CINTA DISEPERTIGA MALAM

CINTA DISEPERTIGA MALAM
BAB 67. JIHAN


__ADS_3

"Pulang jam berapa?" tanya verli


"Mungkin sorean, kenapa?"


"Gak apa-apa kok, nanti aku mau ke pesantren aja ikut kegiatan mereka" jawab verli


Hafka mengangguk dan berbalik menuju kamar mandi. Verli menyiapkan pakaian untuk suaminya tapi takut seleranya gak sama. Verli mengambil baju yang sekiranya cocok dipakai hafka saat kerja. Hafka keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang dililitkan ke pinggang, ia hendak mengambil pakaian tapi ternyata verli sudah dulu menyiapkan. Kebetulan verli keluar entah kemana.


Hafka mengambil pakaian tersebut yang telah disiapkan verli. Ia berjalan ke tempat berganti pakaian. Tapi pintu kamar terbuka dan melihatkan sosok verli yang baru masuk. Seketika keduanya slaing kaget, verli deg degan karna baru pertama kali melihat hafka bertelanjang dada hanya memakai handuk yang dililitkan ke pinggang. Verli jafi salah tingkah dan membalikkan badannya membelakangi hafka.


"Maaf aku tidak tau kalau kamu baru keluar kamar mandi, itu pakaian sudah aku siapkan...kalau tidak cocok bisa aku ambilkan yang lain" kata verli masih memunggungi hafka.


"Tidak usah ini saja, aku ganti dulu" ucapnya langsung menyambar pakaiannya dan berlalu pergi.


Verli melirik kebelakang ternyata sudah tidak ada hafka disana. Ia berjalan menuju ranjang lalu duduk disana sambil menunggu hafka selesai berganti baju. Beberapa saat kemudian hafka sudah rapi. Ia menghampiri verli dan duduk disampingnya. Verli memberikan teh yang dibuatnya tadi kepada hafka. Hafka menerimanya lalu menyeruput sampai habis.


"Ikut aku!" kata hafka tiba-tiba. Verli tak mengerti maksud perkataan hafka, ikut? Ikut kemana? Yang ada dalam benak verli.


"Ikut ke rumah sakit nemenin aku mau gak? Hari ini dipesantren gak ada kegiatan palingan juga para santri yang mengaji.....nanti sekalian jalan-jalan mau tidak? Gak lama kok aku di rumah sakit cuma memeriksa pasien sebentar sama ambil dokumen setelah itu selesai" kata hafka panjang lebar seolah tau bahwa istrinya itu tak mengerti maksud perkataannya tadi.


"Gak ganggu kamu nanti? Aku dirumah aja gak apa-apa sama ummi" ucap verli.


"Udah ayo siap-siap gih, gak bakalan ganggu" hafka ngotot buat mengajak verli.


"Baiklah..tunggu sebentar" verli beranjak untuk bersiap.

__ADS_1


Hafka menunggu dengan setia, tak lama verli sudah beres dan rapi.


Mereka berpamitan dulu dengan abi yusuf dan ummi halimah. Verli senang karna diperlakukam baik oleh hafka maupun dengan mertuanya.


Seiring perjalanan tak ada yang berbicara keduanya diam tanpa sepatah kata pun yang keluar. Verli sesekali melirik ke arah jendela, tempat asing yang tak pernah di lalui. Ya memang karna verli baru saja tinggal disana. Sekitar satu jam lewat sudah dilalui mereka yang akhirnya sampai. Hafka menggandeng tangan verli menuju ruangannya. Hafka menyuruh verli untuk menunggunya sebentar, verli pun menurut saja.


Hafka keluar meninggalkan verli sendiri diruangannya. Verli tak tau harus melakukan apa, keadaan sendiri tanpa lawan bicara rasanya tak enak bagi verli. Ia memainkan ponsel untuk menghilangkan rasa bosannya. Tapi tak mempan, verli memutuskan untuk jalan-jalan sebentar mengelilingi rumah sakit sendiri.


Rumah sakit itu asing bagi verli karna tak pernah kesitu. Verli hendak mencari kantin karna merasa haus, sampai bertanya sama salah satu perawat. Disela jalannya ia melihat disalah satu ruangan ada suaminya yang sedang memeriksa pasien. Verli marasa kagum dengan suaminya sendiri, dibalik sikap yang cuek ada sosok lelaki yang baik dan lemah lembut. Bagi verli hafka adalah lelaki yang sempurna dan tak seharusnya bersama dia. Ia merasa tak pantas bagi hafka karna masa lalunya.


*******


Verli tak mau terus berdiri dan mengintip dijendela. Ia memutuskan untuk pergi ke kantin, tapi baru dua langkah jalan kaki verli tersandung dan menabrak seorang perempuan memakai jas putih seperti pakaian seorang dokter. Perempuan itu tersungkur dan verli pun sama, mereka terjatuh bersamaan. Perempuan itu bangun dengan wajah marah dan kesal. Namun verli tak beranjak dari tempatnya karna merasa kakinya terkilir.


