CINTA DISEPERTIGA MALAM

CINTA DISEPERTIGA MALAM
BAB 85. DIAM


__ADS_3

"Pergi sana sebelum kemarahanku memuncak" marah Kely.


Tanpa basa basi Fera pergi dengan rasa marah dan akan membalas perlakuan Kely tplerhadapnya. Fera datang sebenarnya tidak sendiri namun bersama Radit, namun Fera berjalan-jalan sebentar karna Radit masih di mobil mengambil sesuatu. Akhirnya tak sengaja melihat Kely bersama Verli hanya berdua lalu nyamperin mereka.


"Kely mau apa dengan Fera, kenapa dia bisa mengancamnya begitu. Apa Kely tau sesuatu" batin Verli yang melihat tatapan tajam dari sahabatnya terhadap Fera.


Tak lama Hafka datang lalu disusul oleh Alif. Mereka melanjutkan perbincangan, Verli meminta Kely untuk menyembunyikan kejadian barusan agar sang suami tidak khawatir. Berat untuk Kely menuruti kemauan sahabatnya tapi karna ia menghargai Verli jadi terpaksa Kely menuruti kemauannya.


Setelah dirasa cukup pertemuan mereka, Hafka pamit untuk pulang. Alif pun juga akan pulang, pada akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing.


Sepanjang perjalanan Verli hanya diam memikirkan kejadian tadi. Hafka jadi bingung dengan sikap diam istrinya. Padahal beberapa menit yang lalu mereka bercanda tawa bersama dan sekarang malah suasana menjadi hening.


Sementara Kely yang tidak bisa tinggal diam melihat sahabatnya di hina dan dicaci maki memutuskan untuk mengadu kepada Alif. Perasaannya geram dengan sikap Fera yang semena-mena.


"Kenapa ada yang ingin kamu katakan?" tanya Alif tanpa Kely berbicara dulu ia sudah mengetahui jika istrinya ingin mengatakan sesuatu.


"Iya, tadi saat kamu pergi ke toilet dan Hafka beli minum, aku dan Verli dihampiri oleh Fera istrinya mantan kekasih Verli. Dia menghina dan mengolok-olok Verli, rasanya geram aku ingin mengatakan pada Hafka tapi malah dicegah oleh Verli" jelasnya dengan raut wajah kesal dan juga marah.


"Kok bisa sampai begitu, ada masalah apa Verli dengan Fera, kan itu hanya masa lalu bukan!!" jawab Radit.


"Panjang ceritanya kenapa Fera bisa membenci Verli" Pada akhirnya Kely menceritakan semuanya yang terjadi alasan Fera membenci Verli dan setiap kali bertemu pasti ucapan hinaan yang keluar dari mulut pedas Fera.


Alif mendengarkan dengan seksama sambil menyetir. Kely menceritakan tanpa ada yang ditutup-tutupi. Karna ia tak mau menyembunyikan apapun dari suaminya.


"Yang salah kan memang mantannya Verli dari awal tapi impasnya malah ke Verli, sepertinya Fera gak main-main dengan apa yang dia katakan jadi kamu dan Verli harus lebih hati-hati lagi" ucap Alif yang mulai khawatir karna tak ingin ada sesuatu yang menimpa sang istri.


"Iya dan satu lagi rahasia yang aku sembunyikan...."


"Rahasia apa?" tanya Alif penasaran lalu menepikan mobilnya agar mereka leluasa berbicara.


"Huufh" Kely menarik nafas panjang. "Dalang kecelakaan Verli beberapa bulan yang lalu saat sebelum Verli menikah dengan Hafka, semua itu atas dasar kelicikan Radit dan semua itu sudah ada buktinya bahkan bukti itu aku yang merekamnya sendiri" jelas Kely membuat Alif melongo dengan ucapan istrinya.

__ADS_1


Ia tak menyangka bahwa ada kekasih yang tega dengan pasangannya sendiri. Rasanya geram Alif ingin melaporkan ke polisi. Ia pun meminta Kely memutarkan bukti yang didapatnya. Kely pun membuka hanphone dan mencari rekaman vidio yang dulu pernah ia rekam sendiri dengan tangannya.


