CINTA DISEPERTIGA MALAM

CINTA DISEPERTIGA MALAM
BAB 92. JAWABAN DARI ISTIKHARAH


__ADS_3

Sebelum kepulangan Frisko dan orang tuanya. Verli berbicara empat mata dengan Frisko tentang masa depan kakaknya dan cinta yang harus diperjuangkan.


Verli sangat ingin kakaknya menikah dengan Aina. Itu pun jika Aina setuju untuk menerima lamaran Frisko. Bukan masalah diterima atau enggaknya sih tapi Frisko yang merasa tidak pantas bersanding dengan Aina. Sehingga membuat dia menyakiti hatinya sendiri dengan memendam rasa yang sudah tumbuh dihatinya.


"Ayolah kak, masalah itu jangan dipikirkan. Aina itu wanita shalihah, dia pasti mau diajak untuk sama-sama belajar dalam kebaikan. Jangan gampang menyerah sebelum mencoba. Mana kakak tau kalau tidak dicoba dulu, diterima atau enggaknya ya masalah nanti. Lelaki seorang CEO kok cemen banget, mengutarakan isi hati saja susah, bagaimana mau dapat cinta sejati kalau gitu" desak Verli agar Frisko memperjuangkan cintanya.


"Huufh, kamu benar dek......baiklah kakak akan mencoba untuk melamar Aina. Tapi...." Frisko masih ragu dengan keputusan yang diambilnya.


"Halah gak usah tapi...tapi...terus. Dikasih tapi terua ya gak selesai-selesai. Jentel dikit gitu loh, dih cemen banget sih" gerutu Verli yang kesal. Dia ingin memperjuangkan agar kakaknya bisa bersatu dengan pujaan hati. Tapi malah Friako sendiri tidak mau untuk memperjuangkan itu. Terasa sia-sia bagi Verli.


"Iya iya.....tapi kakak gak tau rumah dia dan bagaimana ngomong awalnya" seolah ngebleng sekarang pikiran Frisko. Padahal tinggal mengutarakan niat baiknya bukan untuk macam-macam tapi kenapa terasa susah sekali bagi Frisko.


"Hadeh....." Verli sampai tepok jidat harus mengurusi sang kakak yang membuat dia pusing juga. "Tinggal ngomong saja apa susahnya sih. Eh sekalian itu mumpung ada papa dan mama untuk minta restu. Di sini juga ada abi dan ummi biar mereka mendampingi Aina untuk sekarang." saran Verli.


"Ya sudah ayo. Kakak juga gak bisa kalau hanya diam saja, nanti keburu diambil orang lain"


"Lah itu tau. Tenang saja Aina itu perempuan yang bisa menerima apa adanya, dia tidak akan memilih-milih dalam berpasangan"


Akhirnya Verli mengantar Frisko untuk menemui orang tuanya yang masih mengobrol santai sebelum pulang. Niatnya sebentar lagi akan pulang tapi Frisko ingin mengutarakan apa yang memang seharusnya dia katakan.


Kebetulan Aina juga baru kembali dari pesantren setelah tadi dia balik untuk ke asrama untuk mengambil sesuatu. Lagi-lagi tatapan Frisko melihat Aina yang sedang mengobrol dengan Kely dan Tia. Sebenarnya Aina tau kalau sejak tadi dia ditatap oleh Frisko. Dia mencoba untuk pura-pura tidak tau saja dan meneruskan obrolannya dengan kedua sahabatnya.


Frisko mengalihkan tatapannya dari Aina. Ia menetralkan hatinya untuk siap membicarakan apa yang ingin dia utarakan.


Frisko mulai berbicara dengan kedua orang tuanya. Mereka hanya berbicara bertiga saja. Setelah itu mereka kembali dan menyampaikan niat Frisko kepada abi Yusuf. Sungguh abi Yusuf senang tapi belum tentu dengan Aina mau menerima Frisko apa tidak. Lantas kyai Yusuf meminta istrinya ummi Halimah untuk memanggil Aina agar bergabung bersama mereka.