"Kalau liat itu pakai mata dong, bisa jalan gak sih main tabrak-tabrak aja" maki perempuan tersebut.


"Maaf saya tidak sengaja, tadi kaki ku tersandung...maafkan saya, tolong bantu saya untuk berdiri kaki ku sakit" ringis verli sambil memegangi kakinya.


"Halah alesan aja, aku gak bakal kasihan. Punya kaki kan ya berdiri sendiri lah, kalau pakai baju tuh gak usah lebar-lebar sulit kalau jalan" ejeknya.


Verli tak menggubris ocehan perempuan tersebut. Ia terus memegangi kakinya yang sakit sambil mencoba untuk berdiri tapi nihil. Saat mereka berantem hafka sudah keluar dari ruang pasien hendak kembali ke ruangannya tapi malah melihat sosok yang dia kenal sedang duduk dilantai dengan memegangi kakinya tak jauh dari jaraknya berdiri.


Hafka segera menghampiri dua perempuan yang sedang berdebat. Perempuan itu melihat hafka dan malah mencari perhatian kepada hafka. Verli menoleh ke belakang melihat suaminya sudah berdiri dibelakangnya.


"Verli kamu, kenapa ini kok ada disini" hafka kaget saat melihat istrinya ada disitu, apalagi sedang meringis memegangi kakinya yang sakit. Hafka segera jongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan verli dan melihat kaki verli.

__ADS_1


"Kaki ku sakit mas, sepertinya terkilir bantu aku mas sakit" ringis verli yang sudah tak betah.


"Hafka buat apa kamu nolongin dia, pakingan juga caper tuh alias cari perhatian. Orang baru dikenal, dia itu tadi sudah membuatku jatuh biarin lah" celoteh perempuan itu.


"Aku gak sengaja tadi kan sudah minta maaf, tadi aku kesandung dan gak sengaja menabrak dia mas, beneran aku gak sengaja...auww" jelas verli sambil meringis.


"What!! Mas? Kalau ngomong itu yang sopan dong dia itu dokter disini, pegang-pegang pula. Hafka kamu aja disini selalu jaga jarak sama perempuan, ini malah kenapa nolongin dia sih" kesal perempuan itu.


"Dokter jihan seharusnya anda menolongnya bukan malah membiarkan kesakitan seperti ini, lalu gunanya apa profesi sebagai dokter kalau bukan untuk menolong orang yang dalam kesulitan. Apakah pantas anda disebut sebagai dokter? Menolong orang saja tak mau dan pilih-pilih" marah hafka.


"Ayo kita keruanganku dulu nanti kita lihat disana ya aku obati, setelah itu kita pulang" ucap hafka lembut.


"Hah pulang, kau mau mengantar dia pulang. Angin dari mana sampai kamu perhatian sama dia!!" celotehan jihan tak digubris sama hafka.


Tanpa basa basi hafka menggendong verli menuju ruangannya. Ia sudah tak mempedulikan jihan yang tadinya marah-marah dan tak suka hafka malah membela verli.


Jihan melongo saat melihat hafka menggendong verli. Padahal selama hafka kerja ia tak pernah dekat dengan perempuan bahkan menjaga jarak. Lah ini malah dengan mudahnya hafka menggendong verli.


"Dengar ya perempuan yang sudah kamu bentak dan kamu maki ini adalah ISTRIKU dengar itu" ucap hafka tegas saat melewati jihan. Sontak jihan kaget mendengar ucapan hafka, dia masih bengong beberapa saat sebelum tersadar dari lamunan.


Ia menoleh ke belakang melihat hafka yang sudah pergi bersama verli. Ia nampak kesal dan marah saat tau bahwa yang dioloknya tadi adalah istri hafka.


Jihan memang doktee yang bekerja dirumah sakit yang sama dengan hafka. Ia sejak awal hagka masuk sudah mengagumi bahkan sekarang ia cemburu bila hafka dekat dengan perempuan lain tapi malah sekarang tau kalau hafka sudah menikah. Rasanya kesal, marah, cemburu bercampur aduk. Faktanya jihan suka sama hafka tapi tak mau mengungkapkan rasa hatinya karna malu. Dan sekarang hatinya berasa dicambik-cambik sakit sekali.


"Kenapa? Kenapa malah kamu sudah menikah hafka, kalau tau begini aku gak akan menaruh hati padamu. Rasanya sakit, aku gak akan biarin dia bersamamu hafka" gumam jihan yang kesal sembari duduk lemas di kursi penunggu yang ada di sampingnya

__ADS_1


__ADS_2