CINTA DISEPERTIGA MALAM

CINTA DISEPERTIGA MALAM
BAB 64. HINAAN DAN FITNAH


__ADS_3

Alhasil kely menemani verli sampai mata kuliah selanjutnya karna tak tega meninggalkan sahabatnya sendiri, padahal verli sudah menyuruhnya pergi kalau ingin ke kantin. Tapi kely tak mau, perempuan itu juga harus menyusul kuliahnya yang tertinggal selama ia masuk dipesantren.


Sembilan puluh menit untuk mata kuliah kedua sudah dilalui. Verli tidak langsung pulang karna ia ingin meminjam buku diperpustakaan. Kely mengekor saja kemana pun verli pergi. Belum juga sampai perpustakaan verli dan kely sudah dihadang oleh fera dan teman-temannya. Verli tak menggubris mereka, ia menarik tangan kely pergi tapi sayangnya teman-teman fera menghadang verli agar tidak pergi.


Verli menghempaskan tangan teman fera tersebut dan berniat pergi, tapi malah kaki teman fera mengarah ke kaki verli alhasil verli terjatuh kesungkur dilantai. Kely merasa kesal, ia menolong verli yang terjatuh dibantu oleh aina dna tia yang tak sengaja melihat kejadian tersebut dan menolong sahabatnya.


"Mau kamu apa sih, gak bisa ya sehari saja gak usah gangguin kita. Kami gak gak pernah sekali pun membalas perbuatanmu tapi didiemin malah ngelunjak" marah kely.


"Ups kenapa!! Emang pantas dia seperti itu, hmm sok kecantikan. Nyadar weh kelakuanmu dulu kayak apa....jarang masuk kelas, sok bergaya, pamer, suka hamburin uang.....iya kan kamu tuh gak usah belagu semua seisi kampus juga tau kelakuan kamu kayak apa!!" hardik fera.


"Dan satu lagi kalau aku bocorin pernikahan kamu bagaimana? Kamu nikah tanpa sepengatuan mahasiswa disini kan, malu ya buat ngomong. Aku aja yang bilangin kalau kamu malu" sindir fera.


Verli mendelik kesal bahkan kely, aina dan tia juga merasa kesal dengan sikap dan perkataan fera. Terlebih fera tau mengenai pernikahan verli yang tak diketahui oleh teman sekampusnya.


Verli masih diam, apalagi yang akan dilakukan fera terhadapnya. Jika memang fera akan ngomonga sama temannya yang lain soal pernikahannya verli siapa. Apa salahnya juga dirahasiakan verli sudah tak peduli lagi. Verli sudah paham jika fera sepertinya tak mau melihat rumah tangganya harmonis.


"Bagaimana mau diomongin sekarang?" tanya fera lagi dengan nada menyindir.


"Silahkan kalau kamu ingin mengatakannya sama seisi kampus, aku sudah tak peduli soal itu. Atau jangan-jangan kamu tak suka melihat aku bahagia dengan orang lain!!" ucap verli dengan berani.


"Ow gitu kamu nantangin aku terima, kalau emang iya kenapa? Aku gak akan pernah biarin kamu bahagia verli. Aku akan membuatmu selalu menangis setiap hari sampai kamu sendiri yang memohon padaku" ujarnya.


"Silahkan aku gak akan takut dengan ancamanmu itu, kejahatan tidak akan selamanya berhasil ada saat dimana kejahatanmu itu akan hancut dan kebenaran akan terjunjung tinggi. Aku hanya takut sama Allah bukan sama manusia ciptaan-Nya" tegas verli.


Fera merasa kesal dan marah karna verli sama sekali tak takut padanya. Ia kembali menghardik verli habis-habisan didepan mahasiswa yang ada disana. Mereka melihat pertukaian tersebut dan berhenti sejenak untuk menguping dan melihatnya.


"Bilang aja kalau kamu hamil diluar nikah makanya nikah aja dirahasiakan gak mau dipublik di kampus......emang dari dulu kamu tuh cewek berandal gak pernah takut sama apapun, dosen aja pada gak berani tuh" cibit


r fera yang sengaja meninggikan suaranya agar terdengar oleh mahasiswa lain.


(Loh verli udah nikah?)


