
Suasana pondok sangat ramai dibarengi dengan suara para santri. Hafka baru selesai pekerja, ia bergegas mandi dan ikut kegiatan santri. Selesai mandi dan shalat, hafka pergi ke area pondok untuk melihat kegiatan santri yang lain.
Beberapa santri ada yang menyapa hafka. Ia pergi menuju perpustakaan, disana juga banyak para santri yang membaca buku ada juga yang hanya meminjam.
Hafka keliling untuk mencari buku barangkali ada yang cocok dengan nya. Ia mengamati setiap deretan buku yang tertata dengan rapi sampai mata nya melihat judul buku yang menarik bagi nya. Hafka mengambil buku tersebut dan membaca judul bukunya.
"CINTA DISETIAP MALAM SHALATMU" Hafka membuka isi lembaran buku itu.
Dirasa cocok dan pensaran juga hafka pun mengambil buku itu berniat untuk meminjamnya.
Hafka berjalan menuju halaman pesantren mencari duduk yang nyaman untuk membaca buku. Halaman pertama sudah ia baca, halaman kedua juga sudah selesau dibaca. Buku tersebut tidak terlalu tebal tapi makna didalamnya cukup membuat hati hafka tersentuh.
Hafka membolak-balik buku itu mencari setiap kata pesan yang bagus. Sampai ia menemukan kata-kata dalam buku tersebut.
"Cinta bisa datang dari mana saja tidak dari mata ke mata. Tanpa bertemu pun cinta bisa hadir sendiri hanya dengan perkataan atau perbuatan. Tidak harus bertemu dulu lalu mencintai tapi dari doa pun bisa menjadi cinta"
"Cinta bisa datang kapan saja tanpa kamu minta. Doa mu bisa jadi cinta lewat perasaan dalam hati yang belum pasti. Allah mengetahui semua isi hati hamba-Nya, jadi jangan mengira bahwa cinta menghadiri hati ini karna tatapan itu SALAH"
"Allah Maha Membolak-balikkan hati seseorang, untuk sekarang cinta belum ada tapi untuk nanti cinta itu hadir atas seizin dari Allah swt. Tetaplah berdoa disetiap sujud dan setiap malam. Malam itu sangat lah ampuh dalam berdoa"
"Jangan sia-siakan malam mu hanya untuk tidur. Bangunlah untuk shalat, berdoa lah untuj meraih ridho-Nya dan doa itu akan beradu menjadi cinta"
Kata demi kata hafka baca dengan seksama, tidak ada yang terlewat. Masih banyak isi bacaan buku itu yang sangat menohok dihati. Hafka mencerna setiap kata dan membatin dalam hati.
Ternyata cinta bisa kapan saja muncul, bisa hanya lewat saja ataupun menetap menjadi cinta abadi. Tidak harus dalam tatapan, malah yang menatap itu yang tidak lama. Karna itu saja sudah menghasilkan dosa saling bertatapan dengan perasaan lain.
Tengah malam hafka sudah terjaga. Ia menggelar sajadah dan melaksanakan shalat empat rakaat. Selesai shalat hafka berdoa sangat kusyu' seperti ada yang ia bebankan dalam hati. Kemudian dilanjut seperti biasa ia mengambil Al-Quran diatas meja lalu membacanya lembar demi lembar.
Al-Qur'an menjadi obat penenang dalam hati nya. Menjadi penyejuk dalam diri yang merasa amat terbebani. Menjadi teman saat sulit untuk berbicara. Sujud adalah pertemuan dengan Allah, tempat yang pas untuk mengadu semua keluh kesah yang dirasakan.
*******
__ADS_1
Malam berganti pagi hafka sudah siap untuk berangkat kerja. Ia bersalaman pada abi dan ummi lalu pergi keluar halaman pesantren. Hafka sudah bekerja ditempat barunya, sejak lima hari yang lalu.
Hafka mudah sekali untuk beradaptasi ditempat baru. Walaupun belum lama hafka sudah nyaman karna terbiasa seperti itu. Rumah sakit ini memang tidak jauh dari pesantren namun perlu waktu sekitar satu jam untuk sampai.
Tidak terlalu banyak pasien hari ini yang hafka tangani, jadi selesai dari sana ia bisa langsung pulang. Nanti sore ada acara pengajian yang harus di isi oleh hafka.
