CINTA DISEPERTIGA MALAM

CINTA DISEPERTIGA MALAM
BAB 100. ADU MEKANIK


__ADS_3

Sore harinya Verli datang dengan Hafka dan Hamsya ke rumah Kely. Kedatangan mereka disambut hangat oleh Kely dan Alif. Apalagi Kely kangen banget sama Hamsya, bayi itu memang menggemaskan membuat semua orang tak bisa jauh darinya.


Kemudian mereka dipersilahkan masuk. Tatapan Kely terus tertuju kepada Hamsya yang digendong oleh Verli. Sehingga membuat Verli menawarkan agar Kely menggendong Hamsya. Jelas Kely mau, dia pun mengambil alih Hamsya kepangkuannya.


"Putramu ini memang tampan dan menggemaskan, paman sampai gak jauh kalau sama Hamsya" ucap Niko yang berada disana ikut bergabung.


"Iya pa, dia sangat tampan. Semoga nanti anakku bisa setampan Hamsya....." ucapan Kely langsung disahuti oleh Alif.


"Kalau perempuan secantik kamu" sahut Alif.


"Aamiin" kata Hafka dan Verli bebarengan membuat Kely bersemu merah.


"Apakah kamu tidak mau menginap di sini Afka?" tanya Delsa.


"Tidak bibi, Hafka sama Verli dirumah mama papa saja. Mama selalu kangen kalau harus jauh dengan Hamsya, berubung Hafka disini biar mama bisa bareng sama cucunya" papar Hafka dengan halus.


"Ohh ya sudah kalau begitu, memang kalau orang tua sudah punya cucu pasti susah untuk jauh-jauh. Apalagi segembul Hamsya" ujar Delsa sambil tertawa lirih.


"Iya bi, bentar lagi paman dan bibi juga akan punya cucu. Semoga bisa sehat samai lahiran nanti" tambah Verli.


Mereka serempak mengaamiinkan. Kely terus menciumi pipi Hamsya, membuat Alif iri hati. Padahal itu masih bayi tapi tetap saja dicemburui. Memang si Alif tak tau perbedaan, siapapun itu cemburuan. Gak lihat orang, pokoknya kalau Kely deket sama lelaki pasti api cemburu menyelimuti. Tapi ini Hamsya si bayi imut masak iya cemburu juga, hadeeh memang orang jatuh cinta itu pasti tak kenal situasi.


Memasuki waktu magrib mereka serempak shalat berjamaah bersama dirumah. Selesai shalat Verli dan Hafka berpamitan untuk pulang. Takutnya nanti orang tua mereka menunggu dirumah.


Kely tadi sempat membelikan baju dan selimut baru untuk Hamsya. Ia berikan kepada Verli, saat dimall tadi Kely teringat dengan Hamsya jadi dia belikan sekalian.


"Kok repot-repot kamu ini, Hamsya belum ulang tahun" ujar Verli.


"Gak pa-pa lah, ini hadiah untuk Hamsya yaa" ucap Kely sembari ngajak bercanda Hamsya.


"Terima kasih ya Key.....kami pamit dulu"


"Paman bibi, kami pulang dulu......in sya Allah kami kesini lagi kalau waktu libur." ucap Hafka.


"Iya nak.....nanti waktu pulang titip salam untuk orang tua kalian dan titip salam juga buat abi dan ummi kalian ya." jelas Niko.


"Pasti kami akan sampaikan, kalau begitu kita pulang dulu"


"Nitip salam juga untuk Aina yaa, kalau ada waktu biar aku main kesana" ucap Kely.


"Iya nanti aku sampaikan" jawab Verli.


"Assalamu'alaikum"


"Wa' alaikumussalam.....hati-hati dijalan"


Hafka memasuki mobil bersama Verli. Mobil pun keluar halaman rumah dan melaju ke jalanan. Membawa hawa dingin dimalam yang indah. Seindah pancaran sinar bulan yang menghiasi langit malam dan bertabur bintang yang indah dengan kerlap-kerlip nya.


...🌷🌷🌷...


Esok paginya Hafka dan Verli berkemas untuk kembali ke pesantren. Nadin yang masih ingin terus berdekatan dengan Hamsya sulit untuk dipisahkan. Tapi mereka harus pulang karna Hafka harus kerja juga jadi terpaksa Nadin melepas kepergian mereka.


