CINTA DISEPERTIGA MALAM

CINTA DISEPERTIGA MALAM
BAB 44. FOTO


__ADS_3

"Maaf paman kalau hafka kesini gak bilang dulu, emang niatnya tadi mau kesini langsung saja"


"Gimana dengan kerja kamu afka?" tanya alif.


"Alhamdulillah lancar aja, nah aku kesini juga mau bilang sesuatu sama paman dan bibi" ucap hafka.


"Mau bicara apa?" tanya niko.


"Apa boleh hafka beberapa hari kedepan menginap di sini paman? Sampai akhir minggu ini saja setelah itu hafka akan kembali pulang ke rumah abi" jawab hafka.


"Ya gak pa-pa lah kamu ini ka kayak sama siapa aja, tinggal lah disini......memangnya kamu mau pulang kenapa bukannya beberapa hari yang lalu udah ngambil cuti?"


"Memang hafka baru kembali beberapa hari yang lalu dan hafka juga mau resain sekaligus pindah tugas, mangkanya hafka mau izin menginap disini sampai masa keeja hafka selesai" jelasnya.


"Loh kenapa ka kok tiba-tiba mau resain?" tanya alif.


"Kasihan abi dan umi kalau harus jauh sama hafka dan abi juga ingin hafka membantu untuk mengurus pesantren" jawabnya.


"Owalah gitu ta!! Ya aku juga gak bisa maksa tapi makin gak bisa deket dong sama kamu ka kalau jauh begini" ujar alif merengut.


"Kamu kan bisa main nanti kalau ada waktu, kapan-kapan aku juga bisa liburan main ke sini"


"Iya udah, kasihan juga kak yusuf kalau kamu tinggal jauh lebih baik dekat sekalian ngurus pesantren" jawab niko.


"Nggih paman"


"Jadi kapan mau nginep sini ka, besok apa sekarang?" tanya alif.


"Sekarang aja, mumpung udah ada disini kalau maslaah barang bisa diambil besok" kata niko.


"Hmm ya sudah paman" jawab hafka.


***


Verli dan kely berada dikamarnya bersama kedua teman baru mereka. Karna waktu senggang mereka gunakan untuk saling bertukar ilmu dan belajar bersama.


Walau pun mereka baru saja kenal sudah akrab satu sama lain. Bahkan verli sudah mengganggapnya sebagai sahabat sendiri. Nanti malam mereka ada cerahan hati dimasjid dan ustadz devan yang akan memimpin.


"Aina apa boleh aku mencoba pakai niqab sepertimu?" tanya verli yang membuat kely dan kedua temannya memandangi verli.

__ADS_1


"Kamu serius ver?" tanya kely.


"Aku hanya ingin mencoba saja apa tidak boleh!!" jawabnya polos.


"Masya Allah gak apa verli malah aku sangat senang kalau kamu mau mencoba, sebentar ya aku ambilkan di lemari" aina pun pergi dari kamar verli menuju lemarnya fan mengambil niqab.


"Ini verli, aku pakaikan ya......dan cobalah kamu resapi dan renungi saat memakainya carilah kenyamanan di saat kamu memakainya" tutur aina.


Verli mengangguk dan aina langsung memakaikan niqab itu ke wajah putih mulus verli. Entah gertakan dari mana sampai verli mau mencoba memakai niqab semoga seterusnya bisa istiqomah. Tapi hatinya sangat menginginkan itu, tak masalah hanya sekedar mencoba kalau nyaman bisa istiqomah seterusnya.


Kely melongo melihat sahabatnya memakai niqab pertama kali dihadapannya langsung. Ia memutar otak lagi ke belakang membedakan verli yang dulu dengan sekarang sangat jauh berbeda. Kely merasa tenang jika verli bisa berubah dan tak terlilit pergaulan bebas diluar sana.


"Masya Allah verli cantik banget kamu, kalau bisa pertahanin ya istiqomah" puji kely.


"Iya kalau bisa pertahankan dan belajar istiqomah kamu pasti bisa" ucap tia.


"Ini beneran kamu kan ver, aku sampai panggling loh......ya ampun aku gak bisa bayangin bedanya kamu dulu dengan sekarang, waw verli good" pujian terus terlontar dari mulut kely.


