CINTA DISEPERTIGA MALAM

CINTA DISEPERTIGA MALAM
BAB 84. ANCAMAN


__ADS_3

Verli ikut menangis dipelukan ibunya. Rasanya baru kemarin Verli masih bermanja padanya namun sekarang putri tersayangnya akan merasakan menjadi seorang ibu. Safren ikut bahagia dan bersyukur sekali. Berarti sebentar lagi mereka akan menjadi kakek dan nenek. Perlahan Nadin melepaskan pekukannya dan menyerka air mata yang masih menggenang dipelupuk matanya.


"Gak kerasa bentar lagi mama akan menjadi seorang nenek, jaga kandungan kamu, makan yang teratur dan jangan stress" tutur Nadin menasehati Verli sembari mengelus perut putrinya yang masih rata dengan hati yang berbunga.


"Papa doakan semoga kamu sehat terus dan calon cucu papa bisa lahir dengan selamat serta sehat"


"Aamiin.." jawab mereka yang mendengar.


"Pa bolehkah kami menginap di sini semalam saja?" tanya Hafka pada ayah mertuanya.


"Iya pa, aku masih kangen sama mama entah lah mungkin dede pengen deket dengan neneknya" sahut Verli.


"Boleh banget dong sayang, rumah ini adalah rumah mu juga jadi tak masalah jika kalian ingin tinggal di sini. Malah papa dan mama akan senang kalau kalian tinggal di sini" jawab Safren dengan senyum lebarnya mendengar Verli dan suaminya akan tinggal di rumah.


"Makasih pa" ucap Hafka halus.


Nadin meminta mereka untuk istirahat dulu sebelum makan siang. Mereka kompak mengiyakan dan melenggang pergi ke kamar setelah pamit.


Dalam kamar Hafka membereskan barang yang tadi mereka bawa. Setelah itu ia pergi ke kamar mandi. Sementara Verli yang merasa capek merebahkan tubuhnya sebentar lalu pergi ke dekat lemari untuk menyiapkan pakaian buat suaminya.


Sesaat Hafka sudah keluar dari kamar mandi dan sudah ada pakaian yang disiapkan istrinya di atas ranjang. Hafka segera mengambil pakaian itu pergi ke ruang ganti. Selesai itu Hafka mendekati Verli yang merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan membelakanginya. Perlahan ia memegang lengan sang istri, karna merasa ada sentuhan di lengan tangan Verli menoleh dan mendapati suaminya sedang menatap dirinya.


Kemudian ia berbalik badang merangkul pinggang Hafka dan menyembunyikan wajahnya di dada suaminya tanpa mengeluarkan suara. Hafka hanya munurut dengan sikap Verli yang seperti itu. Mungkin karna dia hamil jadi manja. Ia ikut merebahkan tubuhnya disamping Verli sembari memeluk sang istri erat.


Satu jam berselang.


Mereka sudah bangun untuk melaksanakan shalat dhuhur bersama. Setelah itu mereka pergi ke ruang makan karna pelayan memanggil mereka untuk makan siang. Verli melipat sajadah, melepas mukenahnya dan mengganti dengan kerudunh panjang berserta cadarnya.


Tak lama Hafka dan Verli keluar dari kamar menuju ruang makan. Ternyata di sana sudah ada kedua orang tuanya dan Frisko yang sudah pulang sejak satu jam yang lalu. Hafka menggeser kursi istrinya dan dibalas senyum oleh Verli.


"Selamat ya dek atas kehamilan kamu, kakak ikut senang sebentar lagi kakak punya keponakan dan ternyata adik manjaku ini sudah besar" ucap Frisko menggoda Verli.


"Iya kak makasih, dan aku bukan anak manja seperti yang Kak Frisko ucapkan barusan" jawab Verli yang kesak dibilang manja.


"ululu iya...iya...adik kakak ini gak manja kok karna sudah besar hahahah" celetus Frisko sambik tertawa yang membuat Verli semakin kesal namun berusaha untuk tak marah karna ia tau bahwa Frisko hanya bergurau.


"Sudah...sudah, kamu suka sekali menggoda adikmu Frisko" sahut Safren.


"Heheh maaf pa, enggak lagi deh" jawabnya nyengir.


Setelah perdebatan tersebut mereka memutuskan untuk menyudahi dan makan siang bersama tanpa ada suara pembicaraan hanya suara sendok dan garbu yang bergesekan.


