
Verli kembali ke apartemen bersama hafka setelah dari mall. Sepanjang jangan sunyi senyap tak ada sepatah kata pun yang kekuar dari mereka berdua. Entahlah verli memikirkan perbuatannya tadi waktu dimall. Padahal baru dua hari menikah tapi udah seperti berminggu-minggu.
Ia jadi malu sendiri dengan sikapnya tadi. Tanpa ragu menggoda hafka dan malah ditinggalin.
("Kayak bocah aja deh aku, tadi aku kenapa ya.....ampun dah jadi canggung gini sih, tapi gak apa kan, dia juga suamiku sendiri" gumam verli dalam hati.)
"Dek kenapa bengong, capek ya!!" Ucap hafka membuat verli menoleh ke arahnya.
"Eng-enggak kok, hmm nanti jadi ke rumah ayah kan?"
"Iya lah kan sudah janji tadi"
Verli mengangguk ngerti.
"Dek besok aku harus balik ke pesantren, masa cuti ku sudah habis....aku gak bisa ninggalin kerja terus-terusan, kamu kalau masih ada kuliah disini lanjutin dulu aku izinin tapi hanya seminggu saja gak lebih" jelas hafka sambil terus fokus menyetir.
"Harus besok ya mas!!"
"Iya aku gak bisa ambil cuti lama-lama kasihan pasienku" kata hafka.
"Hmm....kamu gak bisa pindah kerja disini lagi biar aku dekat dengan kampus"
"Ya gak bisa dong dek, aku baru saja pindah masak harus pindah lagi, itu semua juga perlu persetujuan gak bisa main pindah-pindah aja" jawab hafka.
Verli diam karna tak mungkin ia memaksa hafka. Verli juga harus mengerti dan paham. Hafka juga tak melarang verli untuk kuliah walau pun tanpa ada dia disampingnya. Tapi buat verli itu masalah, karna tugasnya sekarang adalah mengurus hafka dan melayani dia jika butuh sesuatu, jadi tak mungkin verli jauh-jauh dari hafka.
Hafka tak mendengar suara atau pun jawaban dari verli. Ia menoleh sekilas ke arah verli yang sedang menunduk dan hanya sekilas melihat keluar jendela. Hafka meminggirkan mobilnya dan berhenti.
"Kok berhenti?" tanya verli heran.
"Kamu kenapa kok mukanya muram gitu, aku gak ngelarang kamu kok buat kuliah lanjutin aja" kata hafka.
"Bukan masalah itu mas....statusku sekarang adalah seorang istri mana mungkin aku harus jauh-jauh dari kamu....bagaimana aku bisa menjalankan tugasku sebagai seorang istri kalau kamu saja disana sedangkan aku disini" Ujarnya.
"Hanya seminggu saja kan, aku memberi waktu seminggu gak lebih setelah itu kamu kembali ke pesantren" papar hafka.
"Walau pun hanya seminggu tetap aja mas" protes verli.
"Terus mau kamu bagaimana!! Mau ikut pulang ke pesantren?" Tanya hafka.
"Aku juga bingung......"
__ADS_1
"Lima hari aja bagaimana?" tawar hafka.
"Ya udah lima hari setelah itu aku akan pulang ke pesantren"
"Kamu tinggal dirumah mama saja ya jangan diapartemen sendirian"
"Iya mas besok setelah kamu berangkat sepulang kuliah aku akan ke rumah mama......eh gak usah deh mas aku nginep dirumah ayah aja sekalian dekatin diri" akhir keputusan verli.
"Baiklah terserah kamu saja, kita pulang sekarang ya"
Verli menjawab dengan anggukan. Hafka menyalakan mesin mobilnya dan melanjutkan perjalanan pulang. Verli pasrah saja karna ia tak mungkin meninggalkan kuliahnya lagi, sebentar lagi tinggal skripsi tapi verli tertinggal banyak mata kuliah. Jadi verli harus menyusul mata kuliah yang tertinggal.
☆o☆o☆o☆o☆
Sorenya mereka pergi ke rumah ayah verli sebelum besok hafka kembali ke pesantren. Sepanjang jalan mereka sama-sama diam hanya terdengar suara mesin kendaraan berlalu-lalang.
Sampai dirumah mertuanya hafka turun dan membukakan pintu untuk verli. Mereka berjalan beriringan, diambang pintu sudah ada dokter brisma dan ibunya. Verli mencium tangan ayah dan neneknya bergantian begitupun dengan hafka.
Ini kedua kali hafka menginjakkan kaki di rumah mertuanya. Hafka dan verli duduk disofa. Dokter brisma terlihat senang melihat verli bahagia bersama hafka. Beruntungnya ia bisa melihat anaknya dan menjadi wali nikah untuknya.
Verli mau meminta izin sama ayahnya kalau diperbolehkan nginep disini dua hari saja dan sisanya verli akan tinggal sama mamanya. Hafka juga mau pamitan untuk kembali ke pesantren dan ia juga akan menitipkan verli disini.
"Yah hafka nitip verli disini untuk beberapa hari saja, karna aku harus kembali ke pesantren besok, masa cutiku sudah habis....verli gak ikut karna masih ada kuliah disini cuma lima hari saja, setelah itu verli akan pulang ke pesantren" Jelas hafka.
