
"Dia ini adalah sahabatku apa kalian tidak mengenalnya!!" kata kely.
Sontak hafka berpikir dan kaget, ia bertanya-tanya pada hatinya apakah itu dia? kok bisa ada disini?. Lamunan hafka buyar karna ustadz devan menepuk pundak hafka pelan.
"Kenapa malah melamun ka?" tanya devan.
"Hah, ah enggak udah ayo masuk ada abi tuh mau jalan kesini" jawab hafka terkejut sampai gelagapan.
"Ya ayo" ajaknya.
Hafka, alif dan devan pun masuk ke masjid disusul abi yusuf yang baru sampai.
"Kalian kenal dengan ustadz devan dan ustadz hafka?" tanya aina.
"Hah ustadz maksutnya?" tanya balik kely matanya melotot tajam.
"Nanti aja dibahasnya, udah masuk waktu isya' nih mau diam aja disini"
"Biasa aja ver"
Verli dan ketiga sahabatnya pun memasuki masjid.
Shalat isya' sudah selesai dilaksanakan. Para santri pun kembali ke asrama masing-masing tak kecuali hafka, alif, dan devan yang masih setia dimasjid.
Hafka masih heran dengan perkataan kely yang menyebut sahabatnya. Lantas hafka menanyakan itu pada abinya.
"Abi, hafka mau tanya?"
"Tanya apa?" jawab abi yusuf seraya menatap hafka.
"Perempuan yang pakai kursi roda itu santri baru ya?"
"Ow iya udah beberapa hari disini, memangnya kenapa?"
"Namanya verli bukan bi"
"Loh kok kami tau ka, udah saling kenal?" abi yusuf jadi penasaran lalu menatap hafka serius.
"Jadi bener itu dia, kok beda banget......dan sejak kapan dia bisa berubah seluruhnya, masya Allah hidayah memang datang dari mana saja.......Lah kok malah muji astagfirullah" keluh hafka.
"Tuh kan ngelamun lagi, afka kok jadi ngelamun sih" tangan devan melambai didepan wajah hafka agar ia sadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Hafka kamu kenal nak?"
"Kenal abi, tapi itu juga gak sengaja kok" jawab hafka.
"Jodoh mungkin" celocos alif lantas hafka langsung menoleh ke alif menatapnya intens.
****
Satu minggu berlalu, verli hari ini akan dijemput oleh orang tuanya karna ia harus kontrol dirumah sakit yang ada dipusat kota.
Sebelum pergi verli sudah merapikan kamarnya. Kely juga akan pergi bersama verli, nanti orang tua kely menunggu di rumah sakit.
Safren dan nadin sudah sampai dipesantren. Mereka lalu menghampiri verli dan kely yang sudah siap.
Mereka sudah berpamitan kepada abi yusuf dan ummi halimah. Safren mendorong kursi roda verli menuju mobil.
Mobil mereka sudah sampai didepan rumah sakit, kely turun dibantu oleh mamanya. Verli pun juga ikut turun, mereka langsung menuju ruang dokter dan periksa secara bergantian.
Nama kely dipanggil duluan, ia pun masuk bersama syafira. Dokter menjelaskan bahwa keadaan kaki kely sudah membaik, ia sudah bisa lepas dari bantuan tongkat untuk berjalan.
Dengar perkataan dokter, kely merasa senang karna penyembuhannya tidak butuh waktu yang cukup lama. Karna semangatnya untuk sembuh sangat besar jadi tiap hari ia belajar berjalan normal dan terapi.
Dokter menjelaskan pada kedua orang tua verli, jika penyembuhan untuk kaki verli mungkin bisa dilakukan. Dan keadaan kaki verli saat dilihat lewat hasil rongsen mulai membaik.
"Ini sangat bagus, hasil awal menunjukkan kalau untuk penyembuhan sangat mustahil tapi saat saya melihat hasilnya kemungkinan untuk sembuh pasti ada" jelas dokter.
"Jadi anak saya bisa sembuh kan dok?" tanya nadin.
"Dengan izin Tuhan pasti bisa berdoa saja"
"Alhamdulillah" ucap verli.
