
Sampai di pemakaman,langkah kaki ayah Reyhan seakan berat sekali untuk mendekat ke tempat peristirahatan terakhir istri tercintanya.Aiyla menarik tangan ayahnya pelan.
"Assalamualaikum,Bunda.Coba tebak Aiyla bawa siapa?Yap....seratus untuk Bunda.Hari ini Aiyla berkunjung ditemani Ayah!"
Aiyla menatap ayahnya yang masih berdiri tak jauh darinya.Ia melambai ke arah ayahnya, mengajak agar ayahnya mendekat.Baru saja melangkahkan kakinya,air mata ayah Reyhan seakan tak puas untuk keluar.
Dengan terbata ayah Reyhan mengucap salam,"Assalamualaikum."
Ayah Reyhan duduk di dekat batu nisan yang tercetak jelas nama wanita yang sangat dicintainya itu.Bibirnya bergetar namun suara tak jua keluar.Aiyla mengusap lengan ayahnya mencoba menenangkannya.
"Ma-maaf-kan,aku!"hanya kata itu yang terus keluar bersama dengan air mata yang mengiringinya.
"Ayah tenangin hati Ayah dulu!"
Ayah Reyhan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan.Beberapa kali Ayah Reyhan mengulangi hal itu sampai hatinya mulai tenang dan isakan tangisnya mereda.Ayah Reyhan mengusap batu nisan itu dan membersihkan rumput yang sudah mulai tumbuh di sana.Setelah bersih, diletakkannya sebuket bunga mawar putih kesukaan almarhumah istrinya di atas batu nisannya.
"Maaf karena sudah sangat kejam padamu dan putri kita.Aku tidak pulang waktu itu,bukan karena aku akan menikahi wanita itu.Aku hanya malu dan merasa bersalah padamu.Karena kebodohan dan kelalaianku,orang lain bisa dengan mudahnya hadir merusak kebahagiaan kita."
Ayah Reyhan lagi-lagi menarik nafas panjang. Sesak sekali rasanya mengingat masa lalu.Rasa bersalah selalu menghantuinya setelah istrinya meninggal.Bukan cuma karena dirinya percaya pada surat tes DNA yang Bu Rosa berikan,tapi juga karena tidak berbuat apa-apa saat anak yang sudah dikasihinya sejak dalam kandungan diperlakukan semena-mena oleh orang yang baru saja masuk ke dalam keluarganya.
__ADS_1
Ayah Reyhan meremas dadanya sehingga membuat Aiyla merasa khawatir.
"Ayah nggak apa-apa?"
"Hem.Ayah hanya merasa sesak."
"Kita istirahat dulu di mobil!Bunda kita pulang dulu."
Aiyla dan ayahnya memanjatkan doa agar orang yang mereka sayangi terhindar dari siksa kubur.Aiyla membantu ayahnya untuk berdiri dan memapahnya sampai ke mobil.
"Ayah minum dulu!"Aiyla memberikan sebotol air mineral.
"Kita ke rumah sakit aja ya,Yah!"
Ayah Reyhan menggeleng,"Nggak usah.Ayah baik-baik saja."
"Ayah yakin?"raut cemas masih nampak pada wajah Aiyla.
"Iya.Terima kasih masih mau mengkhawatirkan Ayah."
__ADS_1
Sejenak keheningan kembali hadir.Ayah dan anak itu sama-sama tenggelam dalam pikirannya masing-masing.Mereka berdua menyandarkan punggungnya pada sandaran jok mobil.
"Dulu,Ayah sangat marah saat melihat foto Bunda kamu yang dikirimkan seseorang entah siapa itu.Ayah sangat ingin menanyakan hal itu padanya.Tapi wanita itu berhasil meyakinkan Ayah,kalau Bundamu tidak akan mengaku kalau Ayah bertanya padanya langsung,"Ayah Reyhan mulai bercerita.
"Ayah sangat frustasi.Sampai malam,Ayah tetap berada di kantor pabrik walaupun Bundamu berulang kali menghubungi Ayah.Dan wanita itu terus saja menempel pada Ayah.Dia selalu memprovokasi Ayah agar Ayah terus mengingat foto itu dan menambah amarah Ayah pada Bundamu.
Saat itu,Dia membawakan Ayah secangkir kopi padahal itu bukanlah tugasnya.Setelah berapa lama,kepala Ayah menjadi sangat berat dan sangat mengantuk.Keesokkannya, Ayah sudah ada di sebuah kamar hotel dengan baju yang sudah berserakan di lantai.Wanita itu juga tertidur di ranjang yang sama dan dibawah selimut yang sama pula.
Ayah benar-benar tidak tahu apa yang terjadi malam itu.Sejak saat itu,Dia selalu meneror Ayah agar menikahinya."
Aiyla menatap mata ayahnya.Di sana tampak sangat jelas perasaan bersalah itu."Apa Ayah tidak mencari tahu lewat CCTV?Dengan siapa Dia mengantarkan Ayah sampai ke kamar hotel?"
"Ayah sudah memeriksanya,tapi di sana terlihat Ayah seperti orang mabuk yang berjalan sempoyongan dan ada seorang pria yang membantu memapah Ayah.Entah Dia yang begitu sempurna membuat skenario nya atau justru Ayah yang terlalu bodoh sampai masuk ke dalam jebakannya begitu mudah."
"Sekarang ayah tinggal di mana?"
"Di kontrakan dekat pabrik."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Ayah....hanya tidak ingin bertemu dengan wanita itu lagi."