Ia selalu menyimpan bukti itu rapat-rapat bahkan tidak hanya di hanphone saja melainkan ada juga di flasdisk dan laptopnya, intinya bukti itu tidak hanya disimpan di satu titik saja untuk berjaga-jaga kalau dihanphonenya hilang. Kely segera memutarkan rekaman perbincangan antara Radit dan Fera yang tak disadari oleh mereka.


Alif mendelik kesal melihat sepasang suami istri yang sama-sama licik. Ia meminta Kely untuk membawa bukti itu ke kantor polisi agar segera menangkap Radit. Namun Kely diam sebab sebelumnya juga ia ingin melaporkan itu tapi dicegah oleh Verli.


"Tapi ini tetap tidak bisa di diamkan begini, mereka tidak akan pernah jera dan akan terus mengganggu kamu terutama Verli. Kamu tenang saja ada aku, kita lapor sama-sama jangan takut" ucap Alif menghadap ke arah Kely sambil memegang tangan istrinya.


"Sepertinya jangan dulu karna aku tau Fera masih ada rencana untuk balas dendam kepada Verli jadi aku ingin mendapat bukti itu sebelum dia mencelakai Verli duluan, besok kita pergi aku ingin mencari bukti lebih dalam lagi" pungkas Kely lalu mengajak Alif untuk pulang.


Alif mengiyakan ucapan Kely. Ali menyalakan mesin mobilnya lalu melaju untuk kembali pulang. Kely sengaja tak memberi tau Verli dulu karna sudah pasti dia akan menolak jadi lebih baik Kely cari tau sendiri dulu dan mengumpulkan semua bukti.


🌻🌻🌻


Sesampainya dirumah Verli tetap tak banyak bicara. Ia langsung masuk ke dalam rumah setelah turun dari mobil. Bergegas Verli ke kamar agar tidak bertatapan dengan Nadin atau pun kakaknya.


Hafka jadi bingung dengan tingkah laku istrinya yang aneh. Sejak perjalanan hanya membisu tanpa banyak bicara. Ia segera menyusul ke dalam kamar untuk menanyakan penyebab diamnya Verli. Agar ia tau sendiri dengan sikap Verli seperti itu apa karna dirinya atau karna hal lain.


Di dalam kamar Hafka tak menemukan istrinya. Ternyata setelah dicari Verli ada di kamar mandi. Beberapa saat Verli ke luar, lalau Hafka nyamperin istrinya. Mereka akhirnya duduk berdua di ranjang. Verli tetap disikap diamnya, entah apa yang dipikirkan olehnya.


"Enggak mas, aku gak pa-pa kok. Mas Hafka gak ada salah sama aku" jawab Verli tanpa menoleh ke arah suaminya.


"Lalu apa penyebab diam mu dari tadi, padahal saat bertemu Alif dan kely kamu masih tertawa tapi saat jalan pulang udah diem aja" ucap Hafka.


"Apa perlu aku cerita semuanya sama Mas Hafka, tapi mau cerita bagaimana toh itu sudah masa lalu, kalau gak cerita juga pasti salah" batin Verli bertengkar dengan pikirannya sendiri.


"Hey kok malah melamun, ditanya suami itu jawab dek" tutur Hafka sembari menggoyang-goyangkan tangannya di depan wajah Verli agar tersadar dari lamunan.


"Ma-maaf mas, aku gak bermaksud untuk mendiami mas. Aku gak pa-pa kok" jawab Verli terbata-bata.


"Kunci rumah tangga harmonis itu salah satunya adalah saling terbuka dan jujur, jangan pernah menyembunyikan atau berbohong sama suami gak baik. Sekarang cerita ada apa mas tau kamu menyembunyikan sesuatu" sahut Hafka mendesak Verli agar mau berbagi cerita dengannya dan tidak menyembunyikan apapun darinya.

