
Preman itu sengaja mengajak bertemu ditempat sepi agar tidak diketahui orang lain. Kely pun menyetujuinya tanpa basa basi. Setelah dicari titik lokasi mereka berada akhirnya ketemu juga. Mereka ada dua orang berbadan besar. Alif dan Kely tak menciut nyalinya karna kedatangan mereka untuk bekerja sama.
"Apa kalian yang mengajak kami bertemu?" tanya salah satu preman tanpa basa basi setelah kedatangan Kely dan Alif.
"Iya saya yang mengajak kalian untuk bertemu" jawab Kely santai.
"Apa mau mu? Kenapa mengajak kami bertemu?" tanya preman itu lagi.
"Gak perlu basa basi, saya mengajak kalian bertemu untuk kerja sama seperti yang saya katakan dichat" ucap Kely penuh keyakinan.
"Ohh....terua apa imbalan yang kami dapat jika membantumu, apa bisa melebihi yang diberikan oleh bos Fera" tanya preman tersebut.
Kely menoleh ke Alif sekilas. Lalu diangguki oleh Alif seolah mengerti kode dari istrinya. Ya mereka sudah merancang rencana agar preman tersebut mau bekerja sama dengan mereka.
"Saya akan memberikan imbalan lebih banyak dari yang diberikan oleh Fera kepada kalian kalau perlu berkali lipat, asal kalian mau membantu kami untuk menjebak Fera, jika berhasil secara bersih maka saya akan memberi bonus juga, bagaimana apa kalian mau?" papar Alif pada dua preman yang ada didepannya.
Kedua preman tersebut saling pandang dan berpikir sejenak tentang penawaran dari Alif dan Kely. Dengan iming-iming imbalan yang lebih besar jelas mereka pasti tertarik tapi sepertinya mereka tidak langsung menyetujuinya malah berpikir satu sama lain.
"Oke, kami mau membantu kalian tapi berikan dulu uangnya dimuka baru kami akan percaya" ucap Dento salah satu preman tersebut.
"Gak masalah, apa ucapan kalian bisa dipegang!!" kata Alif memastikan agar mereka tidak membodohi.
"Tenang saja kami bukan tipe orang ingkar janji dengan ucapan sendiri" jawab Dento.
"Baiklah, berapa uang yang diberikan oleh Fera pada kalian akan kami kasih lebih besar"
"Sepuluh juta, apa kalian bisa ngasih lebih dari itu!!"
"Hanya sepuluh juta....oke saya akan kasih tiga puluh juta sekarang juga dan ditambah bonus jika kalian berhasil menjebak Fera. Uang kerja dan bonus jadi lima puluh juta, gimana?"
Mendapat tawaran yang besar jelas mereka tak menolaknya apalagi tergiur uang. Tapi buat Alif uang segitu bukan apa-apa.
"Oke kami terima, kirim dulu uangnya" kata Dento.
Alif pun meminta nomer rekening mereka. Setelah mendapat nomer rekeningnya Alif segera mentransfer uang sebanyak tiga puluh juta. Alif menyodorkan hanphonenya untuk menunjukkan tanda bukti kepada mereka setelah dilihat ternyata uang tersebut sudah masuk direkening Dento.
"Jika kalian berhasil akan saya tambahi bonusnya, sekarang dengarkan saya" ucap Alif serius.
Dento dan satu temannya bernama Jeri siap mendengarkan ucapan dari bos baru mereka. Kely menjelaskan semua rencana yang sudah disusun secara rapi. Agar Fera masuk jebakan mereka dan tak bisa mengelak lagi. Setelah menjelaskan panjang lebar Kely menyudahi ucapannya dan diangguki oleh dua preman tersebut.
"Baik kami akan laksanakan tugas itu segera, bos tenang saja kami akan kerjakan secara rapi dan bersih tanpa dicurigai" ucap Jeri yakin, yang sekarang sudah memanggil Alif dan Kely dengan sebutan bos.
"Bagus, jangan coba-coba membohongi kami awas jika kalian ketahuan berbohong" tegas Alif memperingati.
"Bos tenang saja kami tidak akan berkhianat" jawab Dento meyakinkan dengan bibir menyungging senyum.
__ADS_1
"Hubungi kami segera jika pekerjaan kalian beres"
"Siap!!"
Alif dan Kely akhirnya pergi dari gedung tua tersebut setelah membereskan urusannya. Disana sangat sepi karna tempatnya jauh dari lingkungan permukiman. Ada rumah tapi hanya beberapa dan itu jaraknya jauh.