Verli hanya diam tanpa menjawabnya. Ia melihat dicermin dirinya yang sekarang, seakan ia membayangkan apa saja perbuatan yang sudah terlewat batas di masa lalu. Sekarang ia benar-benar menyadari mana yang baik dan salah, untuk yang dulu itu adalah kesalahan. Hati verli merasa nyaman dan tentram saat memakai niqab hingga tak terasa ada kristal bening yang menyentuh pipinya.


Ada niatan hati dari verli untuk memakainya terus tapi ia merasa tak pantas akan dosa yang sudah diperbuat dimasa lalu. Ia menunduk dan merenungi semuanya.


"Nangislah verli kalau itu bisa membuat hatimu menjadi lebih baik" ucap tia.


"Aku merasa gak pantas memakai ini" sambil memegang niqab diwajahnya. "Aku udah salah dan bahkan kesalahanku sangat besar bagiku, apa aku pantas?" tangis verli.


"Jangan merasa begitu verli, Allah saja maha pengampun selagi kamu bersungguh-sungguh Allah pasti akan mengampuni segala dosamu.......jangan pernah berkecil hati, semua manusia tidak ada yang tak luput dari dosa, aku saja juga masih banyak dosa tapi teruslah bertaubat, dan orang yang suka bertaubat atas dosa-dosanya itu jauh lebih baik dari pada orang yang pandai beragama tapi sombong atas ilmunya" nasihat aina.


"Makasih ya kalian memang orang baik dan bantu aku agar bisa istiqomah terus" ucap verli.


"Pasti!! Kamu pasti bisa kok jangan pernah putus beribadah dan berdoa"


"Jadi kamu mau hijrah seterusnya ver?" tanya kely.


"Insya Allah doakan saja, aku mau meniatkan dulu dari hati dan berdoa untuk pencerahan" jawab verli.


"Besok beri jawabannya ya ver" ucap kely.


Verli terssenyum sambil mengangguk kearah kely dan kedua temannya. Lalu ia melepas niqab diwajahnya dan menyerahkan pada aina.

__ADS_1


"Gak usah itu buat kamu saja masih baru kok, simpanlah semoga suatu saat kamu bisa istiqomah memakainya terus" jawab aina.


"Aamiin makasih banyak aina, tia"


"Sama-sama, sekarang kita siap-siap yuk ke masjid"


"Ayuk"


Mereka kembali ke tempat masing-masing dan bersiap untuk ke masjid bersama.


***


Menjelang pagi hafka sudah bangun dan akan pergi bekerja, namun sebelum itu ia akan ke apartemen terlebih dahulu untuk mengambil peralatan yang tertinggal.


Pagi yang cerah bagi siapapun yang beraktivitas, angin yang sejuk dan sinar matahari yang tak begitu pekat. Menambah kehangatan di pagi hari bergabung dengan angin yang semilir.


Hafka sudah masuk ke dalam ruangannya mengambil jas kerja dan melaksanakan tugasnya sampai pada makan siang.


Ia bertemu dengan dokter brisma di kantin dan mereka memutuskan makan bersama sambil cerita sedikit. Hingga makanan mereka habis tak tersisa, dokter brisma tak berniat untuk beranjak dari tempat duduknya karna ia ingin curhat sama hafka.


Hafka sudah siap mendengar keluh kesah dan semua isi hati dokter brisma, baginya bercerita pada hafka itu akan mengurangi rasa sedihnya.


"Saya bingung harus bagaimana" ucap dokter brisma.


"Bingung kenapa dok?" tanya hafka.


"Saya rindu dengan anak pertama saya, tapi sudah bertahun-tahun tak ada hasil apapun" jawabnya sedih.


"Kalau boleh tau nama anak dokter siapa? Barangkali saya bisa bantu mencarinya"


"Virly itulah namanya"


"Sudah lama mencari dia tapi gak ada hasil dan saya merasa sudah putus asa entah dia dibawa kemana sama ibunya"


"Ini nama kok hampir sama dengan namanya........apa iya dia itu, eh tapi gak mungkin lah nama aja beda kok bisa sama" batin hafka.


"Apa dokter tidak punya foto masa kecilnya? Bisa disebar di internet lebih mudah"


"Ada kok" ia mengambil sesuatu dari sakunya. "Ini, foto itu selalu ku bawa agar bisa melihat dia terus" sambil memberikan foto ditangannya.

__ADS_1


__ADS_2