Sesaat kemudian mereka sudah menyelesaikan makan siang. Namun Verli masih belum beranjak dari duduknya seperti ada sesuatu yang di inginkan olehnya. Tiba-tiba ia ingin makan rujak buah padahak baru selesai makan tapi belum merasa kenyang dan malah minta rujak buah.


"Mas, aku pengen rujak buau boleh tidak belikan" ucap Verli halus dan sopan.


"Istriku ingin rujak, boleh dong mau dibelikan sekarang rujaknya?" tanya Hafka.


"Enggak, belikan buahnya saja aku ingin meracik sendiri. Mama bantu ya untuk membuatkan bumbunya, karna racikan buatan mama paling enak" ujar Verli.


"Boleh banget, mama akan meracik bumbunya. Di dapur ada buah banyak" jawab Nadin dengan senang hati menuruti ngidam putrinya.


"Tapi aku juga pengen mangga muda, belikan ya mas" rengek Verli kepada Hafka.


"Iya aku belikan sekarang, mangga muda saja gak mau nitip yang lain sekalian?" tanya Hafka sebelum pergi.


"Enggak, mangga muda saja" jawab Verli.


"Baiklah" ucapnya lalu pamit untuk pergi membeli mangga muda pesanan istrinya.


Pelayan pun membersihkan meja makan, sementara Verli dan Nadin pergi ke dapur untuk membersihkan dan mengupas buah yang akan menjadi rujak sembari menunggu Hafka pulang.


***


Hafka terus mencari pedagang buah yang menjual mangga muda namun tak kunjung ditemukan. Sudah beberapa toko dijumpai namun tak ada yang menjual mangga muda. Semangatnya tak putus, Hafka kembali mencari sampai menemukan sebuah rumah yang didepannya banyak mangga tentunya masih muda.

__ADS_1


Ia berniat meminta sedikit mangga itu untuk istrinya. Karna sedari tadi ia berkeliling tak ada yang menjual. Hafka menepikan mobilnya dan turun untuk bertemu si pemilik mangga.


Tangannya mulai mengetuk pintu yang tertutup. Beberapa kali diketuk namun tak ada sahutan dari dalam. Akhirnya Hafka memutuskan untuk kembali masuk ke dalam mobil. Belum sempat membuka pintu mobil, ia dikagetkan dengan suara perempuan dan lelaki yang berbicara dengannya.


Hafka menoleh dan melihat dua orang, lelaki dan perempuan bercadar seperti sepasang kekasih. Lelaki tersebut bertanya maksud kedatangan Hafka, karna ia baru saja datang dan melihat Hafka sudah ada di depan rumah mereka. Hafka menyampaikan maksud dan niat datang ke rumah mereka yang tak sengaja lewat dan melihat mangga muda mereka.


"Apakah saya boleh membeli mangga muda anda, sedikit saja tak apa untuk istri saya yang sedang hamil. Dari tadi saya muter tak ada yang jual dan tak sengaja melihat mangga muda mas nya" jelas Hafka memberi tau mereka tentang maksudnya.


"Boleh mas, ambil saja butuh berapa tak usah dibayar kami ikhlas. Mangga itu juga banyak jadi mas nya bisa ambil tak perlu membayar" ucap lelaki didepannya yang bernama Handi pemilik pohon mangga.


"Masya Allah alhamdulillah, terima kasih banyak mas...mbak, namun biarkan saya membayar mangga itu" ucap Hafka bersyukur akhirnya bisa berhasil mendapat mangga muda keinginan sang istri.


"Gak perlu mas kami ikhlas, biasanya tetangga kami juga mengambil mangga milik kami, karna memang sengaja untuk dibagikan juga" jawab Handi dengan halus.


"Mari mas masuk, saya bantu mengambil mangganya" ujar Handi mempersilahkan Hafka untuk masuk.


"Nama anda siapa kita belum kenalan? nama saya Hafka" ucap Hafka mengulurkan tangannya.


Dengan senang hati Handi membalas ulurn tangan Hafka dan mengenalkan dirinya dan sang istri kepada Hafka.


Hafka mengangguk mengiyakan. Perempuan tersebut ternyata istri Handi yang bernama Zahra. Mereka tinggal hanya berdua saja. Setelah berkenalan Handi membantu Hafka untuk memetii mangga yang masih muda. Cukuo banyak mangga yang dipetik dan semua itu dimasukkan ke dalam kantong plastik untuk diberikan kepada Hafka.