Dalam mobil mereka bernafas lega dan berharap rencana ini berhasil. Mereka percaya Dento dan Jeri tidak akan berbohong. Setelah dari gedung tua tersebut mereka kembali melanjutkan perjalanan, bukan untuk pulang melainkan ke rumah Verli untuk bertemu dengannya.
🌻🌻🌻
Hafka dan Verli baru saja pulang dari rumah Dokter Brisma. Mereka pergi ke kamar, tak lama Verli turun mengambil camilan karna perutnya terasa lapar. Wajar ibu hamil sering lapar. Setelah mengambil camilan Verli pergi ke halaman belakang untuk menemui suaminya. Tadi ia juga minta pelayan untuk membuatkan jus untuknya dan untuk suaminya.
Di halaman belakang Hafka sedang duduk sambil membaca buku yang dipegangnya. Dengan senyum ceria Verli langsung duduk disamping suaminya. Melihat istrinya datang Hafka munutup buku yang dipegang lalu ditaruh disampingnya duduk. Verli bersandar di pundak Hafka sambil nyemil tak berhenti. Hafka jadi gemes liatnya.
Pelayan yang diperintahkan Verli untuk membuat jus akhirnya datang juga, lalu menaruh dua gelas berisi jus sirsak dan jambu ke atas meja. Ia pun kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.
Mereka berbincang sejenak sambil mengobrol. Memikirkan nama untuk calon anak mereka. Keduanya sudah membayangkan lucunya anak mereka nanti.
"Dede pasti lucu kalau sudah lahir, semoga kamu sehat terus ya di perut Umma" ucap Hafka mengobrol dengan bayinya sambil mengusap perut Verli.
"Aamiin..." jawab Verli tersenyum.
Tiba-tiba pelayan datang dan memberi tau mereka berdua jika diluar ada Alif dan Kely. Verli pun menyuruh pelayan tersebut untuk mempersilahkan mereka masuk dan menunggunya sebentar. Pelayan itu mengiyakan lalu pergi.
Tak lama mereka datang lalu menghampiri Alif dan Kely.
Verli memeluk Kely sejenak lalu menyuruhnya duduk kembali. Begitu pun dengan Alif setelah bersalaman dengan Hafka. Sebenarnya Kely ingin membahas hal yang tadi namun masih ada Nadin ditengah-tengah mereka. Ia takut dalah ngomong, karna Verli sebelumnya tidak pernah memberi tau pelaku kejadian kecelakaan tersebut.
Seolah mengerti Nadin pergi meninggalkan mereka untuk memberi ruang mengobrol. Ia juga tak mau menganggu momen pertemuan mereka yang jarang sekali. Kely bernafas lega setelah kepergian Nadin. Ia pun memberi tau niatnya datang kemari bersama suaminya.
"Kami kemari sebenarnya ada kepentingan sama kalian" ucap Alif mengawali.
"Kepentingan apa? Wajah kalian serius banget" ujar Verli yang merasa bahwa keduanya sama-sama serius.
"Ini tentang Radit dan Fera......" ucapan mereka langsung dipotong sama Hafka saat mendengar nama Radit da Fera disebut.
"Ngapain kalian ingin mambahas mereka, gak usah bahas mereka didepanku" sahut Hafka tak suka.
"Tapi ini menyangkut kalian berdua terutama Verli dan calon anakmu. Kalian gak tau kan kalau Fera sedang merencanakan sesuatu untuk menyakiti Verli? Disini kami ingin menjelaskan, jangan disela dulu.....sebelum itu apa kamu sudah tau ka tentang kecelakaan istrimu?"
"Sudah, pelakunya adalah Radit kan! Inginku penjarakan dia tapi istriku tak mau" jawab Hafka.
"Huufh, ya sudah kami ingin menjelaskan kalau Fera berencana menculik Verli dan menyabotase mobil mu, tapi kalian tenang saja kami sudah mengurusnya dan yang perlu kalian setujui hanyalah menjebloskan Radit dan istrinya ke dalam penjara" jelas Alif serius dan didengarkan oleh mereka berdua.
"Bentar.....rencana apa? Kalau masalah melaporkan ke polisi pasti aku setuju" kata Hafka.
__ADS_1
Kely pun menceritakan semuanya mulai dari Aina yang melihat Fera sampai Kely mengajak preman itu untuk bertemu dan bekerja sama. Merencanakan untuk menjebak Fera agar masuk perangkap mereka. Semua Kely ceritakan tak terlewat satu pun. Hafka melotot mendengar cerita Kely. Ia sangat geram tapi berusaha sabar dan mengontrol emosinya. Terlebih Verli yang syok tak percaya.
