
Malam pun tiba.
Verli berangkat bersama suaminya, sementara Frisko dan kedua orang tuanya berangkat satu mobil. Perjalanan ditempuh sekitar empat puluh menit.
Gedung-gedung kota terlihat memancarkan sinar karna lampu yang menyala. Jalanan dipenuhi dengan pengendara yang berlalu lalang. Verli menghadap ke luar jendela sambil memakan irisan buah yang ia bawa dari rumah. Hafka tersenyum saat melihat istrinya sekilas.
Beberapa menit kemudian.
Mereka sudah sampai ditempat yang ditentukan. Bebarengan dengan Kely dan Alif juga kedua orang tuanya. Akhirnya mereka masuk bebarengan dan duduk ditempat yang sudah dipesan sejak tadi siang. Tak lama makanan pesanan mereka datang. Semua disajikan dan ditata dengan rapi.
Diluar Aina dan Tia perlahan masuk. Sejenak mereka tercengang dengan indahnya dekorasi hotel tersebut. Mereka memang sengaja memesan tempat dihotel bintang lima yang sangat megah. Momen berkumpul yang jarang sekali mereka lakukan bersama. Aina dan Tia pun disambut hangat oleh pelayan yang bertugas. Mereka pun dipersilahkan masuk dan ditunjukkan tempatnya. Awalnya mereka mengira akan diusir ternyata pikirannya berbanding terbalik.
Mereka pun menghampiri Verli setelah ditunjukkan tempat meja makan yang sudah dipesan oleh keluarga Verli. Aina dan Tia disambut hangat oleh orang tua Verli maupun Kely. Setelah saling menyjapa mereka dipersilahkan duduk dikursi yang sudah disediakan. Karna sudah berkumpul semua, Hafka memimpin doa sebelum makan malam dimulai. Selesai berdoa mereka pun makan bersama dengan saling melempar senyum dan keceriaan masing-masing. Terlebih Aina dan Tia yang merasa tersanjung melihat kebersamaan yang sungguh hangat dan keluarga Verli maupun Kely sangat ramah pada mereka.
Beberapa saat kemudian.
Mereka telah selesai menghabiskan makanan masing-masing. Kemudian datanglah pelayan membawa disert khas dari restoran tersebut sebagai pencuci mulut atau makanan penutup. Mereka menyajikan diatas meja. Setelah mencoba Verli maupun yang lain sangat suka dengan disert tersebut, rasa yang enak dan pas.
Semua sudah menyelesaikan makannya dan pelayan sudah membersihkan meja.
Safren mengucapkan terima kasih kepada Aina dan Tia yang sudah membantu mereka memecahkan masalah. Kely pun juga menimpali dengan rasa terima kasih, tanpa kedua sahabatnya mungkin mereka tidak akan bisa tau rencana Fera selanjutnya yang ada nyawa Verli bisa terancam.
Aina dan Tia sama-sama menjawab dengan mengiyakan dan itu semua bukanlah karna mereka melainkan Allah yang sudah menyelamatkan Verli dan calon anaknya, lewat perantara Aina dna Tia. Semua kompak mengiyakan dan mengucap bersyukur. Disini Aina dan Tia juga baru mengetahui penyebab Verli lumpuh. Yang mereka tau sebelumnya Verli lumpuh karna kecelakaan saja dan tak mengetahui bahwa ada dalang dibalik semua itu.
"Apakah kalian disini hanya berdua?" tanya Abisfa.
"Iya om, kami disini hanya berdua. Kalau ada waktu luang kami kembali ke pesantren" jawab Aina.
"Kalian memang wanita hebat, bisa masuk kuliah favorit dengan kepandaian padahal banyak anak yang masuk situ karna orang tua mereka" sahut Safren bangga.
"Alhamdulillah, Allah masih memberi kami kesempatan untuk masuk di universitas favorit" ucap Tia ramah.
"Kalian mondok berapa lama?" tanya Syafira.
"Kami sudah dari SMP mondok di ponpes milik orang tuanya Ustadz Hafka sampai sekarang" jawab Aina.
Frisko yang sejak tadi memandangi Aina, sekilas mencuri pandang. Sebenarnya Aina juga sudah mengetahui bila Frisko memandanginya namun ia berusaha mengalihkan pandangan agar tak saling bertemu.
Verli pun mengetahui sebenarnya jika kakaknya diam-diam mencuri pandang dengan sahabatnya. Ia sepertinya tau jika kakaknya mengagumi Aina namun berusaha bersikap biasa saja.
"Masya Allah sudah lama ya sampai kuliah, orang tua kalian dimana?" tanya Syafira.
"Ada di kampung tante" jawab Aina seadanya. Bila mereka tanya maka Aina dan Tia akan menjawab seadanya karna masih canggung berada disekitar keluarga Verli maupun Kely.
