CINTA DISEPERTIGA MALAM

CINTA DISEPERTIGA MALAM
BAB 97. MENUJU RUMAH SAKIT


__ADS_3

Hari ini akan kedatangan tamu dipesantren yang ditunggu-tunggu dari kemarin. Ustadz Devan dan ustadzah Haidah, disana juga ada Tia yang kebetulan main bersama Verli, jadi dia ikut berkumpul jug. Mereka berkumpul bersama untuk menyambut tamu tersebut. Hmm siapa ya tamunya? Penasaran nih. Tungguin dulu ya masih dijalan soalnya.


Selang beberapa menit sebuah mobil hitam masuk ke pekarangan pesantren. Kyai Yusuf langsung keluar bersama ummi Halimah. Keluarlah seorang pria dari dalam mobil, senyum mengembang di wajah mereka semua. Pria itu tersenyum ke arah mereka dan langsung menyalami kyai Yusuf dan Ummi Halimah.


Hafka dan ustadz Devan membantu membawakan barang-barangnya untuk dibawa masuk. Mereka pun berkumpul diruang tamu, Verli dan Tia menyediakan minum ke atas meja. Setelah itu mereka berbincang-bincang seperti melepas rindu yang sudah lama terpendam.


"Bagaimana kabarmu Arga?" tanya kyai Yusuf.


"Alhamdulillah Arga baik abi" jawab pria tersebut yang dipanggil Arga.


"Alhamdulillah"


"Apakah kamu tidak akan kembali lagi? Katanya mau menetap disini" timpal Hafka.


"Iya, aku memang akan menetap disini. In sya Allah aku bisa bantu kamu untuk mengurus pesantren." jawab Arga.


Arga adalah sepupu Hafka dari ummi Halimah. Selama ini dia tinggal di Kaero untuk melanjutkan study nya. Walau pun studynya sudah selesai Arga tidak langsung kembali ke negaranya karna disana ada tugas yang harus dia jalani. Umur Hafka dan Arga hanya selisih beberapa tahun saja.


Arga dari kecil sudah ditinggalkan oleh ibunya karna melahirkan dia. Dan ayahnya juga sudah menikah lagi tanpa memperdulikan Arga. Ibu Arga itu adik kandung dari ummi Halimah. Jadi selama ini Arga dirawat dan dibesarkan oleh kyai Yusuf dan ummi Halimah. Bahkan kasih sayang pun tak pernah dibedakan, sampai Arga dikuliahkan di Kaero bersama Hafka dan Kenza.


"Bagus lah jadi ada yang bantu, karna waktuku juga terbagi di rumah sakit." ujar Hafka.


"Aku tau, oleh sebab itu aku pulang. Aku juga rindu dengan suasan pesantren dan kalian semua terutama ummi dan abi." ucap Arga.


"Alhamdulillah ummi senang bisa melihat kamu pulang lagi. Kirain mau tinggal disana terus" sahut ummi Halimah.


"Tidaklah ummi, disini tempatku dibesarkan jadi mana mungkin Arga akan tinggal ditempat lain apalagi negara orang" jawab Arga mengilah.


"Ohh ya istri kamu yang mana?" tanya Arga pada Hafka.


"Ini istriku, namanya Verli" ucap Hafka sambil menunjuk Verli yang duduk disebelah ummi Halimah.


"Ow iya, maaf waktu hari pernikahan kalian aku gak bisa datang. Aku hanya bisa mendoakan saja"


"Doa dari kamu sudah cukup untuk kami."


Pandangan Arga pun beralih pada Tia yang duduk disebelah Verli. Tapi dia tak berani menatap lama hanya sekilas saja. Dia belum tau jika Tia juga mengajar disana. Sebisa mungkin dia menundukkan pandangannya dari tatapan yang haram untuknya.


"Ga kamu gak lupa kan sama aku, nanti kebanyakan di luar negri jadi lupa sama aku." sahut Devan.


"Eh ya enggak lah, mana mungkin aku lupa sama sahabat satuku ini. Kamu baikkan? Bagaimana mengajar disini setelah lulus" tanya balik Arga.


