
"Iya sana gangguin aja"
"Huuuffh" hafka menarik nafas berat lalu berjalan pergi menuju kamar meninggalkan maryam yang tengah asyik membaca buku yang lain.
Keesokan paginya.
Verli akan pergi ke kampus diantar oleh frisko dan nanti juga akan dijemput olehnya. Verli tengah bersiap sekarang ia sedang makan bersama, setelah makan selesai frisko membantu verli mendorong kursi rodanya. Walaupun dengan keadaan seperti itu verli masih ingin menuntut ilmu baginya kekurangan bukan alasan untuk tidak berbuat apapun, dengan kekurangan verli harus membuktikan bahwa semua itu bisa selagi ada niat.
Verli dan frisko berpamitan pada orang tuanya mereka menyalimi satu persatu bergantian. Lalu frisko membantu verli naik ke mobil dan menyalakan mesin mobil, nadin melambaikan tangan melihat kepergian mereka berdua.
Safren juga ikut pergi tak lama setelah frisko dan verli pergi, ia akan berangkat ke kantor hari ini karna ada meeting penting. Nadin mencium punggung tangan suaminya. Safren pergi diantar oleh supirnya.
Kampus.
Frisko turun dari mobil dan membantu verli turun ke kursi roda, lalu ia mengantar verli sampai ke dalam kelasnya. Saat berjalan dikoridor kampus banyak pasang mata mahasiswa yang menyelidik ke arah verli, ada juga yang menggunjing tapi ada banyak juga yang merasa kagum pada verli.
Frisko juga mendengar semua dan melihat tatapan para mahasiswa, ingin sekali frisko menyauti ucapan mereka namun verli menggenggam tangan frisko agar tidak menggubris ucapan mereka. Frisko pun menuruti permintaan verli dan pura-pura tuli tidak mendengarkan mereka semua.
Frisko sudah sampai didepan pintu ruang kelas verli, tak disangka ternyata kely juga masuk kuliah ia sudah duduk rapi ditempatnya. Kely pun senang bisa melihat verli masuk, ini adalah hari pertama kely masuk kuliah disatu tempat yang sama dengan verli. Keadaan kely sekarang sudah membaik walaupun masih menggunakan tongkat ubtuk berjalan. Ia sudah tidak menggunakan kursi roda lagi karna kakinya sudah mulai pulih perlahan. Verli membalas sapaan kely yang menghampirinya, frisko pun menata duduk verli ditempatnya.
"Kely kamu udah masuk sejak kapan?" tanya verli.
"Baru hari ini kok sama kayak kamu" jawab kely lalu duduk disamping verli.
"Nitip verli ya key, kakak tinggak dulu baik-baik kamu dek" kata frisko memperingati.
"Siap kak makasih udah diantar" jawab verli tersenyum.
"Ya sudah kakak pergi dulu nanti kamu kirim pesan saja kalau mau pulang biar kakak jemput" ujarnya.
"Oke"
__ADS_1
Frisko meninggalkan verli bersama kely, ia berat meninggalkan verli sendiri karna takut nanti akan dicibir oleh teman-temannya yang lain. Tapi frisko percaya pada kely bahwa ia akan menjaga afiknya dengan baik, frisko juga sudah menitipkan dan memberi tau kepada kepala kampus.
Kini verli tengah duduk bersama kely menunggu dosen masuk kelas, tak lama yang ditunggu-tunggu pun hadir dalam kelas. Dosen yang mengajar sudah mengetahui perihal soal verli. Enam puluh menit telah usai ditempuh dalam mapel pertama kini verli dan kely akan pergi ke kantin makan bersama sebelum mapel selanjutnya dimulai.
Dikantin verli membahas soal kemarin yang belum sempat ia bicarakan ke kely karna tak kunjung membalas pesan darinya. Kely memesankan bakso dan mie ayam untuknya dan verli. Tapi kely risih mendengar gunjingan teman sekampusnya yang duduk dikantin tapi malah verli biasa aja seolah-olah tak mendengarkan semua ocehan mereka.
"Key sini aku mau bicara, kemarin kamu aku telfon dan chat gak dibales" ucap verli.
"Maaf ver aku dari kemarin tidak pegang hanphone, karna aku cas mati dari kemarin"
"owalah pantesan aku telfon dan chat gak ada jawaban" ujar verli
"Memangnya mau ngomong apa ver, penting banget ya" ucap kely penasaran.
"Iya penting, aku minggu depan akan pergi ke pesantren.......udah izin juga sama mama dan papa dibolehin kok" jelasnya.
"Lah kok mendadak ver, mau masuk pondok mana?" tanya kely.
"Dekat sama tempat yang dulu kita datengin waktu healing"
"Gak apa key sekalian cari pengalaman" ucap verli santai.
"Hmm......kamu serius ver yakin?"
"Ya iyalah kalau gak yakin ngapain aku minta izin sama mama dan papa" jawab verli yakin.