Hafka cukup senang namun mangga yang diberikan terlalu banyak. Handi memang sengaja memberikan mangga itu lumayan banyak karna tau bahwa istri Hafka sedang ngidam. Dengan rasa syukur Hafka berterima kasih kepada Handi dan Zahra yang sudah membolehkan ia meminta mangga mereka.


Hafka mengambil amplop di sakunya dan tanpa pikir panjang memberikan kepada Handi. Namun Handi menolak dengan halus karna ia memberikan mangga itu dengan ikhlas tanpa mengharap imbalan.


"Saya ikhlas memberikan mangga tersebut, anda tak perlu memberikan kami uang" kata Handi menolak amplop yang disodorkan Hafka.


"Gak pa-pa mas saya juga ikhlas memberikannya, ambil saja ini rezeki dari Allah jangan ditolak" jawab Hafka tanpa basa basi memberikan itu ke tangan Handi.


"Terima kasih atas mangga nya saya pamit"


"Saya yang seharusnya berterima kasih. Terima kasih banyak semoga Jazakillahu Khair"


"Wa'alaikumussalam"


Hafka pun pergi dari kediaman Handi dengan wajah sumringah karna berhasil mendapat apa yang di inginkan istrinya. Sementara Handi dan Zahra melongo saat membuka isi dari amplop pemberian Hafka. Uang di dalam amplop tersebut cukup banyak. Mereka merasa bersyukur mendapat rezeki tak terduga saat mereka membutuhkannya.


Keluarga Handi bukan dari golongan orang kaya. Termasuk menengah ke bawah tapi kebutuhan mereka sudah cukup untuk sehari-hari.


Di sisi lain Verli terus menunggu suaminya yang tak kunjung pulang. Sudah ditunggu sedari tadi namun belum melihat kedatangan suaminya. Saat ia bergumam disitu terdengar suara klakson mobil. Seketika Verli tersenyum lebar dan berjalan keluar untuk menyambut sang suami.


Ia mencium punggung tangan Hafka dan menerima kantong plastik yang berisi mangga muda. Dengan hati yang senang Verli segera mengajak Hafka untuk masuk. Verli memberikan mangga itu kepada Nadin untuk dikyoas dan dibersihkan.


"Mas lama banget, aku udah nunggu dari tadi" keluh Verli.


"Maaf sayang, aku dari tadi sudah muter kemanapun gak ada yang juak mangga muda tapi syukurlah ada orang baik yang memberikan mangga di depan rumahnya untukku dan akhirnya aku bisa membawa pulang mangga pesanan kamu" jelas Hafka.


"Maaf ya mas aku jadi buat kamu susah payah nyari pesananku" ucap Verli menunduk.


"Eh enggak lah ini kan untuk dede jadi tak masalah, jangan meminta maaf lebih baik kamu makan rujak nya dulu itu udah siap" toleh Hafka yang melihat pelayan membawa irisan mangga dan buah lainnya ke meja makan.


"Nah sudah jadi, ayo sayang cobain" ucap Nadin yang baru menaruh bumbu ke atas meja.


Frisko datang dari belakang dan ikut duduk bersama kedua pasangan itu dan Nadin. Ia juga ingin makan rujak, sudah lama tak pernah mencoba rujak buatan mamanya.


"Isshh nyerobot aja kak, gak ikut buat tinggal makan doanh" protes Verli tak suka.


"Mama aja gak ngelarang kok, ya kan ma!" kata Frisko kepada Nadin yang tertawa melihat kedua anaknya yang lucu saat berantem.


"Iya gak papa"


Tak mau banyak bicara Verli langsung memakan rujak tersebut sebelum itu ia berdoa terlebih dahulu. Dengan lahap Verli memakan mangga muda yang tadi di dapatkan oleh suaminya dengan susah payah. Bahkan tak merasakan masam sama sekali, Hafka merasa kecut sendiri melihat istrinya makan mangga muda dengan sangat lahap.


"Gak masam dek? mulutku rasanya kecut sendiri melihat mangga muda itu" kata Hafka.

__ADS_1


"Enggak kok, cobain deh" pinta Verli


Hafka mencoba makan satu mangga muda dengan sambal karna penasaran. Saat sudah sampai mulut dan mengunyah nya, wajah Hafka berubah karna rasa masam dari mangga tersebut. Dengan susah payah ia menelan mangga itu walau rasanya masam.


Sedangkan Verli tertawa melihat ekspresi suaminya yang nyengir karna kemasaman. Nadin dan Frisko ikut tertawa karna tingkah Hafka.


