
"Seharusnya kalian malu bukan malah mengumbar aib, ya dulu memang aku seperti kalian tidak tau arah jalan yang benar dan suka seenaknya sendiri, tapi Allah masih baik padaku memberi kesempatan untukku agar bisa memperbaiki diri lagi, memberi kesempatan hidup itulah yang aku manfaatkan dengan baik, memang kalian yakin besok masih bernafas?? pasti kalian tidak bisa menentukan dan menjawab bukan!!"
Kali ini benar-benar membuat radit dan fera diam tak berkutik, mana bisa ia menjawab pertanyaan verli, tapi karna ia tak mau kalah begitu saja jadinya radit asal menjawab tapi penuh penegasan. Para mahasiswa hanya bisa diam membisu karna yang diucapkan verli memang benar tidak ada salahnya. Kely tak kalah terkejut melihat sahabatnya yang dulu suka terpancing emosi bahkan tak segan-segan akan menghajar lawannya tapi sekarang dengan santainya verli membalas dengan kata-kata saja namun sangat menusuk hati.
"Hei ngaca dulu dong sebelum bicara, kita mah yakin masih bisa menghirup udara segar lah sedangkan kamu.....heh jalan aja gak bisa palingan juga sebentar lagi sekarat" jawab fera kesal dengan nada tinggi.
"Emang punya pahala berapa sih ceramahi orang, situ aja juga belum benar sok banget nasehati, ngaca dulu sana.....udah yuk kita pergi aja gak usah dengerin omongan si cac*t ini gak penting" ujar fera memegang tangan radit hendak pergi, kali ini verli membalas kembali dengan perkataan yang lebih pedas.
"Ow iya aku tiap hari ngaca kok banyak dirumah kaca besar, dan aku bukan sok nasehati kamu tapi hanya orang bodoh kalau dinasehati akan marah tapi kalau orang pintar pasti merenungi, kalau aku hanya diam saja sama aja seperti kamu..........orang meninggal itu gak nentuin umur sekali pun ia cac*t ataupun sekarat kalau belum waktunya pergi ya gak bakalan Allah memanggilnya, orang sehat aja bisa pergi kapan saja, jadi jangan sombong dengan kesehatan dan kemehawanmu toh nanti dikubur juga gak bawa apapun emang ada orang mati bawa perhiasan, atau bawa ini kekasihmu!!!! PASTI TIDAK BUKAN!!" Ucap verli santai penuh penegasan.
Radit menarik tangan fera menjauh dari veeli karna tak ingin mendengar omelan verli lagi karna telinganya sudah panas. Apalagi mahasiswa disana menatap mereka berdua dengan sorotan yang tajam. Tak ingin mempermalukan dirinya sendiri radit memilih pergi keluar dari area kampus. Sedangkan kely snagat bangga dengan sahabatnya itu, dengan santainya verli bisa membuat mereka pergi dengan sendirinya tanpa harus mereka minta.
[ternyata pintar juga ya si verli, jadi merasa malu]
[Dia yang baru berubah bisa membuat kita tertohok ini hati, jadi ngerasa sendiri]
[benar apa yang dikatakannya, seharusnya kita lebih bersyukur]
[Iya betul, merasa tertampar sendiri]
Begitu lah para mahasiswa membicarakan verli dan dirinya sendiri, bagaimana tidak verli yang terkenal nakal dan bandel bisa berubah dengan bijak seperti itu. Mereka awalnya mencibir dan ada juga yang menghina tapi setelah mendengar kata-kata verli seketika mereka diam membisu.
...Ω♡Ω♡Ω♡Ω♡Ω♡Ω♡Ω...
__ADS_1
Hafka tengah mengajar para santri mengenai aqidah dan perilaku yang benar saat dikehidupan sehari-hari, apa saja yang boleh dilakukan dan tidak boleh dikerjakan, lalu diakhiri dengan tebak-tebakan seputar tentang nabi dan rasul.
