
Verli tak tau harus cerita dari mana dan bagaimana. Sekuat tenaga Verli tak membenci Radit maupun Fera walau pun sudah berbuat jahat padanya. Tapi kalau suaminya tau sudah dipastikan Hafka akan melaporkan ke polisi atas kejahatan yang dilakukan Radit.
"Kalau memang gak mau bicara ya sudah aku gak akan maksa kamu untuk mengatakan" ujar Hafka.
Hafka beranjak dari duduknya hendak pergi namun dicegah oleh Verli dengan memegang tangan suaminya.
"Mau kemana?" tanya Verli.
"Menenangkan diri...." jawab Hafka tanpa menoleh, membuat hati Verli sakit dicuekin oleh suaminya sendiri.
Perlahan Hafka melepas tangan Verli dan berlalu pergi, namun belum jauh Verli menyusul. Ia langsung memeluk Hafka dari belakang sambil menangis. Pelukan Verli begitu erat seolah tak mau jika suaminya pergi jauh.
Hafka seketika itu berbalik dan membalas pelukan istrinya dengan begitu erat. Ia tak trga melihat Verli menangis, apalagi dalam keadaan hamil. Hafka berusaha agar istrinya tidak stress. Saat sudah tenang, Hafka perlahan melepas pelukannya dan mengusap mata Verli yang sembab.
Mereka pun kembali duduk berdua. Hafka mencoba menenangkan istrinya agar tak menangis lagi. Mungkin karna hamil jadi mood nya berubah-ubah. Hafka memahami itu, oleh sebab itu ia berusaha agar tak marah atau pun memebentak istrinya.
"Sudah jangan menangid lagi nanti cantiknya hilang loh, kasihan si dedd kalau kamu nangis begini, mas gak marah kok sudah ya" ucap Hafka sembari mengelap mata yang basah.
"A-aku min-minta maaf..." kata Verli terbata-bata sembari menangis tapi sudah tidak seperti tadi.
Hafka tak mau membuat istrinya semakin menangis. Jadi ia membawa Verli masuk untuk beristirahat di kamar agar pikirannya lebih tenang. Beruntung tak ada orang rumah yang tau jika Verli menangis, kebetulan Nadin dan Safren ada di kamar mereka. Begitu juga dengan Frisko yang sedang ada di kamarnya.
Hafka merebahkan istrinya di ranjang namun ditolak halus oleh Verli. Ia ingin menjelaskan semuanya agar tidak ada kebohongan atau pun rahasia diantara mereka berdua. Tapi Hafka meminta Verli agar beristirahat dan tidak perlu memikirkan hal itu.
Verli pun menurut dengan perkataan Hafka. Ia lantas pergi ke kamar mandi untuk cuci muka dan kembali merebahkan tubuhnya diranjang. Hafka pun ikut merebahkan tubuhnya disamping Verli sambil memeluknya. Pelukan itu begitu hangat dan menenangkan jiwa Verli. Tangannya melingkar dibagian perut Hafka dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.
Waktu subuh sudah berkumandang, Hafka sudah bangun duluan sejak tadi setelah mandi, ia pun segera membangunkan sang istri untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah di kamar mereka. Setelah selesai shalat Verli mencium tangan suaminya.
Beberapa saat mereka sudah selesai berdoa dan menata kembali perlengkapan shalat ditempatnya. Hafka duduk dikasur sembari bersandar di sandaran ranjang. Verli pun ikut naik ke ranjang dan duduk di samping suaminya. Tiba-tiba Hafka mengganti posisi berbaring dipangkuan istrinya. Tentu Verli senang karna suaminya tak bersikap cuek seperti kemarin. Tanpa sadar tangannya mengusap rambut Hafka.
"Aku minta maaf soal yang kemarin" ucap Verli tetap dengan posisinya.
__ADS_1
"Sudah lah tak perlu di ingat lagi, aku tak ingin istriku yang cantik ini menangis dan jadi sedih nanti dede nya juga ikutan sedih" jawab Hafka sembil mengusap perut Verli dan menciumnya.
Hati Verli jadi berbunga-bunga mendapat perlakuan seperti itu dari Hafka. Wajahnya menjadi merah merona seperti tomat. Sejenak terlintas kejadian kemarin walau pun suaminya sudah tidak mempermasalahkan tapi dari lubuk hatinya ada rasa bersalah. Hal itu membuat Verli akan mengatakan yang sejujurnya. Ia akan terima apapun respon dari Hafka.