(Kapan nikahnya kok pada gak tau ya, dirahasiakan pula)


(Halah mungkin emang iya dia hamil diluar nikah, liat aja sikapnya yang dulu tuh ck ck)


(Siapa suaminya ya, palingan juga orang yang sama seperti dia nakal dan gak punya etika)


(Belagak sok alim lagi, halah masih ditutupin tetep gak akan berubah, semua orang juga tau kali sikapnya kek apa)


Bisik para mahasiswa yang berhenti mendengar omelan fera. Mereka mencibir verli dan ada pula yang menuduh verli seperti omongan fera. Mereka sudah terhasut tapi tak banyak juga yang tak mau su'udzan dan lebih memilih diam saja dari pada salah bicara.


Verli masih bisa menahan emosi dengar perkataan fera. Karna kenyataannya bukan seperti itu, beda dengan ketiga sahabatnya yang sudah emosi diambang kepala. Apalagi kely yang tak terima dengan tuduhan fera terhadap verli didepan mahasiswa lain pula.

__ADS_1


"Jaga bicaramu, verli menikah itu resmi secara agama dan hukum bukan seperti tuduhanmu itu. Kami yang menjadi saksi banyak kok, dan tadi kamu menuduh verli hamil diluar nikah emang tau kenyataannya seperti apa? Hei ingat ya yang hamil diluar nikah itu siapa! Bukannya dirimu sendiri ya tapi malah dibangga-banggakan, gak malu kamu benih dari hasil zina?" hardik kely membalasnya karna sudah gatal melihat sahabatnya dihina dan dicaci maki.


"Eh loh kalau ngomong dijaga, gak usah bawa-bawa zina atau apalah itu emang kamu sesuci apa sih hah!! Yang aku katakan emang bener verli ini memang tukang tipu pintar kalau bohong" marah fera.


"Udah lah key gak usah dengerin omongan mereka, percuma kamu habiskan tenaga hanya untuk membalas ocehan mereka. Biarkan saja dosa juga bukan kamu yang bawa, biar jadi urusannya sama yang diatas kamu diam aja" tutur verli sambil menarik tangan kely dan dua sahabatnya untuk pergi.


Fera masih belum puas dengan semuanya. Rasanya lidah itu gatal kalau gak mencibir verli karna memang niatnya buat verli menderita. Tapi tak lama radit datang menghampiri fera. Ia sudah tau dari kejauhan tadi dan diberi tau oleh mahasiswa yang melihat.


Kesempatan itu dibuat fera untuk mengadu sama radit agar verli kena impasnya.


"Sayang liat tuh mantan kamu, dia marahin aku dan menghina aku" manja fera pada radit.


"Eh kalau ngomong dijaga ya, dari tadi yang mengusik kita itu kamu bukan kami, semua orang disini juga ngeliat kok, dasar tukang ngadu, suka fitnah, mulutmu itu dibuat dari apa sih sampai pedas kayak cabe" cap kely tak terima.


"Gak usah bentak-bentak kamu, emang dasar kalian aja yang suka menghardik terlebih itu verli dari dulu kan memang seperti itu, gak pantas penampilanmu kayak gitu sikapmu aja belum bener" ketus radit.


"Apa yang salah dengan penampilan verli? Jangan disamakan penampilan dengan sikap, menutup aurat itu sudah kewajiban yang harus dijalani ibarat shalat yang gak boleh ditinggalkan. Kalau memang kamu merasa baik dan suci kenapa masih telanjang dada gak bisakah menutup aurat yang terbuka!! Itu memang modis dan trend zaman sekarang tapi satu yang harus kalian semua ingat bahwa nantinya kain kafan yang membalut tubuhmu bukan baju modis yang sekarang kamu pakai" tegur aina yang sedari tadi diam tapi kesabarannya sudah habis melihat verli dicaci maki.


Semua orang tertegun mendengar penuturan dari aina. Semuanya diam dan melihat dirinya sendiri.


Mereka jarang melihat aina dan tia dikampus karna memang mereka dipesantren. Tapi teman sekelas aina dan tia pasti sudah tau mereka. Verli ikut diam dan juga kely.


"Gak usah kamu ikut campur urusan kami....heh kau itu sama aja seperti dia norak, emang sejelek apa sih mukamu itu sampai harus ditutupin. Kamu mahasiswa baru kan, gak usah ceramah deh" kata radit.


Lagi-lagi semuanya diam membisu mendengar ucapan tia. Seolah mereka meresapi dirinya sendiri yang belum tentu terhindar dari dosa.


Aina dan tia mengajak kedua sahabatnya untuk pergi. Sedangkan fera kesal melihat verli pergi begitu saja. Radit juga ikut kesal tapi sedikit hatinya seperti terketuk mendengar ucapan aina dan tia.


