CINTA DISEPERTIGA MALAM

CINTA DISEPERTIGA MALAM
BAB 59. JUJUR


__ADS_3

Aina melirik ke tia berharap jawaban darinya. Tia ngikut saja keputusan aina, karna mereka berdua juga tak mau terpisah. Aina pun setuju saja karna merasa kasihan dengan kely.


Makanan pun sudah habis tak tersisa. Aina dan tia pun kembali ke kelasnya untuk mengikuti mata kuliah. Kely menunggu mereka ditaman kampus agar tak susah mencari.


Agar tidak suntuk kely mengambil novel ditasnya yang selalu ia bawa. Kely memang gemar membaca tapi hanya bacaan tertentu saja. Lama menunggu aina dan tia karna bisa saja mata kuliah mereka dua jam lamanya.


Kely merasa bosan jadi ia memutuskan pergi ke restoran depan kampusnya. Sampai sana kely hanya memesan minum saja karna perutnya masih kenyang.


"Hai key" Seseorang menyapa kely.


Kely pun menoleh dan kembali menyapa orang tersebut.


"Loh kak rafran kok ada disini ngapain?" Tanya kely.


"Boleh aku duduk disini?"


"Duduk aja kak, aku juga sendiri kok nunggu temen" ujarnya.


Rafran menarik satu kursi dan duduk disamping kely.


"Nungguin verli?"


"Bukan kak nunggu temenku yang lain, dia lagi dikampus masih ada mata kuliah" Jelas kely.


"Tumben gak sama verli.....eh bukannya kalian dipesantren ya"


"Iya tapi kami memutuskan untuk pulang buat ngelanjutin kuliah dulu"


Rafran memanggil pelayan restoran untuk memesan minuman lalu melanjutkan pembicaraan dengan kely.


"Kak rafran sendiri ngapain disini?" tanya kely.


"Gak pa-pa sih lagi pengen aja, dulu waktu masih kuliah kan sering kesini sekarang udah selesai" ujarnya.


"Ow gitu" Jawab kely singkat lalu menyeruput minumannya.


"Kemana verli tumben gak sama kamu biasanya kayak perangko lengket terus"


"Emm verli, dia itu tadi pulang duluan iya......" Jawab kely sebisanya karna verli sudah mewanti-wanti agar tidak ngomong ke siapapun soal pernikahannya.


"Lah tumben"


"Gak tau dah, mungkin ada keperluan sama keluarganya" Jawab kely ngawur.


Ting.

__ADS_1


Ting.


Dua notifikasi pesan masuk ke hanphone kely. Lalu ia melihat dari siapa pesan tersebut dan membukanya.


(Key kamu dimana aku cariin gak ada) Pesan dari aina.


(Aku direstoran depan kampus kesini aja) Jawab kely.


(Ya udah aku sama tia nyusul kesitu tungguin) Balasan dari aina.


(Oke......)


Kely menaruh hanphonenya sembari menunggu kedua sahabatnya datang. Rafran masih setia menemani kely disitu.


"Lama aku gak ketemu verli loh, terakhir kan waktu kalian belum masuk pesantren ya....hmm lupa deh" Sambil mengingat-ingat.


"Iya juga kak, dah lama gak pernah ketemu, sekarang kakak kerja dimana?" Tanya kely.


"Bantuin papa ngurus perusahaan, yaah baru belajar nanti kalau sudah matang bisa pegang sendiri sama ngurus itu restoran papa" Paparnya.


"Bukannya kak rafran punya saudara ya kenapa gak ikut bantuin"


"Iya lah ini kan aku dibantuin kakak ngurus perusahaan"


Disisi lain aina dan tia mencari kely yang baru memasuki restoran sambil clingukan mencari kely. Tia melihat kely duduk ditempat paling sudut, namun kely tak sendirian ada lelaki yang menemaninya.


Mereka berjalan menghampiri kely. Sampai disana mereka merasa heran dengan kely yang duduk bersama lelaki asing baginya.


"Kalian udah selesai cepet banget" gerutu kely.


Rafran tersenyum melihat kedua sahabat kely. Aina dan tia hanya menunduk saja melihat rafran.


"Eh ya duduk malah bengong"


Mereka pun duduk dikursi yang masih kosong. Risih sebenernya berdekatan dengan lelaki yang jarang untuk mereka.


Rafran melihat aina dan tia dengan tatapan yang beda. Rafran tau dan tak jarang menemui perempuan yang serba tertutup seperti aina dan tia. Tapi ini baru pertama kali sedekat itu.


