
hafka hanya diam dan mengangguk lalu memundurkan tubuhnya beberapa senti dari verli.
Verli terus mencoba walau pun beberapa kali hampir jatuh tapi semangatnya tidak ada putusnya. Sampai pada akhir ia bisa berjalan memakai satu tongkat dengan lancar.
"Cobalah lagi dan lagi, kamu pasti bisa kok......ingat pesanku jangan lupa basmalah, berdoa, dan jangan putus asa" nasihat hafka.
Verli masih mencoba berjalan sampai tak sadar jika hafka ngobrol sama dia. Verli hanya mendengarkan dan mengangguk saat menoleh ia baru menyadari bahwa hafka tidak ada didepannya. Bahkan tongkat yang dipegangnya tadi pun tidak ada, verli bengong bagaimana bisa hafka tiba-tiba menghilang.
Verli baru sadar bahwa ditempat itu hanya dia seorang saja tidak ada siapapun. Setelah dicari pun tidak ada, dari situ verli menyimpulkan kalau tadi dirinya hanya berhalusinasi saja.
Tapi posisi dia sekarang tidak duduk dikursi roda melainkan berdiri sambil tangan sebelahnya memegang tembok disebelahnya. Verli terkejut saat menyadari itu, bibirnya mengukir senyuman diiringi dengan air mata yang membasahi pipinya.
"Masya Allah aku bisa jalan, ini gak mimpi kan!!" verli menepuk pipinya sedikit kencang ternyata itu nyata tidak mimpi karna ia merasa sakit saat pipinya di tepuk.
Verli mencoba meraih kursi roda didepannya. Agak kesulitan walaupun bisa berdiri tapi untuk berjalan normal agak susah. Ia tertenteng-tenteng berusaha meraih kursi roda. Kakinya bisa digerakkan namun sedikit pincang. Verli tetap senang karna sebelumnya kaki itu terasa berat bahkan verli tidak bisa merasakan kakinya sendiri.
Sekarang ia bisa menggerakkan sedikit. Dalam hati verli bergumam tentang kejadian barusan.
"Ini bukan mimpi tapi kok bisa ya, tadi itu aku hanya berhalusinasi saja kan!! Tapi kok kaki ku bisa gerak beneran dan tanganku ini sakit apa enggak dua tongkat bisa aku himpit" gumam verli.
Lagi dan lagi verli dibuat heran, tangannya masih pakai gips namun sudah tidak pakai gendongan lagi. Anehnya tangan verli kuat menyanggah tongkat tersebut.
"Ini tangan rasanya enteng banget pegang itu tongkat ya, tapi gak terasa berat juga sih......ah aku jadi bingung dengan semua ini" ucapnya heran.
"Aku sembunyikan saja gak usah beri tau kesiapapun, biarkan mereka menilaiku apa adanya, dengan hal ini aku bisa tau mana yang benar-benar peduli denganku dan mana yang hanya memanfaatkan saja"
"Lebih baik sekarang aku kembali ke kamar dari pada nanti kely kebangun aku gak ada dikamar"
Verli kembali ke kamarnya dengan menggerakkan kursi roda menggunakan satu tangan.
****
Hafka tengah melamun sendiri dikamarnya sampai sang ummi memanggil. Hafka pun menghampiri panggilan dari sang ummi.
Ummi halimah melihat hafka belum bersiap untuk berangkat. Kemudian menyuruh hafka terlebih dahulu ke tempat devan untuk mengantarkan buku baru.
__ADS_1
"Kok belum siap berangkat nak? Gak kerja toh?" tanya ummi halimah.
"Kerja ummi habis ini mau siap - siap, jadwalnya gak pagi banget jadi hafka gak buru-buru, ada apa ummi memanggil hafka?"
"Ini kamu antar nanti buku baru ke rumah devan kalau ada yang kurang suruh bilang" utusnya.
"Baik ummi sini biar hafka antar sekarang"
"Gak sekalian berangkat kerja nanti nak? Biar gak bolak balik"
"Tida usah ummi keburu nanti devan kesini"
"Assalamualaikum" ucap seorang tamu.
"Wa'alaikumussam"
"Pagi banget udah kesini tadi aku baru mau ke rumah kamu antar ini buku, eh orangnya udah kesini duluan"
Ternyata belum juga hafka berangkat devan sudah sampai duluan. Ia memang sengaja ke pesantren pagi-pagi karna mau menjadwal dan mengurua para santri pagi ini sekalian ambil buku yang kemarin di bilang kyai yusuf.