"Duh enggak lagi deh masam banget, kamu dek kok santai banget makannya seperti rasanya berubah manis padahal sangat masam" keluh Hafka.


"Wajar karna Verli lagi ngidam jadi walau mangga itu masam dia tak merasakan masam sepertimu" sahut Frisko yang masih tertawa lirih.


"Hmm ya juga" sahutnya.


Mereka pun mangga makan rujak sampai habis. Selesai itu Verli pergi ke kamar bersama Hafka. Ngidamnya sudah terpenuhi dan bersyukur memiliki suami yang sayang juga peduli dengannya. Menjadikan dirinya seorang ratu.


🌻🌻🌻


Sore itu Kely dan Alif hendak pergi ke alun-alun karna sudah janjian dengan Verli untuk bertemu. Rasa rindunya tak terobati dengan sahabatnya.


Sejak pernikahannya ia tak pernah bertemu dengan Verli karna sahabatnya berada dipesantren. Dengan senang hati Alif mengantar istrinya, ia juga ingin bertemu dengan sepupunya yang sudah lama tak jumpa.


Beberapa saat kemudian.


Alif dan Kely sudah sampai di alun-alun yang ramai dengan orang-orang. Kely membuka hanphone nya untuk melihat titik dimana Verli berada. Sesaat Kely menggandeng tangan Alif menuju tempat yang sudah ditentukan oleh Verli. Tak butuh lama Kely suda menemukan titik tempat dimana Verli berada.


Ia berlari menghampiri Verli yang sedang duduk bersama Hafka.


"Assalamu'alaikum Verli" ucap Kely yang baru datang.


"Wa'alaikumussalam" jawab Verli dan Hafka bebarengan.


Seketika itu Kely memeluk erat sahabat yang dirindukannya. Menumpahkan rasa rindu yang teramat. Sesaat Kely melepas pelukan tersebut dan ikut duduk di depan mereka bersama Alif.


Mereka berbincang melepas rasa rindu di antara keduanya. Mengobrol tanya kabar dan seputar kehamilan Verli. Sangat romantis mereka berempat. Hafka pergi sebentar untuk membeli minum dan camilan sementara Alif pergi ke toilet. Tinggalah mereka berdua disana yang saling mengobrol.


"Eh ada saingan di sini" sindir seseorang dari belakang secara tiba-tiba.


Reflek Verli dan Kely menoleh ke arah suara tersebut. Ternyata Fera yang datang tak diundang, tak sengaja melihat Verli dan Kely.


"Fera apa kabar?" tanya Verli dengan ramah.


"Gak usah sok ramah denganku, wajah munafikmu itu tak mempan untuk ku" ketus Fera.


"Heh Verli sudah ramah malah dijawab tak enak, apakah sikapmu memang begitu turun temurun" celetus Kely yang tak suka dengan sikap Fera.


"Diam kau, kamu itu sama saja seperti dia tak jauh berbeda."


"Kalau memang dirimu kesini hanya ingin menghina kami lebih baik pergi saja sana ganggu suana hati, gak ada kegiatan lain kah selain mengomel, gak sadar sudah hamil tetap saja gak bisa berubah" timpal Kely yang geram dengan Fera.


"Ow berani kamu sekarang ya, liat saja aku akan membuat hidup kalian tak tenang" marah Fera.


"Ow ya silahkan kalau berani. Sebelum kamu menyerang, tunggu hadiah dariku nanti" tegas Kely.


"Pergi sana sebelum kemarahanku memuncak" marah Kely.


Tanpa basa basi Fera pergi dengan rasa marah dan akan membalas perlakuan Kely terhadapnya. Fera datang sebenarnya tidak sendiri namun bersama Radit, namun Fera berjalan-jalan sebentar karna Radit masih di mobil mengambil sesuatu. Akhirnya tak sengaja melihat Kely bersama Verli hanya berdua lalu nyamperin mereka.


❤❤❤❤


Hay readers tercinta🤗 maaf karna author telat untuk up🙏. Dibab ini kata nya melebihi 2000 kata, mrmang sengaja author lebih kan.


Boleh tidak author meminta dukungan dari kalian untuk karya ini dengan cara Like, ,Vote, Hadiah, dan Komennya yang positif❤.


Author lebih suka komenan kalian sih 🤭😁 Semoga kalian sehat selalu. Sampai jumpa dibab selanjutnya.


Love You All🌹

__ADS_1


__ADS_2