♡♥♡♥♡♥♡♥♡


Verli dan ketiga sahabatnya duduk di taman kampus. Verli masih syok dengan masalah yang tadi dengan fera. Pasti setelah ini mahasiswa yang lain pada ngomongin dirinya.


Verli masih diam walau pun kely sudah memanggilnya. Verli pamit untuk pulang karna moodnya sudah kacau gara-gara perbuatan fera. Ia mengambil ponsel berniat untuk memesan grab saja tapi kely mencegahnya. Berubung supir kely sudah sampai ia mengajak verli untuk bareng dengannya. Verli mengiyakan saja biar gak lama menunggu juga.


Ia berpamitan dengan aina dan tia. Tak lupa verli berterima kasih karna tadi sudah membalanya. Aina dan tia diajak verli untuk nginep dirumahnya tapi ditolak sama aina karna merasa sungkan. Verli tak memaksa mereka kalau tidak mau.


Sepanjang jalan verli terdiam saja. Kely kasihan dengan verli, pasti perbuatan fera tadi membuatnya malu. Kely mencoba menghibur verli agar tidak merenung sendiri. Tapi malah tidak diperhatikan sama verli.


Beberapa saat kemudian.


Kely sudah sampai dirumah verli tepatnya dirumah mama verli. Ia meminta supirnya untuk pulang duluan, biar dia saja nanti yang menghubungi orang tuanya. Kely berniat untuk menginap dirumah verli agar tidak sendirian.


Verli memilih menginap dulu dirumah mamanya agar sang ayah tidak bertanya banyak. Ia akan menghubungi ayahnya nanti. Verli mencium tangan kedua orang tuanya safren dan nadin. Kebetulan safren tidak kerja, nadin melihat verli yang diam saja sejak datang sampai sekarang.

__ADS_1


Nadin pun bertanya sama kely dan dijelaskan oleh kely semuanya. Safren dan nadin kaget, marah bercampur jadi satu. Verli masih diam saja pasrah dengan keadaan. Safren berniat untuk menemui anak tersebut yang dibilang sama kely dan menemui radit. Tapi malah dicegah sama verli dan dilarang sama dia.


"Gak usah pa, biarin aja percuma walau pun papa membalasnya itu tidak akan merubah keadaan dan sikapnya. Mendingan simpan saja tenaga papa tidak usah cari masalah, aku males pa ngeladenin dia" kata verli.


"Verli, kalau harga diri kamu diinjak-injak lawan nak bukan diam saja. Kalau kamu diemin makin lama makin ngelunjak, biar sekalian aja dia dikelurin dari kampusnya agar mereka sadar" jawab safren kesal.


"Percuma pa mereka gak bakalan bisa berubah hanya karna dikeluarin dari kampus, yang ada mereka mengataiku memanfaatkan jabatan papa sebagai penguasa dikampus, aku gak mau udah lah biarin aja" Tegas verli.


"Huufh, oke terserah kamu" pasrah safren.


"Ma, kely biar nginep disini ya nemenin aku tolong telfon tante syafira kalau kely akan nginep disini"


"Iya nanti biar mama telfon syafira, kamu istirahat saja dikamar. Eh iya kamu kan hari ini mau menginap dirumah ayahmu apa sudah kamu hubungi?"


"Belum habis ini aku akan hubungi ayah, verli ke kamar dulu ya sama kely"


"Ya sudah istirahatlah dulu"


Verli berjalan menuju kamarnya bersama kely. Sampai dikamar verli menaruh tasnya dan merebahkan tubuhnya diranjang. Kely duduk disamping verli. Ia bisa merasakan apa yang verli rasakan, rasa malu bercampur jadi satu.


Verli bangun dan meraih ponselnya hendak menghubungi hafka sudah sampai apa belum. Suaminya belum mengabari sedari tadi, saat ditelfon verli nomernya aktif. Tak lama sambungan telefon terhubung dan ada jawaban dari balik sana.


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikumussalam, mas kamu udah nyampek belum?" tanya verli langsung.


"Sudah barusan ada apa?" Tanya hafka.


"Enggak cuma mau tanya aja sudah sampai apa belum" jawab verli.


"Udah pulang belum?" Tanya hafka.


"Udah kok" jawab verli singkat.


"Suara kamu kenapa seperti nahan nangis gitu, ada masalah? Kamu baik-baik saja kan?"


"Enggak, aku baik-baik saja mas" jawab verli bohong.


"Udah dulu ya mas aku mau beres-beres"


"Iya assalamualaikum"


"Wa'alaikumussalam"

__ADS_1


❤❤❤❤


__ADS_2