Ummi Halimah memanggil Aina untuk duduk bersama diruang tersebut, ada Frisko, orang tuanya juga abi Yusuf dan Ummi Halimah. Verli dan Hafka juga ikut bergabung. Mereka mengobrol bersama. Aina merasa bingung kenapa dia harus dipanggil untuk berkumpul bersama. Apalagi jika harus berada satu lingkup dengan Frisko. Entah hatinya tak karuan saat dekat dengan Frisko.


"Nak Aina..."


"Nggih kyai?" jawab Aina sopan sambik menunduk.

__ADS_1


"Nak Frisko silahkan mengutaran niat anda kepada nak Aina. Disini saya hanya sebagai perantara selebihnya jawaban saya serahkan kepada nak Aina" ucap kyai Yusuf.


"Nggih kyai...." jawab Frisko.


Ia pun melihat Aina yang tertunduk. Bibirnya kaku untuk mengutarakannya. Padahal orang sang pujaan hati sudah ada didepannya tinggal mengutarakan saja susah.


"Saya ingin melamar Aina sebagai pendamping hidup saya. Harapan saya Aina mau menerima lamaran saya. Mungkin ini dibisa dikatakan mendadak apalagi buat Aina sendiri. Tapi saya tidak mau membuat dosa untuk diri saya sendiri mau pun Aina." ucap Frisko sedikit gugup. Entah bisikan dari mana sehingga dia bisa lantang mengutarakan niatnya.


Aina merasa terkejut dengan lamaran dadakan tersebut. Apalagi dia baru saja bertemu dengan Frisko. Susah baginya untuk menentukan dan menjawab sekarang. Ia tau Frisko kakak dari sahabatnya, tapu hati mana ada yang bisa menentukan.


Sekarang Frisko dan yang lainnya sedang menunggu jawaban dari Aina. Verli berharap Aina mau menerima lamaran dari kakaknya. Ia tau dilubuk hati Aina sudah ada cinta kepada Frisko tapi belum sepenuhnya.


Aina tertunduk bingung harus menjawab apa. Hatinya gunda gulana dilamar dadakan oleh Frisko tanpa persiapan. Jelas lah mana ada lamaran bilang-bilang dulu, kecuali kalau sudah lama kenal.


"Beri saya waktu untuk menentukan jawabannya. Saya ingin shalat istikharah terlebih dahulu." jawab Aina.


Ia tak mau mengambil keputusan dengan terburu-buru. Dia ingin mencurahkan dulu kepada Allah dan ingin meminta jawaban dari-Nya. Karna pernikahan itu untuk seumur hidup bukan hanya satu tahun maupun dua tahun. Jadi dia ingin mendapat pasangan yang sesuai dan tidak salah memilih.


"Satu minggu......nanti saya akan menjawab diakhir minggu ini"


"Bagus nak. Memang seharusnya kamu membagi ini dengan Allah. Mintalah jawaban dari-Nya, tentukan dengan hati terdalam dan dengan kematangan yang sudah kamu pikirkan. Semoga apapun jawaban darimu itu yang terbaik buat kalian." ucap abi Yusuf.


"Nggih kyai" jawab Aina.


**


**


**


Satu minggu berlalu.

__ADS_1


Setiap hari Aina selalu shalat meminta petunjuk kepada Allah. Tak pernah satu pun malam yang terlewat untuk Aina bersujud. Dengan waktu yang ada, dia gunakan untuk berdoa. Hatinya galau dan was-was.


Aina sudah mendapat jawaban dari shalatnya. Dan berharap nanti jawaban yang dia berikan semoga itu yang terbaik. Itu adalah hasil dari setiap sujudnya, disetiap shalat yang dia jalani untuk meminta petunjuk.


Tiba hari ini Frisko kembali ke pesantren untuk mendengar jawaban dari Aina. Dia berharap jawaban yang diberikan oleh Aina tidak akan mematahkan hatinya. Frisko berangkat bersama kedua orang tuanya menuju pesantren. Bahkan dia sudah menyiapkan cincin untuk nanti dipakaikan di jari manis Aina.