__ADS_1
"Ajaklah mereka tinggal disini agar bisa dekat dengan kalian atau mencari rumah didekat pesantren nanti masalah pembayaran biar saya yang menanggung" kata Safren ramah.
Mendengar seperti itu keduanya saling tatap dan kaget dengan maksud perkataan Safren.
"Tidak perlu om, itu sangatlah besar jumlah uang untuk membeli rumah, kami tak memerlukan itu. Sungguh kami sudah terbiasa seperti ini tak perlu repot-repot, kami juga ikhlas membantu Verli dan Kely karna mereka sahabat kami" tolak Aina halus agar tak menyinggung.
"Gak pa-pa saya malah senang jika bisa membantu kalian, atau begini saja kalau kalian gak mau dibelikan rumah, izinkan saya menitipkan sedikit rezeki untuk kalian" kata Safren.
Aina dan Tia jadi bingung harus menolak bagaimana. Karna mereka juga tak enak jika menolak terus dikiranya nanti sombong atau sebagaimanya.
"Sudah gak perlu mikir berikan saja nomer rekening kalian berdua" sahut Nadin.
"Ayo lah kalian terima saja ya ini rezeki gak boleh ditolak" timpal Verli.
"Baiklah, sebelumnya kami sangat berterima kasih sekali buat om dan tante yang sudah berbaik hati dengan kami dan menerima kami disini, sungguh kami sangat senang sekali bisa bergabung dengan om dan tante." ucap Aina sopan dan halus.
"Nah gitu dong, kami tak membedakan status dalam berkeluarga, kalian sahabat dari Verli dan Kely yang berarti adalah keluarga kami juga" ucap Safren.
Aina dan Tia membalas dengan senyuman dibalik niqabnya. Setelah berbicang-bicang, Aian memberikan nomer rekeningnya. Segeralah Safren mengirim sejumlah uang ke rekening Aina dengan jumlah banyak. Selesai menstranfer, Aina melihat notifikasi di hanphonenya yang menunjukkan transferan sudah masuk. Saat dilihat betapa terkejutnya ia melihat nominal yang begitu banyak. Tia juga penasaran lalu melihat hanphone Aina.
"Masya Allah, ini nominal besar sekali dan sangat banyak" ucap Tia yang kaget.
"Itu rezeki kalian dari Allah, manfaatkan dengan baik semoga berkah. Mulai sekarang kalian bagian dari keluarga kami juga jadi jangan sungkan-sungkan bila membutuhkan pertolongan atau sebagainya" kata Nadin ramah.
Ucapannya di iyakan oleh Safren, Nadin, dan orang tua Kely. Uang tersebut dari Abisfa dan Safren dengan jumlah yang sama untuk mereka berdua.
"Setelah lulus kalian mau kemana?" tanya Kely.
"Kami akan mencari kerja dan meneruskan ke pesantren insya Allah" jawab Tia.
"Mengajar saja dipesantren bila kalian mau nanti biar saya yang mengatakan sama Abi, kalau kalian mau mencari kerja lain atau sampingan juga tak apa" sahut Hafka.
"Kami sungguh dengan senang hati menerima jika diberi kesempatan mengajar di pesantren" jawab Aina menunduk.
Hafka mengiyakan ucapan Aina. Setelah selesai semua dan perbincangan diakhiri. Mereka kembali ke rumah masing-masing.
Kely berniat mengantar Aina dan Tia namun mereka tak mau karna merasa merepotkan. Tapi Kely tetap memaksa akhirnya mereka menuruti kemauan Kely. Lagi pula Alif juga tidak keberatan karna sudah malam juga.
Mobil mereka pergi ke tujuan masing-masing. Verli dan Hafka juga kembali pulang bersama Orang tuanya dengan mobil yang berbeda.
🌻🌻🌻
Keesokan paginya.
__ADS_1
Verli dan keluarganya sedang sarapan diruang makan. Sebelum mengambil nasi dan lauk, Verli melihat kakaknya yang baru turun dan bergabung di meja makan. Bibirnya menyungging senyum berniat menggoda kakaknya soal yang semalam. Frisko segera duduk lalu mengambil nasi dan lauk. Karna haus ia mengambil segelas air putih kemudian meminumnya.
"Kak Frisko suka ya sama Aina, kelihatan tuh semalam curi-curi pandang" ucap Verli tiba-tiba.
Seketika itu Frisko tersedak karna ucapan Verli yang membuatnya melongo. Verli tertawa kecil melihat ekspresi kakaknya yang kaget. Hafka langsung menoleh ke arah istrinya agar tak tertawa lagi.
"Kalau memang suka bilang saja kak gak pa-pa, jangan malah nyuri pandang gitu ingat dosa, kalau bisa halalin langsung" ucap Verli ceplos-ceplos.
