!Mami juga ikut nangis kan,"ucap Mami mengusap air matanya.


"jutaan terima kasih tidak akan bisa cukup untuk semua yang kalian lakukan untuk yatim-piatu ini,"ucap Fahri dengan air mata yang mengalir.


"Entah apa yang terjadi padaku kalau Mami tidak membawaku bersama kalian.Aku bahkan tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikan kalian."


Mami memeluk Fahri sambil mengelus pelan pundaknya.Mami Manda menyayangi Fahri sama seperti Davian.Tidak berbeda sedikitpun,begitupula Papi Bara.


"Apa Mami meminta balasan?"tanya Mami juga meneteskan air matanya.


Fahri menggelengkan kepalanya dengan wajah yang tertunduk.Air mata masih terus mengalir di pipinya sampai keluarga lainnya yang menyaksikan momen haru itu juga ikut menitikkan air mata.


"Kalau enggak,kenapa kamu mau membalas? Mami dan Papi ikhlas menyayangi kalian.Tidak ada sedikitpun niat kami untuk meminta balasan.Anak adalah tabungan bagi orang tua untuk bekal di akhirat,paham?"


"Terima kasih,Bu.Terima kasih."


Tanpa banyak kata,Papi Bara memeluk Fahri yang masih sesenggukan meski air matanya telah surut.


"Jadilah kepala keluarga yang bertanggung jawab terhadap keluarga kecil kalian.Seorang gadis sudah merelakan dirinya lepas dari orang tua yang begitu menjaganya sejak dalam kandungan ibunya,bukan untuk disakiti oleh pria yang menikahinya,mengerti?"bisik Papi Bara masih memeluk Fahri.

__ADS_1


"Terima kasih,Pak."


__ADS_2