
"Terima kasih, pak Davian ! akhirnya pak Davian memberikan kesempatan kepada perusahaan saya untuk bekerja sama dengan salah satu perusahaan terbaik di negeri ini,"ucap Bu Naina senang.
Bu Naina memang sudah lama mengirimkan proposal kepada Adhitama Group dan ketika Fahri mengabarkan bahwa proposalnya di setujui,Bu Naina langsung meminta izin untuk bertemu sekaligus membicarakan tentang kerjasama mereka.
"Bu Naina tidak perlu berterima kasih, karena kerjasama ini juga menguntungkan bagi Adhitama Group.Kalau tidak,mana mungkin kerjasama ini akan terjadi,"ucap Davian dengan wajah datarnya.
Setelah persetujuan ditandatangani,Bu Naina pun pamit pergi.Fahri dengan sopan mengantarkannya sampai ke pintu.Namun, saat hendak berjalan keluar, heels Bu Naina tersangkut di karpet bawah meja di ruangan Davian.Fahri dengan sigap menangkap tubuh Bu Naina bertepatan dengan pintu yang terbuka dan muncullah Aiyla dari balik pintu dengan wajah yang seperti menahan sesuatu.Aiyla segera pergi dan menutup pintu dengan keras.
Melihat itu, ketiga orang yang ada di ruangan itu bingung,kenapa Aiyla harus lari dan membanting pintu.Davian dengan wajah yang kesal berlari mengejar Aiyla diikuti Fahri yang langsung melepaskan tangannya dari pinggang Bu Naina.
"Aduh.....kenapa dilepas sih ?"Bu Naina menatap jengkel Fahri yang berlari menyusul Davian.
* * *
Radit juga bingung mendengar penjelasan Fahri.Saat ini, mereka sedang berada di parkiran kantor khusus petinggi perusahaan.Tadi satpam kantor bilang tidak melihat Aiyla keluar lewat pintu depan dan bodyguardnya pun belum melihat Aiyla sejak dia masuk tadi.
"Ke mana sih dia ? cepet banget ngilang nya,"ucap Davian setengah emosi.
__ADS_1
"Sabar, Boss ! kenapa nggak ditelepon saja ?"Fahri memberi solusi.Davian langsung menatap Fahri tajam.
"Kenapa nggak bilang dari tadi ?"Davian menggertakan giginya kesal.
"Halo ! Assalamualaikum,mas ! Mas pergi ke mana ? kok akunya ditinggal sih ?"tanya Aiyla langsung.
"Kamu nya yang di mana ?"Davian jadi tambah bingung.
"Aku di ruangan mas,tapi di sini nggak ada orang,"jelas Aiyla.
"Kamu di ruangan mas ?"Davian menaikkan alisnya sebelah.Fahri dan Radit saling pandang, bingung.
Davian langsung menutup teleponnya dan segera kembali ke ruangannya diikuti Fahri dan Radit.Sampai di ruangannya, Davian melihat Dian sekretarisnya sedang menatap layar komputernya mengerjakan pekerjaannya.
"Darimana saja kau ? apa kau tidak melihat istriku keluar ?"tanya Davian dengan raut muka yang kesal.
"Maaf,pak ! saya dari bawah untuk foto copy berkas, ibu Aiyla masih ada di dalam,Bu Naina yang sudah pergi,"beritahu Dian.
__ADS_1
Davian mendengus dan segera masuk ke dalam ruangannya.
"Sabar ya !"ucap Radit.
Davian melihat Aiyla yang duduk santai sambil membolak-balik majalah bisnisnya tak mengerti dan segera menghampirinya.
"Kenapa lari tadi ? pake banting pintu pula bukannya masuk.Kenapa,kamu cemburu melihat Fahri meluk-meluk wanita lain ?"Davian duduk di sebelah Aiyla dan langsung meluapkan kekesalannya.
Aiyla mengernyitkan keningnya bingung, kenapa dia harus cemburu ? pikirnya.
"Maaf,mas ! nggak sengaja tadi,sudah kebelet banget soalnya.Tadinya mau langsung ke toilet,eh nggak tahunya lagi ada tamu.Ya sudah keluar lagi aja terus ke toilet yang ada di ujung sana,"papar Aiyla cengengesan.
"Ya ampun, Aiyla ! jadi kamu lari ke toilet ?"ulang Radit tak percaya.
"Kamu tuh ya, pinter banget bikin orang kesel, mas pikir kamu lari karena lihat Fahri meluk klien mas,"Davian mengacak-acak rambut Aiyla gemas.
Fahri dan Radit ingin ikut mengacak-acak rambut Aiyla,tapi Davian langsung menangkap tangan tak tahu diri itu dan langsung memelintirnya ke belakang.
__ADS_1
"Ampun..... ampun.....!!!"pinta Radit dan Fahri.