"Boleh lah....boleh banget malahan, kamu mau tinggal disini terserah kamu nak ayah gak masalah" jawab dokter brisma tersenyum lebar.
"Gak pa-pa kalau kamu ingin tinggal disini, omah juga ingin dekat dengan kamu" kata bu rena, ibunya dokter brisma.
"Terima kasih ayah, omah.." ujar verli senang.
Dok ter brisma sampai lupa kalau ingin memberi tau hasil pemeriksaan verli tadi. Ia pergi mengambil sesuatu di meja kerja dan membawanya ke ruang tamu.
Ia memberikan hasilnya pada hafka dan verli untuk dilihat. Hafka tentu mengerti beda dengan istrinya yang tak paham tentang medis.
Kemudian dokter brisma menjelaskan kepada verli secara detail sehingga putinya bisa memahami. Dokter brisma juga memperlihatkan bagian tulang verli yang dulunya retak bahkan bisa dibilang sangat parah tapi sekarang sudah kembali normal walau pun belum keseluruhan.
Dan untuk bagian pergelangan tangan verli sudah bisa lepas gifnya karna sudah baik. Ini sungguh diluar dugaan dokter brisma dan hafka. Awal pemeriksaan bahkan hafka sempat menangani verli sebentar, ia melihat hasilnya sangat memprihatinkan. Kemungkinan sembuh saja sangat kecil tapi hasil yang sekarang sangat membuat mereka senang.
"Ini sungguh diluar menset ayah nak, ini keajaiban dari Allah, kamu harus banyak-banyak bersyukur.....Tinggal pemulihan saja setelah itu kamu bisa kembali normal seperti dulu" papar dokter brisma.
"Sungguh Allah masih sayang padamu, lihat kan sekarang keajaiban datang kepadamu" ucap hafka.
__ADS_1
"Iya aku beruntung dan sangat bersyukur, Allah memperlihatkan kuasa-Nya yang seperti ini contohnya" jawab verli gembira.
"Alhamdulillah"
Mereka semua berbahagia bersama melihat kebahagiaan diraut wajah verli. Verli akan memberi tau sama mama dan papanya dirumah. Mereka harus tau kabar gembira ini karna itu yang nadin dan safren inginkan melihat verli bahagia dan kembali beraktivitas seperti sediakala.
~♥~♥~♥~♥~♥~
Keesokan paginya.
Hafka dan verli sudah rapi dan sudah sarapan juga. Hafka selalu kangen dengan masakan verli apalagi habis ini jauh dari verli.
Hafka akan mengantar verli terlebih dahulu ke kampus sebelum dirinya berangkat. Rasanya sangat berat untuk verli jauh dari hafka entah kenapa. Ia mencium tangan hafka dengan lembut dan dibalas hafka dengan mengecup kening verli.
Verli masih belum beranjak dari tempatnya. Hafka pun menyuruh verli untuk segera masuk ke dalam. Tapi seolah ia menulikan telinganya.
"Dek...!!"
"Dek...!!" sampai dua kali tapi verli tidak menjawab.
"Dek, kamu kenapa malah bengong" kesal hafka.
Verli terkejut dan sadar dari lamunannya. Ia pun menkawab hafka dengan gelagapan.
"Iya mas kenapa?" tanya verli yang bingung.
"Ya ampun dek ngapain masih duduk gak turun? Katanya ada kelas pagi, malah bengong" tegur hafka.
"Ow iya...aku masuk dulu mas, jangan matikan hanphonenya nanti telfon kalau sudah sampai ya" kata verli.
"Iya kamu tenang aja"
"Hati-hati dijalan ya, assalamualaikum"
"Wa'alaikumussalam"
Verli masuk ke dalam, hafka masih setia melihat punggung istrinya yang semakin lama semakin hilang. Ia pun melajukan mobilnya menelusuri jalan yang penuh keramaian. Sambil melantunkan shalawat sepanjang perjalanan untuk mengusir kesepiannya.
Sedangkan verli sudah berjalan dikoridor menuju kelasnya. Dari belakang kely meneriaki memanggil nama verli. Verli pun menoleh dan mendapati kely yang langsung merangkul pundak verli.
Mereka pun masuk bersama dan mengikuti mata kuliah sampai selesai. Hari ini ada dua mata kuliah yang harus diikuti oleh mereka. Tapi verli tidak ingin langsung pulang karna harus mengerjakan tugas yang lainnya.
__ADS_1
Sembilan puluh menit sudah ditempuh mata kuliah pertama sudah selesai. Verli tak berkeming dari kelasnya, ia lebih memilih mengerjakan tugas yang tertinggal banyak. Sampai jam mata kuliah kedua dimulai verli tidak beranjak dari kelasnya.
Alhasil kely menemani verli sampai mata kuliah selanjutnya karna tak tega meninggalkan sahabatnya sendiri, padahal verli sudah menyuruhnya pergi kalau ingin ke kantin. Tapi kely tak mau, perempuan itu juga harus menyusul kuliahnya yang tertinggal selama ia masuk dipesantren.