Santriwati juga tengah belajar sekarang dengan ustadzah haidah, ia juga sudah lama mengajar di pesantren bersama ustadz devan dan hafka. Namun karna hafka harus melanjutkan impiannya jadi tinggal lah ustadz devan dan ustadzah haidah, ada juga pembimbing yang lain namun yang amat disegani adalah mereka bertiga.
Hafka sekarang berada dihalaman depan pesantren duduk dibawah pohon rindang yang biasa ditempati para santri untuk belajar ataupun bersantai. Tak jauh ustadz devan menghampiri hafka lalu duduk disampingnya.
Ustadz devan memandang hafka sedang memikirkan sesuatu, sampai tak melihat kedatangannya. Sampai ustadz devan mengucapkan salam barulah hafka tersadar dari lamunannya.
"Ya Allah maaf van aku gak tau kalau kamu ada disini" ujar hafka.
"Mikirin apa sih sampai aku datang aja gak tau bahkan sampai terkejut saat aku duduk"
"Gak ada kok, cuma memandangi langit tuh cerah banget hari ini" kata hafka berbohong.
"Gak ada van, kamu ini kalau sama aku curigaan mulu" ketus hafka.
"Halah ya sudah lah, eh iya afka kamu balik kapan ke kota?"
"Dua hari lagi aku akan balik karna cutiku sudah berakhir, nanti kalau ada kesempatan libur lagi pasti aku akan pulang"
"Iya jangan lama-lama, aku sendirian loh gak ada temen bicara sepi jadinya" curhat devan.
"Ohh ya ka.....kamu gak ada niatan gitu untuk nikah? secara kan umurmu udah matang buat berumah tangga"
__ADS_1
"Gak ada calonnya, nanti aja pasti ada saatnya sendiri" jawba hafka.
"Itu ustadzah haidah masih jomblo loh gak ada yang meminang kenapa gak kamu pinang saja" ucap devan membiat hafka melengos ke arahnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Kamu aja sana kenapa malah aku, cinta itu gak bisa dibohongi kalau aku gak cinta ya masak dipaksakan begitu saja nanti malah gak harmonis yang ada malah gak ada kecocokan" jelas hafka.
"Mendingan kamu aja yang meminang bukannya kami sudah lama ingin meminang ustadzah haidah kenapa sekarang ditimpal ke aku"
"Dia bukan jodohku ka, ustadzah haidah sepertinya menaruh harap padamu walaupun gak pernah melirik kamu"
Sebenarnya ustadzah haidah memang menaruh harap pada hafka, tapi hafka tidak ada rasa apapun pada ustadzah haidah. Malahan devan lah yang menyukai ustadzah haidah tapi masih takut untuk meminang, takut ditolak karna hatinya bukan utnuk devan melainkan untuk hafka. Itu membuat nyalinya menciut, bukan malah memperjuangkan malah nyuruh hafka meminangnya.
"Mending kejar deh dari pada direbut orang nanti kamu nyesel loh, aku cuma menganggap ustadzah haidah itu sebagai teman ngajar aja gak lebih, dia cocok dengamu bukan denganku" hafka menjelaskan isi hatinya.
"Hatinya bukan buatku afka......melainkan untukmu aku gak mau membangun rumah tangga yang satunya tidak ada dasar cinta, nanti malah menyakiti yang lain."
"Tikung lah disepertiga malam, minta sama Allah yang terbaik, Allah maha membolak- balikkan hati seseorang bisa saja sekarang tidak tapi nanti pasti bisa kok, kuncinya hanya berdoa minta yang terbaik, aku percaya sama kamu devan" nasihat hafka.
"Makasih ka, aku akan lakukan apa yang kamu minta, doakan ya semoga jodohku adalah dia"
"Pasti aku akan mendoakan yang terbaik untukmu" jawab hafka tersenyum sembari menepuk pundak devan.
Lama bercerita mereka menyudahi obrolan dan pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat dhuhur berjama'ah. Setelah dari masjid devan kembali kerumahnya dan nanti akan kembali saat sore untuk mengajar mengaji lagi. Sedangkan hafka berada di kamarnya memandangi layar hanphone yang menyala, sampai ada yang memanggilnya untuk makan siang karna ia belum sempet makan siang tadi.
__ADS_1