Setelah sampai disana mereka berkumpul dirumah utama milik kyai Yusuf. Ada Aina dan Verli juga Hafka. Mereka semua berkumpul untuk mendengar jawaban dari Aina. Verli terus berdoa agar nanti harapannya akan bisa dijawab oleh Aina.


Aina menyatukan kedua tangannya dibalik hijab besarnya. Dia sudah meyakinkan hatinya sendiri atas jawaban yang nanti akan dilontarkan. Hatinya dag dig dug dan gugup untuk mengucapkan. Semua orang sudah menunggu Aina untuk membuka suara.


Dalam hati Aina, dia menghela nafas panjang dan berdoa. "Bismillah semoga ini yang terbaik dan ini atas jawaban-Mu ya Allah" batin Aina dalam hati.


"Bagaimana nak Aina apakah kamu sudah menentukan jawabannya? Bagaimana hasil dari shalat istikharahmu?" tanya kyai Yusuf.


"Semoga ini yang terbaik dan yang Allah takdirkan untukku mau pun untuk kak Frisko. Saya menerima lamaran dari Kak Frisko" jawab Aina.


Bak angin yang menyejukkan bagi hati Frisko sekarang. Dia bisa bernafas lega dan mengucap syukur mendengar jawaban dari Aina. Terlebih Verli yang juga ikut bahagia mendengar Aina menerima lamaran dari Frisko. Mereka semua mengucap syukur alhamdulillah.


Pernikahan pun akan dilaksanalan secepatnya agar tidak menunggu lama-lama. Kyai Yusuf akan mendampingi Aina saat pernikahan nanti. Karna Aina tak mempunyai siapa-siapa lagi, keluarganya sekarang adalah orang-orang yang berada dipesantren. Dua bulan yang lalu ibunya meninggal sehingga sekarang Aina tidak mempunyai siapa-siapa.


Setelah pertemuan itu selesai dan acara pernikahan sudah ditentukan hari ini juga. Pernikahan akan digelar dipesantren dengan sederhana, itu lah kemauan Aina yang dikabulkan oleh Frisko. Baginya yang terpenting sah, tak perlu mewah juga tak apa. Aina sekarang sedang bersama Verli bertemu dengan Frisko sebelum kepulangannya. Verli menemani Aina untuk berbicara dengan Frisko.


Aina ingin menanyakan beberapa pertanyaan kepada Frisko untuk meyakinkan hatinya menerima Frisko sebagai suaminya. Verli juga ikut duduk disamping Aina. Jarak mereka agak berjauhan untuk menjaga jarak. Verli hanya mendengarkan saja tanpa mau berbicara karna tugasnya disitu hanya menemani.


"Apa yang membuat kak Frisko mau menjadikan saya sebagia istri anda? Padahal anda baru mengenal saya bahkan tak pernah melihat wajah saya? Bagaimana kalau wajah saya jelek, kusut, jerawan dan tidak sesuai dengan pemikiran anda" pertanyaan bertubi-tubi ditanyakan oleh Aina tanpa jeda.


Frisko hanya tersenyum menatap ke depan mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Aina. "Aku juga tidak tau, awal bertemu denganmu hatiku sudah tertarik melihatmu. Aku memang tidak pernah melihat wajahmu tapi aku bisa melihat hatimu. Kecantikan bukan masalah bagiku, karna aku bukan mencari istri yang cantik melainkan istri yang baik. Dan kamu orang yang tepat untuk menjadi pendamping hidupku" jawab Frisko santai.


Kini dia sudah bisa bersikap santai dan bijak dalam berbicara. Dia juga mulai belajar untuk menjadi imam yang baik.


Aina hanya mendengarkan jawaban dari calon suaminya itu. Dia terdiam sejenak dan bergelayut dengan pemikirannya sendiri. "Saya juga bukan orang kaya dan saya hanya anak yatim piatu. Apa yang menarik hati anda untuk menyukai saya?" Aina kembali melontarkan pertanyaan kepada Frisko dan kembali dijawab seadanya sesuai hati Frisko.

__ADS_1


__ADS_2