
Setelah melakukan kewajibannya kepada sang khalik, Aiyla dan Billa bersiap-siap untuk pergi ke taman dekat apartemen.Hari ini, mereka akan joging sekaligus mencari sarapan.
"Bill, terimakasih ya kadonya.Baik banget sih, padahal kan nikahnya dua hari lagi !"tunjuk Aiyla pada kotak kecil yang ditemukannya di atas nakas tadi pagi.
Billa mengerutkan dahinya merasa tidak tahu apa yang Aiyla ucapkan.Billa mengambil kotak itu,"bukan dari aku, Aiyla !"
"Loh,terus ini punya siapa ?"bingung Aiyla.
Billa mengangkat kedua bahunya, kemudian teringat sesuatu."Em..... mungkin dari bang Davian.Soalnya tadi malem dia ke sini !"
Aiyla tercengang,"kapan ?"
"Jam sebelas lewat deh kayaknya.Kamunya sudah tidur,jadi aku suruh masuk aja ke kamar kamu.Tapi aku tungguin kok.Don't worry,"cengir Billa melihat Aiyla melotot.
Aiyla membuka kotak itu dan membelalakkan matanya.Sebuah kalung yang sangat cantik dan pasti harganya sangat mahal.
"Wow ! Ai, cantik banget ! Bang Davian emang paling tahu apa yang bestie ku ini suka.Sederhana tapi istimewa."Billa merangkul pundak Aiyla.Aiyla mengangguk mengiyakan.
"Oh ya,Ai ! tahu nggak ?"Aiyla memasukkan kembali kalung itu ke dalam kotak dan memperhatikan Billa bercerita.
"Semalam aku habis nonjok orang !"lanjut Billa.
"Hah? kenapa ?"kaget Aiyla.
__ADS_1
"Habisnya orang itu mabuk terus meluk-meluk gitu,ya udah aku hajar aja dia terus aku tinggal pergi,"Aiyla menutup mulutnya."Tapi kamu nggak apa-apa kan,Bill?"Billa mengangguk.
"Maaf ya,Bill ! semalem aku malah tidur duluan.Bukannya nungguin kamu,"sesal Aiyla.
"Nggak apa-apa,kan aku yang nyuruh kamu nggak usah nunggu.Santai aja,kamu lupa siapa itu Salsabilla,"jawab Billa menepuk dadanya.
"Lagian kejadiannya di parkiran apartemen sini.Jadi kalo ada apa-apa bisa langsung panggil keamanan,"jelas Billa lagi.
"Apa dia juga tinggal di apartemen ini,ya?"tanya Aiyla dan Billa hanya mengangkat bahunya.
"Sudahlah,ayo pergi ! nanti kesiangan !"ajak Billa menarik tangan Aiyla.
* * *
Radit menggeleng.Dia saja tidak ingat kapan dia datang.Saat bangun,dia sudah ada di kamar yang biasa ditempatinya kalau menginap di mansion ini.
"Pagi,"sapa Davian ceria.Maklum calon pengantin.
"Pagi,"balas mami,papi hanya mengangguk.
Davian melirik Radit,"kenapa nggak bilang mau ke apartemen ?"
Radit menoleh bingung,"jadi,bang Davian yang bawa aku ke sini ?"
__ADS_1
"Bukan, Fahri yang bawa.Untung aja kita ke sana semalem,coba kalau nggak? tidur di parkiran kamu,"ujar Davian
"Jadi,kamu ketemu sama Aiyla semalem, Davian Adhitama ?"tatapan horor mami keluar di pagi Davian yang cerah ini.
"Nggak,mi ! Billa yang nemuin.Aiylanya sudah tidur katanya,"cengir Davian.Mami memutar bola matanya jengah.
"Oh,jadi calon istri Abang tinggal di apartemen ?"tanya Radit yang diangguki Davian.
"Hem...untung nggak ketemu.Kalo ketemu, bisa nggak jadi nikah kalian,"lanjut Radit.
Davian menghentikan makannya,"kenapa ?"
"Dia bisa terpesona melihat wajah tampanku ini terus pindah haluan,"jawab Radit percaya diri.
"Kamu salah,dia nggak akan terpengaruh dengan wajah sok playboy seperti ini,"tunjuk Davian dengan melingkarkan jarinya ke wajah Radit.Radit mendengus, belum ada wanita yang tidak terpesona dengan ketampanannya.
"Tapi,itu bibir kenapa ? seperti habis ditonjok,"selidik papi yang dari tadi hanya menyimak.
Radit memegang sudut bibirnya dan mencoba mengingat,"kayaknya sih,emang bekas tonjokan deh,"jawab Radit ragu.
"Kok, jawabnya ragu gitu?kamu nggak ingat, siapa yang nonjok ?"tanya mami.Radit menggaruk kepalanya nyengir.
"Gimana mau inget, orang dia mabuk,"ucap Davian dan membuat mami papi melotot tajam kearah Radit.
__ADS_1
"Owh...oo..."ucap Davian sengaja.