"Namun butuh waktu lama, tidak bisa dua minggu atau pun satu bulan walaupun kemungkinan ada itu tidak lah sangat besar......"
"Gak apa-apa dok, semua juga butuh proses" kata verli.
Setelah terapi dan sedikit penjelasan dari dokter, verli pun keluar.
Kely melihat wajah ceria verli, lalu ia bertanya-tanya pada verli bagaimana hasilnya.
Verli pun menjelaskan apa saja yang tadi dikatakan oleh dokter padanya. Kely ikut senang walaupun perlu proses lama untuk penyembuhan. Setidaknya ada harapan untuk kembali pulih.
__ADS_1
Kely mengajak verli untuk jalan-jalan sebentar sambil menunggu orang tuanya mengambil obat.
****
Mereka berkeliling taman, kely menyipitkan matanya melihat pemandangan yang ada didepan mata dua sepasang kekasih. Lalu ia berbisik pada verli dan mereka pun hendak mendekat ingin lewat tapi tak disangka obrolan keduanya menyita perhatian verli dan kely.
Kely pun mengambil hanphone yang ada disakunya lalu membuka kamera untuk merekam semua obrolan mereka.
Verli fokus mendengarkan obrolan mereka sehingga tidak melihat kely saat merekam.
"Udah lama kan gak ada yang tau, aku mah pintar" ucap si lelaki.
"Kamu memang pintar, dah lama gak liat mereka berdua dikampus......hmm apa gak mereka udah gak ada muka ya buat nongol" saut fera.
"Kayak nya gitu, aku senang liat verli menderita, padahal sasaranku dia tapi sahabatnya kena juga.....gak pa-pa sih lebih bagus dan rencanaku berhasil.......polisi aja bodoh hahaha semua bukti udah aku kandaskan jadi gak ada yang tau kalau itu ulahku" ucap radit sambil tertawa cekikikan.
"Ssstt jangan keras-keras nanti didengar orang gimana!!" kata fera sambil melirik ke sana kemari.
"Santai saja sayang, gak ada yang tau kok" ujarnya santai.
Verli dan kely membelalakkan matanya tak percaya, ternyata dalang dibalik kecelakaan mereka adalah radit. Kely mematikan hanphonnya lalu melirik ke arah verli.
Amarah kely pun memuncak, apalagi selama ini polisi belum busa memecahkan siapa tersangkanya. Tapi sekarang orangnya sendiri yang berucap didepan kely dan verli secara langsung.
Mereka sedikit menjauh agar tidak diketahui, saat aman kely berbicara dengan verli.
"Dasar si radit keterlaluan ver, kita harus bilang sama orang tua kita biar dia dipenjara......gara-gara dia kita jadi gak bisa jalan lagi, lihat sampai kamu lumpuh kayak begini" ketus kely marah.
"Aku juga kaget key ternyata radit dalangnya, tapi biarkan saja hukuman Allah lebih adil....aku sudah menerimanya kok gak usah diperpanjang" kata verli.
"APA!!! Ya gak bisa semudah itu ver, aku gak terima pokoknya dia harus dapat hukumannya, kebenaran harus ditegakkan kalau kamu biarkan saja dia malah tambah ngelunjak"
"Buat apa naruh dendam key itu gak akan membuat semuanya berubah, biarkan saja Allah yang menyadarkan dia jangan ada rasa dendam gak baik dosa" tutur verli.
"Hmm terserah kamu aja deh ver percuma bilang sama kamu"
"Aku udah ikhlas key, tanpa kejadian ini mungkin aku akan tetap jadi verli yang nakal dan bandel bukan verli yang sekarang, semua itu ada hikmahnya"
Mereka beranjak ingin pergi namun radit melihat kely. Ia pun menyaoa mereka tak ramah tetap dengan sikapnya yang dingin dan penuh dengan kekesalan.
Verli hanya diam saja sepertinya radit tidak mengenali verli karna ia memakai niqab. Hati verli berusaha untuk mengikhlaskan kejadian yang udah berlalu tapi tidak dengan kely yang merasa marah.
__ADS_1