__ADS_1


Namun Verli hanya diam membisu saat Hafka berbicara dengannya. Ia bergelut dengan pikirannya sendiri, rasa bingung menyelimuti dirinya. Karna tak ada jawaban dari istrinya, Hafka merasa tak dihargai. Ia pun beranjak pergi meninggalkan Verli sendiri di kamar.


Saat Hafka sudah pergi, Verli jadi merasa dengan suaminya sendiri karna berbohong dan tidak jujur. Seketika itu Verli beranjak dan mengejar Hafka yang sudah pergi dari kamar. Entah kemana perginya Hafka. Verli tetap mencari di sekeliling rumah sampai di ruang tamu ia berpapasan dengan Nadin. Lantas Verli bertanya keberadaan Hafka. Nadin memberi tau jika Hafka berada di halaman belakang.


Tanpa pikir panjang Verli segera menyusul Hafka ke halaman belakang. Nadin merasa ada yang aneh dengan anak dan menantunya.


"Semoga tidak ada apa-apa deh sama mereka berdua" gumam Nadin lalu pergi ke kamarnya.


Di halaman belakang Hafka sedang menenangkan pikirannya. Ia merasa istrinya menyembunyikan sesuatu namun tak mau jujur dengannya. Hafka sengaja pergi begitu saja, memberi ruang untuk Verli dan juga dirinya sendiri.


Dari samping Verli datang mendekati suaminya yang sedang duduk sendirian. Ia memanggil nama Hafka tapi suaminya cuek tak ada respon. Verli pun jadi merasa bersalah dan tau titik kesalahannya. Ia tetap berdiri untuk menghargai Hafka takut suaminya juga risih. Pasti Hafka marah sekaligus kecewa.


"Maaf aku gak bermaksud untuk tidak jujur, maafkan aku mas" ucap Verli lirih penuh penyesalan sembari menunduk.


Hafka tetap diam tak menunjukkan respon apapun. Ia ingin tau apalagi yang ingin dikatakan oleh sang istri.


"Tolong maafkan aku mas, jangan cuekin aku begini, aku benar-benar minta maaf" ujarnya tetap menunduk tanpa disangka air bening keluar di kelopak matanya. Ia bergegas menghapus air mata itu agar tidak diketahui oleh Hafka. Tanpa disangka Hafka sebenarnya sudah tau jika istrinya menangis.


Karna Hafka tak tega melihat sang istri menangis, ia pun menyuruh Verli duduk disampingnya.


"Duduklah...." kata Hafka tanpa menoleh ke arah Verli.


Verli pun duduk setelah mendapat izin dari suaminya. Tanpa melihat Hafka, ia setia menunduk. Tanpa diminta Hafka menghapus air mata Verli dengan tangannya. Lantas Verli mendongak melihat Hafka yang tersenyum kecil ke arahnya.


"Jangan menangis, aku sudah memaafkan tanpa kamu minta" tutur Hafka.


Verli pun tersenyum dan langsung memeluk suaminya. Ia jadi makin merasa bersalah, dengan mudahnya Hafka memaafkan kesalahannya tapi dirinya sendiri dengan tega tak mau jujur. Hafka menerima pelukan Verli dengan lembut, walau pun awalnya kecewa tapi ia berusaha untuk tidak marah atau pun kasar.


"Jangan diulang, apapun masalah kamu ceritalah kalau memang kamu menganggap suami mu ini ada" tutur Hafka sembari menatap Verli yang mulai merenggangkan pelukannya dan berganti posisi menatap suaminya.


"Jangan bicara seperti itu, aku benar-benar minta maaf, lain kali enggak lagi deh" ucap Verli dengan menunduk.

__ADS_1


"Iya, sekarang ceritalah jangan ada rahasia diantara kita!" kata Hafka tegas.


Verli tak tau harus cerita dari mana dan bagaimana. Sekuat tenaga Verli tak membenci Radit maupun Fera walau pun sudah berbuat jahat padanya. Tapi kalau suaminya tau sudah dipastikan Hafka akan melaporkan ke polisi atas kejahatan yang dilakukan Radit.


__ADS_2