
"Gak apa dok saya gak keberatan, ini juga mau hujan sudah mendung, saya antar saja ya dok" pintanya lagi.
Setelah berpikir benar juga kata hafka hari sudah mendung sebentar lagi pasti hujan, dari pada menunggu lama dokter brisma mengiyakan ajakan hafka.
"Baiklah kalau tidak keberatan"
"Tentu tidak, mari dok" senyum manis hafka pada dokter brisma.
Mereka berjalan beriringan menuju mobil, jarak apartemennya dengan rumah dokter brisma tidak searah jadi lumayan jauh kalau hafka pulang tapi bisa aja lewat jalan pintar.
Mobil sudah terparkir dihalaman rumah dokter brisma. Hafka ingin izin langsung pulang saja tapi karna dokter brisma memaksa hafka untuk singgah jadi ia merasa tidak enak hati kalau menolak. Hafka pun turun dari mobil lalu mengekor dari belakang ikut masuk ke dalam.
Saat di depan pintu dokter brisma disambut oleh istrinya dan ia memperkenalkan hafka padanya. Lalu hafka dipersilahkan masuk ke dalam. Tak disangka datang seorang gadis muda tak lain adalah anak dokter brisma menuruni anak tangga menuju ruang tamu. Hafka tak sedikit pun menengok gadis itu, ia menunduk saja.
"Pa udah pulang, kok gak sama supir?" tanya leisa.
"Iya tadi diantar sama nak hafka pulang" jawab dokter brisma.
"Ei siapa itu ganteng banget" puji leisa dari hati.
"Duduklah sa jangan bengong aja" suruh mama leisa.
"Kenalin ini leisa anak saya, sa kenalin ini hafka rekan kerja papa" dokter brisma mengenalkan hafka pada anaknya secara bergantian.
Hafka hanya tersenyum dan mengatupkan kedua tangan di depan dada, leisa pun menyauti sama.
"Berarti dokter juga pa?" tanya leisa pada dokter brisma.
"Iya dia sangat cerdas kalau dalam hal kesehatan" pujinya.
"Hmm specialis apa?" tanya leisa pada hafka.
"Bedah" jawab hafka singkat.
"Sama dengan papa ya, masih muda udah bisa jadi dokter aja" leisa tersenyum.
"Mangkanya belajarnya lebih rajin agar dapat gelar pencampaian tertinggi seperti hafka"
"Iya iya pa leisa akan berusaha" jawab gadis itu.
__ADS_1
"Dokter hafka udah punya pasangan belum?" tanya leisa tanpa ragu sekali pun.
"Dia masih sendiri, memangnya kenapa kamu tanya-tanya seperti itu?"
"Ow gak kok pa tanya doang" kilah nya.
Hagka melihat jam yangan ditangannya, lalu ia hendak pamit pulang karna hari akan menjelang malam.
"Maaf dok, tante saya harus pulang karna udah mau malam" izinnya halus.
"Eh iya makasih udah mau nganter sampai rumah jadi ngerepotin"
"Gak masalah dok, kalau gitu saya pamit dulu assalamualaikum"
"Wa'alaikumussalam" jawab mereka hampir bebarengan.
Dokter brisma mengantar hafka sampai depan, setelah mobilnya keluar dari halaman rumah dokter brisma kembali masuk.
"Pa dia tadi tampan ya" puji leisa depan orang tuanya.
"Iya memang tampan, terus kenapa?" tanya dokter brisma.
"Eh enggak lah kalau punya pasangan seperti dia mah gak bakal aku lepas pa hihihi" ucap leisa sambil tertawa.
"Ya kalau jodoh emang papa bisa melawan takdir kan tidak"
"Eh kalian ini kok malah ribut sih, sini mas aku bawakan tasnya" ucap mama leisa di seka-sela perdebatan mereka.
"Ini ma, udah papa mau mandi dulu"
****
Karna sudah magrib hafka memilih singgah di masjid terdekat untuk melaksanakan shalat. Setelah itu ia lanjut perjalanan untuk pulang.
Di apartemen hafka langsung menuju kamarnya, untuk segera mandi dan memesan makanan lewat online. Hafka keluar dengan pakaian santainya, memakai kaus lengan pendek dan sarung ditambah kopyah.
Hafka mengambil pesanan diluar, saat hendak sampai di depan hafka tak sengaja berpapasan dengan seorang wanita. Hafka risih karna wanita itu terus memperhatikan nya, ia langsung pergi begitu saja setelah mengambil apa yang dipesan.