"Mas...hmm ada yang ingin aku katakan soal yang kemarin" ujar Verli mulai serius.
"Tak perlu kalau nantinya hanya akan membuat kamu menangis" jawab Hafka memandang wajah Verli.
"Aku serius, ini sebenarnya menyangkut Radit. Kenapa aku kemarin hanya bisa diam itu karna Fera yang sekarang jadi istri Radit menghampiriku dan Kely lalu memaki-maki dan melontarkan perkataan tak enak...." belum juga Verli selesai bicara sudah dipotong oleh Hafka.
"Apa!! Kamu dihina dan dimaki sama perempuan itu lagi" jelas Hafka yang terkejut.
"Bentar kamu dengerin aku dulu sampai selesai bicara" kata Verli menenangkan suaminya yang terlihat kaget dan marah.
Hafka pun menurut dan mengatur nafasnya lalu beristigfar beberapa kali agar pikirannya tidak memanas. Saat sudah tenang Verli melanjutkan ceritanya dan didengarka oleh Hafka baii-baik.
Verli bercerita panjang lebar dari awal masalah sampai kejadian kecelakaan tersebut. Siapa yang terlibat dan yang melakukan semua itu diceritakan oleh Verli dengan rinci hingga akhir tanpa ditambahi atau dikurangi. Seketika itu Hafka sangat syok, marah, rasanya bercampur aduk. Hatinya terasa teriris mendengar semua penuturan dari istrinya.
Terlebih Verli segampang itu memaafkan kesalahan orang yang sudah membuatnya terluka hingga lumpuh. Seketika itu Hafka langsung bangun dari pangkuan Verli dan memeluknya dengan erat sembari menitihkan air mata yang selama ini tak pernah terjadi padanya. Verli terkejut melihat reaksi suaminya, terlebih melihat titisan air mata yang keluar dari Hafka.
"Istriku memang hebat, wanita yang hebat dan kuat. Seharusnya orang itu mendekam dipenjara sekarang bukan tersenyum riang diluar sana, tapi istriku ini dengan mudah memaafkan kesalahannya, dengan bukti itu sudah cukup untuk memasukkan Radit ke penjara tapi...." papar Hafka yang langsung dipotong oleh Verli, kedua tangannya menyentuh bibir Hafka agar diam.
"Tak perlu membahaa dia lagi, biarkan Allah yang menunjukkam keadilannya kepada kita. Aku benar-benar sudah melupakan kejadian itu dan sudah memaafkannya, aku juga salah kok wajar dia marah.....gak perlu diperpanjang lagi dan aku minta tolong jangan beri tau papa, mama atau siapapun yang tau masalah kecelakaanku" jelas Verli dengan wajah memohon.
"Huufh.....kenapa kamu masih membela penjahat, ya aku tau semua manusia itu tak luput dari yang namanya salah, tapi jika mereka sudah berbuat jahat hingga ingin membuat nyawa orang lain hilang itu sudah terlewat batas. Dan soal keguguran itu bukanlah murni kesalahan kamu dek. Siapa yang tau kalau dia hamil, kamu mendorong juga gak sampai terjatuh tapi dia sendiri yang menjatuhkan dirinya jadi ini harus diusut sampai tuntas aku gak mau penolakan dari kamu" tutur Hafka yang besihkeras untuk melaporkan Radit ke kantot polisi.
"Tolong lah mas, aku sudah memaafkan dia, aku juga gak mau masalah ini tambah besar dan Feta malah semakin membenciku. Toh aku sudah sehat, sudah bisa berjalan normal, kasihan Fera sedang hamil besar" ucap Verli agar suaminya tidak kekeh dengan pendiriannya.
"Baiklah aku tidak akan melaporkannya ke polisi, tapi jika aku melihat Fera masih mengganggu kamu apalagi datang hanya ingin menghina, detik itu juga aku bakala lapor polisi" tegas Hafka.
"Makasih mas...." jawab Verli dibarengi dengan pelukan hangat.