"Aku gak tega kalau biarin kamu sendirian........hmm aku ikut deh nemenin kamu sekalian juga cari ilmu"
"Haa....kamu beneran key kalau iya aku seneng banget" verli menatap kely dengan wajah gembira.
"Benee dong nanti aku minta izin sama papa dan mama juga pasti dibolehin apalagi niatnya baik" ujar kely.
__ADS_1
"Baiklah aku tunggu kabarnya ya"
"Siap"
Mereka melanjutkan makannya sambil bergurau sedikit, tak diduga dari depan datang seorang lelaki bersama perempuan. Verli dan kely sangat mengenal betul lelaki tersebut bahkan verli sakit hati dibuatnya sampai bertubi-tubi. Siapa juga kalau gak mantan verli si radit dan kekasih barunya.
Mereka berdua menghampiri tempat duduk verli dan kely, sambil berpelukan menampakkan keromantisan mereka di depan verli. Tapi verli bahkan tidak menatap mereka sedikit pun, itu membuat radit sangat kesal. Sampai didepan verli, radit duduk di kursi yang kosong, kely hanya bisa menatap ingin menghajar lelaki bre*s*k yang ada didepannya namun verli menahan lengan kely.
"Hey apa kabar lama ya gak jumpa.....hmm setelah putus dariku bukannya tambah beruntung malah apes hahahah" celetus radit membuat kely sangat marah namun verli malah terlihat santai.
"Udah lah sayang gak perlu kamu cari masalah sama perempuan ini, udah gak ada untungnya kan, utututu pasti sakit ya hahahah kasihan" kini ganti fera yang mencibir verli.
"Kalian tuh kalau kesini hanya untuk mencibir mendingan pergi deh gak usah ganggu" ketus kely yang sudah geram sejak tadi.
"Loh loh kok sewot sih biasa ajalah sahabatmu ini aja diem kenapa situ yang marah" jawab fera meledek.
"Hahaha mungkin dia udah capek bicara mangkanya itu mulut tutup bisu ya" ledek radit tapi verli tetap tidak bergeming malah semakin asyik melanjutkan makannya.
"Verli jangan diem aja dong, masak kamu dipermalukan gini diem aja dulu kan kamu paling suka bales mereka" kata kely menggoyahkan lengan verli.
Para mahasiswa yang ada dikantin pun memperhatikan mereka berempat terutama verli yang hanya diam saja saat dicaci maki oleh mantan kekasihnya dan pasangan baru radit. Ada yang prihatin dan ada juga yang malah kesenangan, namun verli tetap tak bergeming sampai akhirnya ia angkat bicara.
"Buat apa aku meladeni mereka key gak ada gunanya, buang-buang tenaga saja nanti juga diem sendiri kalau capek, aku hemat bicara sama orang yang gak penting udalah mendingan habisin aja makananmu gak usah didengerin anggap aja anhin lewat tapi sedikit kencang" ucap verli santai.
Sontak perkataan verli berhasil membuat radit dan fera merasa kesal dan marah apalagi mahasiswa yang ada disana merasa aneh dengan perubahan sikap verli yang sekarang. Dengan entengnya verli tanpa membalas sudah memancing emosi kedua kekasih tersebut, lalu radit kembali mencaci maki verli di depan mahasiswa.
"Haa sok banget loh, penampilan tambah norak gak tambah cantik malah tambah jelek, harusnya tuh penampilan dijaga minimal berdanda yang cantik biar gak digunjingi orang, habis sakit tambah parah aja ot*k loh hahahah" ucap radit.
"Udalah yang pergi aja yuk gak usah ngeladeni orang sok ini, udah muka pas-pasan palingan juga gak ada lelaki yang menyukainya hanya an*j*ng yang suka melihat dia itupun sekilas saja" maki fera lalu berdiri dari duduknya menggandeng tangan radit, Lalu hendak pergi dari sana.
"Kalau kalian memang merasa suci dan benar tunjukkan padaku apa yang membuat kalian benar dan disenangi!! Aku bukan gak modis atau pun gak bisa berpenampilan, memang ini lah yang seharusnya dipakai seorang muslimah, menutup auratnya bukan malah mengumbar sembarangan dan mau dipegang sana sini oleh lelaki, kamu seorang muslim kan seharusnya tau dong bukan malah mencibir orang, emang gak MALU!!" Verli menasehati dan memberi tau mana yang benar untuknya dan untuk mereka.
__ADS_1
Perkataan verli sangat menohok dihati mereka bahkan mahasiswa pun mencerna setiap ucapan verli, ada yang merasa tertusuk hatinya dengan ucapan verli, merenungi dan meresapi dalam diri.
"Seharusnya kalian malu bukan malah mengumbar aib, ya dulu memang aku seperti kalian tidak tau arah jalan yang benar dan suka seenaknya sendiri, tapi Allah masih baik padaku memberi kesempatan untukku agar bisa memperbaiki diri lagi, memberi kesempatan hidup itulah yang aku manfaatkan dengan baik, memang kalian yakin besok masih bernafas?? pasti kalian tidak bisa menentukan dan menjawab bukan!!"