Namun wanita itu malah memegang tangan hafka seolah mereka sudah kenal padahal sama sekali hafka tak mengenal dia. Sontak hafka terkejut dan mengibaskan tangan wanita itu dengan kasar.
__ADS_1
"Astagfirullah.......siapa kamu beraninya memegang tangan saya, kita bukan mahrom" hafka beristigfar dan memarahi wanita tersebut.
"Biasa aja dong, tampan tapi galak" jawab wanita itu.
"Kamu gak punya sopan santun ya, kita ini bukan mahrom seenaknya pegang-pegang, memangnya anda siapa!! Saya saja tidak kenal" ketus hafka menunduk tak mau melihat yang bukan sepantasnya ia lihat, apalagi wanita itu berpakaian ketat kurang bahan.
"Halah gak usah ceramah, kenalin aku fera boleh aku tau namamu?" tanya fera juga menggoda hafka.
Fera ke apartemen untuk menemui temannya dan sekaligus mengambil barang, tapi malah papasan dengan hafka. Fera sudah mengagumi hafka sejak awal ketemu di lift, tapi ia merasa aneh dengan pakaian hafka, tak bisa berdandan.
Hafka tidak menjawab dan pergi begitu saja tanpa menggubria ucapan fera, ia sangat kesal bisa-bisa nya fera memegang tangannya yang jelas dilarang. Wajar karna fera bergaul bebas dan tak mengenal banyak ilmu agamanya.
Fera mengikuti hafka dari belakang untuk mengetahui apartemen hafka. Namun sayang aksinya itu diketahui oleh hafka. Hafka pun memasuki ruang lain agar fera mengira itu kamar hafka. Setelah tau kamar hafka fera langsung pergi begitu saja menuju apartemen milik temannya.
Merasa sudah aman hafka hendak pergi dari tempat persembunyiannya tapi malah ketahuan sama pemilik apartemen itu.
"Maaf pak salah tempat, saya kira apartemen temen saya" ucap hafka merasa bersalah.
"Ya tidak apa-apa"
Untung pemiliknya baik kalau jahat pasti hafka sudah dimarahi sama si pemiliknya. Hafka kembali ke apartemen setelah merasa aman. Ia heran dengan fera kenapa bisa seenaknya begitu tanpa dosa memegang tangannya tanpa izin.
*****
Dua dini hari verli bangun dari tidurnya untuk melaksanakan shalat sunnah dua rakaat, setelah itu ia mengambil al-qur'an untuk dibaca. Setiap ayat yang ia baca hatinya merasa nyaman dan tenang, sebab itu lah verli tidak bisa terlepas dari al-qur'an.
Selesai itu verli berdo'a agar diberi keteguhan hati untuk selalu lebih dekat dengan-Nya, juga ia berharap atas kesembuhan dan keajaiban dari Allah. Verli juga memohon agar diberi jalan untuk bertemu dengan jodoh yang baik dan bisa menuntunnya ke jalan kebaikan.
Verli kembali tidur karna merasa masih mengantuk. Menjelang subuh verli bangun dari tidurnya dan menunaikan kewajibannya.
06.00
Verli sudah rapi dengan bajunya untuk pergi ke rumah sakit, karna hari ini jadwal chek up. Kali ini nadin yang akan mengantar verli agar frisko tidak kepikiran membagi tugas kantot dengan adiknya. Jadi nadin memilih yang mengantar verli saja.
Selesai makan verli dan nadin langsung pergi menuju rumah sakit. Sampai sana verli dibantu sama nadin untuk turun perlahan.
Nadin membawa verli menuju ruang dokter, tak perlu menunggu antrian karna frisko sudah membuat janji sebelumnya. Verli mengarahkan ruang dokter yang sebelumnya, jadi verli sudah tau.
Kebetulan ada perawat yang hendak masuk, jadi sekalian nadin minta perawat itu untuk mengantarkan masuk. Pintu terbuka dan verli langsung menunduk karna ia sadar yang sedang ada di hadapannya itu siapa.
__ADS_1
Nadin melihat gelagat aneh pada verli, namun tidak ia hiraukan. Hati verli merasa dag dig dug setiap bertemu dengan pria yang ada didepannya.
Terpaksa hafka menggantikan dokter brisma karna ia sedang ada pasien darurat. Hafka pun merasa salah tingkah sendiri saat tak sengaja sekilas melihat verli.