__ADS_1
Ia akhirnya lega Hafka mau menurutinya. Walau pun begitu Verli harus berhati-hati bila mana nanti bisa saja bertemu dengan nenek lampir lagi. Menurut Verli lebih baik diam dan tidak memperpanjang masalah karna ia tak mau Fera semakin membencinya. Hatinya sudah menyerahkan semua itu kepada Allah, biarkan Allah saja yang membalas perbuatan mereka dan memberi keadilan.
"Aku sudah bilang keadilan harus ditegakkan gak ada pen...hmmps...." Tiba-tiba tanpa izin Verli mencium bibir Hafka agar tak banyak bicara lagi.
Hafka terkejut dengan sikap agresif istrinya. Tapi ia juga tak menolak dan malah membalas ci*m*n tersebut sembari ******* hingga beberapa saat mereka menyudahinya. Karna nafas Verli sudah tersengal-sengal. Merasa malu Verli membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya sambil memeluknya erat.
****
Cahaya matahari telah memancarkan sinarnya yang begitu menghangatkan tubuh. Waktunya manusia untuk beraktivitas dengan kegiatan masing-masing. Begitu pun dengan Alif dan Kely yang sudah siap untuk berangkat entah kemana. Kely mengajak suaminya pergi untuk menemui seseorang seperti yang diucapkannya kemarin.
Jadi untuk hari ini Alif tidak pergi ke kantor demi istri tersayang. Selesai sarapan bersama Alif pamit kepada orang tuanya untuk pergi. Mereka mencium tangan Niko dan Delsa secara bergantian. Lalu Alif menggandeng tangan Kely untuk masuk ke dalam mobil. Tak lama mobil pun sudah keluar halaman rumah dan melewati jalanan yang ramai orang berkendara.
Entah kemana Kely akan mengajak Alif pergi. Yang jelas menemui orang penting. Karna penasaran Alif meminta istrinya untuk mengatakan akan pergi kemana. Akhirnya Kely mengatakan dengan jujur niatnya mengajak Alif untuk menemani dirinya menemui orang yang akan memberi petunjuk buat mencari bukti.
Alif mengernyitkan keningnya sebab bingung apa yang dimaksud sang istri. Perlahan Kely menjelaskan maksudnya, sambil Alif menyetir dan mendengarkan. Yang akan didatangi oleh Kely adalah orang suruhan Fera yang tempo hari ditemuinya. Disini Kely menjelaskan awal mula ia bisa bertemu dengan dua preman suruhan Fera.
"Jadi waktu itu Aina dan Tia sedang ada di restoran yang sama, mereka tak sengaja melihat Fera bersama dua orang suruhannya. Sebenarnya mereka gak begitu kenal dengan Fera tapi karna menyebut nama Verli nah barulah mereka tau maksud dari perkataan Fera. Disitu Aina langsung menghubungiku dan menjelaskan semuanya" jelas Kely recara rinci.
"Terus kamu ingin pergi menemui mereka begitu?" tanya Alif.
"Iyalah, aku ingin agar mereka bekerja sama dengan kita dan membantu kita mendapatkan bukti, bayar saja mereka lebih tinggi dari imbalan yang Fera berikan pada mereka" papar Kely yakin.
"Bagus juga ide mu sayang" puji Alif sambil menyetir.
"Iya ya dong, Kely gitu loh hahahah" jawabnya sambil tertawa.
"Kamu ya...." ucap Alif lalu mencubit pipi Kely.
"Duh gak usah dicubit juga lah" kesal Kely menggosok-gosok pipinya.
Alif hanya tertawa dengan tingkah lucu istrinya. Apalagi saat cemberut begitu sangat lucu dan menggemaskan.
__ADS_1
Alif kembali fokus menyetir setelah tidak ada pembicaraan lagi. Berharap rencana nya bakal berhasil agar tidak membawa mala petaka bagi Verli dan suaminya. Empat puluh menit sudah mereka tempuh akhirnya sampai juga di tempat yang dijanjikan. Disebuah gedung tua yang sudah lama tak berpenghuni. Alif sudah pasang badan bila mana nanti mereka akan berbuat sesuatu.
Preman itu sengaja mengajak bertemu ditempat sepi agar tidak diketahui orang lain. Kely pun menyetujuinya tanpa basa basi. Setelah dicari titik lokasi mereka berada akhirnya ketemu juga. Mereka ada dua orang berbadan besar. Alif dan Kely tak menciut nyalinya karna kedatangan mereka untuk bekerja sama.