Padahal ia sudah baik tak mau memperpanjang masalah namun ternyata mereka tidak sadar juga dan malah menambah masalah. Verli bersyukur masih diberi keselamatan sama calon anaknya. Karna sudah kesal Verli pun mengiyakan apapun rencana sahabatnya yang akan dilakukan.
"Kalau kamu juga setuju sekarang juga kita harus cerita sama orang tuamu, kakakmu, ayah kandungmu, aku juga akan bilang sama papa, setelah itu kita kami akan membesreskan semuanya" papar Kely menjelaskan.
Verli pun mengiyakan perkataan Kely. Ia tak mau mengorban calon anaknya demi melindungi Radit dan Fera yang jahat padanya.
"Lebih baik kita mengatakan bersama jangan terpisah-pisah agar lebih jelas. Nanti aku akan menyuruh pada dan mama kemari untuk menjelaskan semuanya. Hubungi juga ayahmu, sekarang saja kalau bisa."
"Papa tadi keluar sebentar kalau Kak Frisko masih dikantor, ayah tadi ada dirumah biar aku yang telfon" ujar Verli.
Mereka pun membagi tugas. Verli memanggil Nadin untuk duduk bersama mereka. Lalu ia kembali menelfon Frisko agar cepat pulang. Nadin menjadi bingung, ada apa sebenarnya? Yang ada dalam pikiran Nadin. Ia bertanya beberapa kali namun Verli hanya menjawab sebentar.
Tak lama Safren dan Frisko datang. Mereka langsung duduk di sofa setelah mendapat telfon dari Verli. Namun telfon ke kontak Dokter Brisma tak diangkat jadi biar Verli sendiri nanti yang akan ke rumahnya.
Sesaat datanglah Abisfa dan Syafira. Mereka pun dipersilahkan duduk. Semua yang berkumpul sama-sama bingung dengan maksud dan tujuan anak-anak mereka. Setelah dirasa sudah berkumpul semua, Kely mulai membuka suara untuk mengawali.
Kely langsung berbicara niat dan tujuan mereka sebenarnya. Ia meminta kedua orang tuanya dan juga orang tua Verli agar mendengarkan dirinya berbicara dulu sampai selesai tampa di jeda. Mereka pun mengiyakan dan Kely mulai menceritakan semuanya. Dari awal hingga akhir tanpa ditutup-tutupi atau pun ditambahi. Semua yang ada dikatakan dengan jujur dan rinci tanpa terlewat pun. Verli hanya menunduk sambil mendengarkan sahabatnya berbicara.
Orang tua Verli maupun orang tua Kely sama-sama kaget dan marah. Terlebih Safren yang sudah menahan amarah sedari tadi. Kelakuan Radit dan Fera sungguh menguras emosi mereka semua. Pembicaraan pun di akhiri oleh Kely setelah dirasa sudah diceritakan semuanya. Termasuk menceritakan niat dirinya untuk menjebak Fera.
"Jadi bagaimana om dan tante? kita perlu bukti itu dulu agar mereka berdua bisa masuk penjara" ujar Kely.
"Om setuju, jalankan dulu rencanamu dan kita lihat hasilnya. Kalau perlu lebihkan bonus untuk mereka jika berhasil. Dia harus benar-benar mendekam dipenjara" ucap Safren marah.
"Tapi pa, Fera lagi hamil kasihan kalau harus melahirkan dipenjara" sahut Verli mengibah.
"Kamu tak perlu mengasihani orang yang sudah melukaimu, sudah kamu menurut saja" kata Nadin yang sudah geram.
Verli hanya bisa pasrah dan menuruti mereka semua. Yaa walau dihatinya ada rasa kasihan.
"Kamu juga harus berterima kasih sama sahabatmu itu siapa namanya?" timpal Abisfa.
"Aina dan Tia maksud papa"
"Nah iya mereka, kalau enggak karna mereka pasti kamu gak bakalan tau semua ini. Pantas mereka diberi hadiah" ujar Abisfa.
"Iya, ajaklah mereka kesini untuk makan bersama kalian juga atau kita makan diluar sama-sama. Jarang sekali kita bisa berkumpul" sahut Safren.
"Boleh kita makan diluar saja malam ini bagaimana?" tanya Syafira.
"Setuju!!" jawab Kely dan Alif bebarengan.
Akhirnya mereka sepakat untuk makan malam bersama malam ini. Alif, Kely, dan kedua orang tuanya pamit untuk pulang dulu, nanti mereka akan langsung bertemu direstoran yang sudah ditentukan. Kely tak lupa menghubungi Aina untuk mengajaknya makan malam.
__ADS_1