"Ya seperti yang kamu lihat sekarang aku baik dan alhamdulillah aku betah mengajar disini. Syukurlah setelah ini bertambah yang membimbing"

__ADS_1


"Heheh iya" jawab Arga sambil tertawa lirih.


Verli sudah diberi tau soal Arga oleh Hafka. Jauh-jauh hari dia sudah mengetahuinya bahwa suaminya punya saudara yang tinggal di luar negri bernama Arga. Semua sudah dijelaskan oleh Hafka jadi saat bertemu dia tidak kaget.


Ustadz Devan jelas tau Arga, karna kan sejak kecil sudah bersama jadi mereka bersahabat bertiga bersama Kenza juga. Tapi kedekatan mereka terbelah untuk masa kuliah, karna mereka kuliah tidak barengan. Arga masih dibawah Hafka dan Devan jadi dia masuk kuliah juga belakangan.


Mereka terus berbincang untuk melepas rindu. Sudah lama Arga tidak pulang sejak awal pergi untuk menuntut ilmu. Baru pulang saat sudah lulus dan urusannya disana sudah selesai. Hafka tidak pernah iri atau pun pilih kasih dengan Arga. Buat dia Arga tetaplah saudaranya, adik yang harus dia jaga. Sama halnya dengan Kenza yang tidak pernah membedakan antara Hafka dan Arga. Mereka sama-sama adiknya.


🌴


🌴


🌴


Hafka tengah mencari udara segar dilingkungan pesantren bersama Arga dan kakaknya Kenza bersama Devan juga. Mereka berkumpuk berempat di bawah pohon rindang tempat biasa untuk berteduh. Kenza baru datang tadi siang setelah ada acara diluar. Ia membawa istrinya kemari dan sekarang berada dirumah bersama Verli.


Ada beberapa yang mereka bahas terutama tentang Arga yang akan membantu untuk mengurua pesantren. Tapi entah ujungnya dari mana percakapan pun berpindah mengenai pasangan masing-masing. Berbicara tentang jodoh dan pernikahan, membuat jiwa yang jomblo meronta-ronta.


"Satu minggu lagi sih kata dokter untuk Verli melahirkan, itu pun bisa maju bisa mundur." jelas Hafka saat ditanya oleh Kenza soal persalinan istrinya.


"Semoga bisa lancar sampai persalinan ya tanpa hambatan, ibu dan anak sehat"


"Aamiin" mereka kompak menjawab.


"Ohh Tia maksudnya?"


"Aku saja gak tau namanya..." ujar Arga sambil menaikkan pundaknya.


"Memangnya kenapa dengan Tia?" tanya Devan.


"Gak pa-pa sih pengen tanya saja, aku kok baru liat. Dia ngajar disini juga?" tanya Arga.


"Iya Tia memang mengajar disini, dia alumni sini lalu setelah kuliahnya selesai abi menyuruh Tia dan Aina untuk mengajar dipesantren" jelas Hafka.


"Ohh begitu, lah Aina itu siapa nya Tia dan tadi aku juga gak liat dia" ucap Arga.


"Ya memang karna Aina sudah menikah. Tia dan Aina itu sahabat dari awal mereka masuk ke kesini." sahut Devan.


"Ohh pantes........Tia itu masih sendiri kah?" tanya Arga pada mereka bertiga.


"Kenapa tanya-tanya soal Tia! Suka ya.....hmm halalin kalau memang suka jangan ditunda" ceplos Kenza.


"Eh enggak kok.......aku cuma tanya saja, kenal aja baru tadi" ujar Arga menolak perkataan Kenza.

__ADS_1


"Suka juga gak pa-pa, siapa tau memang jodohnya kamu. Aamiin kan dong"


"AAMIIN" ucap Devan dan Kenza secara bersamaan saraya meninggikan suaranya.


Hafka tertawa lirih melihat itu, beda dengan ekspresi wajah Arga yang tak bisa ditebak. Mana tau memang di hatinya dia mengaminkan ucapan Hafka tadi. Malu sih tidak, tapi lebih ke senang saja. Entah apa yang di pikirkan oleh Arga. Apakah dia sudah menaruh hati pada Tia? Doakan saja ya semoga mereka benar-benar bisa bersatu.