"Apaan sih dek.....tau dari mana kalau aku suka dama Aina" jawab Frisko.
"Udah kelihatan dari wajah kakak saat melihat Aina....dan tanpa aku bilang pun kakak tau bedanya Aina sama Tia padahal mereka sama-sama memakai niqab" ucap Verli.
"Ya kalau memang begitu jangan menunda lama-lama dihalalin saja langsung, dia itu perempuan baik dan tentunya sholehah, mama akan setuju kalau kamu sama dia" sahut Nadin yang sedari tadi hanya mendengarkan anaknya berdebat.
Frisko hanya diam saja tak menjawab. Tak bisa mempungkiri kalau memang ia mengagumi sosok Aina sejak awal bertemu. Bahkan ia juga menyukai sosok Aina yang lembut, santun, dan baik hati. Tapi ia masih ragu dengan dirinya sendiri yang masih banyak kurang. Sementara Aina wanita sholehah dan mulia hatinya.
"Apakah kakak pantas untuk dia...." ucap Frisko tak yakin.
"Pantas atau tidaknya seseorang itu hanya Allah yang menilai. Semua manusia punya kekurangan, kakak jangan berkecil hati. Aina itu perempuan baik, dia tidak akan memilih-memilih dalam mencari jodoh. Kalau kakak memang suka dengannya halalin saja jangan menunda-nunda, Aina pasti akan menerima kakak apa adanya" tutur Hafka menasehati.
"Dan kalian bisa belajar bersama nanti, sama-sama belajar untuk menuju jannah nya Allah, jika perlu shalat lah istiqarah minta petunjuk sama Allah kak" timpal Verli.
"Iya kakak akan shalat istiqarah dulu" jawab Frisko. Mereka pun mengiyakan kemudian makan bersama hingga selesai.
Setelah selesai sarapan Frisko dan Safren pamit untuk berangkat ke perusahaan. Sementara Verli dan Hafka akan kembali ke pesantren. Karna Hafka tak mau berlama-lama meninggalkan pekerjaannya. Verli menurut dan ikut pulang bersama suaminya.
Disisi lain Fera dan Radit sedang bertemu dengan suruhannya yang ditugaskan untuk mencelakai Verli dan suaminya. Namun anak buahnya malah memberi kabar tak mengenakkan. Pekerjaan mereka tak becus. Fera menjadi kesal sekaligus marah. Dento dan Jeri pun ikut marah karna tak terima dimaki dan dibentak oleh Fera maupun Radit.
"Aku sudah bayar kalian mahal buat menculik Verli saja gak becus. Lalu kalian bisanya apa, kalau begini aku gak akan ngasih uang sisa nya untuk kalian. Memang kalian gak becus kerjanya" maki Fera marah.
"Kami sudah berusaha tapi memang keberuntungan bukan berpihak pada kami. Pokoknya kami minta bayaran sisanya" ucap Dento tegas.
"Ow tidak bisa, tugas kalian saja gak bener jadi uang sisanya tidak akan kami berikan. Pergilah jangan temui kami lagi" tegas Radit.
"Dasar suami istri sama saja, sudah hamil bukannya mendidik malah membara seperti api, mau jadi apa tuh anak nanti" hardik Jeri.
"DIAM, Jaga mulut kalian ya....pergilah" bentak Radit marah tak terima.
Tanpa basa basi Dento dan Jeri langsung pergi tanpa mau mendengar ocehan suami istri sama liciknya. Fera sangat marah dan kesal karna hinaan dari suruhannya sendiri. Radit juga ikut marah, ia berusaha meredam amarah istrinya agar tak berpengaruh pada kandungan Fera.
Dimobil Dento dan Jeri langsung menghubungi Kely untuk memberi tau kalau tugas mereka sudah selesai. Setelah menelfon mereka pergi meninggalkan tempat tersebut menuju rumah kediaman Kely untuk bertemu disana.
Kely sudah memberi tau suaminya dan orang tuanya. Tak lupa dia juga memberi tau Verli dan kedua orang tua Verli. Namun Verli sudah memberi tau bahwa ia sudah perjalanna pulang ke pesantren. Akhirnya Kely hanya memberi tau Nadin agar bisa ke rumahnya untuk membicarakan mau dibawa kemana masalah tersebut.
__ADS_1
Nadin yang mendapat telfon dari Kely lamhsung memberi tau suaminya yang kebetulan sudah dirumah karna hanya meeting sebentar. Setelah memberi tau mereka pergi bersama naik mobil yang dikemudikan oleh supir mereka. Nadin tak lupa menelfon Verli, tapi ternyata Verli sudah tau duluan dari Kely. Nadin tetap meminta Verli agar pulang ke pesantren sebab kasihan dengan Hafka harus meninggalkan pekerjaannya.