Menjelang sore hafka mengisi pengajian dimasjid pesantren. Ia mengisi tausiyah dengan cermat dan penuh keyakinan.
Setelah acara selesai hafka tidak pulang melainkan, ia duduk dihalaman pesantren bersama devan.
Devan tau jika sahabatnya itu ada masalah yang membebani pikirannya, lantas ia mencoba menjadi pendengar bagi hafka.
"Ceritakan kenapa?" tanya devan melirik ke arah hafka.
"Entah lah, abi sama umi ingin aku segera menikah tapi calon aja gak ada"
"Kamu dijodohin juga gak mau kan, lantas gimana dapat jodoh yang cocok afka"
"Kalau belum dicoba mana tau kamu cocok apa tidaknya, cinta itu tidak harus saling bertemu lama ka, doa saja bisa jadi cinta loh"
Perkataan devan mengingatkan hafka pada buku yang ia pinjam kemarin. Ia mengingat kembali kata-kata tersebut.
"Iya perkataan kamu benar juga, tapi prinsipku menikah hanya sekali cukup sekali seumur hidup......kalau aku dijodohkan dan nanti tidak ada kecocokan bagaimana"
"Coba dulu ka jangan langsung bilang gak cocok mana tau nanti setelah menikah kamu bisa membuka hati perlahan" tutur devan.
"Aku shalat istiqarah dulu aja barangkali dapat jawaban dari itu"
"Nah itu lebih bagus"
Hafka kembali ke rumahnya ada ummi dan abi yusuf di ruang tamu. Lantas hafka dipanggil untuk duduk karna mereka ingin mengobrol. Hafka sudah menebak apa yang akan dibahas oleh orang tuanya.
__ADS_1
Hafka pun nurut saja, ia duduk disamping ummi halimah. Dan mendengarkan semua ucapan sang abi.
"Bagaimana dengan keputusanmu nak?" tanya abi yusuf.
"Izinkan hafka untuk shalat istiqarah dulu abi, beri hafka waktu satu minggu untuk menjawabnya" jelas hafka.
"Baiklah kalau itu keputusanmu, abi akan memberi waktu sampau satu minggu kedepan"
"Terima kasih abi"
Hafka kembali menuju kamarnya untuk bersiap shalat magrib di masjid. Selang beberapa menit hafka berjalan keluar untuk ke masjid bersama abi yusuf. Ummi halimah bersama maryam berjalan mengekor dibelakang.
...*******...
Dua dini hari hafka sudah terjaga untuk melaksanakan empat rakaat shalat tahajud dna melaksanakan shalat istiqarah.
Dengan kusyu' hafka berdoa dan meminta jawaban atas kekuh kesah yang ia rasakan. Berharap mendapat jawaban atas segala doa yang ia panjatkan.
Pagi hari hafka tengah membantu sang abi untuk menata kegiatan santri. Karna hari ini libur jadi hafka tidak bekerja. Tadi malam belum ada jawaban apapun ia akan tetap melakukan selama satu minggu ini.
Berharap malam berikutnya ada jawaban atas segala doanya. Kalau memang Allah mengatakan bahwa dengan perjodohan itu adalah takdirnya hafka akan ikhlas dan menjalani dengan lapang dada.
Verli sudah dalam perjalanan akan kembali ke pesantren bersama kely yang diantar orang tuanya. Mobil mereka sudah sampai dihalaman pesantren.
Setelah bertemu abi yusuf dan ummi halimah. Kely dan verli langsung diantar menuju asrama disambut oleh kedua sahabatnya aina dan tia.
Orang tua mereka sudah kembali pulang. Verli merapikan barangnya tidak terlalu banyak hanya tas sedang saja.
Sore hari mereka mencari udara segar bersandar di bawah pohon sambil membaca buku dan bercerita satu sama lain. Aina penasaran dengan hasil dari dokter tentang penyembuhan verli, lantas ia bertanya pada verli.
"Bagaimana hasilnya, apa kata dokter kamu bisa sembuh kan?"
__ADS_1
Verli tersenyum dibalik niqabnya lalu menjawab, "doakan saja agar aku cepat sembuh, butuh waktu untuk penyembuhan" kata verli.