
Hafka dan Verli sudah berada dirumah setelah tadi melihat sebentar keponakannya lalu izin untuk pulang. Anak Fatma sangat cantik dan imut yang diberi nama Farita Chea Maira. Di rumah sakit hanya Kenza dan mertuanya yang menjaga.
Hafka takut dengan kesehatan Verli oleh karna itu ia mengajak untuk pulang. Benar saja sampai rumah Hafka melihat wajah Verli yang pucat. Bahkan tak berselera makan. Ia merebahkan tubuhnya ke ranjang namun perutnya terasa mual. Verli berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya. Seketika Hafka panik lalu menyusul istrinya ke kamar mandi. Dirasa sudah lega Verli kembali ke kamarnya di ikuti Hafka.
"Ke dokter yuk, biar diperiksa lebih jelas" ucap Hafka yang khawatir.
"Gak usah mas, palingan juga masuk angin doang nanti juga sembuh, aku butuh istirahat saja" jawab Verli yang lemas dengan suara lirih.
"Sakit itu jangan dianggap sepeleh, udah ayo aku antar. Kamu juga belum makan dari tadi, gimana tenaga kamu ada kalau begini"
"Gak enak mas, gak selera baru sesuap aja udah mau muntah" sahut Verli.
"Bentar deh aku buatin teh hangat dulu ya buat kamu"
"Hmm" jawab Verli yang sudah lemas tak bertenaga.
Didapur Hafka berkutat membuatkan teh untuk Verli. Tanpa sadar Ummi Halimah menghampiri Hafka. Ia pun menoleh dan ditanyai oleh Ummi nya.
"Lagi apa ka?" tanya Ummi Halimah.
"Buatin teh Ummi untuk Verli dari tadi gak mau makan muntah terus, diajak periksa gak mau" jawab Hafka sambil mengaduk teh nya.
"Eh Verli sakit kok gak bilang, tadi sepertinya baii-baik saja" sahutnya.
"Dari tadi juga Hafka lihat udah pucat dan nesu mangkanya tadi ajak pulang"
"Coba kamu ajak periksa biar Ummi yang bujuk, sekalian Ummi nitip barang nanti kasihkan ke Kenza, tadi dia minta baju ganti" katanya.
"Iya Ummi "
Kembali lah Hafka ke kamar dengan Ummi Halimah. Ia meletakkan tehnya diatas meja.
"Nak kamu periksa ya, badanmu lemas begini, kata suamimu gak mau makan dari tadi Ummi jadi khawatir loh....periksa sana biar antar Hafka"
"Verli ndak pa-pa, Ummi jangan khawatir baiklah Verli mau periksa"
"Ya sudah minum dulu tehnya biar perut mu hangat sedikitucapnya menyodorkan segelas teh kepada Verli.
Setelah itu Ummi Halimah keluar dari kamar Verli. Mereka pun berangkat ke rumah sakit. Sekalian memberikan baju ganti untuk Kenza.
Beberapa menit kemudian.
Tibalah didepan rumah sakit. Segera Hafka turun menggandeng Verli ke ruang Fatma dulu setelah itu baru mengantarnya periksa.
Tok.
Tok.
"Kak aku masuk ya" ucap Hafka.
"Iya masuklah" sahut Kenza.
Hafka masuk dengan Verli lalu memberikan tas tadi kepada Kenza sambil mengucap salam.
__ADS_1
"Asaalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam"
"Baju ganti dari Ummi tadi suruh nganter sekalian ngajak Verli periksa"
"Loh kenapa dengan Verli, sakit!!" sahut Fatma.
"Gak tau nih dari tadi gak mau makan, muntah terus baru mau makan udah muntah duluan, aku jadi khawatir ini aja tadi dibujuk sama Ummi" jelas Hafka.
"Muntah!! terakhir datang bulan kapan Ver?" tanya Fatma.
"Hmm sekitar satu bulan lalu mungkin....bentar harusnya bulan ini...aku udah telat dong" kaget Verli yang mulai tau arah pembicaraan Fatma.
"Coba periksa ke dokter kandungan barangkali kamu hamil" ucap Fatma sambil tersenyum.
"Hamil!!" Hafka pun ikut kaget dan menoleh le arah Verli.
"Ya sudah kak aku periksakan Verli dulu, assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam"
Mereka pun menuju ruang dokter kandungan. Setelah mengantri nama Verli dipanggil juga. Verli masuk duluan dan di ikuti Hafka dibelakangnya. Hafka jadi ikut nerves dan deg degan dengan jawaban dokternya. Perkataan kakak iparnya tadi membuat hatinya berharap bahwa itu benar.
"Jadi apa yang ibu keluh kan?" tanya Dokter.
"Dokter Hafka kok kesini apa ini istri anda?" tanya Dokter Arina.
"Iya biasanya di trimester awal ibu hamil pasti mual, nafsu makan berkurang namun tergantung selera mereka. Hmm mari coba kita periksa dulu agar lebih jelas"
"Silahkan anda berbaring di sini biar saya periksa dulu"
Verli pun naik ke atas ranjang, merebahkan dirinya. Dokter Arina mengoleskan gel lalu menempelkan transduser dipermukaan perut. Beberapa saat pemeriksaan selesai. Verli merapikan bajunya dan turun. Hati keduanya tak karuan dengan hasilnya. Dokter Arina kembali duduk dengan hasil ditangannya.