Setelah puas berbincang mereka pergi ke masjid untuk mempersiapkan, karna sebentar lagi waktu shalat tiba. Hari ini keluarga Hafka lengkap, ada kakaknya dan juga sepupunya yang sudah menjadi saudara buat Hafka.


🌺


🌺


🌺


Pagi hari Verli sedang membantu ummi Halimah didapur untuk mempersiapkan sarapan. Selesai membantu Verli diminta ummi Halimah untuk pergi ke kamar saja. Karna kandungan Verli sudah besar agar tidak terlalu capek. Memang sih Verli selalu merasa lelah dan sulit berjalan semenjak perutnya mulai membesar.


Ia masuk ke kamar dan membantu suaminya untuk bersiap berangkat kerja. Hafka baru saja keluar dari kamar mandi, tadi Verli juga sudah menyiapkan pakaian Hafka. Sejenak Verli duduk ditepi ranjang sambil mengelus-elus perutnya. Ia merasa sedikit sakit, dipikiran Verli mungkin hanya kontraksi palsu.


Hafka keluar dari ruang ganti dan melihat istrinya sedang duduk seperti menahan sakit. Ia langsung menghampiri Verli dan menanyakan ada apa.


"Kenapa? Apa perut kamu sakit?" tanya Hafka duduk disamping Verli sambil memegang perut istrinya.


"Iya.....palingan juga kontraksi palsu seperti biasanya" jawab Verli sambil menahan sakit.


"Kita ke rumah sakit sekarang ya, aku khawatir sama kamu. Jangan-jangan kamu mau lahiran" tukas Hafka mulai khawatir.


"Kan masih kurang satu minggu lagi.....mendingan mas segera berangkat kerja. Aku gak pa-pa kok" ucap Verli sambil tersenyum.


"Dek dokter kan juga bilang kalau waktunya bisa maju bisa mundur. Mending aku antar periksa dulu ya, ayo aku gak akan tenang ninggalin kamu kerja" ajak Hafka terus memaksa.


Verli hanya tersenyum sambil menahan sakit yang makin lama makin menjadi. Begitu kuat rasa sakit itu, padahal biasanya tidak sampai sesakit ini.


"Arrgghh....." jerit Verli saat merasakan perutnya bertambah sakit. Hafka khawatir dan langsung menggendong Verli ke luar untuk dibawa ke rumah sakit. Tidak ada pikiran lain dibenak Hafka sekarang selain istri dan anaknya.


Saat keluar dia berpapasan dengan ummi Halimah. Jelas orang tuanya merasa kaget melihat Hafka keluar sambil menggendong Verli.


"Nak ada apa, kenapa dengan istrimu?" tanya ummi Halimah.


"Sepertinya Verli mau melahirkan, aku bawa ke rumah sakit dulu ya ummi." jawab Hafka terburu-buru. Semua sudah dipersiapkan oleh mereka berdua. Mulai dari pakaian dan barang lain yang sekiranya diperlukan nanti saat lahiran. Agar kalau mau menjelang persalinan mereka tidak bingung untuk mempersiapkan semuanya.


Arga ikut membantu Hafka untuk ke rumah sakit. Ia akan membawa mobil Hafka, karna Arga tau Hafka tidak akan fokus menyetir melihat Verli kesakitan seperti itu. Jadi Arga menyetir didepan dan Hafka mendampingi Verli duduk dibelakang.


Ditengah perjalanan Hafka meminta temannya yang dirumah sakit untuk bilang sama dokter Arina kalau istrinya sedang dibawa ke rumah sakit. Agar mempersiapkan semuanya. Verli tak henti-hentinya beristigfar disaat sakit yang makin lama makin sakit. Tidak bisa digambarkan rasa sakit tersebut.

__ADS_1


Hafka terus memandang istrinya yang terus mengerang kesakitan. Hafka tidak tega melihatnya, ia ikut merasakan rasa sakit itu walau pun bukan fisiknya tapi batinnya merasa sakit melihatnya.


__ADS_2