Setelah sarapan dan perlengkapan sudah beres ditas mereka langsung pamit untuk pulang. Sebelum pergi mereka berfoto bersama agar ada kenangangan foto keluarga. Kemarin Nadin sudah menyewa fotografer untuk mereka.

__ADS_1


Bahkan baju pun Nadin sudah persiapkan. Mumpung berkumpul begini jadi momen yang pas gak boleh disia-sia kan itulah menurut Nadin. Hafka dan Verli memang gak setiap hari bisa berkunjung karna padatnya jam kerja Hafka.


Setelah selesai pemotretan, Hafka dan Verli pun pamit. Aina memeluk Verli dengan erat, mereka sekarang sudah mencari saudara. Begitu hangat kebahagiaan dikeluarga tersebut.


"Na kamu belum ada tanda-tanda gitu?" tanya Verli berbisii ke telinga Aina.


"Tanda-tanda apa?" tanya balik Aina yang bingung dengan pertanyaan Verli.


"Berarti belum ngisi ya?" Verli tetap berbisik.


"Belum, doain aja ya semoga bisa cepet nyusul kamu punya anak"


"Aamiin, aku pasti akan doa kan." ucap Verli sembari tersenyum ke arah Aina.


"Kalian berdua ngapain bisik-bisik di situ!! Ngomongin apa sih?" jiwa penasaran Frisko muncul saat kedua wanita ini berbicara dibelakangnya.


"Gak bicara apa-apa. Ya udah kami pulang dulu ya, semoga cepet ngisi biar ada yang menghibur tiap hari" ucap Verlu kepada Frisko dan Aina.


"Doa kan saja, mauku pacaran dulu biar bisa berdua aja tiap hari. Tapi kalau Allah memberikan nya lebih cepat juga gak pa-pa, artinya Allah percaya kepada kami"


"Ma sya Allah jiwa-jiwa suami sudah keluar nih. Alhamdulillah kalau kakak bisa berpikir seperti itu." kata Verli.


"Ya iya lah harus. Gak boleh memaksakan kehendak Allah"


"Ajiib deh" Verli mengacungkan dua jempol untuk Frisko.


"Ya sudah pa ma kami pamit pulang dulu" ucap Hafka.


"Iya hati-hati dijalan kalau sudah sampai hubungi kami"


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam"


Akhirnya Hafka dan Verli meninggalkan halaman rumah yang megah itu. Disepanjang jalan Verli mengingat kenangan di masa lalu yang menurutnya sekarang dia beruntung. Keluarga yang harmonis dan anak yang tampan. Lengkap rasanya kebahagiaan Verli sekarang.


Kebahagiaan yang diberikan oleh Allah sungguh luar biasa. Verli banyak bersyukur dan akan menjadikan masa lalu itu sebagai motivasi untuk terua memperbaiki diri agar tidak sampai berbalik arah. Masa lalu biarlah berlalu, sesekali nengok ke belakang boleh lah tapi jangan sampai untuk kembali menuju jalan di masa lalu.


**


**


**


Entah kenapa hari ini Aina ingin sekali bisa jalan-jalan bareng suaminya. Tapi Frisko ada kerjaan di perusahaan yang gak bisa ditinggal jadi gak bisa mengajak Aina pergi sekarang.


"Maaf ya sayang aku gak bisa ajak jalan sekarang" keluh Frisko.


"Gak pa-pa mas, kemarin juga kamu sudah luangkan waktu buat aku. Kamu pergi saja ndak pa-pa" ucap Aina sambil tersenyum dan mengelus pundak suaminya.


"Kamu mau ikut denganku saja? Biar aku gak kepikiran ninggalin kamu" ujar Frisko.


"Hmm tapi......ya sudah deh aku ikut kamu saja" akhirnya Aina memutuskan untuk ikut suaminya saja ke kantor.

__ADS_1


"Aku siap-siap dulu"


"Ya sudah aku tunggu dibawah ya" lalu Frisko turun ke bawah sementara Aina bersiap dulu.


Beberapa menit......


Aina turun sambil membawa map berwarna biru muda. Map itu milik Frisko yang tertinggal untung saja diketahui oleh Aina. Padahal semua data yang diperlukan ada dimap itu.