"Sekalian ka sini udah ada aku, biar ku bawa ke kelas" devan mengambil buku ditangan hafka.
"Wa'alaikumussalam.
Hafka juga hendak berangkat kerja. Namun pikirannya melayang ke lain tempat, ia mungkin masih memikirkan mimpinya semalam. Hafka masih berharap bahwa yang tadi malam itu hanya halusinasi bukan mimpi.
Jika mimpi apa itu pertanda? Entahlah hafka akan mencoba lagi masih ada satu hari sebelum besok ia memutuskan jawaban pada orang tuanya.
*****
"Hey verli kok melamun kenapa?" tanya kely yang menyenggol bahu verli.
"Ah enggak kok mana ada melamun" elak verli berbohong.
"Ayo ke tempat ustadzah haidah, kamu belum setor hafalan loh"
__ADS_1
"Astagfirullah iya untung saja kamu ingetin ya udah ayok"
Verli masih tak percaya dengan kejadian semalam yang membuatnya seperti mimpi tapi nyata.
Mereka pun menghampiri ustadzah haidah untuk setoran. Ternyata disana ada aina dan tia juga beberapa santri yang memang berniat setoran.
Selesai dari sana mereka pergi ke perpustakaan karna ada jam longgar, verli memakainya untuk mengerjakan tugas kuliahnya yang tertunda. Mungkin ia akan kembali berkuliah dikampus setelah menyelesaikan tugasnya dipesantren.
Karna hatinya merasa masih kurang ilmu yang didapat dari pesantren. Jadi verli masih ingin menggali ilmu lebih dalam lagi diponpes. Agar ilmu agama didapat dan ilmu untuk dunia juga dapat semua harus seimbang, tidak hanya dunia yang terua dikejar. Akhirat pun juga harus terus dikejar.
Beda dengan suasana hati alif sekarang yang sedang bersandar dikursi kantornya. Memandangi layar ponsel dengan sedikit mengukir lengkungan dibibirnya. Melihat akun media sosial yang ia kenal, seperti termabuk cinta.
Berulang kali alif melihatnya sampai terbawa suasana, tanpa sadar deni asisten alif sudah masuk keruangannya karna tidak dikunci. Diketuk tidak ada sautan jadi deni langsung masuk begitu saja.
"Tuan?" panggilnya canggung sembari tertawa didalam hati melihat atasannya senyum-senyum sendiri.
"Sejak kapan kau berdiri disitu!! Kenapa tidak ketuk pintu dulu gak sopan sekali kamu" marah alif menatap asistennya tajam.
"Ma-maaf tuan, tadi saya sudah ketuk beberapa kali tidak ada jawaban, pintu juga agak terbuka jadi saya kira anda memperbolehkan masuk, maaf kalau saya lancang" ucap deni asisten alif menunduk.
"Lain kali jangan masuk tanpa izin, ada apa?" tanya alif ketus.
"Ya ampun kalau marah ganas sekali, memangnya liat apa sih sampai senyum-senyum sendiri....pasti liat perempuan, kalau gak gitu gak bakal senyum sendiri kalau orang lain liat pasti sudah dikira gila" batin deni yang mengumpat bosnya sendiri.
"Hey ditanya malah bengong, kalau mau mengumbat depan orangnya langsung gak usah membatin, cepet ada apa?" ujar alif seperti tau isi hati deni.
Deni melongo dengar utaran dari atasannya, dengan gelagapan deni menyerah kan dokumen ditangannya.
"In-ini berkas yang anda minta tadi tuan, semua sudah saya tata rapi anda tinggal menandatangani saja"
"Baiklah tinggalkan saya sendiri"
"Saya permisi"
Alif meneruskan pekerjaannya, konsentrasi terganggu karna kedatangan deni sang asisten yang mengejutkan alif.
__ADS_1
Diluar tepatnya didepan pintu ruangan alif, deni kembali bergumam sendiri.
"Ck gimana bisa tau pak alif itu, kayak paranormal aja bisa baca isi pikiranku, haduh deni lain kali gak usah kau mengumpat dibelakang orangnya, sudah tau kalau marah galak banget" gumam deni lalu pergi sambik godak-godek tak jelas.