"Selamat ya dok istri anda benar hamil, kehamilannya menginjak dua minggu" jelas Dokter Arina membuat keduanya kaget bercampur rasa bahagia.
"Sa..saya hamil dok!!" terkejut Verli mendengar jawaban dari Dokter Arina.
"Iya selamat atas kehamilannya, tolong dijaga dengan baik, pola makannya yang teratur. Di trimester awal ini sangat rentan jadi benar-benar dijaga ya jangan terlalu capek. Saya akan resepkan vitamin dan penguat kandungan"
"Alhamdulillah, terima kasih dok" ucap Hafka.
("Aku gak nyangka Allah memberi secepat ini, baru saja ku membatin dan kak Fatma lahiran sekarang aku merasakan hamil, alhamdulillah terima kasih ya Allah" batin Verli sambil mengusap perutnya yang masih rata.)
*****
"Aku gak mau tau pokoknya dia harus menderita, lakukan saja apa yang aku suruh tadi. Jangan sampai gagal, aku udah bayar mahal kalian" ujar seorang wanita dengan dua pria di sebuah cafe.
"Siap bos, kami akan melakukan dengan rapi" jawab salah satu pria.
"Pergilah" ucap wanita tersebut.
Dua lelaki itu pergi setelah percakapan dengan bos mereka. Wanita itu tersenyum licik memancarkan aura dendam yang begitu besar. Tak lama datang Radit yang duduk disampingnya. Menyender diduduknya.
__ADS_1
"Sayang kamu mau ngelakuin apa lagi sih buat Verli, ingat kamu itu lagi hamil jaga dong kandungan kamu bukan malag keluyuran begini" marah Radit kepada Verli tapi masih dengan nada yang lirih.
"Aku belum puas kalau dia belum benar-benar menderita, kamu harusnya dukung aku bukan malah sebaliknya...." marah balik Fera.
"Karna disini ada darah dagingku, jangan sampai watak dia sama seperti kamu. Aku takut nanti jika dia sudah besar bakal merasakan apa yang dirasakan Verli selama ini" sersa Radit.
"Halah bilang aja kamu belain dia, bikin moodku hilang aja sih. Awas ya kalau sampai kamu gagalkan rencanaku" kesal Fera lalu pergi keluar begitu saja meninggalkan Radit.
Ia mengejar Fera yang marah padanya. Diberi pengertian tidak bisa padahal Radit hanya ingin yang terbaik. Walau dimasa lalu dirinya buruk. Radit menggenggam pergelangan tangan Fera dan berbalik ke arahnya.
"Apaan sih aku mau pulang saja, percuma debat sama kamu yang sudah berubah"
"Aku hanya gak mau sampai terjadi apa-apa dengan kandungan kamu. Oke biarka. aku saja yang melakukannya asal kamu diam dirumah jangan turun tangan sendiri" papar Radit.
"Beneran? kamu gak mencoba bohongin aku kan?"
"Enggak, biarkan aku saja yang melakukannya asal syaratnya kamu diam dirumah fokus sama kandungan kamu"
"Oke, makasih sayang" ucap Fera memeluk Radit erat.
"Iya sama-sama"
Suami istri sama saja. Sangking sayangnya Radit sama Fera, jadi mau melakukan apapum asalkan istrinya beristirahat dengan tenang dan tidak menganggu kandungannya. Terpaksa Radit yang akan menuruti semua kemauan istrinya. (Mereka perlu dijitak nih gemes author😁.)
******
Hafka sudah sampai didepan rumahnya. Perlahan ia menggandeng tangan Verli untuk masuk ke dalam. Diruang tamu ada Ummi Halimah dan Abi Yusuf yang sedang berbincang dengan Devan. Mereka mengucap salam lalu menyalami satu per satu orang tuanya.
"Bagaimana tadi? Verli kenapa ka?" tanya Abi Yusuf.
"Gak sakit Abi..." jawab Hafka.
"Lah terus kenapa?" tanya nya lagi.
Hafka tersenyum ke arah Verli dengan menggenggam tangannya erat.
"Abi sama Ummi akan punya cucu lagi" ucap Hafka dengan senyuman diwajahnya.
"Masya Allah istrimu hamil nak?" tersentak kaget dan sekaligus kabar bahagia untuk mereka.
"Iya Ummi, alhamdulillah cucu Ummi nambah lagi" celetus Hafka.
"Selamat ya ka, bentar lagi jadi orang tua. Semoga sehat terus sampai persalinan" ucap Devan yang ikut senang.
"Aamiin makasih Van"
"Kamu harus jaga istrimu dengan baik, senggangkan waktu buat sama istri jangan kerja terus apalagi sekarang istrimu lagi hamil butuh perhatian ekstra" nasihat Ummi Halimah.
"Iya Ummi, itu pasti, aku antar Verli ke kamar dulu ya untuk istirahat"
"Istirahat lah jangan capek-capek"
Hafka pun mengajak Verli ke kamar. Merebahkan tubuhnya diranjang. Merasakan tak enak dibutuhnya. Namun semua tak sebanding dengan kebahagiaannya. Seorang anak adalah anugerah terindah dari Allah. Harus dijaga dengan baik karna diamanahkan kepada mereka.
__ADS_1