"Eh ya udah key aku pergi dulu ya biar gak ganggu kalian" Rafran bangkit dari duduk.


"Iya kak salam buat orang tuanya ya"


"Nanti disalamin aku pergi dulu assalamualaikum"


"Wa'alaikumussalam" Jawab mereka hampir bebarengan.

__ADS_1


~♥~♥~♥~♥~♥~♥~


Mobil hafka sudah memasuki halaman rumah mertuanya. Kebetulan nadin ada didepan sedang menyirami tanaman dihalaman depan. Verli takut kalau papanya marah karna sudah berbohong tapi hafka menenangkan agar tak berasa takut.


Hafka membantu verli untuk turun. Nadin menyambut mereka berdua dengan ramah. Mereka menyalami nadin bergantian, nadin pun menyuruh mereka untuk masuk.


Belum lama mobil safren dan frisko sudah memasuki halaman rumah. Nadin menyalami suaminya dengan takzim dan frisko yang mencium tangan nadin. Sampai diruang tamu safren langsung disambut oleh hafka dan verli.


Safren heran dengan anak dan mertuanya, tadi pagi pamit ke apartemen sekarang sudah balik lagi. Apakah ada barang yang ketinggalan? Itu yang terpapang dikepala safren. Hafka tak mau basa basi lantas langsung berbicara apa adanya yang ingin diomongin.


"Begini pa, kami kesini karna ada yang ingin dibicarakan" Kata hafka sambil melirik ke arah verli sebentar.


"Omongin aja ada apa?" Tanya safren.


"Ini.......soal verli, jadi begini sebenarnya verli itu sudah bisa berjalan pa, ma" Jelas hafka.


Safren, nadin, dan frisko saling berpadangan bingung dengan maksud hafka. Jelas-jekas verli masih dikursi roda tapi dibilang sudah bisa jalan. Lalu nadin mengulangi lagi perkataan hafka dan menanyakan lebih jelas.


"Maksudnya bagaimana nak? Verli saja masih dikurai roda gak bisa jalan kata dokter perlu penyembuhan lama gak bisa langsung" Protes nadin.


"Papa, mama maaf......verli gak pernah jujur sama kalian, yang dikatakan mas hafka itu memang benar, verli sudah bisa berjalan tapi aku rahasiakan dari semuanya terutama mama dan papa" Verli angkat bicara untuk menjelaskan kepada kedua orang tuanya.


Safren dan nadin kaget mendengar ucapan dari mulut verli langsung.


"Sejak kapan kamu bisa jalan verli, kenapa kamu sembunyikan!! Padahal dokter bilang kan penyembuhan butuh waktu lama" Tegas frisko.


"U-udah sebelum aku nikah sama mas hafka kak, sejak aku masih dipesantren" verli tak kuasa menahan tangis karna takut mendapat amarah dari kedua orang tuanya.


"Verli punya alasan kenapa dia merahasiakan semua ini, dengarkan verli menjelaskan semuanya"


"Jelaskan verli!!" Kata safren dengan nada tegas.


"Ma-maaf kalau verli merahasiakan ini semua, aku juga gak tau kenapa tiba-tiba bisa jalan, waktu dipesantren tepat tengah malam verli habis dari kamar mandi mau kembali ke kamar tapi tiba-tiba.........." verli mengingat betul hari itu dan tidak akan pernah ia lupakan.


"Tiba-tiba apa ver kenapa gak diterusin ngomongnya" seru nadin greget.


"Mas hafka nyamperin aku dan menyodorkan tongkat kepadaku terus......" hafka langsung protes karna ia tak pernah merasa nyamperin verli. Apalagi ke asrama putri tengah malam yang ada nanti dikira aneh-aneh.


"Kapan aku bertemu dengan kamu, apalagi ke asrama putri yang ada aku bakal dimarahi sama abi, tengah malam pula, dipesantren ada aturannya juga gak sembarangan" Protes hafka yang merasa heran.


"Tapi emang bener mas kamu nyamperin aku tiba-tiba terus ngilang begitu aja, kamu sampai nyodorin dua tongkat ke aku, kamu paksa aku buat jalan pakai tongkat itu entah lah tanganku juga sakit malah bisa megang tongkat" gerutunya sendiri sembari bingung juga dengan kejadian malam itu.


"Terus apa yang terjadi?" tanya frisko.


"Ya terus verli disuruh pakai tongkat itu......verli pun menceritakan dari awal hingga akhir tanpa ada yang ditambahi atau pun dikurangi sampai hafka menghilang secara tiba-tiba"

__ADS_1


__ADS_2