"Nih mas lupa ya" sambil menyerahkan map yang ada ditangannya.


"Astagfirullah iya lupa.....beruntung kamu bawa kalau enggak bisa balik lagi aku" Frisko mengambil map tersebut daro tangan Aina.


Aina hanya tersenyum dan mengangguk. Mereka pun pamit kepada orang tuanya untuk pergi. Setelah pamitan Frisko membawa istrinya masuk ke dalam mobil. Mereka duduk dibelakang dan ada supir pribadi yang akan mengendarai.


Dua puluh menit ditempuh akhirnya mereka sampai juga di perusahaan. Dua satpam yanh menjaga langsung membukakan pintu untuk tuannya.


Didepan juga sudah ada sekretaris Frisko yang akan menemani rapat hari ini. Frisko membawa istrinya ke ruang pribadinya. Sepanjang lorong para karyawan menyoroti Aina, ada yang tersenyum dan ada juga yang tidak suka. Aina tidak menanggapi itu, karna buat dia tidak penting untuk ditanggapi.


Diruang pribadinya Frisko menyuruh Aina untuk menunggu sampai rapatnya selesai. Kalau dia ingin jalan-jalan keluar juga bebas.


"Aku rapat dulu sebentar, nanti aku kembali lagi. Kalau butuh apa-apa kamu bisa panggil OB saja" ucap Frisko lalu mengecup kening Aina.


"Iya mas" jawabnya.


Frisko pun pergi keluar dan di luar pintu sudah ada asistennya. Ia langsung pergi ke ruang rapat bersama jajaran pebisnis lain.


"Bosan juga ya disini, aku keluar saja deh" gumam Aina lalu dia pergi keluar.


Aina turun ke lantai bawah untuk menuju pantri. Dia ingin mengambil air, karna sudah terbiasa mandiri jadi Aina tak biasa untuk menyuruh-nyuruh. Diruang pantri ada dua OB perempuan yang sedang membuat teh.


Melihat kedatangan istri dari bos nya, mereka sangat terkejut. Seorang istri dari CEO mau ke dapur hanya untuk mengambil minum, padahal dia bisa meminta untuk membawakannya ke ruangan.


"Saya sudah terbiasa sendiri, kalian lanjutkan saja pekerjaannya. Saya bisa sendiri" ucap Aina kepada mereka berdua.


"Tapi bu, nanti kalau tau tuan Frisko tau kami akan dimarahi" kata salah satu OB perempuan yang bertugas.


"Gak akan dimarahi, kan saya sendiri yang ingin kesini"


"Hmm. Ya sudah bu biar ini kami bawa ke ruangan tuan" kata si OB.


"Baiklah, kalau begitu" karna tak mau berdebat jadi Aina mengiyakan saja ucapan mereka.


Aina kembali ke ruangan kerja suaminya. Namun disaat ingin memasuki lift dia berpapasan dengan seorang karyawan wanita yang memakai dress minim. Aina bersikap ramah kepada wanita tersebut namun malah sebaliknya. Wanita itu bersikap sinis kepada Aina.


Aina tak mempedulikan tatapan wanita tersebut, ia memasuki lift namun tangannya dipegang oleh wanita itu dan menariknya keluar agar tidak masuk ke dalam lift.


"Auww, anda menyakiti saya nona" ucap Aina meringis kesakitan.


"Ohh jadi kamu yang berhasik merebut hati seorang bos besar disini. Sepertinya mata tuan Frisko tidak jernih, memilih pasangan yang seperti kamu" hina wanita tersebut tertuju pada Aina.


"Memangnya salah saya apa? Apa nona terganggu dengan keberadaan saya?" tanya Aina.


"Iya.....aku sudah mencintai Frisko dari dulu tapi malah kamu yang dinikahi olehnya. Harusnya aku yang menikah dengan dia bukan kau" hardik Neli, ya nama wanita tersebut adalah Neli.

__ADS_1


Aina tersenyum dibalik niqabnya. Ia miris melihat wanita didepannya yang secara terang-terangan menyatakan cinta yang tertuju untuk suaminya.


"Apa anda tidak mempunyai rasa malu, menyatakan cinta sama suami orang?" balas Aina dengan santai.


__ADS_2